POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
Thomas Kolin


MASA lalu sebagai sebagai seorang anak dalam mengenyam pendidikan sampai meraih gelar sarjana, menjadi motivasi bagi Thomas Kolin dan Ambrosia Mimu untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas bagi anak mereka. Pasangan yang menikah tahun 1985 lalu itu, kini telah dikaruniai empat anak.

Anak pertama, Bonivasius Kolin lahir di Kupang, 25 Maret 1986, saat ini Semester X Program Studi Komunikasi, FISIP Unwira-Kupang. Anak kedua, Regina R Kolin, lahir di Kupang, 9 Mei 1988, saat ini Semester III Program Studi Bahasa Inggris, Unwira Kupang. Dan, Putra ketiga dan masih berusia tiga tahun dan si bungsi baru dua tahun delapan bulan.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2009), pria hitam manis yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prsarana, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, mengatakan, satu kesepakatan yang dibangun bersama istrinya adalah menjadikan pendidikan anak sebagai prioritas utama.

Pria kelahiran Solor, Flores Timur, 29 November 1962 ini, mengatakan, kesepakatan ini dibuat karena melihat kerja keras orangtuanya dulu untuk menyekolahkan mereka.

Menurutnya, kedua orang tuanya adalah petani tulen. Ayahnya adalah pengiris tuak dan penjual jagung serta tembakau. Walau penghasilan tidak seberapa dan tidak menentu, namun bisa menyekolahkanya sampai menjadi sarjana. Hal ini yang memotivasinya untuk menyekolahkan anaknya demi masa depan mereka.

Waktu untuk Anak
Bagi Thom, begitu sapaan akrabnya, zaman sekarang semua pekerjaan menuntut adanya ijazah, nah kalau anak-anaknya tidak sekolah akan dikemanakan dan mau jadi apa. Ia menginginkan agar kelak anak- anaknya bisa hidup lebih baik dari dirinya saat ini.

"Saya khawatir mereka tidak akan jadi apa-apa, kalau tidak sekolah. Karena sekarang semua tuntut ijazah.
Kalau orang tua saya dulu bisa menyekolahkan saya sampai sarjana, padahal penghasilan mereka tidak seberapa, bagaimana dengan saya yang punya gaji tetap. Makanya saya dan istri selalu berupaya apapun yang terjadi pendidikan anak menjadi nomor satu," katanya.

Alumnus FKIP MIPA Undana tahun 1988 ini, mengaku, keduanya memang sibuk dengan tugas di kantor. Istrinya adalah guru SMP Negeri Luar Biasa Pembina Kupang, dab Thom sering tugas ke luar daerah. Namun, keduanya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyediakan waktu bersama keempat anak mereka.
Thom mengawali kariernya sebagai guru MIPA di SMA Katolik St. Yosep Dili dan SMAK St. Petrus Darma Bakti Dili, tahun 1989. Menurutnya, selain empat anak kandungnya, keduanya juga menyekolahkan beberapa keponakan yang juga tinggal di rumah.

"Yah, kita harus saling membantu, karena mereka semua adalah keluarga. Pendidikan adalah yang utama sehingga selain anak kandung, saya juga membiayai anak-anak dari keluarga yang tinggal dengan saya di rumah," katanya.

Untuk menunjang anak-anaknya belajar di rumah, pasangan ini menyediakan fasilitas komputer di rumah. Sehingga, selain belajar di rumah, teman-teman anaknya bisa bersama-sama belajar di rumah.

Sementara itu, keduanya juga sepakat untuk selalu menyiapkan anak-anaknya dengan keterampilan dan kompetensi. Sehingga, kedua anaknya yang sudah besar diberikan privat bahasa Inggris, dan keduanya bersyukur anak-anaknya bisa fasih berbahasa Inggris sejak kecil.

Menurutnya, pasangan ini juga agak membatasi anak- anak untuk pekerjaan-pekeerjaan rumah. Jikalau siangnya, anak-anaknya sudah sibuk dengan perkuliahan, sehingga malam harinya semuanya diwajibkan untuk belajar. Walau anak-anaknya sudah kuliah, namun ia tetap mewajibkan anaknya untuk belajar.

Untuk menyiapkan anaknya mandiri suatu saat nanti, keduanya selalu memanfaatkan peluang saat duduk bersama, misalnya makan bersama atau nonton bersama. Di saat ini, ia sering menceritakan pengalaman masa lalu yang penuh suka duka, sehingga bisa memotivasi anak-anaknya. (nia)

Pos Kupang Minggu 6 September 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda