Toga untuk Tresna

Cerpen Robert Lemaking

"Ary, engkau tahu keadaanku sekarang. Tidak mungkin aku dan Tresna berlama-lama sendirian dalam keadaan seperti ini. Tapi, demi masa depanmu, aku dan Tresna, bagaimanapun juga engkau harus pergi. Aku dan Tresna tak pernah gentar merengkuh hari-hari tanpamu sambil terus berharap, engkau kembali membawa..,"


Belum habis kata-kata perpisahan itu terucap dari bibir mungil sang kekasih, kelenjar lakrimalisnya keburu mendesak, mengucurkan tetes-tetes air dari kelopak matanya. Lilis memang begitu. Tak pernah ia bersedih tanpa mengucurkan air mata.
"Lilis, aku tahu betapa berat hatimu ketika aku harus meninggalkanmu, dan Tresna sendirian selama tiga atau empat bulan ke depan. Aku janji, aku tak pernah menutup mata melihatmu bergelinang air mata."

Lilis semakin menjadi-jadi. Suara tangisnya melengking ke awan, membuatku tak mampu lagi berkata-kata. Aku terdiam, takut kalau orang-orang di rumah sebelah terbangun. Apalagi kalau mereka berpikir, aku dan Lilis tengah bertengkar. Tapi, aku juga masih penasaran, apa sebenarnya yang diharapkan Lilis dan Tresna untuk kubawa saat aku kembali nanti?

"Mungkinkah ia berharap kukembali membawa banyak uang? Atau ijazah? Atau cewek cantik untuk dijadikan kekasih keduaku, membantu tugas-tugas Lilis?" aku bertanya dalam hati.

"Ah, rupanya jawaban atas pertanyaan itu belum terlalu penting dan mendesak" ketusku lagi. Keputusanku untuk tidak harus tahu malam itu membuat percakapan kami terhenti. Lilis tak lagi duduk di sisiku. Ia segera melangkah ke kamar tidur, mengebas-ngebas kelambu untuk mengusir nyamuk sebelum ia terbaring lelap di atas tempat tidur. Ia mengusap air mata di wajahnya perlahan. Angin malam pun membawa lari suara tangisnya, bersembunyi di antara himpitan keping-keping nurani kami. Malam sedikit bintang penuh awan kelabu itu pun jadi temaram. Tinggal keheningan memelas derita jiwa kami. Yah, sebuah perpisahan yang berakhir dengan kebisuan.

Kisah perpisahanku kurang lebih dua bulan lalu itu masih terbayang jelas di pelupuk mata. Meski demikian, aku tak suka membayangkannya. Pikirku, tak terlalu banyak gunanya membayangkan kenangan semacam itu. Hanya menambah luka di dada. Tapi, sesekali bayangan itu muncul dengan sendirinya. Sudah kutolak sekuatku tapi terlalu kuat ia bagiku. Akhirnya kubayangkan juga kenangan itu. Setiap kali selesai membayangkan itu, aku harus menggigit bibir menahan tangis. Tak boleh air mata keluar dari kelopak mataku; setetes pun jangan.

Sejak datang di Kota Karang awal beberapa bulan lalu hingga saat ini, aku hanya bisa mendengar suara Lilis lewat handphone. Paling tidak, sedikit dari antara begitu banyak kerinduanku bisa terobati.

"Untunglah ada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi" kataku dalam hati. Pengalaman ini membentuk sebuah persepsi positif di dalam benakku akan arti penting ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu ekstrim, sampai-sampai aku memaki-maki orang yang menganggap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut sebagai biang degradasi moral dewasa ini. Bagiku, itu semua tergantung pada masing-masing orang yang menanggapi kemajuan itu. Makanya, ada yang positif dan sebaliknya ada pula yang negatif.

"Ka Ary, satu pesan diterima", John, adik sekampungku membuyarkan lamunanku. Rupanya ia juga kaget karena bunyi nada pengingat pesanku bervolume level maksimal. Aku memang sengaja karena aku duduk di luar kamar sementara handphone kuletakkan di atas meja belajar John di dalam kamar kostnya.
"Sayang, bagaimana informasi wisudamu? Tadi, aku mau telpon tapi pulsaku tak mencukupi. Jadi, aku sms saja. Aku dan Tresna menantimu dengan penuh kerinduan", begitu kata-kata sms dari Lilis, isi sms yang sama dengan kurang lebih sebelas sms sebelumnya.

Hampir saja tak habis kubaca sms itu. Mataku sudah berkaca-kaca. Jiwa kelaki-lakianku hilang pergi. Aku tertunduk, malu kalau menangis di hadapan John tapi aku harus menangis. Bening-bening halus menyesakkan kelopak mataku, jatuh satu-satu ke lantai ruang kecil kost John. Sungguh getir, bukan lagi karena aku hendak berpisah dengan Lilis dan Tresna tapi karena aku masih harus lama bertahan, terpisah jarak antara aku dan Lilis bersama Tresna.

"Lilis, Tresna, bersabarlah. Kemarin aku ke kampus untuk mengecek informasi itu. Tapi, kata pegawai, belum ada pengumuman pendaftaran sampai saat ini. Jadi, bersabarlah sayang ya! Aku mohon", balasku.

Aku paham dengan kegalauan Lilis. Betapa tidak, ia harus berpikir sendiri di saat kekalutan datang. Ia harus menyelesaikan tugas-tugas kantornya dan mengurusi rumah sendirian. Ia juga harus ke rumah sakit sendirian kalau hendak memeriksa keadaan Tresna yang kini berusia lima bulan di dalam rahimnya.

"Ah, anakmu itu ternyata masih di dalam rahim ibunya?" Ronald, temanku bertanya dengan nada heran ketika aku bercerita panjang lebar tentang anakku. Ronald teramat heran, lebih-lebih karena ia tahu, aku memperlakukan Tresna layaknya anak yang sudah dilahirkan ke dunia. Aku memberinya nama, Tresna. Aku juga berbicara dengannya saat kutelpon Lilis. Caranya gampang saja. Kusuruh Lilis meletakkan handphone di perutnya dengan posisi berbaring kemudian aku berbicara seperti biasa, seperti aku sedang berbicara dengan seseorang. Meski Tresna tak menjawab dengan kata-kata tapi aku yakin, Tresna mengungkapkan sejuta ikhwal kepadaku.

Aku terus melangkah dan melangkah, melintasi jalan yang telah digariskan. Di jalan-jalan itulah nafas citaku berhembus berpaut dengan melodi cinta dari nusa seberang, Lomblen tanah lahirku. Di sanalah Lilis dan Tresna setia menanti, berharap aku kembali membawa toga. Yah, toga untuk Tresna, bukan untuk dielusnya nanti tapi untuk didapatkannya dua puluh empat tahun yang akan datang ketika ia lulus dari Fakultas Kedokteran di univerTresnas kebanggaan dan almamaterku, Undana Kupang. "Tresna, aku menantimu". (*)

Pos Kupang Minggu 30 Agutus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda