Aku Kenal Dia

Cerpen Fabio H. Seran

PERKENALAN kami berawal dari dorongan hati dan pergerakan bibir. Perjumpaan kami bukanlah sebuah kebetulan. Di suatu pagi, embun pada rerumputan liar di pematang belum lagi kering ketika aku bersalaman dengan dia pagi itu. Di tengah hamparan sawah petani kami bertemu.

Aku, entah kenapa, langsung menyapa dia walaupun kata orang aku belum sepantasnya beradu pandang dengan dia. Apalagi menyapanya sedemikian akrab. Memang aku bukanlah pribadi yang pas buat dia. Tapi aku heran mengapa dia begitu bersahabat denganku. Dia cukup terkenal. Hampir semua orang mengenal dia.

Sementara aku, aku hanyalah seorang anak ingusan yang hanya tahu membalas lambaian tangan dari orang lain tanpa kata dan senyum. Namun paling tidak aku sudah berhasil memberi sapa, "hai boss".

Aku kenal dia sudah lama. Pertama sekali aku kenal dia lewat cerita Mamaku. Lima tahun lalu aku ketemu dia. Kata Mama, dia sudah kenal aku semenjak aku masih bayi. Bahkan ketika aku masih ada dalam kandungan. "Ah Mama . . .masakan dia sudah kenal aku justru saat aku belum bisa memastikan ada tidaknya aku di dunia? Timpalku pada Mama waktu itu. "Akan ada masanya di mana kamu akan meyakini hal itu " balas Mama.

Di sini, di rumah ini, di kamar ini, di tempat tidur tua ini, aku masih saja sendiri. Aku tersenyum lantaran mengenang peristiwa itu. Bapa dan Mama, juga Polce, saudaraku telah lama pergi. Mereka pergi tanpa kata pisah. Mereka menghilang secara misterius. Boleh juga aku tertawa geli karena tanya jawabku dengan Mama tempo itu soal dia. Tapi tidak semestinya hatiku menjerit oleh karena kejadian yang terakhir ini. Aku tinggal seorang diri. Bergelayut mesra pada kesendirian. "Aneh! di mana dia yang kukenal?" tanya hatiku.

Aku mulai mencari dia. Aku berlari ke persawahan penduduk tempat di mana kami sempat bersama dulu. Dia tidak ada di sana. Kata orang dia sedang mengajar di kaki bukit sana. Di arah utara. Aku ke sana. Batang hidungnya tak kujumpai. Terdengar olehku isu bahwa orang yang aku kenal itu sedang ada di kota. Sayang sekali sebab kekacauan, perselisihan dan perang tanding antarsuku, agama serta ras tengah melanda kota itu. Aku ingin ke sana juga. Namun, aku takut sebab aku cuma seorang anak kecil, seorang anak ingusan. Akan tetapi aku juga masih ingin mencari dia dan menemukan dia.

Aku adalah orang baru di kota ini. Aku datang sebagai orang asing. Tidak punya tempat tinggal yang tetap. Sekitar sepuluh tahun yang lalu aku mengurung niatku untuk datang ke kota ini. Hanya sisa puing-puing di kota ini. Masih tercium bau amis di sana- sini. Bau amis darah. Aku tidak heran dengan situasi ini. Di sudut-sudut, di lorong-lorong, di gang-gang bertebaran tulang-tulang manusia dan binatang. "Huh.
peperangan yang dahsyat".

Terik matahari membakar. Pepohonan di pinggir jalan kota ini yang dulu mungkin rimbun, kini kering. Semuanya kering, kersang dan berdebu. Ada sebuah tempat duduk kayu di bawah pohon itu. Aku ke sana. Duduk tercenung, menenggelamkan wajah ke dalam dua telapak tanganku. Membayangkan nasib saudara-saudaraku di belahan bumi yang lain.

Di Timur-Tengah sana. Kuangkat mukaku dan dari jarak belasan meter terlihat satu dua orang yang tengah membungkuk. Mengais reruntuhan sembari berharap menemukan sesuatu yang bisa mengusir rasa lapar dan dahaga. Pakaian mereka sudah kumal, compang-camping. Ada yang bertelanjang dada. Mereka tidak beralas kaki. Badan mereka kurus kurang terurus. Kulit balut tulang. Serasa dunia ibarat neraka. "Oh... di manakah kau yang kukenal?" aku membatin.

"Perang yang kami alami ini bukan hanya perang saudara, anak muda, tetapi juga perang politik." Kata seorang wanita tua mengusir lamunku. "Ada seorang pemuda yang diduga sebagai dalang di balik semua pertentangan ini. Kasihan pemuda itu. Ia mati dibunuh sebagai tumbal keganasan politik negeri ini."

"Mengapa ia mesti menjadi tumbal? Tolong Nek! tunjukan kepadaku di mana tempat pemuda itu dibunuh."

"Di bukit sana orang-orang membunuhnya." Nenek tua itu menunjuk ke arah bukit di bagian timur kota. "Dia korban dari proses pencarian keadilan dan kebenaran yang dilakukan oleh para pemimpin politik. Sia-sia saja kamu ke bukit itu, anak muda. Jasadnya sudah tidak ada di sana. Ada kabar bahwa mayatnya sudah dikuburkan, tapi entah di mana. Aku tidak tahu."

"Apakah Nenek kenal pemuda itu?"

"Tidak! Bertemu saja pun, tidak. Menurut pengakuan masyarakat, pemuda itu baik. Sangat baik. Sepuluh tahun silam sebelum berada di kota ini dan sebelum perang berkecamuk, ia menetap di lembah subur bagian barat kota ini. Kalau kamu mau, aku tidak keberatan mengantarmu ke bukit itu. O ya, hampir lupa. Siapa namamu anak muda."

"Yos. Yosep Humberto Taser." Jawabku singkat. Sengaja aku tidak tanyakan identitas perempuan uzur ini.

Ubun-ubun bukit itu berkerudungkan awan pekat tatkala kami tiba. Sepi. Tidak ada penduduk yang tinggal di kaki bukit itu. Kicau burung-burung hutan yang seharusnya ada, tidak terdengar sama sekali. Pepohonan di sekitar bukit, kering jua. "Penghuni bukit ini pasti sudah mengungsi ke tempat lain." Tebakku dalam angan.

"Kata orang, pemuda itu digantung di kayu palamg itu, Yos"

"Jadi, orang muda itu mati karena digantung, Nek? Benarkah demikian?"

"Betul Yos."

Suatu bunyi letusan terdengar di kejauhan. Si Nenek terjerembap kaku di sampingku. Secara refleks aku pun ikut terjatuh. Si Nenek berlumuran darah. Aku, tidak. Sebuah peluru telah menembusi bagian belakang hingga dada kiri Nenek malang itu. aku, tidak.

"Yos_" suara Nenek parau terbata-bata. Ia berbisik pelan pada kupingku. Nyaris tak terdengar. "Orang muda yang wafat tergantung pada salib itu adalah orang benar. Pencinta keadilan, pemilik kehidupan, sang kebenaran."

Ia berusaha mengerang di sisa nafasnya, meronta sesaat dan akhirnya meninggal setelah sempat berkata, "Yos, jangan pernah takut untuk berkata benar selagi ketidakbenaran dan kepalsuan lagi meraja."

Orang muda itu_diakah, dia yang aku kenal? Diakah, dia yang aku cari selama ini? Diakah, dia yang pernah katakan secara jujur kepadaku di masa silam, tentang bagaimana ia harus mati kelak?

Aku kenal dia kini. Dia yang, kata mama, sudah mengenal aku sebelum aku lahir. Dia yang dulu aku temui di persawahan penduduk. Dia yang telah banyak mengajariku, tentunya setelah banyak kali berjumpa, tentang kasih. Tentang bagaimana mencinta. Tentang bagaimana mengampuni. Tentang bagaimana saling melayani. Tentang bagaimana memimpin pemerintahan tanpa rezim tertentu. Tentang keadilan dan bukannya keserakahan. Dan, tentang bagaimana menciptakan damai, membawa damai itu, serta membuat hidup penuh damai.

Aku kenal dia masih tetap dalam kesendirianku. Si nenek baru saja pergi setelah berhasil melucuti segala pikiran dan perasaanku yang lain dan menggantinya dengan sepotong cerita tentang dia. Mungkin ia ditembak hanya karena lancang bersaksi tentang yang benar.

Bapaku, mamaku, Polceku, sama-sama raib tanpa suatu kejelasan yang pasti. Orang-orang di kota tua tadi, semuanya barangkali sudah membangkai. Karena semua kisah terakhir tentang kau yang kukenal, akan ada kerinduanku yang abadi akan dikau. Dikau yang digantung di kayu palang. Dikau yang dipasung karena kebenaran. Dikau yang maha agung.

Aku kenal dia seorang diri dan kini aku mesti keluar dari diriku, mengawali sesuatu yang baru mulai dari kaki bukit ini, pergi bersua dengan yang lain dan memberitakan dia yang kukenal kepada semua yang masih merasa sendiri***

Vocationary-Nita, 2 Mei 2009
Buat sahabat-sahabat MSC di kota dingin...!

Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda