Berita kepada Kawan

Parodi situasi Oleh Mathildis Banda

"KAWAN coba dengar apa jawabnya, ketika dia kutanya mengapa. Bapak ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini...." Syair dan lagu Berita Kepada Kawan-nya Ebit G. Ade dikumandangkannya dengan mengerti. "Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..."

"Lagu ini sepertinya sama dahsyatnya dengan kenyataan bencana," kata Benza. "Lihat saja, setiap bencana yang disiarkan berbagai televisi, Berita Kepada Kawan ikut serta," Nona Mia, Jaki, Benza, dan Rara memperhatikan siaran langsung dari lokasi bencana gempa Padang.

"Lagu ini meyakinkan kita untuk sadar akan kenyataan bencana yang terjadi di sekitar kita. Membuat kita lebih introspektif sebagai sesama manusia, sadar bahwa bencana demi bencana sebaiknya meyakinkan kita soal solidaritas... Jadi kupikir, kita pakai syair dan lagu saja untuk menggugah."

"Ah, pidato saja! Lengkap dengan SK nomor sekian dan undang-undang nomor sekian. Tidak perlu syair," sambung Jaki. "Syair itu hanya fiksi bukan fakta... kita tidak perlu. Kita perlu pidato tentang fakta untuk menarik perhatian bukan syair alias fiksi!"

***
"Fiksi tetapi lebih dahsyat dari fakta," sambung Nona Mia. "Sesampainya di laut kukhabarkan semuanya, kepada awan kepada angin kepada matahari. Tetapi semua diam, tetapi semua bisu. Tinggallah kusendiri, terpaku menatap langit... Barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana..." Nona Mia menyanyi. "Syair yang sungguh menggugah..."

Syair yang digubah dari realitas sesungguhnya, intensitas maknanya lebih dalam dari kenyataan, dan lebih mengatakan kebenaran..." Benza menyambung.
"He he he.... Aku heran dengan orang-orang yang jatuh cinta dengan syair," Jaki memberikan pendapatnya.

"Apakah tidak membosankan? Setiap kali bencana pasti itu lagi, itu lagi, Berita Kepada Kawan yang dikumandangkan! Apanya yang mengesankan? Memangnya kalian berdua penyair dan penggubah lagu seperti Ebiet?" Komentar Rara. "Syair itu hanya impian penyair, bagaimana mungkin lebih dahsyat dari kenyataan? Orang-orang pada dengar imbauan dan pidato-pidato, bukan syair dan lagu! Menggugah bagaimana?"
"Ingat! Kita ini mau cari dana bukan mau show puisi," protes Jaki lagi.

***
"Jauh lebih menggugah dari pidato lurah, kepala desa, camat, bupati, gubernur, maupun presiden, yang mengimbau untuk ulurkan bantuan untuk korban gempa," kata Benza dengan sungguh-sungguh. Fiksi apakah fiksi? Fakta apakah fakta? Mana yang fiksi dan mana yang fakta? Di tanah air tercinta ini, semuanya tergantung pada tujuan dan kepentingan, sehingga sulit baginya untuk memastikan mana yang fiksi dan mana yang fakta.

Sebab banyak fakta yang mengungkapkan fiksi dan selanjutnya ternyata ungkapan fiksi lebih jujur memperlihatkan fakta dari pada fakta yang sebenarnya. Bencana gempa, banjir, tanah lonsor, teror, pencurian, perampokan, kekerasan, perkosaan, penganiayaan, dan pembunuhan. Bencana kemiskinan dan kelaparan, keterpurukan pendidikan, utang di atas utang, gizi kurang, gizi buruk, dan berbagai penyakit yang sungguh miris.

Sepertinya hanya dapat digugah dengan sebuah syair lagu dibandingkan dengan berbagai imbauan dan pidato. Sebagai penyair, pantas saja Benza berpikir demikian. Sebagai penyair sekaligus pencinta syair, wajar saja jika Nona Mia memiliki apresiasi yang berbeda dengan Jaki dan Rara soal bagaimana mengetuk hati.

***
"Korban bencana membutuhkan makanan minuman selimut obat-obatan tenda, bukan syair dan lagu! Para korban bencana perlu duit bukan syair," demikian Jaki. "Karena itu sekarang saatnya kita turun lapangan, bawa kotak derma, dan gugah penduduk kota supaya sumbang. Apakah kamu tidak dengar himbuan Bapa Uskup agar kita semua berderma untuk saudara-saudara kita di Padang?"

"Mari kita keliling kota dari rumah ke rumah, mohon sumbangan. Atau kita berdiri di setiap lampu merah, di setiap tikungan, di tempat umum, kita bawa kotak amal ini. Ayo cepat!" Kata Rara.

"Ya, aku akan berpidato berapi-api tentang solidaritas kemanusiaan, lengkap dengan undang-undang, keputusan, kebijakan nomor sekian-sekian agar orang tertarik!" Rara berkata nyaring. "Bukankah orang-orang pada tahu siapa aku? Jadi kalau aku berpidato di jalan-jalan pasti kotak amal kita lebih cepat penuh!"

"Kita bawa gitar saja melantunkan syair dan lagunya Ebiet!" Kata Benza.
"Pidato saja lebih pas. Pidato tuh jelas mengungkapkan fakta. Kalau syair mau ungkapkan apa?" Protes Rara.

***
"Ayo, kita bisa memberi derma sekaligus berderma, menggugah masyarakat kota kita berderma, sambil bersyair dan menyanyi dan imbauan dan pidato," Nona Mia dengan rendah hati mengambil jalan tengah dan diamini Benza. "Dalam situasi ini imbauan dan pidato tepat disampaikan bersama syair dan lagu semuanya pasti didengar!"

"Berita kepada kawan-kawan semua... telah terjadi berbagai bencana di tanah air tercinta, mari ulurkan tangan untuk membantu..." Jaki berpidato, disambung dengan syair dan lagu disertai gitar oleh Nona Mia... "Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika dia kutanya mengapa. Bapa ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini..."

Ternyata benar. Pidato disertai gitar, syair, dan lagu telah menyentuh hati penderma untuk menyumbang dengan ikhlas... *


Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda