Bruno Kupok dan Maria Lisdawaty


Drs. Bruno Kupok dan keluarganya


Didik Anak Agar Disiplin

MENDIDIK anak agar bersikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu cara yang dilakukan pasangan Bruno Kupok dan Maria Lisdawaty. Disiplin pula yang menjadikan anak-anak mereka berprestasi di sekolah.

Kepada Pos Kupang di kediaman mereka, Jumat (9/10/2009), pasangan yang menikah tahun 1983 ini menceritakan banyak hal tentang kehidupan rumah tangganya.

Pasangan ini memiliki tiga anak, yaitu Maria Elisabet Angraeni, lahir di Surabaya, 18 Mei 1984, saat ini sudah menjadi apoteker dan PNS. Anak dedua, Maria
Helena Ayu Permatasari, lahir di Kupang, 28 Maret 1989, saat ini Semester V Fakultas Ekonomi, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan si bungsu, Mario Andreas Himawan, lahir di Kupang, 20 Juli 1999, saat ini Kelas VI SD Katolik St. Yosep II, Naikoten-Kupang.

Menurut Bruno, sapaan akrab Drs. Bruno Kupok, keberhasilan anak tidak terlepas dari peran istri. Sebagai ibu rumah tangga yang setia, sang istrilah yang intens membimbing anak-anak di rumah.

Kesibukan di kantor, katanya, sangat menyita waktu untuk anak-anaknya. Untuk itu, peran istrinyalah yang paling banyak untuk mendidik dan membimbing anak- anak mereka. "Sebagai suami istri, kami saling membagi tugas. Saya sebagai suami bekerja dan memenuhi semua kebutuhan keluarga dan anak, sementara istri saya karena hanya tinggal di rumah, dialah yang mengambil peran dalam mendidik dan membesarkan anak-anak saya. Inilah kesepakatan yang kami lakukan agar saling membantu," kata Kepala Biro Umum, Setda NTT ini.

Sementara Maria Lisdawaty mengatakan, dirinya memahami betul keterbatasan yang dimiliki anak- anaknya. Menurutnya, apa yang diperoleh anak di sekolah sangat terbatas. Sebab mereka hanya beberapa jam saja di sekolah. Selebihnya anak berada di rumah bersama orang tua.

Selalu Utamakan Belajar
Sebagai ibu yang mempunyai banyak waktu dengan anak-anak di rumah, ia selalu mengutamakan belajar bagi anaknya. Selesai belajar, barulah anak-anak membantunya.

Biasanya, Lisdawaty memberikan kesempatan sebaik- baiknya untuk belajar bagi anak dan menanamkan disiplin kepada anak. Disiplin yang diterapkan adalah disiplin waktu, yakni waktu untuk makan, belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, istirahat dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

"Walau saya bukan ibu guru, tetapi saya merasa sebagai ibu adalah guru di rumah. Saya katakan sejak anak sulung, saya memberikan pelajaran kepada anak dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Saya memang sedikit keras sampai anak menangis, tetapi saya tidak melakukan kekerasan, karena saya ingin anak-anak harus belajar. Begitu pun dengan anak kedua dan anak ketiga walau agak sedikit kepala batu. Saya tidak paksakan mereka, tetapi dari diri sudah ada disiplin sehingga sampai saat ini mereka termasuk anak-anak yang baik dan cerdas," katanya.

Maria mengatakan, ketiga anaknya memiliki kedisplinan yang tinggi dan sebagai orangtua hanya membantu mengawasi dan mengarahkan. Keinginan untuk berhasil berasal dari diri mereka sendiri.

"Saat ini anak sulung saya sudah selesai kuliah dan sudah lulus PNS di Dinas Kesehatan Propinsi NTT, namun masih melakukan orientasi di Biro Urusan Pegawai (UP) Setda NTT," jelas Lisdawaty.

Hal penting lain yang dilakukan oleh keluarga ini adalah membangun komunikasi dengan anak. Baginya, biar tidak makan yang penting komunikasi dengan seisi keluarga berjalan baik. Keluarga ini juga menanamkan nilai-nilai budi pekerti pada anak-anak sejak kecil seperti menghargai orang lain.

Penerapan disiplin dalam rumah tidak pernah membebani anak-anak dan mereka melakukannya dengan enjoy. "Kami memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak dalam suasana santai.

Bagaimana menghormati orang lain dan lingkungan, adik terhadap kakak, kakak terhadap adik, bagaimana sapa menyapa, keluar harus pamit dulu, dan lain-lain," katanya.

Soal jadwal belajar, Maria mengatakan, dirinya tidak pernah menerapkan jadwal khusus untuk belajar di rumah, namun yang penting setiap hari minimal satu jam baca buku, sehingga saat ujian tidak memaksakan anak untuk belajar berjam-jam.

Disiplin, katanya, juga diterapkan pada hal keuangan. "Biasanya anak-anaknya sangat irit dan kalau masih ada uang, mereka tidak akan minta lagi. Biasanya mereka selalu merasa cukup dengan uang yang diberikan," katanya.

Keyakinan Seorang Ibu
Soal anak-anaknya yang mulai beranjak remaja dan dewasa, Maria mengatakan, sebagai umat beriman, ia memiliki keyakinan sebagai seorang ibu bahwa anak- anak memiliki dasar iman yang kuat, sehingga walau mereka jauh di Surabaya dan dimana saja, pasti bisa.


"Yang penting saya sering komunikasi dengan mereka melalui telepon saya tanyakan kebaradaan mereka, sedang melakukan apa. Untuk pendidikan, memang kadang kami memberikan arahan dan memberikan gambaran bahwa mencari sekolah yang bisa menjanjikan. Namun kami tidak memaksa karena kami hanya bisa memberika gambaran," katanya.

Anak-anak, juga diberikan kesempatan untuk berorganiasi di bidang keagamaan seperti legio maria remaja, bergabung dengan OSIS. Ketiga anaknya, katanya, memiliki hobi membaca semua sehingga uang hanya dimanfaatkan untuk membeli buku.

Selain membantu anak-anaknya menyelesaikan pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah lainnya, ia juga mendidik anak-anaknya tentang budi pekerti dan ahlak.
Hal ini dilakukan, katanya, agar ketiga anaknya tidak saja diisi dengan kecerdasaan intelektual yang didapatkan di sekolah, tetapi juga diimbangi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.(nia)

Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda