Bunga Pepaya dan Tiga Ekor Burung

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

CUACA di luar rumah sangat cerah pagi itu. Namun cerahnya cuaca itu tidak mampu mengusir meendung kelabu yang menyelimuti hati Ros. Dia sangat kecewa terhadap perilaku Helen. Sahabatnya itu telah mengabaikan begitu saja kepercayaan yang telah bertahun-tahun diberikan Ros kepadanya.

Persahabatan antara keduanya sudah terjalin sejak keduanya sama-sama duduk di TK. Hubungan antara keduanya tidak ubahnya saudara sekandung. Tidak ada lagi hal yang dirahasiakan Ros dariHelen. Jika menghadapi suatu maslaha Ros selalu menjadikan Helen sebagai tempat curahan hatinya. Bahkan hingga isi dompetnya pun selalu ditunjukkannya kepaada Helen.

Ros sama sekali tidak menyangka kalau suatu saat Helen akan mengkhianatinya. Ros juga tidak menduga kalau sahabatnya itu akan membocorkan isi diarynya kepada Pety dan gengnya, yang selama ini memusuhinya. Ros sama sekali tidak dapat menerima kenyataan kalau Helen melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan uang seratus ribu rupiah dari Pety.

Tidaklah mengherankan kalau Ros sangat kecewa akan ulah Helen itu. Jangankan memaafkan, melihat sosok Helen pun saat ini dia tidak sudi.Karena itudia memutuskan untuk tidak ke sekolah. Bahkan belakangan dia sudah mempertimbangkan untuk meminta kepada Bapak agar memindahkannya ke sekolah lain. Tujuannya hanya satu, yakni agar tidak bertemu dengan Helen dan bila perlu untuk selamanya.

* * *
Bosan menonton televise, Ros mengalihkan perhatiannya ke luar rumah. Tampak tiga ekor burung sedang bermain-main di antara rangkaian bunga papaya. Sesekali burung-burung itu mencocokkan parunya di antara rangkaian bunga papaya Rupanya mereka sedang asyik mengisap madu dari rangkaian bunga papaya tersebut, piker Ros. Ros terpesona oleh pemandangan yang sedang disaksikannyha itu.

Di antara rangkaian bunga papaya yang terkenal pahit itu, ternyata masih terdapat tetes-teetes madu manis yang diisap oleh burung-burung itu. Pikirannya pun melayang kepada sahabatnya Helen. Kalau papaya yang terkenal pahit saja masih terdapat madu pada bunganya, apalagi Helen sebagai seorang manusia, yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sejahat-jahatnya Helen, dia pasti memiliki sisi baiknya, kata Ros dalam hati..

Perlahan-lahan kebaikan Helen kembali terbayang di benak Ros. Setiap kali Mamanya membuat kue, Helen selalu menyisihkan jatahnya dan dibawakannya untuk Ros. Helen juga tidak pernah bosan membantu Ros mengerjakan PR, terutama dari mata pelajaran yang menurutnya sulit, seperti Matematika dan Bahasa Inggris.Helen juga selalu bersedia menemani ke mana pun Ros hendak pergi.

Bagaimana dengan pembocoran isi diary yang dilakukan Helen? Mungkin saja dia terdesak oleh kebutuhan yang ada. Apalagi dia ditawari imbalan seratus ribu rupiah oleh Pety dan gengnya. Sebagai manusia lemah Helen khilaf dan mengambil jalan pintas.Namun Helen cepat tersadar dari kekeliruannya itu. Dua kali sudah dia datang ke rumah untuk meminta maaf pada Ros atas perbuatannya itu. Dua kali pula Ros tidak bersedia menemuinya. Jika Helen kembali datang untuk meminta maaf, masih haruskah dia menolaknya?, tanya Ros dalam hati.

***
"Aku sudah memaafkanmu Helen. Kuharap kamu tetap bersedia menjadi sahabatku", kata Ros sambil memeluk Helen saat Helen datang untuk ketiga kalinya. Tidak lama berselang keduanya sudah kembali larut dalam cerita dan canda tawa sebagai dua sahabat lama.(*)

Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda