Cerita Cinta dari Kaki Ile Ape

Cerpen Magdalena Ina Tuto

PANAS terik membakar, hanguskan segala yang ada. Hembusan angin kemarau yang menerpaku kian menusuk hingga ke dalam sum-sum tulangku.

Aku sedikit mengedipkan mata menahan perih akibat tertempel debu-debu yang menyeruak dari lingkungan di sekitarku. Siang itu aku sedang menyusur jalan setapak menuju ke kebun. Kebun ini letaknya cukup jauh dari rumah.

Maklum ini adalah warisan yang paling berharga dari keluarga kami. Ibuku telah ada di sana sejak pagi tadi. Aku datang agak terlambat sebab masih membereskan rumah dan mencuci beberapa potong pakaian.

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adikku masih duduk di sekolah dasar. Ayahku telah meninggal beberapa tahun yang lalu di tanah perantauan. Kini tinggal ibu yang menopang keluarga kami.

Usianya telah lebih dari setengah abad, walau demikian semangat kerjanya masih tetap seperti dulu. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu.

Sengatan sang mentari seakan memecah ubun-ubun kepalaku, padahal ini baru pukul 10 lewat lima menit. Aku menyeka keringat yang bercucuran di leherku. Aku terus berjalan.


"Ina mau ke mana?" sapa tanta Tin dari bawah pohon asam, tepat beberapa meter dariku.

"Saya mau menyusul mama ke kebun" jawabku sambil melempar senyum padanya. "O,..iya, engko punya mama sudah dari tadi pagi pigi kebun. Mungkin ada petik jagung itu,.." lanjut tanta Tin, sambil memungut buah asam yang berserakan di atas tanah.

"Kalo begitu saya lanjut dulu tanta,.." jawabku sambil berlalu. Aku baru tamat SMA tahun ini. Sekolahku ada di Kota Lewoleba, Ibu kota Kabupaten Lembata.

Saat melihat tanta Tin anganku kembali saat aku masih di SD dulu. Waktu itu tugasku adalah memilih buah asam, mencungkil- memisahkan kulit buah dari biji dan menjualnya. Hasilnya bisa buat membeli buku dan pinsil.

Kebun kami sudah kelihatan dari arahku. Aku mempercepat langkah. Di hadapanku tegak berdiri gunung kebanggaanku, Ile Ape, yang berarti gunung berapi.

Mungkin dari namanya inilah yang membuat panas suhu di sekitarnya. Jenis tanaman yang mampu ditanam dan hidup di musim hujan juga amat terbatas.

Pada umumnya tanaman tersebut antara lain jagung dan ubi-ubian.


Untuk jenis tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi tidak dapat tumbuh di lereng gunung ini. Namun aku sangat heran.

Pada umumnya penduduk atau masyarakat yang menghuni lereng gunung ini memilih beras sebagai bahan makanan pokok. Ubi dan jagung sudah hampir terlupakan. Orang enggan makan nasi jagung atau ubi. Katanya takut dicap miskin dan tidak mampu.

Demikian cerita teman-temanku di sekolah. Kebetulan juga di Lewoleba aku tinggal di kos. Jadi aku dapat mengamati semua pola makan dari teman-temanku.

Berasal dari keluarga sederhana aku telah terbiasa mengonsumsi nasi jagung sejak kecil. Sebab yang ada di lumbung rumah kami hanya jagung. Hasil panen selama satu musim tanam bisa kami makan selama satu tahun penuh dan bahkan masih ada sisanya.

Sisanya tersebut biasanya kami jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menjual jagung biasanya lewat pengolahan terlebih dahulu. Teknik pengolahannya sangat sederhana.

Ada yang digiling, ada pula yang dititi (jagung titi) dengan batu setelah biji-biji jagung dipanaskan terlebih dahulu dalam tembikar (periuk yang terbuat dari tanah liat).

Dan yang bertugas meniti jagung ini biasanya aku dan juga mama. Kadang aku berpikir mengapa teman-temanku tersebut enggan makan jagung? Padahal gizi yang terkandung dalam jagung lebih tinggi dari beras. Ini terbukti, dari makan makanan jagung ini, telah dihasilkan manusia-manusia handal dan produktif yang kini sedang memimpin propinsi ini dan bahkan ada yang menjadi orang penting di negara ini. Mereka ini pada umumnya mengonsumsi jagung pada saat masih kecil.

Dari semua hal inilah saya bercita-cita menjadi seorang ahli gizi yang dapat mengolah semua pangan lokal yang ada di lereng gunung Ile Ape ini menjadi makanan pokok yang lezat dan bergizi tinggi.

"Mama..., istirahat dulu...." kataku sambil meletakkan bawaanku di pondok kecil yang terbuat dari daun tuak. Mama menghentikan pekerjaannya. Ia berjalan ka arahku. Pakaian kebaya kumal yang dikenakannya basah oleh keringat.

Ia kelihatan amat letih. Beberapa tumpuk jagung yang baru dipetik terletak di sisi kiri kanan. Sorot mata keibuannya memancar kuat di balik kelopaknya yang mulai keriput dimakan usia.

"Adik-adikmu sudah pulang sekolah?" Tanya ibu sambil duduk di sampingku. "Belum Ma, tapi tadi saya sudah pesan, kalo pulang sekolah langsung ganti pakaian dan ikut ke kebun...," jawabku kalem.

Semenjak ditinggal ayah, keadaan kami semakin terpuruk. Uang yang didapat dari hasil jualan jagung titi, manisan asam, dan siput kering seakan tidak dapat lagi menopang hidup kami berempat. Untung di sekolah saya mendapat beasiswa dan kini telah tamat dengan nilai tertinggi. Kedua adikku juga selalu rangking dalam kelas.

Aku membuka bungkusan dalam bakul yang kubawa tadi. Satu periuk nasi jagung dan beberapa ikat siput kering yang telah dibakar. Ini untuk empat porsi.

"Mama makan dulu...," ajakku pelan.
Ia menatapku dengan tatapan penuh iba. "Mama tidak lapar sayang..," kata-katanya pelan, namun sangat jelas terdengar. "Mama..., saya bisa tanya?" Aku merapatkan dudukku ke sisinya. Ia mengangguk.

"Mama..., bagaimana dengan sekolahku? Apakah aku bisa lanjut ke perguruan tinggi?" Mama diam..., air mukanya berubah. Kudapati kesedihan yang amat dalam di sana. Air matanya menetes perlahan, bercampur dengan peluh yang ada di wajahnya. Aku merebahkan kepalaku ke pangkuannya.

"Mama..., saya tahu keadaan kita dan saya tidak paksa mama bahwa saya harus lanjutkan sekolah....," kata-kata ini mengalir bersama tetesan air mataku yang jatuh ke pangkuan ibuku.

Aku tidak bisa memaksa keinginanku, tetapi aku juga tidak bisa menyembunyikan cita-citaku untuk menjadi seorang ahli gizi. Suara isak tangis kami ini menyatu dalam buaian angin kemarau, lantas menghembuskannya ke segala pejuru dan akhirnya hilang lenyap di balik gunung Ile Ape. (*)

Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 6

1 komentar:

Kondisi Geografis tanah Ile Ape memang sangat tidak mendukung kegiatan pertanian masyarakatnya, namun kondisi ini tidak pernah menyurutkan semangat orang-orang Ile Ape untuk mengurusi kebunya di saat musim tanam tiba.
Seperti yang di tunjukan oleh seorang ibu paruh baya yang sedang beraktivitas di kebunnya. Begitu juga anak perempuannya yg pertama, kondisi panas dan teriknya matahari tak membuat langkahnya terhenti untuk menyusul ibunya ke kebun sehabis membereskan rumah.
Saya sangat bangga apabila anak-anak mudah sekarang bisa menunjukan semangatnya seperti seorang gadis lulusan SMA ini....

12 Februari 2010 21.13  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda