Dengan Alasan Gender, Cewekku Pergi Merantau

Dokter Valens Yth.

Salam Sejahtera. Saya menulis surat ini dari Kabupaten Sikka. Sudah setahun lebih ini saya bekerja pada satu yayasan yang bergerak dalam upaya peningkatan ekonomi rakyat pedesaan. Saya sendiri bernama Eman, umur 23 tahun, tamatan SMU. Belum melanjutkan sekolah karena saya belum punya biaya yang cukup. Mungkin tahun depan kalau orang tua dan juga saya bisa nabung sedikit-sedikit agar bisa kuliah.

Kami bekerja di pedesaan dengan berbagai kelompok masyarakat sederhana. Kebanyakan mereka ibu-ibu atau kaum perempuan. Banyak laki-laki pergi merantau. Ada yang ke Kalimantan ada juga yang pergi keluar negeri, khususnya ke Malaysia. Kaum pria pergi jauh dan membiarkan istri dan anak di kampung. Banyak juga kaum ayah yang di perantauan itu mengirim uang untuk keluarganya di kampung .

Tapi banyak juga yang kawin lagi di negri orang. Nah. belakangan ini kaum perempuan juga mulai ikut û ikut pergi merantau. Mereka kerja di rumah-rumah bos (toke) di Malaysia. Di antara mereka itu ada juga Nina, gadis yang sudah lama saya taksir. Tapi ya.. mau bilang apa. Sudah delapan bulan Nina dengan rombongannya sudah berangkat. Memang, pernah saya dapat satu surat, katanya mereka sudah bekerja di rumah orang kaya. Tapi bekerja dari pagi sampai malam, jadi tidak sempat tulis surat. Nina itu teman sekolah waktu SMP.

Dia lebih muda satu tahun dari saya. Dokter, ketika saya mengeluh hal ini pada rekan kerja yang lebih senior, mereka jawab, ya sekarang ini jamannya jender. Atau kadang mereka jawab saya, biar too, musti ada emansipasi. Memang saya tamat SMU, dan saya pun pernah dengar istilah-istilah itu, tapi untuk mengertinya lebih jauh saya belum. Apalagi menerima kenyataan bahwa pacar juga pergi merantau ini ini juga karena jender. Itu bagaimana dokter ?.

Hal lain lagi yaitu, kalau lama-lama tidak ada berita saya mau putus saja, biar lewat surat. Bila kemudian hari saya cari pacar baru lagi saya akan larang dia supaya jangan pergi merantau. Kalau itu yang saya lakukan, baik atau tidak dokter? Soalnya kalau pacaran jarak jauh kan susah, mana tahan dokter. Akhirnya atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Eman, Sikka.


Saudara Eman yang baik.
Selamat bertemu buat Anda di Sikka. Mudah-mudahan setelah Anda banyak mengalami berbagai situasi di masyarakat, Anda mulai semakin memahami bahwa beginilah kehidupan riil itu adanya. Ketika Anda masih di bangku sekolah, hidup itu dirasakan seperti sesuatu yang sudah ada rutenya. Setelah Sekolah Dasar, masuk SLTP, setelah SLTP masuk SMU, sudah ada "track" nya. Namun ketika masuk "sekolah" masyarakat kenyataan menunjukkan lain. Hidup tidak lagi seperti garis lurus. Rutenya banya, dan bervariasi satu dengan yang lainnya.

Hidup mempunyai lekak-lekuk, ada riak dan gelombangnya. Ada juga jalan pintas atau bahkan ada lompatan yang melambung. Yang dilakukan Nina adalah mencoba melewati jalan pintas, walau terasa agak sulit, tapi mudah-mudahan di ujung jalan pintas ini ada suatu kesuksesan menanti. Satu point ini Nina mempunyai nilai lebih, dia menggunakan ôrisk taking behaviourö(Nina mau mengambil suatu resiko).

Umumnya perilaku ini kita temukan pada pria, tapi tidak salah juga seorang wanita melakukannya. Nina ingin merubah hidupnya sendiri dan hidup keluarganya. Mungkin juga anda sedang diperhitungkan Nina dalam upaya dia melakukan perubahan itu.

Sebagai contoh, bisa saja saat ini, Nina sedang benar-benar sibuk bekerja, demi mengumpulkan uang di perantauannya agar kelak dia bisa pulang dan bersama anda membangun suatu keluarga yang mandiri. Atau bahkan demi cintanya kepada Anda dia mampu mencari uang dan membantu Anda untuk lanjutkan kuliah, agar ketika Anda sudah selesai kuliah, Anda berdua bisa lebih mampu hidup. Sampai di sini apakah Nina masih salah ? Belum bukan ?

Nah inilah yang dimaksudkan dengan Gender (jender) itu. Masalah Gender merupakan situasi sosial dan budaya masyarakat kital yang selalu mengkonstruksikan perbedaan sifat kaum pria dan wanita.

Misalnya wanita selalu dianggap lemah lembut, emosional dan keibuan, hanya jaga rumah dan bukan pencari nafkah. Laki-laki dikenal kuat, rasional, jantan dan perkasa. Namun sebetulnya semua sifat yang disebutkan di atas tidak mutlak hanya dimiliki wanita atau hanya oleh laki-laki. Artinya ada pria yang juga emosional dan lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Sifat-sifat ini dapat dibentuk dan dapat dirubah dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi dlsb. Semua yang dapat dipertukarkan antara sifat wanita dan pria, berubah dari waktu ke waktu, dari budaya ke budaya lain itulah yang disebut dengan konsep jender.

Kenyataan bahwa Nina bisa pergi kerja di Malaysia sama nyatanya dengan adanya beberapa Mentri di negara kita yang Perempuan, seperti Mentri Kesehatan, Mentri Perdagangan, atau ada Bupati atau Gubernur yang juga perempuan. Selanjutnya, dalam surat Anda katakan bahwa Anda ingin tulis surat putus dengan Nina.

Kelihatannya Anda mempersoalkan jarak. Memang jarak dalam situasi tertentu dapat menjadi momok bagi suatu ikatan cinta. Namun pernahkah anda mendengar ungkapan ini : Jauh di mata dekat di hati. Dalam lirik sebuah lagu dari Inka Christi dan salah seorang penyanyi rock Malaysia, Amy Search, mereka mengungkapkan: andai dipisah laut dan pantai tak akan goyah gelora cinta, andai dipisah api dan bara tak akan pudar sinaran cinta.

Saat inilah sinar cinta Anda berdua sedang diuji. Bila Anda berdua saling setia, sampai kelak Nina kembali dan Andapun sudah menggapai cita-cita, maka jangan ragu, saya jamin Anda bisa mendirikan bahtera rumah tangga Anda di atas batu karang yang kokoh.

Dengan penjelasan saya yang panjang lebar ini saya yakin Anda tidak lagi membutuhkan jawaban untuk pertanyaan Anda yang kedua ( yang mana tahan itu). Nah, semoga Anda bisa tahan.
Salam Dr. Valens Sili Tupen, MKM.


Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda