FX Lopes da Cruz


Kedubes, Mata dan Telinga Pemerintah

DALAM arena politik seperti menunggang gelombang yang berdebur-debur kencang mengincar pantai. Orang memang bisa lama di pucuk gulungan air, tapi sekali waktu, sepintar, sebijak, sehati-hati dan seberuntung apapun dia, saat jatuh akan selalu tiba. Prosesnya dapat begitu cepat, begitu mendadak, hingga orang itu tahu-tahu sudah terbanting dan terbenam di dasar gelombang. Demikian salah satu aline dari bagian otobiografi FX Lopes da Cruz, salah seorang diplomat Indonesia.

Apa yang dikatakan Lopes da Cruz ini telah menjadikannya piawai dalam mengarungi belantara kehidupan. Beberapa kali ia jatuh sampai pada titik nadir, bahkan ia rasakan dada ngilu dan mulut getir. Tetapi, seketika ia bangkit dan memulainya dengan optimisme.

Sebagai seorang diplomat, Lopes da Cruz, menawarkan untuk mempererat hubungan RI dan Timor Leste, maka perlu dipikirkan supaya pada suatu saat kelak Timor Leste dan RI menikmati suasana seperti di Portugal dan Spanyol, yang bebas ke mana- mana tanpa visa dan imigrasi. Lalu, apa saran Lopes da Cruz, untuk mempertahankan keutuhan NKRI? Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Paul Burin dan Hyeron Modo, dengan FX Lopes da Cruz, di Hotel Kristal - Kupang, Jumat (18/9/2009) malam

Setelah Anda menyelesaikan tugas sebagai Dubes, apa saja kegiatan selanjutnya?
Selain membenahi diri, baik secara jasmani maupun rohani serta lebih memperhatikan keluarga, saya juga berusaha untuk memberikan kontribusi saya bagi bangsa dan negara dalam bentuk lain. Bedanya, saya betul-betul merdeka karena dapat mengatur waktu saya untuk kegiatan-kegiatan di atas, tanpa terikat pada aturan aturan protokoler dan birokratis.

Tugas apa saja yang dilakukan oleh seorang Dubes?
Seorang Dubes adalah wakil bangsa dan wakil pribadi Presiden RI di negara akreditasi. Dengan demikian maka punya tiga tugas pokok, yakni mewakili bangsa dan negara, mengadakan negosiasi dengan negara akreditasi dan melapor ke pusat segala sesuatu yang terkait dengan tugas dubes, baik secara internal maupun eksternal, termasuk situasi dan kondisi negara akreditasi ditilik dari segi ekonomi, politik,sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

Selama ini banyak pihak yang menyebut Kedubes merupakan mata-mata pemerintah. Tanggapan Anda?
Sebutan tersebut agak "kasar" namun mengandung kebenaran, yaitu melaporkan ke pusat, bukan hal-hal yang keluar di media massa dan diketahui umum, apalagi sudah dengan sentuhan-sentuhan politisnya tetapi hal-hal yang merupakan hasil pengamatan yang cermat dan bersifat rahasia karena tidak diketahui oleh masyarakat luas. Mata-mata mengandung konotasi negatif, namun yang dilakukan kedubes adalah menjadi mata dan telinga pemerintah dalam mengumpulkan informasi yang juga bermanfaat dalam mendesain suatu kerangka kerja sama internasional.

Apa saja pengalaman selama menjadi Dubes?.
Hidup kita tidak luput dari masalah! Yang penting jangan kita yang menjadi pembuat masalah (trouble maker). Jika ada masalah kita membuat diagnosa atas masalah-masalah tersebut supaya dapat memahami sumber dan penyebab masalah dan dengan itu mendapatkan terapi atau penyelesaian yang baik, tanpa menimbulkan masalah baru bagi bangsa dan negara kita maupun negara akreditasi. Penyelesaian masalah harus diletakkan pada sikap selalu menjunjung tinggi hubungan bilateral yang harmonis antara kedua bangsa dan negara. Baik di Athena, Yunani maupun di Lisabon, Portugal, boleh dikatakan selama kami bertugas di dua negara tersebut, tidak muncul masalah yang berarti. Di Athena ada anak-anak kapal, putra Indonesia yang terdampar, namun semuanya dapat kita selesaikan dengan baik melalui kerja sama dengan pemilik kapal dan pemerimntah setempat. Di Lisabon ada orang-orang pro-kemerdekaan eks Timor Timur, yang pada mulanya ingin bersifat agresif seperti dulu, tetapi saya menghadapi mereka dengan sifat lemah-lembut, ramah dan sabar, dan dengan demikian mereka pun bersedia menerima realita sekarang.

Selama menjadi Dubes, adakah perubahan hubungan Indonesia dan Portugal?
Ya, ada perubahan yang sangat berarti. Kami mulai bertugas di Portugal pada tanggal 15 Septembet 2005 dan mengakhirinya pada tanggal 31 Desember 2008. Pada mulanya pihak Portugal sepertinya tidak menginginkan saya bertugas di Portugal, karena kritikan yang saya lontarkan terhadap Portugal di masa lalu. Namun karena kegigihan Indonesia dalam hal ini Menlu RI, Dr. Nur Hassan Wirajuda, untuk mempertahankan posisi Indonesia, akhirnya mereka menyerah dan saya pun dapat bertolak ke Portugal. Strategi saya tidak lain adalah mengatakan kebenaran tentang proses dekolonisasi di Timor Portugis sebelum menjadi Timor Timur karena saya yakin bahwa tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kebenaran, namun tidak ada juga yang lebih mampu untuk menyembuhkan dari pada kebenaran. Setelah itu, wartawan dari surat kabar, majalah serta radio dan televisi saya manfaatkan untuk memperkenalkan Indonesia dalam segala segi kehidupan rakyat dan perkembangan demokrasinya, kepada rakyat Portugis. Metode yang digunakan adalah KBRI-Lisabon membiayai mereka untuk datang ke Indonesia dan menyaksikan serta mengalami sendiri situasi dan kondisi Indonesia serta keadaan rakyatnya! Sekembalinya ke Portugal masing-masing menulis tentang Indonesia. Hasilnya, jika pada tahun 2005 turis portugis ke Indonesia tidak lebih dari 500 orang per tahun, pada pertengahan tahun 2008 sudah meningkat menjadi 14 ribu wisatawan Portugis yang berkunjung ke Indonesia.

Upaya diplomasi Anda mempromosikan Indonesia?
Segala upaya yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (Kedubes RI) tidak lain adalah untuk mempromosikan Indonesia, baik secara politik dan sosial budaya maupun ekonomi. Secara politis kita meningkatkan jumlah kunjungan bilateral antara pejabat kedua negara; secara sosial budaya kita datangkan tim-tim kesenian dari Indonesia untuk tampil di Lisabon maupun di beberapa kota besar di Portugal. Rakyat/publik Portugal menyambut dengan penuh entusiasme kesenian Indonesia. Sebaliknya, kita turut mensponsori grup kesenian Portugis untuk tampil di resepsi Kemerdekaan Indonesia di Lisabon, termasuk mengirimkan Tim Fado de Coimbra untuk mengadakan pertunjukan kesenian Portugal di Bali. Mudah-mudah ada sponsor sehingga tim kesenian NTT pun dapat tampil di Portugal.

Sebagai diplomat, apa tanggapan Anda terhadap masa depan Indonesia?
Masa depan Indonesia tergantung pada usaha kita sekarang ini! Apa yang kita tabur dan tanam itulah yang akan kita tuai dan panen pada masa yang akan datang! Jika kita menabur angin, kita akan menuai badai. Untuk mempertahankan NKRI di tengah arus globalisasi yang melanda dunia; Pertama, kita harus bersatu dalam keadaan apapun juga; Kedua, manusia Indonesia harus menjadi subyek dan sekaligus tujuan pembangunan, jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Self of belonging harus ditanamkan di dalam hati sanubari setiap insan Indonesia: Right or wrong, my country! Namun ke dalam, yang wrong...yang salah harus dikatakan dan ditiadakan, sedangkan yang right...yang benar diteruskan dan dikembangkan lagi. Ketiga, Indonesia harus menyesuaikan diri sebagai bangsa dan negara dengan situasi aktual sekarang ini, di mana lalu lintas manusia, barang, jasa dan budaya cenderung meminimisasi makna fisik dari batas-batas teritorial negara walaupun tetap mempertahankan prinsip dasarnya, NKRI.

Sebagai diplomat, apa bentuk kepedulian Anda dalam melahirkan diplomat-diplomat muda ( kaderisasi)?
Diplomat-diplomat muda seyogyanya sejak dini harus membekali diri dengan beberapa kompetensi dan kemampuan yang nantinya akan menunjang kariernya dalam pelaksanaan tugas. Cinta Tanah Air berdasarkan argumen-argumen yang kuat adalah sangat penting sebagai dasar yang memotivasi setiap pelaksanaan tugas. Kompetensi dasar seperti penguasaan bahasa, minimal dua bahasa PBB; sebaiknya didorong agar menjadi salah satu prasyarat mengingat kemampuan para diplomat untuk dapat berbicara dalam bahasa negara akreditasi akan mempercepat proses adaptasi dengan situasi dan kondisi setempat serta mempermudah dalam mendapatkan akses ke informasi-informasi yang dapat menjadi referensi berharga dalam hal hubungan bilateral kedua negara. Tanpa mengenal bangsa dan negara, tanpa penguasaan bahasa dan tanpa keterbukaan dalam menerima orang lain, walaupun dengan posisi yang berbeda, susah untuk menjadi diplomat yang andal. Diplomat tidak lebih dari seorang promotor yang akan mempromosikan negaranya supaya diterima dengan baik di negara akreditasi dan di dunia. Kaderisasi adalah penting, namun terlebih dahulu proses rekruitmen harus menjadi perhatian.

Menurut Anda apa yang harus dikembangkan untuk mengeratkan hubungan Indonesia dan Timor Leste?
Hubungan RI-TL pada saat sekarang ini adalah sangat baik, namun masih terasa perlu untuk meletakkan landasan yang lebih kuat agar dapat mempererat hubungan tersebut. Perlu dipikirkan supaya pada suatu saat Timor Leste dan RI menikmati suasana seperti di Eropa, umpamanya antara Portugal dan Spanyol, tidak ada visa, bea cukai, tidak ada imigrasi, bebas pergi ke mana-mana, walaupun kedaulatannya tetap dipertahankan. Ada baiknya jika ada kerja sama RI dan Timor Leste dalam beberapa proyek yang menguntungkan kedua negara. Umpamanya, memberantas malaria di seluruh Pulau Timor, membangun bersama-sama jalan/koridor dari perbatasan sampai Oecusse. (*)


Ikut Perang di Mozambik

PENGEMBARAAN hidup masa kecil yang nyaris tidak mengenyam pendidikan karena lebih banyak waktu dicurahkan untuk membantu kedua orangtuanya, ternyata membawa perubahan yang luar biasa dalam diri seorang FX Lopes da Cruz. Di saat kebanyakan anak usia sekolah mengenyam pendidikan formal di sekolah dasar (SD), Lopes da Cruz, justru mencurahkan waktu dan tenaganya untuk 'mengakrabi' kebun dan menggembala kuda milik orangtuanya di padang Maubara, Timtim.

Padahal, kedua orangtuanya berprofesi guru agama katolik dan guru SD di Maubara. Namun, apa yang mereka peroleh belum cukup untuk menghidupi keluarga besar Lopes da Cruz.

Mengenakan pakaian stelan jas warna krem dipadukan dengan celana panjang hitam saat bincang-bincang dengan Pos Kupang di Hotel Kristal, Jumat (18/9/2009) malam, Lopes da Cruz mengisahkan semua perjalanan hidupnya. Ia banyak menghabiskan waktunya membantu orangtuanya merawat kebun dan menggembala kuda, baik ketika masih di Maubara, Ainaro dan Barique maupun di Soibada.

Didikan orangtua, terutama ayahnya yang keras dan disiplin, telah membentuk watak keras dan disiplin yang tinggi pula pada Lopes da Cruz. Disiplin dan nilai-nilai agama yang ditanamkan orangtuanya sebagai guru agama katolik dan guru SD di Timtim, ternyata berpengaruh terhadap pilihan hidup seorang Lopes da Cruz. Ia bercita-cita menjadi seorang pastor, seperti kebanyakan orang Timtim saat itu yang menginginkan anaknya menjadi pastor dan suster .

Lopes da Cruz menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di sekolah misi katolik di Soibada, Timtim, setelah sebelumnya sempat sekolah sampai kelas 2 SD pada usia 15 tahun. Di Soibada, pada usia 15 tahun ia langsung masuk kelas 2 SD hingga selesai bersama salah seorang adiknya, Mateus do Rosario da Cruz, yang kemudian menjadi pastor dan saat ini bertugas di Belu. Setelah tamat SD tahun 1954, Lopes da Cruz, memilih melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Bunda Maria dari Fatima di Dare-Dili, Timtim tahun 1954. Selama di Seminari Dare-Dili, selain menekuni mata pelajaran, ia menyalurkan hobi olahraga basket dan voli.

"Saya dulu pemain basket hebat, paling disegani lawan di lapangan. Tangan kanan saya ini patah gara-gara main basket. Setelah saya tamat dari seminari menengah, saya menjadi bintang bola basket. Sejak itu saya mengikuti turnamen bola bakset bersama tim basket di Dili dari kota ke kota hingga ke luar negeri, seperti Australia dan Kupang (Indonesia). Bahkan saya sempat ditawar dari Lisabon untuk menjadi pemian basket di salah klub di sana. Namun, tawaran itu batal karena kehidupan saya belum terarah," tutur Direktur Harian Suara Timor tahun 1973-1974 ini.

Setelah tamat dari Seminari Dare-Dili tahun 1960, Lopes da Cruz melanjutkan pendidikan di seminari tinggi di Makao, Portugal tahun 1960. Di sekolah calon pastor ini, mata pelajaran yang paling diminatinya, yaitu mata pelajaran filsafat, logika dan metafisika. "Dari bidang studi tersebut, mata pelajaran yang menjadi santapan harian saya adalah filsafat. Untuk mendapatkan angka tinggi melebihi mahasiswa lainnya, saya harus belajar tekun, bahkan sering saya belajar di kamar mandi, supaya pastor tidak tahu," ujarnya.

Pada tahun 1964, saya lulus dari seminari tinggi di Makao dengan nilai memuaskan. Setelah tamat dari seminari tinggi di Makao, ia kembali ke Dili, Timtim. Di sana Lopes da Cruz mengajar di Seminari Dare-Dili. Setelah setahun mengajar di seminari tersebut, ia mengajukan kepada Uskup Dili, Mgr. Jose Joaquim Ribeiro, untuk studi teologi di Portugal. Namun, tutur Lopes da Cruz, uskup tidak mengizinkan saya belajar teologia langsung di Portugal, karena harus mengikuti percobaan dulu, sementara tiga teman saya, yaitu Rafael dos Santos, Francisco Tavares, dan Agostinho da Costa, langsung ke Portugal untuk belajar teologia.

Kala itu saya memahami larangan uskup, karena uskup menilai saya sombong karena minta izin untuk belajar teologia di Portugal. bukan di Makao. Lalu saya diminta mengajar satu tahun lagi di sekolah katolik Lahane-Dili. Selama jadi guru saya minta izin uskup untuk main bola basket di klub Uniao-Dili.

Atas kehebatan saya bermain bakset, Uskup Dili, Mgr. Jose Joaquim Ribeiro, sering menasehati saya; Olahraga bukan untuk olahraga, tetapi untuk memuji Tuhan. Sepotong kalimat itu, tutur Lopes da Cruz, sampai sekarang tetap kenangan manis campur pahit bagi saya.

Setelah tunda beberapa kali karena belum ada izin dari uskup, maka Lopes da Cruz memilih keluar dari biara. Dalam situasi tidak menentu, akhirnya dia memutuskan masuk Tentara Angkatan Darat Portugis di Taibesi, Timtim. Ketika saya melamar masuk militer ada satu persyaratan, yakni harus siap pergi ke Mozambik. Setelah keluar dari biara, saya masuk akademi militer di Mozambik tahun 1964 sampai tahun 1968. Di sana saya dididik bersama 84 kadek lainnya untuk menjadi tentara.

Saya salah satu dari lima orang yang dipilih untuk menjadi komando Portugis (di Indonesia sama dengan Kopasus). Saat itu Portugis tercatat sebagai anggota NATO. Setelah selesai di akademi militer, tahun 1968 sampai 1970 saya ikut perang dua tahun melawan gerilyawan di Mozambik yang mau merdeka. Saya masuk tentara Portugis kala itu karena memang pemerintah Portugal mewajibkan semua pemuda yang lulusan universitas masuk akademi militer.

Pada tahun 1970, Lopes da Cruz kembali ke Timtim dan mengajar di pusat militer di Timtim selama empat tahun hingga 1974. Tugasnya sebagai instrukstur militer di Dili. Pada akhir tahun 1974 atau saat perang saudara di Portugal, ia keluar dari tentara. Tahun 1975, Lopes da Cruz menjadi pegawai Duane (pegawai bea dan cukai) di Pelabuhan Dili, Timtim. Di bea dan cukai ia bekerja dua tahun karena terjadi revolusi di Portugal sejak tahun 1974. Lalu, Lopes da Cruz membentuk partai UDT (Uni Demokratik Timor).

Putra ketiga dari sembilan bersaudara ini, sudah malang melintang di dunia politik. Suka duka dan pahit getirnya hidup sebagai seorang pimpinan partai politik di masa pergolakan perang saudara di Timtim tahun 1974 hingga 1975, sudah ia lalui. "Ini suatu kenangan yang tak pernah saya lupakan," ujar pengagum St.Thomas Aquinas, filsuf terkenal abad pertengahan itu.

Lopes da Cruz mengisahkan, ketika meletus Revolusi 25 April 1974 di Lisabon- Portugis, perkembangan perpolitikan di Timor Timur pun ikut bergolak. Hal ini ditandai munculnya sejumlah partai politik di Bumi Lorosae itu. Di antaranya, Partai Uni Democratia Timorense atau Partai Uni Demokratik Timor Uni/Uni Democratia Timorense (UDT) yang dideklarasikan pada 11 Mei 1974 di Dili. Kala itu Lopes da Cruz belum terlibat langsung sebagai pengurus partai.

Dalam kongres pertama UDT pada September 1974, Lopes da Cruz yang saat itu baru berusia 32 tahun terpilih menjadi Ketua Umum UDT dan Domingos Oliviera, dipercayakan jadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) UDT.

Ketika Timtim menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Lopes da Cruz dipercayakan menjabat Wakil Gubernur Timtim mendampingi Gubernur Timtim waktu itu Arnoldo dos Reis Araujo. Setelah Gubernur Timtim dijabat oleh Gonzalves, Lopes da Cruz masih diberikan kepercayaan sebagai Wakil Gubernur Timtim. Setelah tujuh tahun menjadi wakil gubernur, pada tahun 1982 Lopes da Cruz dipindahkan ke Jakarta menjadi pegawai KONI Pusat. Saat itu Ketua Umum KONI Pusat dijabat Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sebagai pegawai KONI Pusat, Lopes da Cruz mengaku digaji Rp 75 ribu per bulan. Gaji sebesar itu, tutur Lopes da Cruz, tentu tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarga (istri dan empat orang anak) yang tetap tinggal di Dili.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, istrinya Sebastiana Gusmao Alves de Oliveira (Abate) terpaksa bertani di Gleno,Dili, Ermera di bekas perkebunan MEAU, dan menjual hasil pertanian untuk membiayai kehidupan anak-anaknya. Dalam otobiografinya (Kesaksian Aku dan Timor Timur, 1999), Lopes da Cruz melukiskan, "Dalam kesendirian, istri saya seakan hidup di sebuah negeri di balik samudra, tetapi meski dia berada di pojok bukit gunung- gemunung
Timor sana, nafas dan hati saya tetap menyatu."

Ketika ia dipindahkan ke Jakarta, banyak orang Timtim beranggapan bahwa karier politik Lopes da Cruz berakhir. Tetapi, dugaan itu meleset, karena setelah tiga tahun mengabdi di KONI Pusat, pada tahun 1985, Lopes da Cruz dipindahtugaskan ke Departemen Dalam Negeri sebagai staf ahli Mendagri. Dua tahun kemudian, kata Lopes da Cruz, ia dipercayakan menjadi anggota MPR RI sekaligus menjadi anggota DPA tahun 1987 - 1992.

Pada tahun 1993 -2000, Lopes da Cruz dipercayakan menjadi Dubes Keliling dengan tugas khusus (menyelesaikan masalah Timtim di luar negeri, Red). Pada tahun 2000 ia diangkat menjadi Dubes RI untuk Yunani di Athena hingga tahun 2004, menggantikan Dubes Siregar. Pada tahun 2005, Lopes da Cruz diangkat lagi menjadi Dubes RI untuk Portugal di Lisabon hingga Desember 2008, menggantikan Dubes Hariyono.

Lopes da Cruz keluar dari Timtim tahun 1982, dan kembali ke Dili hanya saat referendum tahun 1999. "Dalam hidup keseharian saya tidak melupakan Timtim, walaupun saya sudah bekerja dan hidup di Indonesia. Saya tidak pernah melupakan tanah kelahiran saya. Ada banyak kenangan indah dan pahit dalam perjalanan hidup saya selama di Timtim dan Indonesia. Semua kenangan itu saya catat dalam sebuah buku otobiografi saya; Kesaksian, Aku dan Timor Timur," tuturnya. (oni/pol)

Biodata

Nama : FX Lopes da Cruz
Tempat/Tanggal Lahir : Maubara-Timtim, 2 Desember 1941
Istri : Sebastiana Gusmao Alves de Oliveira (Abate)
Anak-anak : 1. Diva Maria Lopes da Cruz (Didi)
2. Judith Emmanuel Lopes da Cruz (Yudi)
3. Risza Octavia Lopes da Cruz (Muti)
4. Magda Maria Lopes da Cruz (Mada)
Ayah : Humberto Lopes da Cruz (alm)
Ibu : Rita da Costa (almh)




Pos Kupang Minggu 3 Oktober 2009

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda