Istri Pergi Tinggalkan Saya dan Anak-Anak

Dokter Valens Yth,

Selamat bertemu dan salam kenal. Nama saya Sandro, umur 29 tahun, tinggal di salah satu kota di Pulau Flores. Sebetulnya saya tidak layak menulis surat ini ke Pos Kupang karena cerita tentang keluarga saya, tapi karena saya merasa sesak sekali jadi akhirnya saya memberanikan diri menulis surat ini untuk dokter.

Begini ceritanya, saya sudah menikah tujuh tahun dengan Erlin, gadis manis dari Flotim dan kami sudah punya tiga anak. Saya bekerja sebagai pegawai rendahan di suatu instansi pemerintah.

Untuk memenuhi kehidupan keluarga, saya juga kerja sambilan untuk ngojek di luar jam kerja. Saya sadar, istri saya Erlin dari keluarga yang lebih mampu sehingga saya harus bekerja keras untuk membahagiakannya.

Ada beberapa saudaranya kerja di Batam dan biasanya kami sering mendapat kiriman oleh-oleh dari Batam.

Beberapakali saya dengar pembicaraan mereka dalam telepon di mana istri saya sering mengeluh soal kehidupan kami dan sepertinya dia menyesal karena terlalu cepat menikah.

Saat kami menikah, Erlin baru berumur 20 tahun. Nah Singkat cerita, minggu lalu saat ada kapal penumpang singgah di pelabuhan di kota kami, istri saya menitip anak-anak saya di salah satu keluarga dan memberitahukan bahwa dia mau ke pasar.

Ternyata dia berangkat ke Batam untuk mencari kerja secara diam-diam dan meninggalkan saya dengan anak-anak saya.

Anak saya yang paling kecil baru satu tahun umurnya. Kami semua baru menyadari ketika kapal sudah bertolak dari dermaga dan istri saya menelepon bahwa dia pergi mencari kerja di Batam dan menitip anak-anak untuk saya yang urus.

Anak-anak semua menangis dan saya pun sedih bercampur marah, tapi mau bagaimana, dia sudah berangkat. Saya dan istri saya tidak bertengkar. Kami aman-aman saja.

Tapi dia pergi tanpa pamit dan meninggalkan anak-anak yang masih -kecil. Memang dia bilang tidak akan lama kerja di sana. Dokter Apa yang harus saya lakukan?

Apakah ini artinya rumah tangga kami sudah hancur dan apakah kami akan cerai?

Apakah saya percaya saja mungkin satu saat dia kembali?

Kalau ada perempuan lain yang mau dengan saya supaya anak-anak saya bisa terurus, bagaimana menurut dokter? Tolong ada jawaban untuk saya. Terima kasih dokter.
Salam hormat dari Sandro - Flores.

Saudara Sandro Ybk,
Salam kenal juga. Surat Anda sangat simpatik, polos dan mengharukan. Kejadian yang sering ditemukan adalah seorang pria pergi merantau dan meninggalkan istri serta anak-anaknya.

Tetapi pada kasus yang menimpa Anda ternyata berlawanan dengan kasus lain yang umum terjadi.

Menilik kondisi keluarga Anda tampaknya istri Anda mulai memahami keterbatasan kemampuan Anda untuk menafkahi keluarga. Apa yang diidamkan sebelumnya oleh istri Anda dari seorang Sandro ternyata berbeda.

Dia punya semangat ingin ikut meningkatkan taraf hidup keluarga, tapi dia juga menyadari bahwa budaya kita tidak gampang melapangkan seorang istri pergi merantau begitu saja.

Sementara itu istri Anda sangat memahami (sudah dapat info dari keluarganya di Batam) bahwa buat dia bisa ada pekerjaan yang gampang diperoleh, apalagi ada sanak keluarga di sana yang bisa dia andalkan.

Kalau istri Anda meminta Anda secara baik-baik, kemungkinan tidak ada restu buat dia pergi.

Oleh karena itu dia memilih jalan seperti yang Anda ceritakan. Kesalahan istri Anda hanya pada cara yang digunakan tidak baik, walaupun maksud dan tujuannya baik.

Hal ini membuat Anda merasa dikhianati, dibohongi. Pengkhianatan dan perasaan dibohongi semacam ini bisa menjadi senjata yang sangat tajam yang dapat langsung meluluh-lantakkan bahtera kehidupan keluarga Anda, bila Anda tidak bijaksana.

Kebijaksanaan yang mampu menghalau keruntuhan keluarga Anda adalah kesabaran, kepercayaan dan kemampuan untuk memaafkan kesalahan istri. Tidak mudah memang; namun di saat seperti ini perlu Anda luangkan kesempatan untuk berpikir jernih, mengevaluasi situasi yang ada.

Hal yang perlu dievaluasi adalah, apakah istri Anda pergi bukan karena ada laki-laki lain (?), Apakah ada kekacauan dalam keluarga yang membuat istri Anda pergi (?).

Apakah istri Anda cukup waras (logis) dalam pandangan keseharian Anda (?).

Apakah istri Anda termasuk ibu yang cukup bertanggung jawab dalam memperhatikan anak-anak (?)

Apabila jawaban yang diperoleh dalam permenungan Anda positip, maka jangan terburu-buru mengambil tindakan drastis.

Hal yang paling penting saya anjurkan adalah jangan hilang komunikasi dengan istri. Boleh marah, boleh jengkel, tapi tetap ada jalur komunikasi yang terbuka bagi Anda dan istri serta anak-anak.

Begitu juga dengan keluarga yang ada di Batam. Untuk sementara sederhanakan pikiran Anda bahwa istri Anda sedang pergi mengunjungi keluarga tanpa izin Anda, dan dalam tempo yang tidak terlalu lama, dia akan kembali tanpa cacat.

Dengan menyederhanakan persoalan di atas maka perilaku Anda pun bisa berubah, untuk menerima keberangkatan istri Anda. Buang jauh-jauh pikiran Anda untuk bercerai.

Waktu jualah yang akan memberi jawaban yang lebih pasti. Bisa jadi, istri Anda bakal memberi kejutan indah bagi Anda manakala Anda bisa bertahan.

Berharaplah banyak dalam doa bahwa ketika istri Anda pulang dari Batam, kehidupan keluarga Anda semakin lebih baik secara material maupun spiritual. Demikian jawaban saya. Selamat berpikir....
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu 4 Oktober 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda