Ketika Air Menjadi Sulit


FOTO Kabarindo.com
KERING--Beginilah pemandangan lahan di wilayah TTU yang dikelola dengan cara bakar. Lahan yang luas terasa panas dan gersang. Bahkan sungai pun mengering. Dari kejauhan terlihat kawasan yang menghitam usai dibakar.




TIGA orang warga sibuk mengatur api yang membakar lahan yang berada di salah satu lereng bukit kecil di sudut Desa Sainoni, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Panas terik yang menyengat ditambah hawa panas dari api yang membakar sisa kayu dahan dan ranting dari semak- semak yang dikumpul tidak mengurangi semangat mereka.

Salah seorang dari mereka gala kayu panjang sekitar dua setengah meter. Di bagian ujungnya diikat dengan potongan besi dengan bagian ujung yang dibengkokkan (menyerupai sabit).


Gala itu digunakan untuk mengatur api agar tetap membakar kayu-kayu dan ranting kering yang dikumpulkan. Sementara dua orang lainnya ikut membantu dengan menyorong-nyorong kayu yang sedang terbakar dengan maksud api tetap menyala dan membakar.

Panas terik yang membakar ditambah hawa panas dari api yang menyala hingga ketinggian satu meter itu sepertinya tidak membuat ketiga orang itu kepanasan. Mereka terus bersemangat bekerja untuk membumihanguskan lahan yang ada. Tiga orang tersebut adalah warga Desa Sainoni, yaitu Mama Rosina dan dua kerabatnya.

Pemandangan serupa juga terjadi di beberapa tempat lain di Desa Sainoni. Beberapa orang juga sibuk membakar lahan. Kegiatan ini dilakukan berkelompok, dua hingga lima orang. Tetapi ada juga warga yang melakukannya seorang diri. Sementara lahan yang sudah terbakar terlihat hitam.

Bukan di Desa Sainoni saja, hampir semua warga di desa-desa kecamatan di wilayah Miomafo juga membakar lahan. Pembakaran ini dilakukan di lahan sendiri ini merupakan kegiatan rutin warga setempat menjelang musim tanam.

Pembakaran lahan ini dilakukan secara periodik, dua atau tiga tahun sekali, namun ada pula yang melakukannya setahun sekali. Lahan yang dibakar juga pada umumnya milik sendiri dan aksi pembakaran yang dilakukan warga adalah untuk membersihkan lahan untuk siap agar siap ditanam saat musim hujan tiba.

Kebiasaan membakar lahan ini dilakukan secara turun-temurun. Biasanya lahan yang sudah selesai dibakar akan langsung ditanami saat awal musim hujan.

Tanah yang ada tidak diolah atau dipacul lagi. Prosesi bakar- bakaran ini biasanya dilakukan pada akhir September hingga Oktober, karena biasanya musim di wilayah ini mulai turun akhir Oktober atau November. Namun perubahan iklim menjadikan hujan di wilayah ini mulai turun bulan November atau Desember. Terkadang juga hujan baru turun awal Januari.

Sementara yang siap ditanam di atas lahan ini antara lain jagung, padi ladang dan aneka kacang-kacangan. Setelah proses tanam, selanjutnya proses perawatan tanaman atau penyiangan dilakukan terus menerus untuk membersihkan gulma dari tanaman yang sudah ada.

Cara tanam yang dilakukan turun temurun ini secara tidak langsung, disadari atau tidak, telah memberi pengaruh pada iklim global. Dampak yang kini dirasakan oleh masyarakat Desa Sainoni adalah kekurangan air saat musim kemarau.

Kebiasaan membakar lahan tersebut menjadi pemandangan serba hitam di atas lahan milik warga di awal musim tanam. Bahkan, hampir tidak ada pohon-pohon besar yang ada di tengah lahan, padahal topografi wilayah ini berbukit.

Kebiasaan membakar lahan ini secara tidak langsung mempengaruhi kebutuhan air bagi warga desa setempat. Masyarakat tidak sadar bahwa membakar lahan juga berarti menghilangkan potensi-potensi alam yang bisa menampung air.

Sebab pohon-pohon yang mestinya bisa menjadi penampung air pada musim hujan telah ditebang dan dibakar, meninggalkan lahan kosong. Akibatnya hujan yang jatuh ke bumi langsung mengalir deras ke tempat-tempat yang rendah. Mestinya air hujan tersebut tertahan oleh batang dan akar pohon dan meresap dan tersimpan dalam tanah.

Kebiasaan membakar dan makin sempitnya daerah resapan air, menjadikan wilayah ini kekurangan air pada musim kemarau. Saat ini, kebutuhan air warga Desa Sainoni yang berpenduduk sekitar 400 KK tersebut hanya berasal dari satu sumber, yaitu sebuah cek dam yang dibangun pemerintah puluhan tahun lalu.

Air yang ada pun makin menyusut, bahkan keruh. Padahal beberapa tahun lalu di desa ini banyak terdapat sumber mata air.

Maria Rita, warga desa setempat yang ditemui di Sainoni akhir September lalu menuturkan, tahun 1980-an di desa tersebut terdapat sekitar lima hingga enam sumber mata air di berbagai sudut wilayah desa. Ketika itu mereka tidak pernah kekurangan air, baik untuk warga maupun ternak.

Bahkan, air yang tergenang dari sumber mata air yang ada menjadi tempat hidup ikan-ikan kecil. Ikan-ikan ini biasanya dipancing atau ditangkap oleh anak-anak.

"Saya masih ingat dulu, ada banyak mata air di sini. Bahkan ada mata air hingga membentuk sungai kecil dan tidak kering saat musim kemarau. Adik-adik sering bermain dan menangkap ikan di sana," jelasnya.

Namun, air mengalir dan ikan-ikan tersebut tinggal cerita saja. Kenangan air yang melimpah sekarang cima jadi cerita indah masa lalu warga desa setempat. Saat ini air menjadi sesuatu yang mahal. Untuk mendapatkan air, masyarakat harus berjalan kaki hingga berkilometer. (afred dama)



Air Dari Kota


AIR bagi masyarakat Sainoni saat musim kemarau adalah kebutuhan yang sangat mahal. Warga yang mampu bisa menyiasati masalah kekurangan air ini dengan membangun bak penampung. Sementara bagi warga yang tidak mampu harus rela berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer untuk mendapat air bersih.

Bak penampung yang ada biasanya diisi dengan air bersih yang didatangkan dari Kota Kefamenanu menggunakan truk tanki. Air lima ribu liter tersebut dibeli seharga Rp 200 ribu hingga 250 ribu. "Kalau air habis, biasanya kita pesan air tanki dari Kefamenanu. Mereka antar sampe di sini," kata Milarius, warga Desa Sainoni.

Menurut Malarius, air seharga tersebut bisa digunakan satu hingga tiga bulan, tergantung tingkat kebutuhannya. Baginya, air seharga tersebut tidak terlalu mahal ketimbang ketiadaan air, meski diketahuinya air di tempat lain jauh lebih murah. Ironis, kawasan pegunungan yang mestinya pemasok air untuk warga kota, sekarang mesti membeli air dari kota.

Kesulitan air yang dirasakan warga Sainoni dan beberapa warga desa di wilayah Miomafo merupakan akibat dari kebiasaan masyarakat yang membakar lahan. Membakar lahan tidak memberikan kesempatan pada tanaman untuk tumbuh dan berkembang menjadi besar, sehingga dalam hamparan yang luas hampir tidak terlihat tanaman keras yang tumbuh besar di wilayah itu. Padahal lahan yang ada berada di lereng-lereng bukit mestinya penuhi pohon-pohon untuk mencegah erosi.

Bila antara 10 hingga 20 tahun lalu air di kawasan ini cukup, bahkan lebih menjadi tempat ikan-ikan kecil bermain, kini sumber air tersebut hanya meninggalkan bekas. Bayangkan 10 hingga 20 tahun ke depan.

Apakah sumber air satu-satunya yaitu cek dam yang ada di salah satu sudut wilayah desa tersebut masih ada? Semua tergantung pada warga di wilayah itu.

Proses pemanasan global dalam konteks lokal mungkin tidak dimengerti oleh warga wilayah tersebut. Namun kebiasaan membakar lahan telah memberi andil pada pemanasan global dan akibatnya kini harus ditanggung oleh warga setempat.

Warga Desa Sainoni dan desa-desa lain di kawasan Miomafo perlu mengubah pola bertanam dari membakar lahan dengan cara pengelolaan secara mekanika atau pengelolan tanah dengan cara dicangkul atau membalik permukaan tanah. Dan, lereng-lereng bukit bisa ditanam dengan tanaman keras.

Peran pemerintah tentunya diperlukan untuk memberi kesadaran dan membuka wawasan para petani agar tidak lagi membakar lahan. Sebab, cara pengelolaan lahan tidak selamanya dengan bakar lahan. Pemerintah Kabupaten TTU tidak boleh membiarkan masyarakat larut dalam kekeliruan pengelolaan sumber daya alam. (alf)


Pos Kupang Minggu 4 Oktober 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda