Makanan Lokal

Parodi Situasi Oleh Maria Mathilds Banda


"EH, kamu ini orang-orang pada makan makanan lokal kok kamu malah makan bakso? Kemarin aku lihat kamu makan tahu isi, kemarinnya lagi makan tempe goreng, molen, terus kemarinnya lagi makan soto sate, es potong, gule kambing, rawon mateng," komentar Rara melihat Jaki dengan lahapnya makan bakso.
"Makanan lokal? Kriterianya apa?" Tanya Jaki.

"Makanan yang dipamerkan pada hari-hari tertentu dan dipromosikan pada saat-saat tertentu, dan dikonsumsikan oleh Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pada event-event tertentu, dikemas hanya untuk kepentingan tertentu, dan yaaa segala yang berhubungan dengan hal-hal tertentu! Itu yang namanya makanan lokal!" Jawab Rara.
"Ha ha ha ternyata kamu salah mengerti tentang makanan lokal! Kamu salah alias keliru besar! Ternyata sempit sekali ya pemahamanmu tentang makanan lokal!"
***
"Tadi sudah kumakan jagung bose di tempat pameran, setelah itu mau cari jagung bose di mana? Memangnya ada yang dorong gerobak jagung bose seperti dorong gerobak bakso? Jadi janganlah engkau tatap aku seperti itu karena aku makan bakso! Aku maunya makan jagung bose tetapi siapa yang jual. Dimana-mana bertebaran bakso yang didorong-dorong sambil pukul panci teng teng teng..."
"Mau molen?" Jaki menawar pisang molen yang masih panas.

"Wah, kamu ini habis lahap bakso langsung sambar molen!" Komentar Rara. "Pada hal kamu bisa makan jagung titi, kue rambu, ubi ndota...dan masih banyak lagi makanan lokal kita!"

"Memangnya ada kue rambu dijual di jalanan setiap malam? Ada jagung titi dijual di setiap tikungan di kota kita ini? Ada ubi ndota? Ada jagung goreng dan jagung bakar khas orang kita? Mana? Kalau ada kubeli sekarang!"

***
"Ha ha ha Rara! Kamu maunya aku makan nasi ra'a rete ya? Apa ada gerobak dorong keliling kota kita yang jual nasi ra'a rete? Mana? Kita ini ngomong makanan lokal, promosi makanan lokal, makan makanan lokal, hanya ngomong sa... saat-saat tertentu saja. Setelah itu kembali ke bakso, rawon, soto, sate, bahkan kamu sendiri larinya ke hot dog hamburger, dan hoka-hoka bento, dan entah apalagi yang aneh-aneh dari negeri luar..."


"Aduh, kamu kenapa makan makanan lokal kok di warung Padang?" Rara gemas melihat temannya yang bernama Jaki terus-menerus makan makanan yang menurutnya bukan makanan lokal.

"Hoi, apa urusanmu dengan makanan lokal? Tahu apa kamu tentang makanan lokal? Mau kutonjok rahangmu, mau!" Ancam Jaki. "Dari tadi ngomong makanan lokal, sementara kamu sendiri tidak tahu apa sebenarnya makanan lokal itu!"
"Aduh! Kamu mau menghina ya? Saya labrak kamu!"

"He he he, bisanya cuman maen otot, tunjuk diri macam sudah terlalu hebat sa," Jaki menangkis dan siap mencekik leher Rara. "Apa makanan lokal!"
***
"Makanan lokal itu defenisinya apa ya?" Rara pusing tujuh keliling memikirkan makanan lokal yang dipertengkarkan dengan Jaki. Rara mau tanya ke Nona Mia atau terpaksa Rara bertanya pada Benza. Terpaksa, sebab pada dasarnya Rara tidak suka bicara dengan Benza yang dianggapnya sok tahu.

"Makanan lokal? Kita punya berbagai jenis makanan lokal," Nona Mia menjawab santai saja. "Bakso atau ra'a rete ya? Kue cucur atau kue bendera atau hamburger ya? Yang jelas kita sama sekali tidak dapat terhindar dari bakso dan berbagai jenis makanan yang beredar sampai ke ujung kampung! Jadi kalau bicara tentang makanan lokal, ya makanan! Itu saja!"

"Bagaimana soal ketahanan dan kedaulatan makanan lokal!" Tanya Rara.
"Bukan soal makanan lokal saja, tetapi lebih dari itu, soal ketahanan dan kedaulatan pangan lokal?" Benza memberi penjelasan.

"Luas dan dalam menyangkut pemberdayaan masyarakat soal lembaga pangan dan gizi desa, gerakan konsumsi pangan 3 B, Bergizi Berimbang Beragam. Pengembangan sistem ketahanan pangan, menyangkut ketersediaan pangan dan pemantaban produksi, lumbung pangan keluarga dan desa, sistem distribusi dan sistem konsumsi, perbaikan gizi keluarga, makanan tambahan ibu hamil dan balita.

Pengembangan sarana prasarana itu berkaitan dengan sarana prasarana usaha tani, teknologi tepat guna, pasar dan lain-lain! Itu yang tertulis di buku dan majalah-majalah, kalau dalam kenyataannya, kita perlu berjuang keras untuk mewujudkannya!"
***
"Aduh, kamu buat saya pusing. Sebenarnya inti bicaramu itu apa dan siapa?" Rara tidak sabar menunggu untuk mengerti apa sebenarnya pikiran Benza. Rasanya jauuuuh sekali dari pengertiannya tentang makanan lokal.

"Intinya peduli petani, semuanya demi petani, keluarga-keluarga di desa-desa kecil. Tidak ada ketahanan pangan tanpa ketahanan petani. Tidak ada kedaulatan pangan tanpa kedaulatan petani..." jawab Benza.

"Kenapa mesti petani?" Rara kebingungan.
"Kalau bukan dari oleh untuk petani, segala aktivitas menyangkut ketahanan dan kedaulatan pangan, hanya lipstik!" Kata Benza menutup pembicaraan.
"Bagaimana dengan bakso?" Rara tidak puas.

"Bakso, tahu isi, tempe goreng, molen, soto sate, es potong, gule kambing, rawon mateng, nasi goreng, roti bakar semuanya makanan. Sepanjang pasar tentang ini menghidupkan sistem produksi dan ketersediaan pangan, distribusi dan sistem informasi pasar, serta sistem konsumsi yang selanjutnya membuat petani sejahtera, sekali lagi membuat petani sejahtera, itulah yang dicari! Mengerti?"
"Kedaulatan petani? Makanan lokal itu bakso atau bose ya?" Rara tetap bingung. (*)


Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda