Memeluk Fajar

Cerpen Kristo Suhardi

"SEBELUM senja membunuh asaku, sebuah pinta hati retakku kutambatkan di teduhnya bola mataMu (karena tak ada kepalsuan di sana) Kau mesti selalu ada untukku karena aku tak bisa tanpa-Mu memeluk denyut nadi jiwaku"

Entah untuk kali keberapa, sebuah puisi kecilku itu kubaca dan kubaca lagi di kebekuan malam ini. Mungkin ini kali kedua puluh satu. Sebuah jumlah yang mungkin kelewat sering bagi mereka yang tak mampu menyingkap tirai maknanya dalam pola pikir; namun masih terlalu sedikit bagi aku yang sedang bergelut dengan diri mempertanyakan hakikat ada, coba menyelami kedalaman maknanya.

Sebuah puisi yang dititipkan dan diabadikan ayah setahun lalu dalam keterbatasan kata yang ia punyai, namun aku tak pernah cukup mampu untuk pahami makna seutuhnya. Karena ia melampaui ribuan kata tanpa makna dari pengobral kata tak berhati yang saat ini merajalela di tanahku.

Malam terus bertahta dalam pekatnya. Di sini hanya ada aku dan hatiku yang sedang berziarah panjang kembali ke dalam diri.

Aku sendiri, namun aku tak pernah merasa sepi dan sendiri dalam kesendirianku. Sembari menggenggam sepucuk puisi itu, pelan-pelan kubuka jendela kamarku, menatap penuh kekaguman pada bintang-bintang memesona yang menghiasi altar langit dan memberi warna terang pada kegelapan malam.

"Hidup itu adalah persoalan bagaimana engkau menghadirkan cahaya di tengah kegelapan. Dan tentang perjuangan, agar cahayamu itu mampu menerobos dinding-dinding kepongahan hatimu sendiri walau bagai menghadang, sebelum kau mencoba bergerak keluar untuk terangi hati sesamamu. Yah, seperti halnya bintang itu, dikatakan bercahaya ketika ia mampu memberi warna terang di tengah kepekatan langit." Gumam hati kecilku, mencoba berfilosofi, membahasakan hasrat kalbu tentang terang yang ingin kupeluk dan kubiarkan meraja di taman hatiku.

Sebuah analogi yang persis sama, sebagaimana yang dahulu selalu diungkapkan ayah kepadaku sebagai petuah sehari sebelum ultahku. Benih kebijaksanaan yang selalu bersemayam di kalbu dan menjadi hadiah terindah bagiku. Ayah pernah menulis demikian:

1 Mei 2006
Hidup itu sesungguhnya terlalu berharga untuk hanya ditangisi. Air mata hanya akan berarak dan mengalir tanpa makna, bila kau tak pernah berusaha memahami makna tiap tirisannya dan tak pernah berjuang mengubahnya jadi fajar kebahagiaan.

Seperti halnya tiada guna kau meratapi pekatnya malam, bila kau tak pernah mampu melihat, memaknai dan memeluk fajar baru yang akan datang menghalau malam. Itulah hidup. Tangismu adalah ratapan hatimu pada syukur yang pernah kau kecap dan kau ciptakan, maka hadirkanlah kembali syukurmu itu menjadi lebih sempurna.

Seperti halnya tiada laut tanpa gelombang, demikian pun tiada kehidupan tanpa penderitaan. Maka taklukkanlah gelombang itu, biar biduk kelanamu berjalan pasti menuju akhir ziarah.

Esok adalah fajar baru dalam pergulatan hidupmu, yang tak tahu pasti kapan akan berakhir; maka sambutlah hari itu dengan sejuta sukacita dan harapan penuh akan sebuah kemenangan.

Terbangkan syukurmu pada Tuhan pemberi nafas, dan tambatkan sebait pintamu ini pada-Nya : `aku ingin Engkau selalu ada untukku'. Peluklah fajar dan simphonikan cinta : aku ingin memelukmu dan berharap terus memelukmu.

1 Mei 2007
"Berjanjilah bahwa esok ada fajar baru dalam hidupmu. Berjanjilah bahwa esok akan ada cinta yang mengisi hatimu dan memberi warna pada tingkahmu. Berjanjilah bahwa kau selalu punya harapan dan ideal baru yang ingin selalu kau perjuangkan, meskipun itu berarti pemberian dan pengurbanan diri.

Berjanjilan bahwa esok lebih baik dari pada hari ini, dan tak ada kata putus asa dalam lembaran hidupmu. Berjanjilah bahwa kau tak akan pernah melupakan Tuhan dan selalu mengandalkannya dalam hidupmu. Bukan maksudku menghantanmu dengan seribu satu ideal yang mungkin sulit kau wujudkan, tapi aku hanya ingin kau berjanji pada dirimu sendiri bahwa kau dapat menjadi yang terbaik bagi dirimu dalam segala kerapuhan dan kelebihan yang ada padamu.

Dan esok peluklah fajar baru dalam kelanamu dan ungkapkan janjimu itu pada sang fajar. Berjanjilah padanya bahwa kau ingin membuat fajarnya menjadi lebih bersinar dengan terang hidupmu yang mampu kau pancarkan kepada sesama."

1 Mei 2008
Entah kenapa, ayah merasa mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir bagiku untuk tumpahkan isi hati dan harapanku padamu. Tapi sebelum kesempatan itu berlalu, ayah ingin mengungkapkan suasana hati dan kecemasanku yang juga menjadi puncak harapanku padamu tentang satu hal ini :

CINTA. Aku tahu kau begitu mengagumi Kahlil Gibran dengan kata-kata cinta yang penuh reflektif dan berdaya pikat. Ayah tak ingin kau cuma memuisikan dan memuitiskan cinta dalam kata dan merangkainya jadi sebuah kalimat penuh seni, tanpa mampu mengabadikannya lewat cara adamu.

Ayah tak ingin, kau menjadikan cinta hanya sebagai barang dagangan untuk menarik simpati demi memuaskan egomu yang sesaat dan semu. Ayah tak ingin cinta hanya jadi teori dalam hidupmu.

Ayah memang tak pernah mampu puitiskan cinta bagimu, tapi ayah berharap apa yang telah kuabadikan menjadi bahasa paling sempurna untuk ungkapkan tulusnya cintaku padamu. Cinta yang berani keluar dari dirinya sendiri dan merengkuh semua orang dalam cinta.

Ayah ingin atas nama cinta itu pula, kau senantiasa berjuang dalam hidupmu menaklukkan tantangan dan berani meretas jalan di tengah badai yang menghantam ziarahmu. Jadilah yang terbaik, sebisa yang dapat kau perjuangkan.

Akhirnya, ayah ingin esok, kau menyambut dan memeluk fajar dengan ketulusan hatimu atas nama keutuhan cinta yang kau punyai."

Itulah ayah dengan seribu kata petuahnya yang selalu menghadirkan kedamaian dan ketenteraman di jiwaku. Ia yang pertama kali mengajarkan aku tentang cinta dan mengabadikannya melebihi kata cinta, dan itulah yang membuatku tertarik pada cinta.

Ayah selalu berbicara tentang fajar baru, yang selalu ia impikan agar berhasil kupeluk. Fajar yang mampu melahirkan kehangatan cinta, membongkar kebobrokanku dan menghalau bayang-bayang semu dalam hidupku untuk berkutat dengan real life.

Dan ditanggal 1 Mei 2009, di penghujung malam ini, tak ada lagi goresan petuah penuh cinta dari ayah. Puisinya menjadi doa hatiku kepada Tuhan dalam setiap denyut nadi kehidupanku. Di malam ini, hanya ada aku dan sebait tekadku yang kuikrarkan dipermulaan hari sebelum dentang lonceng bergema menyambut fajar baru yang ingin selamanya kupeluk, dan kupersembahkan buat ayah yang begitu merindunya saat kami ada bersama di surga kelak.

"Ayah.....
Kau lihat saja nanti
aku pasti membuatmu bangga padaku
dan memeluk fajar impian kita". (*)

Kuwu, 2 Mei 2009
Kado Buat Lelaki 21 Tahun

Pos Kupang Minggu 4 Oktober 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda