Foto ilustrai/pasarkreasi.com
MENYELAM--Seorang penyelam sedang menikmati keindahan pemandangan bawa laut. Aksi pemboman ikan berpotensi menghilangkan keindahan dan sumber kehidupan bawa laut ini.



Oleh Vinsen Making, S.KM
(Verifikator Independen Jamkesda Kota Kupang)

BEBERAPA pekan lalu ketika berlibur ke kampung halaman saya di kaki gunung Ile Ape Kabupaten Lembata, saya merasakan ada suatu perubahan yang sangat signifikan. Kebiasaan Saya ketika berlibur di sana adalah pergi memancing. Kali ini hasil tangkapan saya sangat sedikit sekali dibanding beberapa tahun yang lalu.


Saya terus bertanya apa penyebab utama terjadinya hal ini. Pada suatu pagi buta ketika masih lelap di pembaringan, saya kaget dengan sebuah bunyi ledakan yang cukup nyaring. Beberapa tetangga saya yang berprofesi sebagai nalayan langsung berhamburan keluar rumah dengan membawa serta peralatan nelayan (pendayung, kaca mata selam, dan tempat menyimpan ikan).

Mereka menuju ke perahu masing-masing dan melaju ke arah ledakan tersebut. Ternyata ledakan tadi adalah ledakan bom ikan. Para nelayan tadi juga ikut menyelam dan menikmati hasil dari penangkapan ikan dengan bom tersebut.

Saya mengerti sekarang ternyata penyebab hasil tangkapan saya berkurang adalah karena sering terjadinya penangkapan ikan dengan cara demikian. Para nelayan di tempat saya memang bukan perakit bom ikan dan juga bukan pelaku pemboman tetapi mereka mendukung kegitan tersebut.

Mereka adalah penunjuk jalan ke tempat dimana ikan-ikan berkumpul dan bersama-sama meninkmati hasilnya.

Dari beberapa nelayan saya mendapat informasi bahwa mereka sangat senang melakukan hal itu sebab mudah memperoleh ikan dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di daerah saya di lereng gunung Ile Ape, tetapi juga di daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia. Contohnya, di Mataram, Kepala Bidang

Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat Sunardi Harjo menyebutkan 70 persen terumbu karang di NTB rusak akibat bom ikan. Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Kepala Bidang Kelautan Pesisir dan Pengawasan Disperikla Jawa Timur, H. Erjono, kerusakan terumbu karang juga lebih banyak disebabkan oleh perilaku buruk para nelayan sendiri.

Terutama mereka yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti "bondet" /bom ikan (lomboknews Sabtu, 25/04/ 2009). Selanjutnya Ardius Zainuddin, Direktur Jenderal

Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Rabu (15/3/2009) di Makassar menjelaskan

"Dari hasil penelitian dan pengkajian, kami bisa menyimpulkan bahwa kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut di perairan Indonesia saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sebagian besar dirusak oleh nelayan Indonesia sendiri. Kami memang belum bisa menggambarkan dengan angka atau secara persentase," Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0603/16/daerah/2515224.htm.

Di NTT
Khusus di NTT sendiri , Dari hasil survei yang dilakukan konsultan coremap Sikka di tahun 2008 lalu, 50 hingga 55 persen terumbu karang di daerah tersebut rusak parah atau digolongkan sangat jelek. Adapun Rusaknya terumbu karang di perairan NTT, khususnya di Sikka, rata-rata disebabkan bahan peledak. Demikian ungkap Ricky Gimin, Ph.D, sekretaris Konsorsium Mitra Bahari Regional Centre Nusa Tenggara Timur (Nusacendanabiz.Com).

Dari contoh di atas, nelayan dapat dikatakan sebagai perusak lingkungan, khususnya terumbu karang. Beberapa jenis teknologi yang mereka gunakan untuk menangkap ikan tidak ramah lingkungan atau merusak lingkungan (unfriendly technology), contohnya adalah bom ikan.

Fenomena yang banyak menarik perhatian banyak pihak adalah nelayan pengguna bom ikan dan mereka yang memperlancar kegiatan tersebut. Ada alasan utama mengapa hal ini menarik. karena, tingkat kerusakan yang ditimbulkan teknologi ini terhadap terumbu karang sangat signifikan. Sayangnya tidak ada data kuantitatif yang akurat tentang hal ini, hanya secara kualitatif dirasakan meningkatnya jumlah nelayan pengguna teknologi ini. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan. Adakah mereka mengetahui bahwa teknologi tersebut berbahaya bagi kelestarian lingkungan, khususnya terumbu karang?

Adakah mereka mengerti jika terumbu karang rusak, mereka akan menghadapi kesulitan yang besar di masa yang akan datang? Jika mereka memahami, mengapa mereka masih juga melakukannya?. Inilah pertanyaan yang selalu tergiang di kepala saya dan mungkin juga pembaca sekalian. Bom ikan sebenarnya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut.

Ledakan yang dihasilkan dapat membunuh semua kehidupan yang ada di dalam laut hingga radius ribuan meter. Efek kejut yang ditimbulkan dari getaran tersebut akan menghancurkan dan mematikan terumbu karang dan ikan-ikan mulai dari telur hingga ikan dewasa. Hal ini jelas sangat merugikan, terutama menyangkut hancurnya terumbu karang.

Karena, terumbu karang itu sendiri merupakan tempat ikan mencari makan sekaligus rumah bagi ikan-ikan tersebut. Bila terumbu karang hancur ikan - ikan tidak mempunyai tempat mencari makan dan rumah, otomatis ikan yang ada akan hilang selamanya alias punah.

Berikut sedkikit paparan kaitan antara terumbu karang dan proses kehidupan kita di atas bumi ini.

Terumbu karang adalah salah satu komponen rantai makanan dalam siklus daur hidup hewan di air laut sekaligus tameng atau benteng pertahanan daratan dari gempuran gelombang laut.

Secara umum terumbu karang tersebut diperlukan dalam segala aspek sebagaimana yang di paparkan oleh Jacob J Herin dalam opininya (PK 19/08/2009) yaitu antara lain; sebagai penunjang berbagai macam kehidupan yang dibutuhkan dalam produksi makanan, kesehatan dan berbagai aspek dari kehidupan manusia dan juga dalam pembangunan yang berkelanjutan. Terumbu karang melindungi pantai dari hempasan ombak dan keganasan badai, mencegah terjadinya erosi dan mendukung terbentuk pantai berpasir di samping juga melindungi berbagai macam pelabuhan.

Terumbu karang merupakan sumber bahan baku untuk berbagai kegiatan manusia seperti antara lain batu karang dan pasir sebagai bahan bangunan, karang hitam (black corang) sebagai bahan perhiasan dan juga karang atau moluska yang hidup di ekosistem ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengipas keindahan rumah.

Ekosistem terumbu karang menyumbangkan berbagai biota lalut seperti ikan karang, moluska dan krustasea bagi berbagai kelompok masyarakat yang hidup disekitar kawasan pesisir, dan bersama dengan ekosistem pantai lainnya menyediakan makanan dan merupakan tempat berpijah bagi banyak jenis biota laut yang berpotensi komersial.

Nelayan kecil
Ekosistem terumbu karang juga memegang peranan penting terutama bagi perikanan tradisional berskala kecil, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Nilai dari perikanan kecil ini seringkali kurang diperhitungkan karena sebagian besar nelayan yang menangkap hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya tidak tercatat dan juga karena berbagai macam hal, namun demikian diperkirakan secara kasarnya bahwa peranan lestari dari perairan terumbu karang dengan kedalaman kurang dari 30 meter adalah sekitar 15 ton per km (Murno & Wiliams, 1985).

Menyimak pentingnya terumbu karang bagi kehidupan kita saat ini dan terutama di masa depan maka saya mengajak kita sekalian terutama para nelayan di pesisir baik sebagai pelaku pemboman dan juga para pendukung kegiatan ini untuk menghentikan perilaku ini sebelum keadaan bertambah buruk.

Juga bagi para petugas keamanan pesisir pantai (POLAIR) untuk menindak tegas para pelaku pemboman ikan. Jangan hanya karena untuk mendapat keuntungan, kesenangan, dan uang yang banyak kita mengabaikan tugas dan tanggung jawab kita. Khusus bagimu nelayan-nelayan kecilku yang berada di lereng Ile Ape dan tidak menutup kemungkinan para nelayan di tempat lain yang senasib, berhentilah berkutat pada rasa ego dan mental santaimu.

Mari kita berjuang bersama mengusir mereka yang jahil menggunakan bahan peledak, ciptakan laut pesisir kita bebas dari kerusakan terumbu karang demi masa depan anak cucu kita. Jangan sampai suatu saat nanti anak cucu kita hanya dapat mendengar indahnya terumbu karang dan eloknya ikan-ikan tanpa dapat melihat dan menyentuhnya secara langsung.(*)


Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda