Padang

Parodi situasi Oleh Maria Matildis Banda

MENYAKSIKAN penderitaan keluarganya di Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi, dirinya kembali terkenang gempa 1992 yang melanda Maumere, Ende, Larantuka dan sekitarnya.

Ketika itu satu saudaranya wafat tertimpa runtuhan rumah, dan beberapa sahabat karib hilang lenyap ditelan tsunami. Gempa Aceh dan Nias lengkap dengan gulungan tsunami, membuatnya kehilangan tiga orang teman kuliah dulu yang asli Banda Aceh.

Gempa Bantul, Yogya dan sekitarnya telah membuat seorang adiknya yang menikah dengan orang Yogya kehilangan suami dan dua orang anak.

Belum lagi gempa Tasik, Garut, dan sekitarnya awal September lalu, menyebabkannya begitu sedih atas kematian seorang pemuda kenalannya di Gereja Paroki Garut.

Ya, dapat dimengerti sebab dia baru beberapa hari pulang dari Garut. Selama di Garut pemuda itu selalu siap menolongnya. Tubuhnya jadi menggigil tiba-tiba.

***
"Mengapa bumi jadi begitu tidak bersahabat ya?" Tanyanya dengan miris memikirkan kedua saudara jauhnya yang kebetulan jadi tukang jaga parkir di sebuah mall di kota Padang dan saudara lainnya di Keuskupan Padang. Kepalanya pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana caranya bisa dapat uang untuk terbang ke Padang.

"Buat apa susah? Padang yang dihantam gempa, kamu yang berduka!" Begitulah komentar Rara yang terasa menohok ulu hati Benza.

"Lagi pula Padang terlalu jauh. Jauh sekali! Kamu mesti langgar berapa selat dan berapa pulau? Mesti langgar berapa mil panjangnya laut? Lagi pula, kedua saudaramu itu belum tentu masih hidup!"

"Rara! Kalau kamu tidak punya kalimat yang cukup menyejukkan, lebih baik kamu tidak usah ngomong! Bikin sakit, tahu kamu!" Nona Mia yang sejak tadi ikut memikirkan jalan keluar bagi Benza berkata tegas.

"Apa kamu tidak tahu Bapa Uskup menyerukan agar kita membantu saudara-saudari kita di Padang?"

"Ooooh jadi kamu mau ikut-ikutan sedih seperti Benza? Mau jadi pahlawan ya?" Rara tidak peduli. "Lebih baik kamu ikut aku. Kita pesta sampai pagi di rumah Jaki.

Besok Jaki ulang tahun. Kita ja'i, poco-poco, goyang dangdut dan dansa sampai pagi. Buat apa susah pikirkan hal-hal yang bukan urusan kita!"

"Siapa yang mesti kamu tolong di sana?"
"Dua saudara Benza dan sedapat mungkin menolong saudara-saudara yang lain! Pasti banyak yang dapat kita lakukan di sana!"

"Saudara Benza kerja di mana?" Tanya Jaki lagi.
"Keduanya penjaga parkir di mall terbesar yang runtuh di kota Padang. Entah bagaimana nasib keduanya," jawab Nona Mia.

"Aaaah, tukang parkir? Aduh! Saya kira pejabat apa? He he saya kira orang penting dimana, sampai Benza bisa kalang kabut tidak karuan he he he". Rara terkekeh.

"Sudahlah! Nanti kita bahas dalam rapat persoalan gempa ini. Biaya untukmu ke Padang dapat diatur. Gampang! Besok ya, kita rapat jam sebelas siang di hotel anu," Jaki menyambung. "Sekalian pesta ulang tahunku!"

***
Kata-kata Rara dan Jaki membuat Nona Mia dan Benza tersekat, marah. Gayanya Rara persis sebaris puisi Rendra, tentang para penguasa yang membicarakan penderitaan rakyat sambil makan bistik di hotel mewah.

Kasihan benar! Rara dan Jaki mengingatkan Nona Mia akan berbagai pengalamannya ketika ikut terlibat menangani bencana gempa, longsor, banjir, dan wabah penyakit.

Pada setiap tempat selalu ada berbagai model Jaki Rara. Ambil kesempatan dalam kesempitan orang lain. Tangani bencana artinya sama dengan melipatgandakan pundi-pundi pribadi.

Pekerjaan sunat-menyunat bantuan langsung tak langsung sudah jadi tradisi. Jaki Rara benar-benar menerjemahkan syair Ebith G. Ade tentang di tengah bencana... masih banyak tangan yang tega membuat nista...

Makanya, ketika Jaki bertanya perlu berapa juta untuk terbang dan membawa bantuan ke Padang, Rara langsung acungkan tangan agar dia yang mengatur segala sesuatunya secara keseluruhannya.

"Dana satu pintu biar jelas pertanggungjawabannya," demikian istilah Rara. Wajah Rara dan Jaki adalah wajah lama, selalu sama tiap terjadi bencana.

Bercahaya gembira berselubungkan rencana.
"Pak Rara juga ikut?" Nona Mia terkejut melihat Rara juga siap-siap berangkat.

"Ya ialah, namanya juga bencana! Tujuan kita menolong saudaranya Benza sekaligus membantu siapa dan apa saja yang dapat kita bantu di Padang. Nanti kita bergabung dengan LSM mu ya," Rara meyakinkan.
"Bukankah kamu bilang kedua saudara Benza itu hanya orang kecil?" Tanya Nona Mia.

Rara langsung menjawab bahwa dialah pimpinan rombongan. Dia juga yang mengatur keuangan dan segala sesuatunya, jadi bagaimanapun juga dia harus berangkat.

***

"Kami berhenti dan tunggu di Jakarta saja ya!" Rara dan Jaki mengambil keputusan.

"Soalnya aku takut sekali! Kalau gempa lagi dan kami tertimpa bencana di sana bagaimana?" Kalimat
selanjutnya adalah pesan-pesan bahwa kalau ada perlu boleh langsung kontak ke HP masing-masing, jangan lupa tanda tangan surat perintah perjalanan dinas oleh pejabat terkait dan kami tunggu di Jakarta.

"Makasih ya Jaki, Rara, wajah kalian berdua tetap tidak berubah. Tetap seperti dulu," sapa Nona Mia sebelum pergi bersama Benza dan beberapa anggota rombongan.

"Ah, mana mungkin sih!" Rara termakan pujian. "Aku tetap ganteng ya?"

"Kalau aku bagaimana Nona Mia? Cakep kan?"


"Ya, wajah kalian yang lama tidak berubah! Gempa Padang membuat wajah kalian bertambah lama lagi!"

"Apa benar?" Jaki dan Rara bangga bukan main. *


Pos Kupang Minggu 4 Oktober 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda