Foto ilustrasi/kiatsehat.com


Oleh Dian Kurniasari, dan Asep Purnama

DI era globalisasi seperti sekarang ini, wanita memiliki peran yang cukup penting dalam banyak bidang. Dulu suami berperan sebagai tulang punggung keluarga, tetapi sekarang istri juga memiliki andil dalam membantu perekonomian keluarga, bahkan diantaranya banyak yang berperan sebagai tulang punggung keluarga. Tidak heran jika saat ini kita temukan adanya fenomena wanita karier.

Sebagai wanita karier, tetap saja wanita dihadapkan pada kodratnya sebagai seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya. Dilema sebagai ibu yang bekerja akan muncul ketika seorang ibu harus tetap memberikan ASI (Air Susu Ibu) ekslusif kepada anaknya, tetapi pada waktu yang bersamaan juga harus meninggalkan anaknya disaat sedang bekerja sehingga banyak wanita karier yang tidak memberikan ASI eksklusif. Selain itu kurangnya informasi tentang ASI menjadi salah satu faktor yang mendorong semakin sedikitnya ibu menyusui bayi bahkan memberikan ASI eksklusif.
Sejak tahun 2001 Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) telah merekomendasikan program pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Yang dimaksud dengan ASI eksklusif di sini adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0-6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim.

WHO tidak merekomendasikan pemberian cairan maupun makanan tambahan sebelum bayi berusia enam bulan karena telah terbukti tidak memberikan manfaat untuk bayi dan justru menimbulkan banyak penyakit maupun kelainan yang akan dialami oleh bayi. Sebagian besar bayi yang mengalami penyakit pada saluran cerna disebabkan karena pemberian cairan maupun makanan tambahan sebelum bayi berusia enam bulan.

ASI merupakan makanan alamiah yang sangat sempurna bagi bayi. Sejak bayi berada di dalam kandungan, tubuh ibu memberikan antibodi (zat kekebalan tubuh) melalui plasenta. Hal ini memberikan kekebalan pasif yang mampu melindungi bayi dari serangan penyakit selama masa kehamilan. Tetapi begitu bayi lahir, maka proses pemberian antibodi ini terhenti. Karena sistem kekebalan tubuh bayi yang baru lahir belum sempurna, maka bayi sangat rentan mengalami risiko terkena infeksi pada tahun pertama hidupnya.

ASI mengandung semua nutrisi penting yang diperlukan bayi untuk tumbuh kembangnya, disamping itu juga mengandung antibodi yang akan membantu bayi membangun sistem kekebalan tubuh dalam masa pertumbuhannya. Itulah sebabnya mengapa bayi yang baru lahir sangat membutuhkan ASI, terutama selama enam bulan pertama kehidupannya. Dengan ASI, maka bayi akan tetap mendapatkan kekebalan alamiah dari ibu.

Manfaat ASI Eksklusif
ASI eksklusif memiliki banyak sekali manfaat untuk bayi, antara lain : Memperkuat sistem kekebalan tubuh, menurunkan risiko terjadinya infeksi pada saluran cerna (seperti diare) dan saluran pernafasan, serta menurunkan resiko terjadinya alergi. ASI mengandung AA (Arachidonic Acid) dan DHA (Docoso hexaenoic acid) merupakan asam lemak jenuh rantai panjang yang berfungsi memelihara fungsi sel-sel otak dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf pusat.

Sehingga pemberian ASI juga mendukung pertumbuhan kecerdasan anak. Karena ASI memiliki komposisi nutrisi yang tepat dan seimbang maka ASI juga menurunkan risiko anak untuk mengalami obesitas (kegemukan), penyakit jantung dan darah tinggi di kemudian hari. Pada saat ibu menyusui bayinya maka akan terjadi sentuhan antara kulit ibu dengan kulit bayi. Hal ini membuat bayi merasa nyaman dan secara tidak langsung akan meningkatkan hubungan emosi dan psikologis antara ibu dengan bayi.

Selain bermanfaat bagi bayi, ternyata menyusui juga memberikan manfaat bagi ibu, antara lain : Mempercepat kesembuhan ibu, terutama fungsi rahim dan mencegah perdarahan setelah persalinan serta mampu menurunkan resiko kanker indung telur dan kanker payudara.

Menyusui juga dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu, membakar kalori dan membantu ibu untuk mengurangi berat badan sehingga kembali ke bentuk semula. Menyusui juga sangat ekonomis karena tidak perlu beli botol, dot atau susu formula.


ASI Ekslusif dan Wanita Karier
Bekerja bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI ekslusif, karena ibu bisa memberikan ASI perah, yakni ASI yang diperas dari payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya diberikan pada bayi saat ibu bekerja di kantor. Masalah lain yang mungkin dihadapi oleh ibu bekerja adalah siapa yang akan mengasuh bayinya selama dia bekerja dan apakah pengasuh bayi memiliki pemahaman yang sama tentang pemberian dan manfaat ASI eksklusif.

Dengan demikian, sebelum mulai bekerja kembali ibu harus memberikan pemahaman dan menyamakan persepsi kepada pengasuh tentang ASI ekslusif. Memupuk kerja sama yang baik antara ibu dan pengasuh akan menentukan keberhasilan pemberian ASI ekslusif.

ASI perah sebaiknya disimpan dalam jumlah sedikit (cukup untuk sekali minum ± 60 ml) agar tidak ada ASI yang tersisa dan terbuang. Wadah untuk menyimpan ASI sebaiknya terbuat dari gelas atau plastik yang memiliki tutup yang dapat tertutup rapat (udara tidak dapat masuk), dan usahakan tidak terkena cahaya matahari langsung. Tentu saja sebelum digunakan wadah harus dibersihkan dan disterilkan dahulu. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu merebus dengan air sampai mendidih. Jangan langsung menampung ASI ke dalam wadah yg masih panas.

Setelah ASI tertampung di dalam wadah jangan lupa memberikan label tanggal dan jam pada saat ASI diperas untuk memudahkan ibu maupun pengasuh bayi dalam memberikan urutan ASI mana dulu yang harus pertama diberikan.

ASI yang sudah tertampung dalam wadah dapat disimpan pada suhu ruangan maupun disimpan di dalam lemari pendingin, tentu saja ASI yang disimpan didalam lemari pendingin akan dapat lebih tahan lama. ASI dapat bertahan selama sekitar enam jam samapi delapan jam jika disimpan pada suhu ruangan (maksimal 25°Celcius).

Untuk menjaga ASI dari suhu yang terlalu panas maka selubungi wadah penyimpan ASI dengan handuk basah/dingin. ASI dapat bertahan selama sekitar 24 jam bila disimpan di dalam wadah khusus (tas atau termos) yang diselubungi es batu. Bila disimpan di dalam lemari pendingin pada suhu 4°Celcius dengan meletakkan wadah ASI di bagian paling dalam lemari pendingin (dekat dengan dinding bagian belakang) maka ASI dapat bertahan selama ± 5 hari.

Bagian paling dalam lemari pendingin merupakan bagian yang paling dingin dan suhunya paling stabil. Sebaiknya jangan terlalu sering membuka dan menutup lemari pendingin karena akan mempengaruhi suhu di dalam lemari pendingin dan akan mempengaruhi kualitas ASI yang disimpan.

Penyimpanan di dalam freezer lemari pedingin dengan suhu -15°Celcius ASI dapat bertahan selama sekitar dua minggu, sedangkan dalam freezer lemari pendingin dua pintu (pintu freezer terpisah) dengan suhu -18°Celcius ASI dapat bertahan selama sekitar tiga bulan sampai enam bulan. Sebaiknya jangan meletakkan ASI di dalam freezer maupun lemari pendingin bersamaan dengan ikan, daging maupun bahan-bahan yang berbau menyengat karena secara tidak langsung akan mempengaruhi bau dan rasa ASI. Oleh karena itu, pilihlah wadah ASI yang kedap udara.

Sebelum menggunakan ASI yang disimpan maka keluarkan dulu dari lemari pendingin dan hangatkan wadah ASI dengan cara mengalirinya dengan air hangat atau merendam sebagian wadah dalam air hangat. Usahakan agar bagian atas wadah yg tertutup rapat tidak terkena air hangat tersebut.

Jika ASI disimpan di dalam freezer sampai menjadi beku, maka keluarkan dari freezer dan letakkan wadah ASI ke dalam lemari pendingin bagian bawah selama beberapa jam hingga mencair, kemudian baru dihangatkan seperti proses diatas. Jangan mencairkan ASI pada suhu ruangan (meletakkan diluar lemari pendingin).

ASI tidak boleh dihangatkan pada suhu yang sangat tinggi misalnya dengan cara direbus pada air mendidih atau memasukkan wadah ASI ke dalam microwave, hal ini akan merusak kandungan dalam ASI terutama antibodi (zat kekebalan tubuh) yang terkandung di dalam ASI.

Kocoklah ASI secara perlahan sebelum diberikan ke bayi dan berikanlah dengan sendok untuk mengantisipasi terjadinya bingung putting” pada bayi. Bingung puting terjadi jika ibu yang biasa memberi ASI lewat payudara, lalu bayi disusui dengan botol, maka ketika akan diberikan lewat payudara lagi bayi kemungkinan menolaknya. Ini lantaran, dot botol lebih lancar mengeluarkan susu dibandingkan lewat payudara.

ASI yang masih tersisa bisa disimpan kembali ke dalam lemari pendingin tetapi jangka waktunya tidak lebih dari 24 jam, tetapi sisa ASI tidak boleh dibekukan lagi ataupun dicampur dengan ASI dalam wadah yang lain. Oleh karena itu disarankan untuk menampung ASI dalam jumlah yang cukup untuk sekali minum, yaitu ± 60 ml, untuk menghindari sisa ASI dalam botol yang akan terbuang.

Setelah mengetahui manfaat dan cara menyimpan ASI diharapkan ibu lebih memahami betapa pentingnya pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Jadi untuk wanita karier tidak ada alasan lagi untuk tidak memberikan ASI eksklusif. Bila bayi tetap diberikan ASI eksklusif maka bayi akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Selain itu ibu yang bekerja juga tetap dapat menjalankan kewajibannya sebagai ibu yang memberikan hal terbaik untuk buah hati tercinta dan karier ibu juga dapat berjalan. Dengan demikian ibu yang cerdas adalah ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Jadi, pemberian ASI eksklusif oleh wanita karier? Siapa takut!

(Dian Kurniasari, Dokter Umum bertugas di Puskesmas Wolofeo, Kabupaten Sikka, NTT
Asep Purnama, Pendukung Revolusi KIA, Dokter Spesialis Penyakit Dalam bertugas di RSUD TC Hillers)


Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda