FOTO NASA/MODIS KEBOCORAN MONTARA
Gambaran luasan pencemaran minyak mentah di Laut Timor yang sudah mendekati bagian timur Pulau Rote.


MELEDAKNYA ladang gas Montara di Laut Timor pada 21 Agustus lalu, telah memuntahkan ribuan barel minyak di wilayah perairan yang kaya dengan berbagai jenis spesies laut itu. Berbagai jenis spesies laut seperti ikan paus, lumba-lumba, tuna, kakap merah dan penyu, biasa melewati kawasan perairan yang tercemar itu dan bermigrasi di kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle).

Menurut laporan jaringan Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) dari Canberra, Australia sebagaimana disampaikan Ketua YPTB yang juga pemerhati masalah Laut Timor, Ferdi Tanoni, tumpahan minyak mentah dari ladang gas Montara itu rata-rata 500.000 liter setiap hari atau sekitar 1.200 barel.

Direktur Program Kelautan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Wawan Ridwan dalam siaran persnya, Jumat (16/10/2009) mengemukakan, kawasan yang telah dicemari minyak mentah itu merupakan tempat hidupnya ratusan hingga ribuan ular laut, penyu, dan burung laut.

"Yang lebih mengkhawatirkan lagi, daerah tumpahan tersebut dengan kawasan lindung laut terbesar di Indonesia, yakni Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur (NTT)," katanya.

Laut Sawu dipilih menjadi kawasan konservasi nasional terhadap mamalia laut, karena wilayah laut yang letaknya antara Provinsi NTT dan Australia itu merupakan habitat terbesar ikan paus dan merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk jenis langka, yakni ikan paus biru (balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (physeter macrocephalus).

Ahli mamalia laut, Dr Benjamin Kahn dari APEX Environmental Program Cetacean Laut Asia-Pasific mengatakan, ada sekitar 32 jenis mamalia laut, paus dan lumba-lumba yang melakukan migrasi di wilayah perairan NTT sampai utara Australia.

Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 14 jenis ikan paus dan lumba-lumba yang melakukan migrasi lewat Laut Sawu. Laut Sawu, menjadi wilayah migrasi mamalia laut langka, karena merupakan pusat tujuan arus dari berbagai benua yang nota bene sangat dikagumi dan disenangi mamalia laut.

Oleh karena itu, kata Kahn, langkah yang diambil pemerintah Indonesia untuk menjadikan Laut Sawu sebagai konservasi nasional dalam melindungi mamalia laut merupakan pilihan terbaik, karena banyak limbah industri seperti sampah plastik, serta penyebaran jaring raksasa di Laut Sawu untuk menangkap mamalia laut tersebut.

"Kami mengharapkan pemerintah Indonesia segera berkoordinasi dengan pemerintah Australia untuk mengatasi masalah ini. Montara perlu mengambil tindakan penanganan segera untuk mengatasi kebocoran ini karena sangat merugikan masyarakat dan lingkungan," kata Wawan Ridwan.

"Kerusakan yang mungkin ditimbulkan terhadap sumber daya laut Indonesia sangat tinggi harganya, mengingat hal itu bisa berdampak terhadap keanekaragaman hayati, kehidupan masyarakat pesisir, serta investasi kita di sektor perikanan dan wisata," katanya.

Nelayan NTT Terancam
Menurut Wawan Ridwan, pihak yang paling terancam dalam waktu dekat adalah nelayan di pesisir selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jumlahnya tidak kurang dari 7.000 orang.

Demikian juga dengan komoditas perikanan sebesar 130.000 ton per tahun, yang terdiri dari berbagai macam komoditas perikanan dan rumput laut hasil budidaya.
"Lebih jauh lagi adalah kerugian atas investasi Indonesia dalam bentuk kawasan lindung karena biaya rehabilitasi bila kebocoran mencapai kawasan terumbu karang di KKPN Laut Sawu akan sangat besar," kata Ridwan.

Hampir dua bulan setelah kebocoran terjadi, kepala sumur pengeboran minyak tetap belum tertutup setelah upaya penyumbatan pada minggu ini mengalami kegagalan. Bahan berbahaya terus menyebar. Sedikitnya, 6.000 km2 kawasan itu telah terkena.

Segitiga Terumbu Karang, yang meliputi lautan seluas 6 juta km2, mencakup kawasan perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste, adalah rumah bagi enam dari tujuh jenis penyu yang selama ini diketahui bermigrasi dari kawasan ini ke Australia.

WWF-Australia dan sebuah tim ahli ekologi kelautan independen telah mengadakan survei terhadap kehidupan liar di kawasan Laut Timor yang terdampak kebocoran ladang minyak Montara tersebut.

Gilly Llewellyn, Direktur Konservasi WWF-Australia, memimpin tim peneliti untuk mengkaji jumlah dan keadaan kehidupan liar yang ditemukan di kawasan terdampak tersebut. "Hampir dua bulan setelah kebocoran itu, minyak terus menyebar ke samudra," kata Lewellyn.

"Karena tumpahan ini tidak terjadi di hadapan kita, bukan berarti kita bisa mengabaikannya. Kita harus melawan mitos bahwa tumpahan minyak hanya akan berdampak pada kehidupan liar laut ketika itu mencapai pantai," katanya menambahkan.

"Lebih penting lagi, karena lebih banyak infrastruktur minyak dan gas yang terus tumbuh di kawasan ini, kita harus memastikan bahwa ancaman nyata kebocoran lainnya harus diperhitungkan," ujarnya.

Menurut Benjamin Kahn, dampak yang paling besar menimbulkan amblasnya habitat mamalia laut adalah limbah plastik yang terbawa ke laut, limbah industri yang ada di wilayah pesisir serta pengeboran minyak lepas pantai seperti yang terjadi di Laut Timor saat ini.

"Pengeboran minyak lepas pantai ini tidak memperdulikan soal analisa dampak lingkungan (Amdal) terhadap migrasi mamalia laut di wilayah perairan sekitarnya. Ini yang sangat berbahaya, karena mamalia laut itu sangat rentan terhadap limbah industri dan desingan mesin," katanya.

Laut Sawu dengan luas sekitar 4,5 juta hektare itu dinilai sangat cocok dan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional khusus untuk melindungi mamalia laut langka seperti ikan paus biru (balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (physeter macrocephalus).

Coral Triangle terancam
Coral Triangle adalah kawasan dengan keanekaragaman biota laut tertinggi di planet Bumi, yang sama pentingnya seperti hutan hujan Amazon dan cekungan Kongo bagi kehidupan di Bumi. Coral Triangle mencakup perairan dengan lebih dari 500 spesies karang pembentuk terumbu, mencapai luas 6 juta kilometer persegi, membentang di enam negara di Indo-Pasifik, yaitu Indonesia, Malaysia, Papua Niugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Coral Triangle menjadi rumah bagi 3.000 spesies ikan karang dan ikan bernilai komersial, seperti tuna, paus, lumba-lumba, pari, hiu, dan enam dari tujuh spesies penyu laut yang dikenal selama ini.

Coral Triangle menyokong kehidupan lebih dari 120 juta orang dan merupakan lokasi penting pemijahan atau perkembangbiakan dan pembesaran tuna. Sementara itu, terumbu karang dan ekosistem pesisir yang sehat memungkinkan pertumbuhan sektor pariwisata.

Bekerja sama dengan LSM lain, WWF bersama pemerintah dan lembaga multilateral di seluruh dunia mendukung upaya-upaya konservasi dalam kawasan Coral Triangle untuk kepentingan bersama.

Menurut hasil penelitian terbaru dari WWF, bukit terumbu karang yang sumber kehidupan biota laut, sebagian besarnya sudah musnah dari wilayah Segitiga Koral Samudera Pasifik pada akhir abad ini. Hal itu, menurut WWF, dapat pula mengancam stok makanan dan penghidupan sekitar 100 juta orang. Bencana yang tak dinginkan itu bergantung pada aksi global cepat terhadap perubahan iklim.

Menurut Lembaga Perubahan Iklim dan Segitiga Koral, aksi itu harus dibarengi pula dengan solusi lokal regional atas penangkapan ikan berlebihan dan polusi kawasan, jika tidak manusia dan masyarakat bakal alami resiko besar. Hasil studi yang dilakukan oleh WWF itu disampaikan pula pada Konferesi Lautan Dunia (WOC) di Manado, Sulawesi Utara pada Maret 2008 lalu.

"Area yang musnah dari wilayah Segitiga Koral Samudera Pasifik itu adalah 'mahkota permata planet' yang terbuat dari beragam terumbu karang," kata Catherin Plum, Direktur Program Segitiga Koral dari WWF AS.

Meskipun demikian, katanya menambahkan, masih ada kesempatan untuk mencegah tragedi itu dan membuatnya kehidupan di dalamnya bertahan berkelanjutan, dimana jutaan orang bergantung pada kekayaan sumber alam tersebut.

Hasil studi itu menawarkan dua skenario yang berbeda secara dramatis untuk Segitiga Koral, yang membandingkan area lepas pantai, bukit karang, dan lautan di negara Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste, kawasan dimana Segitiga Koral itu berada.

"Bila diukur, Segitiga Koral hanya satu persen dari permukaan bumi, namun kawasan itu merupakan rumah 30 persen koral dunia, 76 persen spesies bukit-terumbu karang, dan juga tempat tinggal lebih dari 35 persen spesies ikan terumbu karang dan juga menjadi lahan vital ikan komersial penting lainnya seperti tuna," ujar Plum.

"Dalam satu skenario kami tetap mengikuti alur iklim saat ini dan melakukan perlindungan seperlunya dengan lingkungan pantai dan bawah laut dari pembantaian ancaman lokal," tambah Hoegh Guldberg, guru besar dari Universitas Queensland.

"Di dalam dunia ini orang-orang melihat harta karun biologi berupa Segitiga Koral dihancurkan dalam satu abad karena peningkatan temperatur air laut yang cepat, kadar keasaman, dan permukaan laut, sementara objek-objek lingkungan bawah laut juga diperburuk oleh kelemahan manajemen manusia terhadap laut," tambahnya.

Menurut dia, kemiskinan akan meningkat, keamanan stok makanan berkurang, ekonomi menderita, dan orang-orang di kawasan pantai semakin bermigrasi ke kawasan perkotaan.

Laporan WWF juga menyorot celah untuk menghindari skenario kasus terburuk di wilayah melalui pengurangan nyata emisi gas rumah kaca, dan investasi internasional untuk memperkuat lingkungan alami regional. Cara yang dianggap Hoegh sebagai solusi yang akan membantu membentuk lagi objek-objek dan memperbaiki Segitiga Coral, dimana ekonomi dapat tumbuh, pasokan makanan dan lingkungan alami dapat tetap terpelihara.

"Perubahan iklim di Segitiga Koral sangat menantang, tapi dapat dimanajemen, dan setiap kawasan akan merespon baik untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan lokal dari penangkapan ikan berlebih, polusi, dan penurunan kualitas dan kesehatan air laut," katanya lagi.

Meski di bawah skenario terbaik, komunitas di wilayah lokal tetap akan mengalami kehilangan terumbu karang secara dramatis akibat peningkatan ketinggian laut, aktivitas badai meningkat, kemarau panjang, dan kekurangan sumber makan akibat penangkapan ikan.

WWF berpendapat, pemimpin dunia memiliki peran untuk membantu negara-negara di Segitiga Koral guna memperkuat manajemen sumber daya laut melalui aksi internasional terhadap perubahan iklim. "Kita harus membentuk perjanjian internasional yang kuat untuk menghasilkan pengurangan tajam atas produksi gas rumah kaca di Konferensi Iklim PBB, Kopenhagen pada Desember 2009 mendatang," kata Plume menegaskan.

Ancaman terhadap kawasan segitiga terumbu karang, kini semakin menyata dengan meledaknya ladang gas Montara yang tiap hari dilaporkan memuntahkan 500.000 liter minyak dan telah memasuki kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Operator ladang gas Montara PTTEP Australasia telah menyetujui untuk mendanai suatu program pemantauan secara terus-menerus di Laut Timor yang tercemar akibat ledakan sumur minyak Montara pada 21 Agustus lalu, selama sekitar dua tahun."Ini sebuah kesepakatan yang telah dibuat oleh Menteri Lingkungan Hidup pemerintah federal Australia Peter Garrett dengan PTTEP Australasia di Canberra, Australia, Jumat (16/10)," kata Ferdi Tanoni.

Ia mengemukakan adanya kesepakatan tersebut berdasarkan laporan jaringan YPTB yang bermarkas di Canberra, terkait dengan perkembangan penanganan masalah pencemaran minyak mentah (crude oil) di Laut Timor.

Menteri Garrett dalam laporannya mengatakan, pemantauan tersebut mencakup survei kehidupan laut, penelitian satwa liar dan habitat, kualitas air, pengaruh terhadap pantai serta penilaiannya.

PTTEP Australasia mengatakan kesepakatan akan mencakup pemantauan jangka pendek dan jangka panjang serta potensi dampak dari tumpahan minyak yang telah terjadi tersebut.

Selama ini, kata Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedubes Australia ini bahwa konservasionis Australia sangat keras dan kritis terhadap cara-cara penanganan tumpahan minyak di Laut Timor oleh perusahaan operator ladang gas Montara PTTEP Australasia dan Pemerintah Federal Australia yang dinilai sangat buruk dan kurang bertanggung jawab.(lorensius molan/antara)

Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda