Pieter Manuk dan Maria Patricia Sumarni

Ajari Anak Masuk Pramuka

SEBAGAI pasangan yang sama-sama menggeluti organisasi pramuka tentu sangat menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa dipelajari di sana. Apalagi, kalau pasangan itu mengajak anak-anaknya untuk bergabung menjadi anggota pramuka sejak kecil. Hal ini dilakukan pasangan Pieter Manuk dan Maria Patricia Sumarni.


Pasangan yang menikah tanggal 14 Oktober 1993 ini sudah bergabung di pramuka sejak lama dan saat ini sudah menjadi pembina. Jangan heran kedua anaknya juga sudah menekuni organiasi ini sejak kecil. Putri sulungnya pernah mengikuti jambore dunia di Inggris tahun 2007.

Pasangan ini memiliki dua anak. Anak pertama, Pricilia Manuk, lahir di Kupang, 14 Juni 1995, saat ini kelas I SMA Katolik Giovanni Kupang, dan putra keduanya, Carlos Manuk, lahir di Kupang, 2 April 1998, saat ini kelas I SMP Katolik Giovanni Kupang.

Kepada Pos Kupang, Kamis (8/10/2009) di ruang kerjanya, Maria Patricia Sumarni, yang saat ini sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (PPNFI) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengatakan, walau disela-sela kesibukan ia dan suami tetap menjalankan kewajiban sebagai ayah dan ibu di rumah. Kedua anaknya yang memasuki dunia remaja memang sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan dari keduanya.

Namun demikian, menurut alumni Pasca Sarjana Magister Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tahun 2008 ini, ia dan suaminya bersyukur karena kedua anaknya termasuk anak yang mandiri. Sikap mandiri ini mungkin di dapat dari kegiatan pramuka yang sudah digeluti kedua anaknya sejak kecil.

"Kami berdua sangat aktif di kegiatan parmuka, sehingga sejak kecil kami sudah memperkenalkan mereka dengan kegiatan pramuka. Waktu kecil kami sering membawa serta mereka jika ada kegiatan pramuka baik di Kupang maupun di luar Kupang. Makanya, ketika masuk SD mereka dengan senang hati mau bergabung di Pramuka. Mungkin dengan mengikuti kegiatan ini, anak-anak saya menjadi anak yang mandiri," kata Maria yang mengawali kariernya sebagai guru honor di SMA Negeri 1 Kupang.

Maria menjelaskan, anak-anaknya bisanya menyiapkan segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan mereka baik di rumah maupun di sekolah secara sendirian. Sebagai orangtua, katanya, keduanya hanya bisa mengarahkan dan membimbing anak-anak mereka, seperti hal kecil yang sering mereka lakukan di rumah adalah bangun pagi.

Anak-anak pasangan ini tahu persis jam berapa masuk sekolah, apalagi sekolah Katolik yang sangat disiplin, sehingga jam bangun pagi berapa harus bangun pagi. Biasanya, anak-anak bangun dan menyiapkan sendiri keperluan sekolah. "Mereka sangat tahu kesibukan kami, sehingga tanpa disuruh mereka akan mengerjakanya sendiri," kata alumnus Undana tahun 1991 ini.

Kedua anaknya, kata Maria, memiliki karekater yang berbeda-beda. Si sulung, katanya, pendiam, telaten dan sangat menyukai musik. Sehingga, keduanya memberikan les musik piano kepada putri sulungnya. Sedangkan putra keduanya sangat menyukai olah raga dan komputer.

Minat dan bakat kedua anaknya memang betul diperhatikan, namun juga tidak menyepelehkan kegiatan-kegiatan di sekolah.

Ia mengatakan, kedua anaknya tidak ingin mengikuti les-les di luar karena di sekolah sudah ada les tambahan.

"Mereka tidak ingin kegiatan les tembahan di sekolah bertabrakan dengan kegiatan les di luar, sehingga mereka memfokuskan diri mengikuti les di sekolah. Saya tidak tahu kenapa, tetapi kedua anak ini memang sangat selektif. Mereka katakan, mama kalu akami ikut les di luar terus bertabrakan dengan les di sekolah, akhirnya kami mau ikut yang mana. Dari pada mubazir, lebih baik fokus saja satu-satu. Padahal, sekolah juga tidak menuntut kepada anak harus ikut les di sekolah, karena semua tergantung anak," katanya.

Melihat anak-anaknya sudah beranjak remaja, keduanya tidak ingin hal negatif terjadi kepada anak-anaknya. Sehingga, setiap kali ada kesempatan berkumpul di rumah, keduanya biasanya membicarakan hal-hal yang menyangkut anak-anak remaja. Mulai dari tanda-tanda perubahan fisik pada anak, sampai pada pergaulan dengan teman- teman di sekolah maupun di lingkungan.

"Kami memberitahukan secara terbuka kepada anak tentang menstruasi, mimpi basah, dan tanda-tanda perubahan remaja lainnya, termasuk pergaulan dengan teman-teman. Anak-anak juga biasanya tidak malu untuk mendengarkan. Mereka juga sangat terbuka kepada kami. Apa saja yang dialami di sekolah atau di lingkungan, pasti akan memberitahukanya kepada kami," katanya.

Soal pendidikan anak, keduanya, benar-benar menyerahkan sepenuhnya kepada kedua anaknya. Menurutnya, anak-anaknya yang memilih sendiri kemana mereka akan melanjutkan sekolah setelah tamat nanti. Menurutnya, putri sulungnya memang sangat ingin menjadi guru sehingga dia katakan dia mau masuk FKIP bahasa setelah tamat nanti.

Memang, kalau dari keduanya cita-cita ini sangat sederhana karena keduanya ingin agar anaknya mengambil pendidikan yang lebih trend seperti MIPA atau yang lainnya, namun karena pilihan anak, keduanya sangat menghargainya. Begitupun putra keduanya, yang ingin melanjutkan pendidikan ke pendidikan kejuruan setelah menamatkan SMP nanti.

Menurutnya, untuk membekali anak dengan kompetensi atau keahlian lainnya selain pendidikan di sekolah, putri sulung mengikuti les bahasa Mandarin, sedangkan putra keduanya ke hal-hal teknik seperti mesin dan sebagainya.

"Putri sulung saya memang sudah mahir berbahasa Inggris sehingga sekerang kami memberikanya bekal lain yakni bahasa Mandarin. Sedangkan, anak kedua suka komputer sehingga kami menyiapkan komputer sendiri buatnya di rumah," kata Maria yang sudah malang melintang di pendidikan non formal dan informal ini. (nia)

Pos Kupang, Minggu 11 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda