Pius Weraman,SKM,M.Kes


Foto POS KUPANG
Pius Weraman,SKM,M.Kes
Pembantu Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang



Tingkat Pendidikan Berdampak Kesehatan


SALAH satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat adalah kesehatan. Makin tinggi derajat kesehatan suatu kelompok masyarakat, dapat dikatakan makin sejahtera kelompok tersebut. Sebaliknya, makin rendah derajat kesehatan makin rendah pula derajat kesejahatan suatu kelompok masyarakat. Derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat makin sadar masyarakat tersebut untuk menjaga kesehatan dan sebaliknya.


Tingkat pendidikan masyarakat NTT yang rata-rata lima tahun atau setara dengan kelas lima SD menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat di daerah akan kesehatan masih rendah. Hal ini bisa nampak dari wabah muntaber atau diare selama ini.
Kehadiaran Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Unadan) Kupang yang melahirkan sarjana kesehatan masyarakat (SKM) di NTT diharapkan bisa memotong siklus wabah tersebut, dan menjadikan masyarakat NTT lebih sadar menjaga kesehatan.

Pius Weraman, SKM,M.Kes, Pembantu Dekan I FKM Undana Kupang mengungkapkan, banyak perilaku masyarakat yang menyimpang dari upaya-upaya meningkatkan kualitas kesehatan. Hal ini akibat rendahnya tingkat pendidikan. Ia mencontohkan, masyarakat di beberapa daerah yang mengkonsumsi air yang sudah tercemar karena ketidaktahuan tentang kualitas air tersebut. Berikut perbincangan Pos Kupang dengan Pius Weraman

FKM Undana sudah menghasilkan sarjana untuk NTT. Apa sebenarnya hakekat lembaga ini?
Berkaitan dengan misi akademik untuk pengembangan masyarakat bagi seorang sarjana kesehatan masyarakat, harus menempuh pendidikan selama delapan semester atau empat tahun pendidikan. Untuk FKM yang memiliki jurusan Epidemologi dan Bio Statistia, harapannya orang yang ouput dari prodi ini bisa melakukan pengumplan data, menganalisis data yang berkaitan dengan trend penyakit, perkembangan suatu penyakit dan mencari solusi bagaimana melakukan upaya pencegahan penyebaran penyakit tersebut, kemudian mengukur derajat kesehatan pada suatu wilayah, bisa tingkat RT/ RW, desa, kecamatan, kabupaten, kota dan propinsi. Bahkan antar- negara sehingga dengan trend penyakit itu, ia bisa membuat rekomendasi berdasarkan masalah bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan.

Kita juga punya jurusan gizi kesehatan masyarakat. Itu akan menghasilkan seorang sarjana gizi dan dia harus paham benar bagaimana mengukur status kesehatan yang berkaitan dengan gizi. Kita juga punya jurusan kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja. Fokusnya pada upaya-upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan seperti tersedianya jamban keluarga dan sarana air bersih, kualitas airnya. Itu ditangani oleh sarjana kesehatan kerja. Ada juga jurusan pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku atau bisa disebut juga dengan promosi kesehatan. Jadi dia harus mendesain materi penyuluhan, metode penyuluhan, media penyuluhan dan melakukan monitoring serta evaluasi yang berkaitan dengan promosi yang dilakukan. Ada juga jurusan administrasi kebijakan kesehatan menangangi sistem manajemen, terutama teknis media administrasi di rumah sakit, puskesman, dan pustu atau itu ditangai oleh SKM dari jurusan administrasi kesehatan masyarakat.

Apakah seorang bertitel SKM memiliki fungsi yang sama dengan dokter?
Secara umum tugas antara dokter dengan seorang SKM berbeda. Perbedanmya pada peran dan funsginya. Kalau sarjana kesehatan megobati keluraga dan kelompok masyarakat, sedangkan dokter itu mengobati individu. Kalau terapi dokter itu lebih pada obat-obatan hasil pabrik, terapi kesehatan masyarakat lebih banyak mengatasi faktor risiko. Misalnya, faktor risiko lingkungan, bagaimana upaya mengatasi lingkunga itu sendiri. Misalnya perkembangan jentik nyamuk yang tinggi, bagaimana upaya mengatasi masalah itu? SKM lebih banyak berperan pada advokasi, memberikan rekomendasi, kemudian bagaimana anggaran kesehatan itu naik. Dia memberikan advokasi pada eksekutif atau legislatif berdasarkan data base atau masalah yang dia miliki pada kelompok orang. Kalau dokter hanya memberikan penyuluhan pada individu, tidak pada kelompok. Itu perbedaan mendasarnya. Prinsipnya yang satu indivisu yang satu kelompok.

Sejauh mana kebutuhan tenaga SKM di NTT?
Idealnya kita harus memiliki satu SKM untuk melayani 300 orang. Tapi tenaga SKM di NTT masih sangat minim dan jauh dari populasi. Seharusnya satu unit di Dinas Kesehatan harus ada satu SKM, dengan disiplin ilmu yang dibutuhkan. Karena di seksi dinas kesehatan propinsi dan kabupaten berbeda-beda. Seperti pemberantasn penyakit menular, itu membutuhkan seorang SKM dari epidemologi, kalau gizi yang dibutuhkan adalah SKM dari gizi. Tapi kenyataan yang kita lihat dari 324 puskesmas di NTT dan 21 kabupaten, di mana satu kabupaten memiliki empat seksi berarti ada 84 posisi yang harus ditempati oleh tenaga sarjana kesehatan masyarakat. Tapi fungsi-fungsi itu diisi oleh tenaga kesehatan non SKM, bahkan ada yang tenaga non kesehatan. Saat ini setiap dinas kesehatan rata-rata punya dua sarjana kesehatan. Sehingga sistem manajemen di kabupaten belum berjalan baik karena belum memiliki tenaga SKM. Tenaga SKM ini lebih banyak sebagai tenaga manajerial program, tetapi ditempati dokter yang mestinya harus berperan mengobati orang. Dokter itu secara teknis harus di rumah sakit atau puskesmas. Dia kurang paham menata sistem manajerial di tingkat kabupaten dan propinsi. Kita masih sangat kurang tenaga SKM di NTT.

Mahasiwa FKM juga praktik di rumah sakit. Apa yang mereka lakukan di sana?
Jadi SKM tidak langsung menangani pasien, tapi dia lebih mengelola adiministrasi. Misalnya, dia bertugas di bagian gizi, maka ia hanya mengatur diet pasien. Kemudian pengolahan di dapur, tapi dia tidak langsung melakukan perawatan pada pasien. Kalau di administrasi kebijakan, maka tugas adalah medical record. Dia hanya melakukan analisis data dan mengambil solusi pada saat ia mengkaji data itu tapi dia tidak bersentuhan langsung dengan pasien.

Masih banyak orang NTT belum punya jamban berstandar kesehatan. Kenapa demikian?
Karena penduduk kita belum memahami secara benar tentang pentingnya kesehatan karena promosi kita belum sampai pada masyarakat. Kita harus ingat bahwa pendidikan kita masih rata-rata kelas 5 SD, walaupun di tingkat nasional sudah kelas tujuh. Dapat dibayangkan pola pemahaman orang yang masih kelas lima SD, tentu belum memahami secara komperhensif tentang kesehatan. Kemudian untuk jamban kesehatan dan lain-lain tergantung budaya. Kadang-kadang budaya kita lebih enak di balik pohon daripada duduk jongkok di kamar mandi. Bahkan ada daerah di NTT yang mendapat bantuan Belanda berupa jamban keluarga tapi tidak dimanfaatkan. Jamban ini hanya digunakan untuk tamu terhormat yang datang, sementara keluarga itu tidak menggunakan dan memilih membuang hajat di pinggir kali, di bawa pohon atau di tempat terbuka. Ada lagi yang kamar kecil (WC) digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Ini kebiasaan. Untuk mengubah perilaku ini tentu butuh waktu yang lama. Dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan keterjangkuan informasi terkait dengan geografis, tapi itu bukan alasan. Upaya kita bagaimana mendekatkan pelayanan sehingga orang yang tinggal di balik bukit, di lembaga itu bisa mengakses informasi.

Wabah penyakit di NTT seperti diare atau muntaber seperti siklus tahunan. Mengapa demikian?
Memang jamban ini adalah satu faktor. Saya contohkan seperti di Belu selatan. Di wilaya itu sering terjadi banjir dan pasca banjir sering terjadi diare. Karena air permukaan di sekitar kali itu sudah tercemar. Masyarakat yang tinggal di daerah hulu biasanya buang air besar (hajat) di dekat kali, nah ini megandung eccoli. Eccoli ini dibawa oleh air permukaan di dataran rendah. Akibatnya, air di semua sumur tercemar, padahal air itu dikonsumsi oleh semua warga di tempat itu. Apalagi kalau tidak di masak, akan terjadi wabah diare. Wilayah kita selalu kesulitan air pada musim kemarau sehingga masyarakat tidak punya pilihan untuk mendapat air bersih dengan mengambil air yang sudah tercemar. Secara teori, sumur yang dekat jamban keluarga berisiko sehingga diharapkan sumur itu harus lebih dari 15 meter, tapi kita di NTT banyak sumur yang dekat jamban. Apalagi sumur dengan jamban di daearah yang sifat tanahnya labil. Itu sangat berbahaya karena eccoli akan menembus ke sumur. Apalagi sumur tanpa bibir sumur. Contohnya di Solor, kita di sana pada musim kemarau selalu kesulitan air. Akibatnya, masyarakat mengkonsumsi air yang sudah tercemar. Mengatasi itu perlu pengadaan air bersih. Pengadaan air bersih bukan tugas dinas kesehatan, tapi tugas orang pekerjaan umum Tugas kesehatan adalah memantau kualitas air.

Pemerintah Propinsi NTT sedang mengkampanyekan makanan lokal. Apakah makanan lokal juga mengandung gizi yang layak dan diperlukan oleh tubuh?
Baru-baru ini kita ada kegiatan yang namanya Ipteks pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang dibiayai oleh Dikti. Kita dari jurusan gizi bekerja sama dengan jurusan lain mencoba membuat yang namanya bahan makanan campuran (BMC) berbasis potensi lokal. Jadi, mereka mengkaji bahan makanan lokal seperti jagung, kacang hijau, kacang nasi lalu diolah seperti yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu di kampung dengan susunan menu menggunakan parameter yang sesuai dengan susunan menu seimbang. Bukan hanya itu, harus dikombinasikan dengan sayur-sayuran dan protein. Ternyata BMC sangat cocok menggunakan bahan makanan lokal. Karena setelah dicoba pada bayi dan setelah tiga bulan dievalusi bayi yang menggunakan BMC ini mengalami trend kenaikan berat badan. Jadi penggunaan bahan makanan lokal sangat cocok karena kita mulai dengan makanan pokok yang ada di desa. Ada juga pengembangan jagung bose instan. Nanti ada kapsul dari marungga karena kapsul ini memiliki sat gizi yang tinggi untuk anak-anak dan balita. Ini dikembankan oleh Care International dengan kita. Cuma belum sampai pada pembuatan kapsulnya sudah berhenti karena pembiayaan. Saya kira makanan lokal kita ini cukup memberikan nilai gizi, tapi belum dikembangkan baik.

Mengapa mahasiswa perempuan di FKM Undana harus memakai rok saat kuliah? Apakah ada pertimbangan kesehatan untuk perempuan?
Jadi itu ada surat keputusan dekan yang terkait dengan norma dan tolak ukur kehidupan kampus, sehingga mahasiwa diwajibkan harus memiliki rambut pendek untuk pria, harus menggunakan baju berkerah atau tidak boleh memakai baju kaos oblong, Perempuan atau mahasiswi harus memakai rok. Dengan demikian, mereka terbiasa di tempat kerja nanti, dia sudah menunjukan wajah disiplin dari dirinya. Memang saat ini ada tempat kerja mewajibkan wanita menggunakan celana panjang saat ke kantor, tapi budaya dari dulu itu mengharuskan perempuan pakai rok. Itu hanya upaya mendisiplinkan diri sehingga terbiasa di tempat kerja.

Kelihatannya mahasiswa FKM banyak kegiatan. Apakah itu motivasi dari dosen?
Iya. Di sini ada kelompok-kelompok kerja di kampus. Kita ada nama folks godensia untuk kelompok penyanyi, itu unggulan dari FKM yang sebagian besar dari grup ini bergabung di universitas untuk kegiatan Pesparawi Internasional. Waktu Pesparawi di Manado, Sulawesi Utara, mereka juara II, atau mendapat silver. Selain itu memmperkuat paduan suara Undana, yaitu Belakantari Undana. Semua itu adalah kreativitas mahasiwa karena input kita itu bagus. Input ini adalah unggulan di SMA sehingga bisa masuk ke FKM. Kalau mereka unggulan di SMA lalu masuk di sini, kita tidak susah-susah mengatur. Mereka lebih kreatif membuat apa saja.

Berapa lama rata-rata mahasiwa menyelesaikan pendidikan untuk mendapat gelar SKM di lembaga ini?
Di FKM ini kalau dilihat dari kecepatan lulusan hampir rata-rata empat tahun sudah selesai ini karena input kita bagus, prosesnya baik sehingga ouptnya lebih cepat. Dan, rata-rata umur 23 tahun sudah sarjana. Saya katakan pada mereka, kalau Anda lulus pada usia 23 tahun dan saat 25 tahun sudah kerja, 10 tahun yang akan datang sudah jadi bos. (alfred dama)


Tertarik Pekerjaan Kesehatan

MENJADI seorang perawat tidak cukup bagi Pius Weraman,SKM,M.Kes untuk memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Meski sudah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Kupang tahun 1984, tidak membuatnya berpuas diri. Masih ada obsesinya memberikan pelaynan yang lebih luas sehingga ia memilih melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur.

Ayah empat anak ini mengatakan, sudah mengenal sarjana kesehatan saat ia masih di SPK. Sejak saat itu ada minat untuk melanjutkan pendidikan ke FKM. "Saya mengetahui benar tentang ilmu kesehatan masyarakat ini sejak di SPK. Ternyata praktikum untuk kesehatan masyarakat lebih bagus ketimbang kita di rumah sakit karena hanya melayani satu orang atau invidu. Kita lebih banyak menemukan banyak orang yang sakit itu di masyarakat," ujarnya.

Suami dari Katrina Lou Ola ini memilih melanjutkan ke FKM karena lebih tertarik dengan keadaan kesehatan masyarakat ketimbang kesehatan individu. "Ketika itu saya praktek di Niuk Baun. Kita lebih banyak melayani masyarakat yang sehat dan yang sakit. Kalau jadi perawat hanya melayani masyarakat yang sakit saja, jadi ruang lingkup terbatas. Itu yang membuat saya tertarik," jelasnya.

Saat ini, pria murah senyum ini menjadi pengajar tetap dan menjabat Pembantu Dekan FKM Undana. Sudah bekerja bukan berarti berhenti belajar, pria ini melanjutkan lagi ke program magister kesehatan masyarakat di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahn 2008 lalu, menjadi salah satu pemenang lomba menulis bahan ajar untuk mahasiwa FKM. Pius merupakan salah satu dari 40 dosen yang dinyatakan menang dari sekitar 1.300 dosen FKM dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

"Saya boleh bangga karena saya pemenang nasional untuk menulis bahan ajar. Dari 1.300 peserta di Indonesua, hanya 40 orang yang terpilih termasuk saya. Itu berkaitan dengan buku ajar survelence Kesehatan Masyarakat tahun 2008," jelanya.
Pria yang mengaku hanya penikmat olahraga ini hobinya membaca dan menulis. Kini, salah satu buku karyanya telah menjadi bahan ajar untuk FKM di Indonesia.
Kebanggaan baginya sebagai seorang SKM adalah bisa mengabdi di mana dan kapan saja."Jadi, seorang sarjana kesehatan bekerja di mana saja dan kapan saja, tidak terikat waktu, ruang atau pada orang-orang yang terlibat," ujarnya. (alf).


Data Diri
Nama : Pius Weraman,SKM,M.Kes
Tempat dan Tanggal lahir : Baopukang-Lembata, 1 Mei 1964
Jabatan : Lektor, Pembantu Dekan I FKM Undana
Bidang Keahlian : Epidemiologi Lapangan


Pendidikan
1 SD St. Mikhael Baopukang 1977- Baopukang-NTT
2 SMP AWAS Hinga 1981-Hinga -Adonara Flotim NTT
3 SPK Kupang 1984 -Kupang- NTT
4 Sarjana Muda Keperawatan Bandung 1991 Keperawatan Bandung- Jawa Barat
5 S-1 FKM Universitas Airlangga 1997
6 S-2 IKM - Epidemiologi lapangan UGM 2000 Epidemiologi Lapangan Yogyakarta

Keluarga . Istri Katrina Lou Ola
Anak 1 Maria Agustina Making
2 Antonius Lewo Making
3. Dionesia Kidi Making
4. Greogoria Bebe Aran Making



Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda