Prof. Sandi Maryanto


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Prof. Sandi Maryanto


Normalisasi Kehidupan Kampus

MENDUDUKI jabatan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) bukan pekerjaan muda bagi Prof. Drs. Sandi Maryanto, M.Pd. Sebab, berbagai aspek harus ditata di lembaga pendidikan tinggi tersebut.

Berbagai masalah, antara lain, pro dan kontra terhadap kepemimpinan pejabat rektor sebelumnya hingga penolakan rektor dan mogok kuliah para mahasiswa. Bukan itu saja, sekelompok staf pengajar menyatakan sikap terhadap pejabat lama yang dianggap tidak memenuhi syarat sehingga proses akademik dan administratif di perguruan tinggi itu tidak berjalan baik.

Berbagai persoalan itu kini harus dibenahi oleh Sandi Maryanto. Sangat besar harapan dari civitas akademika UMK agar Prof. Sandi mampu membangun kembali suasana akademik dan administratif. Bagaimana kesiapan guru besar bidang pendidikan ini membangun kembali citra UMK? Berikut petikan perbincangan Prof. Sandi dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu.

Anda baru saya dilantik menjadi Rektor UMK. Anda tentu tahu kondisi saat ini ketika Anda memulai memimpin lembaga ini. Apa yang akan dilakukan?
Ya. Langkah-langkah yang ditempuh oleh pimpinan/rektor UMK, antara lain, pertama, jangka pendek adalah menormalisasi kehidupan kampus. Misalnya, membina hubungan dengan sesama organisasi yang ada di sini, baik akademis maupun administratif.

Kedua, menata hal-hal yang berkaitan dengan struktur organisasi kelembagaan, untuk melengkapi hal-hal yang belum ada dan menyesuaikan struktur baru. Yang pada struktur lama ada yang disebut pembantu rektor I, II, III, nanti akan disesuaikan dengan struktur baru yang masih dalam rencana dengan istilah wakil rektor I, II, III dan sebagainya. Tidak lagi pembantu, tetapi wakil rektor. Demikian pun dekan, tidak ada lagi pembantu dekan I, II, III, yang ada wakil dekan atau sekretaris. Karena yang operasional pada prinsipnya adalah program-program studi, nanti struktur yang baru seperti itu.

Di samping itu, penambahan struktur karena di perguruan tinggi sekarang ini meningkatkan daya saing dan meningkatkan kualitas harus ada UPT (unit pelaksana teknis) yang bertanggung jawab langsung pada rektor. Namanya UPT Program Pengalaman Lapangan (PPL), UPT Penjaminan Mutu Akademik, dan UPT yang laing yang masih dibutuhkan. Jadi, ada beberapa yang saya pikirkan ke depan, khususnya untuk meningkatkan mutu.

Ketiga, melakukan pengadaan sarana dan prasarana di dalam proses belajar mengajar,dan dalam hal unit-unit pendukung. Di samping itu, melihat bahwa penting juga dalam hubungan dengan sistem informasi manajemen. Karena satu proses belajar mengajar yang baik bisa dibangun apabila sistem manajemen bagus.

Diupayakan sistem manajemen yang lebih transaparan sesuai dengan aturan yang ada baik dari perserikatan, Dikti Muhammadiyah, dan aturan yang berhubungan dengan kaidah perguruan tinggi Muhammadiyah. Di samping kita harus mengikuti aturan-aturan umum yang diberikan oleh pemerintah. Itu termasuk jangka pendek dan menengah.

Bagaimana program jangka panjang?
Program jangka panjang. Pertama, peningkatan mutu, karena sesuai dengan ketentuan Higher Education Links Scheme (HELS) oleh Dikti bahwa perguruan tinggi harus meningkatkan daya saing bangsa. Kalau suatu perguruan tinggi mutunya tidak meningkat, bagaimana kita bisa melakukan meningkatkan daya saing. Karena itu, perguruan tinggi harus selalu meningkatkan mutunya. Selain itu, untuk melaksanakan otonomi perguruan tinggi, sebenarnya di lingkungan Muhammadiyah sudah otonomi. Lain halnya dengan perguruan tinggi yang masih dikelola pemerintah. Muhammadiyah sebenarnya sudah otonomi secara de facto, tetapi secara de jure mungkin nanti ada BHP (Bahan Hukum Pendidikan) dan sebaginya. Kita sebenarnya sudah otonomi, hanya otonomi dalam pengertian seluas-luasnya memang belum bisa kita bangun karena keterbatasan-keterbatasan.

Kedua, kesehatan organisasi. Apabila satu perguruan tinggi baik secara manajemen, pengaturan bagus, apa saja yang ada di dalamnya bisa berjalan baik, berjalan sesuai denga aturan dan patuh terhadap aturan atau kaidah baik kepada perserikatan maupun kepada pemerintah. Itu artinya organisasi sehat dan bisa berjalan sesuai aturan dan bisa melaksanakanya dengan baik di dalam proses belajar mengajar, di dalam sistem sarana prasarana, pendanaan lancar dan berkaitan dengan pengembagan SDM berjalan baik. Ini hal-hal yang harus saya kerjakan.

Anda sudah memasuki masa pensiun, kenapa masih mau mengabdi.
Prinsip saya suatu pengabdian, semasa kita masih mampu, masih kuat. Apabila masih dibutuhkan masyarakat, sewajarnya harus dilakukan. Ketika kita masih mampu, masih bisa, masih sehat dalam melakukan pekerjaan.

Sebagai manusia biasa yang juga walaupun telah purnabakti dari Undana, saya mempunyai obsesi kalau saya bisa mengabdikan diri dalam sisa hidup saya ini dengan baik, dengan penuh tanggung jawab, saya merasa bahagia. Saya bisa membina suatu perguruan tinggi dengan baik, menjalankan sesui aturan dan kaidah perguruan tinggi, merupakan kebahagiaan bagi saya. Jadi, saya sebenarnya punya kemauan seperti itu.

Banyak orang menganggap NTT sebagai daerah gersang dan tidak menyenangkan. Tetapi Anda sepertinya menikmati alam NTT.
Bagi saya semua daerah sama. Entah itu di kota atau di desa, itu sama saja bagi saya. Saya ketika mau ke Kupang tahun 1975, ada orang yang mengatakan, mengapa Pak datang ke Kupang. Di sana kalau musim kemarau rumput-rumput terbakar, orang banyak sakit ada udara keluar dari mulut bukan dari hidung.

Saya tidak percaya, masa orang tidak hidup di daerah seperti itu. Ada banyak juga informasi negatif yang disampaikan kepada saya, bahwa di sini begini-begitu, tetapi bagi saya tetap itu adalah Indonesia tanah air saya. Selama 34 tahun saya mengabdi di sini sampai hari ini saya sehat walafiat. Saya enjoy saja.

Pernah berpikir untuk pindah?
Pernah saya studi di Malang, Jawa Timur. Itu kesempatan paling bagus bagi saya sebenarnya. Kalau saya mau melarikan diri, tapi saya tidak. Ada teman saya di Malang bilang, Pak pindah saja ke sini.

Saya katakan mohon maaf, walau teman saya satu angkatan dan satu kelas, saya tidak bisa karena saya mau mengabdi di NTT khususnya di Kota Kupang. Dan, saya bisa ambil S3 di Malang karena saya dibesarkan di Kupang dan saya harus kembali. Untuk itu, apapun yang terjadi saya harus pulang ke Kupang karena tanggung jawab moril saya.

Bagaimana kesan Anda tentang NTT dibandingkan dengan daerah asal Anda?
Menurut saya memang sedikit beda, tetapi perbedaan itu kemudian menjadi kendala bagi saya. Memang ada perbedaan, di sana jauh lebih enak, lebih murah, tapi saya sudah beradaptasi dengan daerah ini, saya sudah menikmati keadaan di sini. Ya, tidak ada masalah bagi saya. Toh 34 tahun sudah begitu lama bagi saya, toh dulu di sini Kota Baru sama sekali belum ada, yang ada masih batu-batuan, Jalan Lalamentik masih pengerasan saja, masih naik gunung ke Undana. Jadi dulu, belum ada truk tangki, yang ada orang ambil air pakai kuda.

Saat Anda dikukuhkan jadi Profesor, Anda sudah di penghujung masa bakti. Bagaimana perasaan Anda, apakah guru besar merupakan yang ditunggu-tunggu?
Seorang akademisi merasa berbahagia apabila telah mencapai suatu tingkatan yang paling tinggi. Berbahagia karena jerih payah sebagai dosen sudah dihargai oleh pemerintah sebagai guru besar. Walaupun guru besar tidak bisa dimanfaatkan di institusi induknya seperti Undana, tetapi masih bisa dimanfaatkan di perguruan tinggi lainnya yang membutuhkan. Jadi, selama masih mengajar di perguruan tinggi, profesor masih berlaku.

Manakala sudah tidak bisa mengajar lagi, yah profesor itu hanya tinggal jabatan akademik saja. Menurut saya, pengukuhan di penghujung masa bakti, tidak ada masalah. Walaupun secara meterial tidak memiliki dampak apa-apa pada profesor yang sudah pensiun. Karena, mestinya kalau profesor yang masih aktif seperti sekarang mestinya ada tunjangan khusus, tunjangan profesi dan sebagainya. Bagi saya tidak ada masalah, karena saya orangnya fleksibel.

Artinya, pensiun juga tidak ada masalah bagi saya. Kalau masih dimanfaatkan saya juga berterima kasih, karena masih bisa digunakan untuk kepentingan perguruan tinggi. Siapa yang membutuhkan, saya siap membantu. Bahkan, misalnya, masih ada yang memerlukan saya siap, kecuali hal yang bukan spesialis saya.

Misalnya, untuk memberikan kuliah saya hindari, karena pekerjaan saya sebagai rektor juga banyak sehingga saya takut kalau tidak bisa mengajar dengan baik. Namun juga, kalau ada satu mata kuliah yang berkaitan dengan keahlian saya, prinsipnya saya tidak berkebaratan.

Sekarang Anda sudah mencapai guru besar. Apakah ini keinginan sejak mengabdikan sebagai dosen pertama kali?
Tidak juga. Profesor hanya sebagai jabatan dalam akademik. Di perguruan tinggi ada, yakni pertama pangkat dan kedua jabatan. Pangkat berkaitan dengan golongan, jabatan berkaitan dengan profesi. Jadi, tingkat senioritas dosen dikaitkan dengan jabatan akademik. Jadi, yang saya cita-citakan sebenarnya adalah belajar.

Belajar S1, saya lanjutkan S2, setelah itu ke S3. Begitu, kebetulan ketika selesa S2 langsung ke S3 dan tidak sempat mengajar lagi. Nah, cita-cita pertama saya adalah menjadi guru SD. Karena ketika saya sudah tamat pertama kali di SGB (Sekolah Guru Bawah) di Ponorogo, saya lanjutkan ke SGA (Sekolah Guru Atas), saya langsung mendaftar. Ketika di Madiun, Jawa Timur dibuka IPG (Institut Pendidikan Guru) kemudian diintergarasikan menjadi IKIP, saya masuk ke situ.

mengalir terus, akhirnya saya lulus S1. Ya, saya melamar ke berbagai tempat dan akhirnya diterima di Undana Kupang. Jadi, cita-cita menjadi guru besar itu tidak ada dalam benak saya. Tapi sebagai seorang dosen senior, setelah S1 lanjut ke S2 dan S3. Atas dorongan teman-teman, sehingga ada motivasi untuk mencapai guru besar.

Apa yang Anda akan lakukan untuk membawa UMK lebih baik dari saat ini?
Apa yang akan kita lakukan ke depan adalah memajukan lembaga ini seperti yang diinginkan masyarakat, agar lebih diminati masyarakat dalam hubungannya bahwa masyarakat tahu, kualitas Muhammadiyah sudah lebih baik, misalnya, itu dilihat dari beberapa aspek. Banyak aspek sebenarnya, bahwa pada prinsipnya perguruan tinggi yang baik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selama perguruan tinggi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, itu adalah kualitas baik. Pengertian kebutuhan kebutuhan masyarakat dalam hal apa, profesi dalam hal pekerjaan-pekerjaan dengan industrial, pekerjaan yang berkaitan dengan sosial, berkaitan dengan profesi, misalnya, pegawai kantor, dia dapat mengerjakan pekerjaannya itu sesuai dengan apa yang diterima, dia bisa menjadi guru sesuai dengan profesi guru.

Saat terjun di lapangan tidak lagi tanya, tapi dia sudah menguasai pengetahuan yang berkaitan dengan masalah guru. Artinya, ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, karena itu juga berkaitan erat dengan apa yang saya sebut profesional, kebutuhan profesional, kebutuhan yang berkaitan dengan sosial.

Perguruan tinggi ini adalah pendidikan tinggi yang menyiapkan tenaga-tenaga intelektual yang bisa memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Apa saja yang terjun di masyarakat, bisa itu kebutuhan masyarakat, kebutuhan industri apabila suatu perguruan tinggi, misalnya, ada pendidikan yang berkaitan dengan industri seperti menajemen. Manajemen itu dapat menyediakan tenaga-tenaga yang bisa menekuni bidang menajemen di kantor atau di kantor industri yang berkaitan dengan masalah itu. Jadi, prinsipnya ke arah mutu.

Apakah ada keinginan menjadikan Universitas Muhammadiyah Kupang sebesar Universitas Muhammadiyah Malang?
Ini tergantung kepada satu sinergi dari beberapa komponen. Bila kompenen satu dengan yang lain mendukung bisa bekerja sama dengan baik, saya kira itu bukan mustahil. Kalau saya katakan seperti yang besar di Malang, itu juga tidak mungkin, karena dari segi jumlah mahasiswa juga tidak memungkinkan, sulit. Mahasiwa di Universitas Muhammadiyah Malang sudah mencapai belasan ribu orang, Undana saja tidak mencapai 20.000 mahasiswa.

Sebelum Anda ke sini, di lembaga ini ada kelompok-kelompok yang saling berseberangan pendapat. Apa yang akan dilakukan untuk menciptakan suasana normal?
Dalam hal normalisasi, ya kita mesti bisa bekerja sama dengan komponen-komponen yang semula saling menentang. Itu prinsip saya kerja sama antara satu dengan yang lain itu penting. Hubungan kerja sama satu dengan yang lain itu penting, yang penting tidak saling mencelah, tidak saling menganggap diri super. Saya menganggap semua orang itu sama, hanya orang kadang-kadang punya pendapat yang berbeda, itu hal biasa. (alfred dama/apolonia dhiu)


DATA DIRI
- Nama : Prof. Dr. Sandi Maryanto, M.Pd
- TTL : Ponorogo, Jawa Timur, 31 Desember 1943
- Jabatan : Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang
- Pendidikan:
* Sekolah Rakyat (SR) Negeri 6 Panjeng-Jenangan Ponorogo Tamat Tahun 1956
* Sekolah Guru Bawa Negeri (SGB) Ponorogo 1960
* Sekolah Guru Atas Negeri (SGA) Ponorogo 1961
* Sarjana Muda Pendidikan Bahasa Indonesia-IKIP Malang 1967
* Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-IKIP Malang 1974
* Magister (S2) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-IKIP Malang 1990
* Doktor (S3) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-IKIP Malang 1996

Pos Kupang Minggu, 11 Oktober 2009, Halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda