Puisi Bara Pattyradja

Gunung Batu yang Bersila


(1)
Kepada Paul Budi Kleden

Di kaki langit Larantuka
Engkaulah gunung batu
yang bersila
Hening bagai kaku pohonan

Paul, Paul
Kau masih saja sesunyi air sebisu tanah
Saat mata nasib yang jalang
memberiku isyarat penuh gemuruh

Apakah kita? Boneka kertas
yang pasrah dijarah sejarah
Ataukah Sishifus
yang tak pernah menyerah pada kutuk batu?
Hari demi hari
hanyalah gugusan karma
yang terlunta
Dan duka maha raja bertahta

Dalam perjalanan ini
Telah kuikat takdir kasapku
dengan seluruh kebebasanku
Tak akan ada batas
yang sanggup melerainya

(2)
Ke Pulau Diri

Bersama burung-burung
yang kau lepaskan
dari menara-menara hijau
Aku seberangi kembali selat Solor

Laut begitu asin, Paul
Tangan tangan dingin penuh garam
menyalakan lampu lampu damar

Di daratan

Kulihat masa lalu berjalan
Kucium bau manusia Portugis
di tepi lengang benteng Lohayong

Inikah tanah Ibu?
O, aku seperti sedang memasuki
kesunyian tiada tara
Tak kudengar riak

Bahkan di sini angin tak bertuba
Sayap-sayapku yang patah
kembali utuh bagai bahasa
yang mengikat lidahku


Lamahala
Kucari juga diriku di situ
Tapi yang kutemui cuma sepotong sedu
yang makin lama
makin perih di dadaku
Apa yang salah?
Hingga orang-orang kampung butuh kejahatan
untuk menjagal diri sendiri

Tak kutanam dendam di kawah darahku
Meski mata pisau menggoreskan luka
silsilah dagingku


Pada maut dan kiamat
Aku pasrahkan batas duka
Segala yang terampas dari sisiku
Akan terampas juga dari sisi mereka

(3)
Jangan titahkan padaku
untuk masuk menemu diri
Sebab aku akan mati

seperti Sartre yang mati

memasuki diri orang lain
Sebab "neraka adalah orang lain"

Dan sedih akan kembali tiba
Seperti kapal-kapal kembali
dari bandar-bandar yang jauh

Dan ingatanku yang rapuh
akan kembali terluka
oleh puing-puing kenangan

Maka buat saja aku lelah
Ludahkan padaku segala yang pahit
Dengan begitu aku akan merasakan
manisnya pengembaraan

Kupang, Rumah Poetika, 2009
Bara Pattyradja, Penyair Indonesia. Lahir di Lamahala, 12 April 1983. Karyanya yang telah terbit, Bermula dari Rahim Cinta (Yogyakarta, 2005), Protes Cinta Republik Iblis (Yogyakarta , 2006). Bermukim di Kupang sembari mengasuh Sanggar Rumah Poetika.


Pengiriman berbagai karya sastra dalam bentuk puisi dan cerpen melalui alamat ini: cerpen_puisi@poskupang.co.id
atau poskpg@yahoo.com


Pos Kupang Minggu 11 Oktober 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda