Puisi Benyamin Baso

Kuli Tinta

Inilah kisah hidupku
yang kugoreskan di kusamnya kertas ini
Kata demi kata kuukir
baris demi baris kugoreskan
Sebagai ganti rasaku yang tak dapat bicara


Aku berjalan dipayungi panasnya mentari
Aku melangkah dialasi kerasnya karang
Mereka bilang aku gila
karena berjalan tak tentu arah

Mereka bilang aku sombong
karena terlalu mengekspos
Mereka bilang aku sok pintar
karena riang mengumbar berita

Tapi aku tetaplah aku
yang hanya menulis untuk hidup
Yang mengukir kata hanya untuk cinta
Tapi mereka tetap bilang

aku hanyalah kuli tinta
Tapi aku yakin
tinta yang kugoreskan
akan menjadi pelita
di hati dan pikiran mereka

(Dibawakan oleh penulis dalam acara Launching Teenagers Space di Kantor SKH Pos Kupang, Sabtu (17/10/2009)


Penghuni Pondok Bobrok


Dengarkan suara kami
penghuni pondok bobrok ini
tak berdaya diusir dari rumah kami
tangisan, jeritan ditelan bangunan megah
diinjak, dicaci harga diri kami
jadi sampah dibuang, dimusnahkan

kami terdiam dengan seribu keluh-kesah
menyesakkan dada
ditiduri seribu janji tak pasti
dirampok habis hak hidup kami

Akankah ini berlalu dan berakhir dari hidup kami?

Wahai kau penguasa
tidakkah kaulihat kedukaan kami?
Tidakkah kaulihat seribu tetes air mata?

Adakah secuil rasa kasih
bagi kami yang malang ini?
Adakah kesejukan jiwa
bagi kami yang menderita?

Kami tak butuh janjimu
tak butuh hartamu

Berikan cintamu
berikan jiwamu
jadi secercah harapan hidup kami


Pengiriman berbagai karya sastra dalam bentuk puisi dan cerpen melalui alamat ini: cerpen_puisi@poskupang.co.id
atau poskpg@yahoo.com



Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda