Saya Dianggap Cowok Dingin

Dokter Valens Yth.

Salam jumpa. Sekaligus salam kenal. Nama saya Simson, pemuda 26 tahun. Sudah bekerja dengan penghasilan yang cukup memadai. Saat ini sedang menjalin cinta dengan Rieny, gadis berdarah Rote yang kukenal di tempat kerja. Setelah mengenal Rieny, rasanya wanita lain tak ada yang lebih manis dari dia.

Kami sudah enam bulan ini berpacaran. Rieny nampaknya serius dan apalagi saya (lebih serius lagi). Jadi urusan saya denga Rieny, nampaknya " OK banget ".

Sedangkan masalah saya saat ini sebenarnya bukan dengan Rieny, tapi dengan Ratna. Nama terakhir ini, entah di mana dia berada saat ini.

Tiga tahun setelah kami berpacaran Ratna pergi dengan membawa beban berat. Selama kami berpacaran kami begitu yakin akan dapat bersama terus sampai ke jenjang pernikahan. Hubungan kamipun sudah begitu jauh layaknya suami istri. Namun pada suatu saat karena kami salah paham, Ratna begitu tersinggung dan pergi meninggalkan saya.

Saat itu saya mempertahankan pendirian saya sementara menurut dia sayalah yang salah. Setelah dia pergi saya mencoba berpikir jernih ternyata persoalan yang kami hadapi saat itu benar karena kesalahan saya.

Kini dia pergi membawa duka. Dari temannya yang lain saya pernah mendengar bahwa Ratna tidak ingin berpacaran lagi karena merasa dirinya sudah tidak gadis lagi.

Ratnapun mulai membenci laki-laki. Sejak mendengar itu, saya mulai merasa bersalah dan menyesal. Saya sering sekali terganggu dengan perasaan bersalah seperti ini.

Sayapun mau minta maaf tapi Ratna sudah pergi jauh. Saya juga tidak tahu dia ada di mana. Karena keadaan saya seperti itu, saya agak tertekan.

Hal ini ternyata dinilai Rieny - pacar saya sekarang ini, sebagai suasana pacaran yang dingin. Dengan Rieny saya benar hati-hati.

Saya takut terulang lagi seperti dulu. Kadang Rieny agak berani saat kami sedang kencan tapi saya meresponnya dengan seadanya, agar tidak terjerumus.

Tapi Rienypun pernah mengeluh pada temannya bahwa saya cowok yang dingin. Nah kalau Rieny lantas tinggalkan saya bagaimana dokter. Pertanyaan saya yang lainnya yaitu : Bagaimana mengatasi rasa bersalah kepada Ratna itu?

Kalau saya diam saja saya rasa makin bersalah, tapi mau minta maaf Ratna tidak ada. Apakah saya perlu jelaskan ini pada Rieny?

Itu saja pertanyaan saya mudah-mudahan dokter mau membalas surat saya ini. Terima kasih. Salam.
Simson, Oesapa - Kupang.



Saudara Simson yang baik,
Selamat bertemu buat anda. Persoalan utama yang sedang anda hadapi adalah bahwa anda terganggu oleh masa lalu anda dengan Ratna. Dalam buku Gestalt Therapy, Excitement and Growth in the Human Personalitiy, Frederick Perls, menamakan masalah seperti yang anda hadapi sebagai : " Urusan Yang Tidak Selesai ".

Konsep ini mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedukaan , rasa berdosa (rasa bersalah) , rasa diabaikan dan sebagainya. Bahkan dilanjutkannya lagi bahwa : Rasa sesal dan dendam paling sering menjadi sumber dan menjadi bentuk urusan yang paling buruk. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, maka perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang kehidupan.

Hal itu akan tetap terbawa dalam kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Menyangkut hal ini pula Polster E. & M. Polster, dalam buku mereka Gestalt Therapy Integrated, mengatakan bahwa " Arah-arah yang tak selesai itu mencari penyelesaian dan apabila arah-arah tersebut memperoleh cukup kekuatan, maka Anda disulitkan oleh pikiran yang tak berkesudahan, tingkah laku kompulsif, kehati-hatian, energi yang menekan dan banyak lagi perilaku yang mengalahkan diri.

Selanjutnya para psikolog diatas mengatakan bahwa, "Urusan yang tak selesai " itu akan bertahan sampai Anda menghadapi dan menangani perasaan yang tak terungkapkan itu.

Bahkan menurut Perls, pengungkapan rasa sesal itu merupakan suatu keharusan. Rasa sesal yang tidak terungkapkan acapkali berubah menjadi perasaan berdosa.

Sehingga disarankan, bilamana Anda merasa berdosa, temukan dan ungkapkan rasa sesal Anda. Persis seperti persoalan yang sedang Anda hadapi, maka jalan keluarnya adalah upayakan agar pesan tentang apapun isi perasaan Anda sekarang harus Anda yakin sampai pada Ratna.

Dengan kata lain, Ratna harus tahu apa yang Anda rasakan saat ini. Anda nampaknya sulit menemui Ratna secara langsung, tapi lewat keluarganya, teman-temannya atau Anda bisa sampaikan surat pada Ratna bahwa Andapun menyesal.

Mungkin Ratna tak akan kembali pada Anda (karena sudah ada Rieny), namun paling kurang luka hati Ratna sedikit terobati dan beban perasaan yang menindih Andapun menjadi ringan.

Bila beban perasaan (emosi) Anda sudah berangsur hilang, maka akan mempengaruhi perilaku Anda. Keceriaan akan kembali terbentuk dan gairah dalam berpacaranpun akan mewarnai hubungan Anda dengan Rieny. Dengan demikian terpenuhilah metode terapi yang dikembangkan oleh Albert Ellis, yang menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi dan bertindak secara simultan.

" Ketika mereka beremosi, mereka juga berpikir dan bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga berpikir dan beremosi. Ketika mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak. Emosi (suasana hati) adalah produk pemikiran manusia.

Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kitapun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Nah, bila semuanya sudah kembali normal dan bekerja secara simultan Anda tak perlu ragu lagi untuk dikatakan sebagai cowok yang dingin.

Yang penting Anda ingat adalah bahwa sehangat dan sepanas apapun Anda sebagai cowok, Anda tak ingin terantuk pada batu yang sama untuk kedua kalinya, karena hal itu hanya buat keledai. Semoga Anda bahagia. Salam,
Dr. Valens Sili Tupen, MKM.


Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda