Semut-Semut di Baju Nuri

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

NURI adalah anak yang manis, cerdas, rendah hati dan suka berteman dengan siapa saja. Dengan pembawaan seperti itu tentu saja Nuri memiliki banyak teman, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar rumahnya. Di sekolah Nuri menjadi kebanggaan teman-teman sekelasnya. Setiap ada lomba cerdas cermat pasti Nuri tampil mewakili kelasnya dan selalu membawa pulang piala.

Tidak jarang juga ada teman-teman laki-laki naksir dan menggoda Nuri. Namun oleh Nuri semua teman, baik laki-laki maupun perempuan diperlakukan sama. Tidak ada yang diistimewakan. Dengan demikian teman laki-laki tersebut akan malu dengan sendirinya. Nuri ingat pesan mama, masih di bangku SD itu masih kecil jadi belum boleh pacaran. Utamakan belajar.
** *
Siang itu jam pelajaran kosong diisi oleh Ibu Guru Wali Kelas. Ibu Wali Kelas biasa menghukum murid yang bersalah dengan mencubit seperti gigitan semut. Cubitan itu mengejutkan para murid. Seperti semut yang menggigit tubuh manusia tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Hari itu rupanya Nuri melakukan kesalahan. Baju seragamnya tidak dimasukkannya ke dalam rok seusai ke toilet tadi. Rupanya kelalaian itu tertangkap oleh mata Ibu wali Kelas. Nuri dipanggil ke depan kelas.

"Kamu tahu apa kesalahanmu, Nuri?" Tanya Ibu wali Kelas.

"Hmmm, tahu, Bu," jawab Nuri agak gugup.

"Apa itu?" Tanya Ibu wali Kelas lagi.

"Tidak memasukkan baju ke dalam rok, Bu," jawab Nuri.

"Anak-anak, kalian ingat kan akan kesepakatan yang telah kita
buat bersama? Kalau ada kesalahan seperti ini harus ada apa?" Ibu Wali Kelas meminta penegasan dari seisi kelas. Namun murid-murid diam. Mereka tidak rela kalau Nuri harus dihukum.

"Ada apa, anak-anak?" desak Ibu Wali Kelas.

"Ada semut-semut yang merayap di baju, Bu. Tapi...," kata Goris, dia ragu untuk meneruskan kalimatnya.

"Tapi apa, Goris?" Ibu Wali Kelas tidak sabar.

"Tapi sebaiknya semut-semut itu jangan merayap di baju Nuri, Bu. Sebagai gantinya biar semut-semut itu merayap di baju saya saja, Bu," usul Goris diikuti tepuk riuh teman-temannya.

"Ya Bu, kami tidak tega kalau semut-semut itu harus merayap di tubuh Nuri. Ibu bisa memilih di antara kami. Kami siap menggantikan Nuri, Bu", tambah Olga. Kelas bertambah riuh.

"Kalau itu masih kurang, Ibu boleh menghukum kami semua, yang penting Nuri tidak dihukum," celetuk Lidya dari salah satu sudut kelas.
***

"Teman-teman sekalian, saya harapkan kalian semua mendengarkan saya", Nuri berusaha menenangkan teman-temannya. Seisi kelas pun terdiam. Nuri melanjutkan perkataannya.

"Kesepakatan yang telah kita buat dengan Ibu wali Kelas adalah kesepakatan kita semua, bukan? Artinya kesepakatan tersebut berlaku tanpa ada perkecualian. Bahkan juga terhadap diri saya.
Kalau sampai ada perkecualian, maka kasihan teman-teman yang sudah terkena hukuman sebagai konsekwensi dari berlakunya kesepakatan itu. Saya tahu kalian semua menyayangi saya Namun tidak pada tempatnya kalau rasa sayang tersebut kalian ungkapkan dengan cara seperti ini. Karena jika cara ini yang dipakai, akan terjadi ketidakadilan di kelas ini. Bukankah begitu, teman-teman?"

"Betul", jawab teman-temannya serempak.

"Nah, supaya adil, sekarang biarkan saya menjalani hukuman itu", ujar Nuri. Dia lalu maju ke hadapan Ibu Wali Kelas untuk menerima hukuman. Melihat itu teman-temannya menutup mata, Mereka tidak tega melihat semut-semut jemari Ibu Wali Kelas merayap di baju Nuri.(*)

Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda