Sepatu untuk Margareth

Oleh Petrus Y Wasa

WAJAH Margareth jauh dari cantik. Penampilannya pun sederhana. Namun herannya anak-anak sekelas sangat mengaguminya. Hal tersebut tidak saja membuat para guru tercengang, Margareth sendiri pun bingung mengapa teman-temannya sekelas sangat mengidolakannya. Mungkin mereka terpeengaruh oleh tayangan Mama Mia di televise di mana salah seorang pesertanya juga bernama Margareth, tebak Margareth dalam hati.

Meski tayangan Mama Mia di televise itu telah berakhir, namun kekaguman teman-temannya kepada Margareth tidak memudar. Menurut teman-temannya, meski pakaiannya sederhana, namun penampilan Margareth selalu enak dilihat. Di samping itu keceriaan yang selalu terpancar dari dalam dirinya ikut menulari dan memberi semangat kepada teman-temannya sekelas.

Margareth tidak tergolong bintang kelas, namun dia selalu siap membantu teman-temannya sebisanya di saat mereka mengalami kesulitan dengn mata pelajaran tertentu. Dengan segala kerendahan hati Margareth suka bersahabat dengan siapa saja. Dia juga selalu siap menjadi teman curhat yang baik dan setia dalam menjaga rahasia pribadi teman-temannya.
* * *

Suatu Senin Ibu Guru Wali Kelas memeriksa sepatu seragam. Setiap siswa diwajibkan mengenakan sepatu seragam hitam polos. Ternyata sepatu yang dikenakan Margareth masih terdapat garis-garis putihnya. Akibatnya sepatu Margareth disita.Karena sepatunya disita, maka kaus kakinya pun ikut dibuka. Margareth pun mengikuti pelajaran dengan kaki kososng.

Beberapa anak perempuan tidak tega melihat kaki Margareth kedinginan. Secara spontan mereka mengumpulkan unag untuk membeli sandal bagi Margareth. Semula Margareth menolaknya karena menganggap telah merepotkan teman-temannya.


"Sudahlah Margareth, kenakan saja sandal ini Kamu tidak dapat mengikuti pelajaran dengan nyaman kalau kakimu terus menyentuh lantai ruang kelas yang dingin ini", bujuk salah seorang temannya. Argareth akhirnya menerima dan mengenakan sandal itu sambil mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya.
* * *
"Teman-teman, sudah tiga senin ini Margareth tidak masuk sekolah. Mungkin karena dia belum memiliki sepatu hitam untuk dipakai ke sekolah. Bagaimana kalau kita mengumpulkan uang untuk membeli sepatu seragam bagi Margareth. Mungkin tidak perlu terlalu bagus sepatunya. Tetapi setidaknya dapat membantu dia ke sekolah sebelum dibelikan sepatu yang bagus oleh orangtuanya", usul Tika.
"Setuju, setuju", sahut teman-temannya beramai-ramai.

"Kalau kalian setuju, maka saya berikan kesempatan kepada kalian untuk mengumpulkan uang dalam minggu ini Uang itu diserahkan kepada Ati sebagai bendahara. Sabtu sore sepatu itu harus sudah dibeli. Agar minggu paginya dapat kita serahkan kepada Margareth", kata Tika lagi.

Tiga hari berikutnya uang sudag terkumpul. Sabtu sore sesuai rencana Tika dan Ati ke toko membeli sepatu. Sepatu itu selanjutnya dibungkus dengan kertas kado dan dihiasi seindah mungkin. Sebuha kartu direkatkan di atasnya. Pada kartu tersebut tertulis, " Tiada senin yang ceria tanpamu. Mulai senin besok kami menunggumu di ruang kelas, Margareth".
* * *
Margareth sangat terkejut ketika didatangi teman-temannya di minggu pagi itu. Tanpa banyak bicara Ati langsung menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Margareth. Margareth menerima bungkusan itu diiringi tepuk riuh teman-temannya.

"Buka, buka, buka, buka:, teriak teman-temannya. Margareth pun membuka bungkusan itu. Margareth tidak percaya melihat isi bungkusan tersebut. Sepasang sepatu hitam. Dia lalu membaca tulisan pada kartu yang direkatkan pada bungkusan itu. Margareth tersenyum dan menatap teman-temannya penuh haru.


"Aku berterimakasih atas perhatian dan kebaikan kalian terhadapku. Aku berjanji mulai senin besok akan masuk sekolah lagi", ucap Margareth. Teman-temannya sangat gembira mendengar perkataan Margareth itu. Mereka semua akhirnya larut dalam kegembiraan karena Margareth sudah dapat bersekolah kembali seperti biasa.(*)

Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda