Foto satelit yang menunjukkan pergerakan minyak mentah sedang menuju ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

ilustrasi/the40yearplan.com
Beginilah gambaran tambang minyak lepas pantai di lautan. Kecelakaan seperti kebocoran pipa berpotensi menyebabkan laut di sekitarnya tercemar.



PARA nelayan di Kupang, NTT, yang telah menjadikan Laut Timor sebagai "ladang kehidupan", kini mulai merasa terancam setelah wilayah perairan tersebut tercemar minyak mentah akibat meledaknya ladang gas Montara di Laut Timor pada 21 Agustus.

Ladang gas yang diolah PTTEP Australasia, sebuah perusahaan minyak milik mantan Perdana Menteri Thailand Thakshin Shinawatra yang dikudeta militer negara itu dua tahun lalu, memuntahkan 500.000 liter minyak atau sekitar 1.200 barel setiap hari ke Laut Timor.

Menurut laporan Otorita Keselamatan Maritim Australia kepada Direktorat Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Indonesia menyebutkan, pencemaran minyak mentah (crude oil) itu sudah mencapai sekitar 51 mil laut dari Pulau Rote, NTT. Tumpahan minyak jenis "light crude oil" itu bersumber dari "Blok West Atlas" Laut Timor dan butiran minyak kecil telah memasuki wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Gab Oma (33), nelayan asal Oesapa Kupang, mengemukakan, setelah mereka pulang mencari ikan di wilayah perairan tersebut pada 6 September, dia menemukan ribuan ekor ikan berbagai jenis mati mengapung di atas wilayah perairan Laut Timor.

Dia menduga, ikan itu mati akibat tercemarnya wilayah perairan tersebut dari tumpahan minyak mentah.
Matinya ikan-ikan tersebut dapat dilihat dari gambar yang terekam di kamera telefon seluler milik para nelayan yang baru pulang melalut di sekitar ZEE Indonesia serta wilayah perairan sekitar Pulau Pasir (ashmore reef), kawasan yang sudah dijadikan cagar alam oleh Australia itu.

"Kami mendapatkan ikan-ikan yang mati itu pada kordinat 11-39 LS dan 124-30 BT," kata Gab Oma sambil menunjukkan rekaman peristiwa tersebut dari telepon genggamnya kepada para wartawan saat itu.

"Kami pulang hanya membawa empat ekor ikan kakap merah. Biasanya ratusan ekor yang didapat dalam tempo sehari semalam dengan cara memancing dan memanah," katanya.

Haji Mustafa (34), Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antralamor), mengatakan, wilayah perairan yang tercemar saat ini merupakan basisnya kakap merah yang biasa dicari para nelayan tradisional Indonesia khususnya asal NTT. "Kami yakin, ikan-ikan yang ada di wilayah perairan Laut Timor akan mencari wilayah perairan lain atau mati, karena sudah tercemar minyak mentah," ujarnya.

Gab Oma menambahkan, ketika mereka berada pada kordinat 10-30 LS dan 24-30 BT, mereka mendapati gumpalan minyak mentah di wilayah perairan sekitar 20 mil dari Pantai Tablolong, Kupang Barat, atau sekitar 30 mil dari pantai selatan Kolbano, wilayah Timor Tengah Selatan (TTS).

"Berdasarkan hasil foto satelit maupun pemantauan lewat udara yang dilakukan pemerintah Federal (Australia) menemukan adanya gumpalan minyak mentah di Laut Timor," kata Manager Hubungan Masyarakat Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta, Toby Lendon yang dihubungi dari Kupang.

Laut Timor Tercemar
Lendon mengemukakan, Pemerintah Federal Australia secara resmi telah menyampaikan hasil pantauan tersebut ke Pemerintah Indonesia di Jakarta dan mengambil langkah-langkah antisipasi untuk mengatasi dampak lingkungan dari pencemaran tersebut.

"Australia telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalisasi dampak lingkungan dari tumpahan minyak akibat meledaknya ladang minyak Montara di Laut Timor beberapa waktu lalu," kata Lendon.

Sejak saat itu, kata Lendon, penerbangan reguler di atas Laut Timor mengindikasikan kilauan minyak, terutama di dalam wilayah ZEE Indonesia yang kadang kala muncul gumpalan-gumpalan kecil minyak di atas permukaan laut.

Ladang gas Montara itu terletak sekitar 690 km barat Darwin, Australia Utara, dan 250 km barat laut Truscott di Australia Barat dan letaknya lebih dekat dengan gugusan Pulau Pasir.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya meminta pertanggungjawaban perusahaan pengelola ladang minyak tersebut, PTTEP Australasia, jika Laut Timor tercemar minyak mentah.

Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, Departemen Luar Negeri meminta pemerintah Propinsi NTT untuk segera mengambil langkah koordinasi dengan instansi tersebut dalam kerangka penyelesaian masalah pencemaran di Laut Timor.

"Saya belum tahu permasalahan yang terjadi di Laut Timor saat ini, tetapi kalau benar bahwa ada pencemaran, maka segera dilaporkan secara lengkap ke Deplu untuk ditangani sesegera mungkin," kata Deputi Direktur Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Theo Satrio Nugroho di Kupang, Kamis (15/10/2009).

Komandan Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) VII Kupang, Laksamana Pertama Amri Husaini mengakui adanya gumpalan-gumpalan minyak mentah di perairan Laut Timor.

"Saya sudah mendapat laporan bahwa telah ditemukan gumpalan minyak yang berupa lempengan di perairan Laut Timor. Ini menunjukkan bahwa Laut Timor sudah tercemar," katanya.

Penyumbatan Belum Berhasil
Langkah-langkah yang diambil pemerintah Australia adalah dengan menyemprotkan minyak yang sangat licin (dispersant) untuk menenggelamkan tumpahan minyak mentah di atas permukaan laut ke dasar laut.

Ilmuwan Australia Jamie Oliver mengatakan, lembaga-lembaga Pemerintah Federal harus berhati-hati memutuskan, apakah akan terus menggunakan "dispersant" yang sangat licin ini untuk menenggelamkan minyak mentah yang terapung di atas perairan Laut Timor ke dasar laut.

Ia mengatakan, penyemprotan minyak "dispersant" secara terus-menerus mungkin dapat membantu mamalia laut dan burung-burung, akan tetapi bisa membahayakan setiap terumbu karang di Laut Timor.
Sementara itu, organisasi konservasi alam WWF Australia sedang mengoperasikan sebuah kapal di wilayah pantai timur Australia dan melaporkan bahwa kebocoran minyak ini dapat mencakup 15.000 km bujur sangkar.

Wilayah yang menjadi korban kebocoran minyak itu selain merupakan tempat makanan bagi sekitar 400-500 jenis ikan dan binatang laut, juga merupakan tempat migrasi burung-burung.

Ilmuwan Jamie Oliver memperingatkan bahwa tidak terhitung banyaknya burung laut, ikan, ular laut, penyu, dan lumba-lumba sedang terancam keselamatnnya.

PTTEP Australasia, operator ladang gas Montara yang meledak tersebut, sedang berupaya membor 2,6 kilometer ke dalam dasar laut untuk memotong kebocoran dari sumur minyak dan menyumbatnya dengan lumpur.

Jose Martins, pejabat dari PTTEP Australia dalam laporannya mengatakan, upaya kedua untuk menyumbat kebocoran pada kepala sumur Montara, telah ditunda karena pengeboran harus melewati formasi batu karang yang sangat keras dan dalam. "Situasi ini telah mengakibatkan lambatnya upaya penyumbatan dimaksud," katanya.

Upaya penyumbatan dimaksud antara lain dengan melakukan pengeboran menyamping dari sisi sumur melewati formasi batu karang yang sangat keras, sehingga terasa sulit dan lambat yang berakibat pada makin frustrasinya banyak orang. (lorensius molan/antara)


Pos Kupang Minggu 18 Oktober 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda