Uang Komite

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa:

"ANAK-anak, siang ini ibu bagikan surat dari Bapak Kepala Sekolah untuk kalian semua. Surat ini berisi pemberitahuan kepada orangtua kalian untuk mulai membayar uang komite sekolah. Setiap anak diwajibkan membayar seratus lima puluh ribu rupiah pertahun. Orangtua kalian diberi kesempatan untuk menyicil pembayarannya sebanyak tiga kali. Tetapi bagi yang mampu boleh melunasinya sekaligus," pesan Ibu Wali Kelas menjelang usai jam pelajaran.

Surat dari sekolah tersebut langsung diserahkan Candra kepada bapak sore harinya setelah bapak pulang dari kantor. Bapak membaca surat itu sesaat.

"Kebetulan bapak baru menerima gaji sehingga bisa melunasi uang komite itu sekaligus. Mintalah uang itu pada mamamu. Besok kamu tinggal membayarnya di sekolah," kata bapak. Candra lalu meminta uang itu kepada mamanya. Ditaruhnya uang itu di dalam amplop dan disimpannya di tas sekolahnya.

***
Keesokan paginya dalam perjalanan ke sekolah Candra berpikir lagi, untuk apa dia melunasi uang komite tersebut sekaligus di awal tahun, sementara pihak sekolah memberikan kesempatan bagi para orangtua murid untuk mengangsurnya sampai tiga kali.

Lebih baik dia membayar uang komite itu cukup seratus ribu dulu, sedangkan lima puluh ribu sisanya dapat dia pergunakan untuk keperluannya. Bukankah selama ini dia menginginkan agar kamarnya dihiasi dengan poster band kesayangannya The Changcuter, juga poster Caesy Stoner, pembalap Moto GP idolanya juga poster tokoh film kartun Naruto? Inilah saatnya untuk mewujudkan keinginannya itu.

"Tapi aku telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan bapak dan mama kepadaku," bantah hati nurani Candra.

"Ah sudahlah, wujudkanlah keinginanmu itu. Bukankah selama ini kamu hanya mengagumi poster-poster itu di kamar teman-temanmu. Tidak ada salahnya kalau kamu pun dapat menata kamarmu sesuai selera dan keinginanmu.Kamu harus menunjukkan kepada teman-temanmu bahwa kamu pun bisa seperti mereka, bahkan bisa lebih hebat dari mereka. Soal uang komite, bukankah kamu masih mempunyai waktu untuk mengangsur sisanya?" sanggah suara lain dari hati Candra.

Setibanya di sekolah Candra melaksanakan rencananya itu. Uang komite hanya dibayarnya seratus ribu rupiah. Sedangkan lima piluh ribu rupiah sisanya dikantonginya. Seusai jam pelajaran Candra mampir di toko untuk membeli poster-poster yang diinginkannya.

Poster-poster tersebut langsung ditempelkan di kamarnya dan ditata dengan rapih sehingga kamarnya tampak lebih semarak dari sebelumnya.

***
Candra sudah menabung selama beberapa bulan untuk melunasi uang komite itu. Uang sudah terkumpul empat puluh lima ribu. Dia hanya butuh lima ribu rupiah lagi untuk menggenapi tabungannya.

Namun tanpa sepengetahuannya pihak sekolah menyelenggarakan rapat dengan pengurus komite sekolah.

Sebagai salah seorang pengurus, bapak pun ikut hadir dalam rapat tersebut. Kesempatan itu digunakan bapak untuk mengecek pembayaran uang komite Candra pada bendahara. Bapak terkejut ketika disampaikan bahwa Candra baru membayar seratus ribu dan masih menunggak lima puluh ribu rupiah.

Setibanya di rumah bapak langsung memanggil Candra.
"Tadi bapak mengikuti rapat pengurus komite di sekolah. Ketika bapak cek ke bendahara, ternyata kamu baru membayar uang komite seratus ribu dan masih menunggak lima puluh ribu. Kamu kemanakan uang yang bapak berikan itu?" Tanya bapak.

Candra menjadi gugup seketika. Ternyata bapak mengetahui kalau uang komite itu sudah disalahgunakannya.

"U..., uang itu..., sudah saya gunakan untuk membeli poster, pak," Candra mengakui kesalahannya.

"Untuk membeli poster? Seharusnya kamu bisa memintanya pada mamamu, bukan dengan menyalahgunakan uang komite itu. Perbuatanmu hanya mempermalukan bapak saja," ujar bapak kesal.

"Maafkan Candra, pak," Candra memohon.
"Sudah, untuk kali ini bapak maafkan. Tapi ingat, kamu harus melunasi uang komite yang telah kamu salahgunakan itu," tegas bapak.

"Ya, pak. Candra akan usahakan untuk melunasi uangnya", janji Candra. Bapak tersenyum bangga pada anaknya itu. (*)


Pos Kupang Minggu 4 Oktober 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda