Alam Tak Lagi Bersahabat dengan Petani...



POS KUPANG/THOMAS DURAN
AKIBAT KEKERINGAN--Petani kacang di Kabupaten Kupang merasakan dampak kekeringan. Kacang yang ditanam terancam mati akibat kekurangan air. Ini juga akibat kurangnya informasi tentang iklim.



DAMPAK perubahan iklim tak hanya mengakibatkan naiknya suhu secara ekstrim. Para petani juga merasakan dampak besar karena terjadinya pergeseran musim. Hal ini mengakibatkan mereka kesulitan memprediksi musim untuk mulai menanam.

Pada sarasehan iklim "Memperjuangkan Keselamatan di Tengah Perubahan Iklim", Senin (2/11/2009), di Jakarta, para petani dari sejumlah daerah menyampaikan keluh kesahnya. Salah satunya Dominggus Tse.

Dominggus adalah petani jagung di Desa Nusa, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia mengisahkan, untuk memprediksi musim, petani di daerahnya menggunakan cara tradisional yang diwariskan secara turun menurun.

"Ramalan dari leluhur kami, sekarang sering meleset, tidak tepat. Biasanya, kami membaca tanda-tanda alam dengan melihat bintang yang sering muncul pertengahan September. Tapi sekarang, ramalannya sering meleset," kata Dominggus.

Musim hujan yang biasanya datang pada bulan Oktober hingga Maret pun tak datang seperti biasanya. Tanaman jagung di desa Nusa, menurut Dominggus, normalnya ditanam pada masa-masa awal hujan turun.

"Bibit yang ditanam kadang habis. Kalau hujan tidak turun dan tanah kering, jagung akan mati. Kalau hujannya lama, tanah basah, jagung juga akan tumbuh kerdil dan buahnya lebih kecil," kata dia.

Dominggus dan para petani didaerahnya menamakan hujan yang tak jelas ini dengan "hujan tipu". Air hujan memang menjadi sumber utama untuk pertanian tanaman pangan di Desa Nusa. Guna mengatasi dampak perubahan musim dan gagal panen, para petani menerapkan sistem pertanian tumpang sari.

Petani juga membuat bak mini untuk menampung air hujan, sehingga dapat digunakan untuk menanam sayur pasca panen jagung.

Keluhan yang sama juga datang dari Kamsari, petani asal Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Menurut Kamsari, petani di desanya bisa mulai melakukan penanaman pada pertengahan November. "Beberapa tahun terakhir musim tidak bersahabat pada kami karena sering banjir sehingga pola tanam tidak menentu dan merugikan petani. Akibatnya, petani sering gagal panen.

Perubahan iklim ini merugikan petani," ujar Kamsari.
Biasanya, dalam setiap kali panen, para petani bisa menghasilkan hingga 3,5 ton gabah kering panen. "Tapi sejak musim bergeser, panen sering gagal, padi tidak berisi dan hasil panen turun drastis sampai kurang dari 50 persen," ungkapnya.

Para petani ini pun menitipkan harapan pada pemerintah, agar bertindak cepat untuk membantu petani mengurangi dampak perubahan iklim. "Kami berharap, pemerintah bisa membantu menjembatani keadaan sekarang agar petani lebih sejahtera menyongsong masa depan," ujar Kamsari.


Adaptasi Perubahan Iklim
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, pengaruh perubahan iklim memang sangat beragam. Perubahan musim hujan yang biasanya turun pada media Oktober-Maret, membutuhkan waktu lama untuk mengadaptasi kepada para petani.

"Perubahan musim ini juga mengakibatkan perubahan kebiasaan dan adaptasi. Perubahan harus simultan dan menggerakkannya secara simultan. Untuk itu membutuhkan waktu, sehingga masih banyak kegagalan," kata Gatot.

Akan tetapi, Gatot mengapresiasi inisiatif para petani yang membuat tandon khusus untuk menampung air. Persediaan air ini dinilai bisa meredam bencana banjir dan kekeringan. "Marilah kita memecahkan masalah masa depan dengan teknologi masa depan. Jangan masalah saat ini diatasi dengan teknologi masa lalu," kata dia. (kompas.com)


Pemeritah Efektifkan Pelayanan

DAMPAK global warming (pemanasan global) kini pun dirasakan oleh petani. Prediksi iklim dengan melihat fenomena alam pun tidak akurat lagi akibat perubahan cuaca. Sehingga musim hujan yang biasanya ditandai dengan formasi bintang sudah tidak efektif lagi. Kondisi ini membuat petani bingung.

Dalam kendisi ini maka pemerintah harus mengambil peran yang lebih efektif lagi dalam memberikan pelayanan dan informasi yang benar terhadap petani. "Pemerintah harus mengambil posisi yang strategis untuk mengantisipasi ini. Sebab, alam tidak menjadi jaminan pada petani untuk menentukan jadwal tanam yang pasti," jelas pengamat pertanian, Ir. Rafael Leta Levis, M.Si.

Pengamat pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) ini, mengatakan, pengamatan cuaca dengan melihat bintang merupakan bentuk kearifan lokal. Namun perubahan iklim secara global saat ini bukan tidak mungkin mengubah gejala-gejala alam yang selama ini menjadi patokan bagi petani.

Sehingga petani kini membutuhkan pelayanan pemerintah baik dalam hal informasi yang jelas tentang bibit tanaman yang cocok untuk ditanam dan informasi mengenai cuaca dan jadwal tanam yang tepat.

Bila pemerintah tidak mampu memenuhi itu maka ancaman yang dihadapi oleh petani adalah gagal tanam dan gagal produksi yang berdampak pada kekurangan pangan.

Dampak lanjutan adalah kelaparan yang terjadi secara luas. "Saya khawatir hal ini bisa menyebabkan ancaman kelaparan bukan saja untuk petani, tetapi juga untuk kita semua," jelasnya.

Pelayanan yang mesti dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan informasi yang jelas pada petani tentang iklim, mengarahkan petani untuk menggunakan bibit tanaman yang cocok dengan kondisi iklim dan upaya- upaya lain untuk mendorong meningkatkan produksi pertanian. (alf)


Pos Kupang Minggu, 8 November 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda