Dokter Valens Yth,
Salam Jumpa. Saya Johan, pemuda Flores, usia 28 tahun. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta bonafid di Kupang. Penghasilan saya bagus dan punya tabungan cukup banyak. Kesuksesan in bukan semata-mata rejeki yang tiba-tiba.

Semuanya lewat keuletan dan kerja keras serta kepercayaan yang besar dari pimpinan perusahaan. Latar belakang pendidikan saya adalah sarjana (S1) bagian manajemen. Sudah dua tahun ini saya pacaran dengan Lidya.

Gadis manis asal campuran Sulawesi - NTT, saya kenal pada pesta wisuda salah satu teman saya. Kami berdua pun akrab dan selanjutnya pacaran. Orangtua kami tak bermasalah karena kebetulan agama kami juga sama.

Lidya seorang diploma bidang matematika. Dia pintar dalam bidangnya. Menurut teman kuliahnya, Lidya selalu jadi tempat bertanya teman-temannya. Hal ini membuat saya bangga.

Memiliki calon istri yang pintar, siapa yang yang tidak bangga? Persoalan yang makin terasa mengganjal adalah ketika masa pacaran kami semakin serius ada rencana masa depan yang sedikit berbeda. Hal lain cocok, tetapi ketika soal anak dan soal kerja kami punya perbedaan rencana. Karena keluarga saya kurang orang, saya ingin anak kami lebih dari tiga.

Menurut Lidya cukup satu atau dua saja karena dia ingin kerja. Menurut pandangan saya dan keluarga saya, biarlah Lidya tak perlu kerja di kantor. Soal biaya hidup rasanya gaji dan penghasilan saya sudah cukup. Salah satu di rumah mengurus rumah dan anak-anak akan lebih baik.

Tapi Lidya kelihatan keberatan. Dan dia serius saat mengungkapkannya. Untuk dokter ketahui, bahwa saya termasuk pria yang pencemburu. Saya sulit menerima kalau Lidya terlalu berpisah jauh dariku, dan berada di antara pria lainnya.

Apakah perbedaan pendapat untuk hal ini termasuk masalah besar atau kecil? Pertanyaan kedua, Bisakah diberikan jawaban tentang baik buruknya suami - istri yang dua-duanya bekerja? Mudah-mudahan surat saya bisa dibalas secepatnya.
Johan di Kolhua-Kupang.


Saudara Johan yang Baik,
Salam kenal juga buat Anda. Secara sepintas perpaduan Anda dan Lidya semestinya cukup serasi. Kebahagiaan dalam hidup banyak ditentukan oleh cara kita meramu antara urusan sosial yang sifatnya lebih fleksibel dengan memasukkan sedikit rumus-rumus ilmu pasti yang agak ketat. Anda punya bidang manajemen (sosial) dan Lidya cerdas di bidangnya, matematika (ilmu pasti).

Perpaduan semacam ini tidak banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Perkawinan tidak hanya berpadu secara fisik namun jauh lebih banyak ditentukan oleh perpaduan unsur-unsur non-fisik. Seperti dikatakan Erich Fromm, (psikolog, terkenal): ”Orang dengan gampang terjerumus untuk mengartikan bahwa mereka telah saling mencintai karena saling menginginkan secara fisik. Mencintai orang bukanlah semata-mata karena perasaan yang kuat. Cinta adalah keputusan, pertimbangan dan janji.”

Dikatakannya juga bahwa persahabatan adalah hal yang paling penting dalam perkawinan. Selain itu, Paul Hauck mengatakan (dikutip dari buku: Common Sexual Problems and Solutions, Profesor Prakash Kothari, Ph.D, 1999),

”Ketika Anda tak melakukan aktivitas seks, ketika Anda tak lagi membutuhkan banyak penghasilan atau makanan, maka satu-satunya kualitas terpenting yang Anda cari dari kekasih Anda adalah persahabatan.”

Dengan demikian apa pun yang ingin kalian peroleh dari pernikahan Anda berdua harus merupakan output (hasil) dari musyawarah Anda berdua secara bersahabat.

Bila Anda membicarakan perbedaan pada pertanyaan pertama itu dengan dasar cinta dan persahabatan maka Anda akan menemukan bahwa hal yang tadinya dianggap perbedaan besar ternyata hanya suatu riak kecil yang mudah diatasi.

Tidak ada yang terlalu sulit dan tidak ada pula yang terlalu gampang bila itu dilaksanakan berdasarkan cinta yang murni. Prof. Dr. dr. H Dadang Hawari (seorang psikiater), menulis dalam bukunya Love Affair (2002), bahwa pada umumnya terdapat dua motivasi yang mendasari seorang istri bekerja yaitu mengembangkan karier (kepuasan psikologis) dan turut mencari tambahan penghasilan.

Bagi istri yang bekerja, dilemanya ada tiga, yaitu perannya sebagai istri, sebagai ibu dari anak-anaknya dan sebagai ibu rumah tangga. Perannya sebagai ibu rumah tangga, mungkin dapat digantikan oleh orang lain (pembantu). Namun perannya sebagai istri dan ibu dari anak-anak tidak dapat digantikan orang lain.

Masalahnya akan lebih berat manakala anak-anak masih kecil yang memerlukan asuhan seorang ibu. Kebutuhan anak terhadap materi dan fisik lainnya mungkin masih dapat diberikan oleh orang lain, tetapi kebutuhan afeksional (kasih sayang) anak yang amat penting bagi perkembangan jiwanya sulit untuk digantikan oleh orang lain.

Perhatian dan rasa kasih sayang (kebutuhan afeksional) ini pun dibutuhkan oleh suami selain kebutuhan biologis yang juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Untuk istri yang bekerja diharapkan kemampuan manajemen waktu, energi dan kondisi fisik serta psikologisnya dalam upaya menjaga keharmonisan rumah tangga.

Pengertian dan toleransi dari suami sangat diperlukan dalam upaya meringankan beban istri yang berfungsi ganda tersebut. Bagi istri yang bekerja hendaknya memperhatikan dampak psikologis pada suami karena sering timbul keluhan dari para suami sebagai berikut:

1) Sejak istrinya punya penghasilan sendiri, wibawa dirinya sebagai suami terhadap istri menurun.

2) Istrinya yang berpenghasilan jauh lebih tinggi dari suami menimbulkan rasa rendah diri dan cemburu dari pihak suami.

3) Saat suami tidak bekerja lagi ( sakit, pensiun, nganggur/PHK dll.) peran kepala rumah tangga/keluarga dapat berbalik ke tangan ibu. Hal ini dapat menimbulkan rasa rendah diri pada suami, harga diri menurun, wibawa terhadap istri menurun.

Sehingga sering terjadi komplikasi psikologis yang disebut "inferiority complex"dengan gejala seperti suami menjadi dingin, pencemburu, pemarah dan kasar. Untuk itu istri yang bekerja, perlu menghindari sikap high profile", demi menjaga keseimbangan dan keharmonisan keluarga.

Kalau soal berapa banyak anak yang Anda inginkan, silahkan kompromi berdua. Ingat, suami itu cuma menitip umpannya, sedangkan yang repot mengurus ”hasil kegiatan” adalah istri. Jadi perlu runding.

Nah Saudara Johan, dengan berbekal sedikit penjelasan ini Anda dan kekasih Anda akhirnya harus bisa menemukan sikap apa yang diambil untuk hidup Anda di masa yang akan datang. Semoga bahagia.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 8 November 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda