Bom

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

SUASANA di kelas siang itu terasa muram.. Pasalnya Eki, si ikan hias yang lincah dan Teki, si terumbu karang yang ceria hari itu tidak muncul. Meski bukan bintang kelas, namun kehadiran keduanya membuat suasana di kelas selalu penuh dinamika. Eki dengan gerak geriknya yang lincah bagaikan bola bekel selalu menggoda teman-temannya sehingga suasana kelas menjadi hidup dan penuh semangat.. Sedangkan Teki dengan celoteh-celoteh segarnya selalu membuat teman-temannya tersenyum penuh sukacita.

Kemuraman suasana kelas seolah bertambah dengan kehadiran Pak Albar, guru mata pelajaran yang matematika yang terkenal kiler itu. Pelajaran matematika yang selama ini menjadi momok para murid terasa kian menyiksa. Waktu terasa lamban bergerak. Satu detik terasa seperti seabad lamanya. Para murid terpaku di tempat dduduknya masing-masing mencari aman. Mereka tidak mau teledor melakukan sesuatu kesalahan yang mengundang amarah Pak Albar.
***
Kemuraman siang itu semakin lengkap ketika Bapak Kepala Sekolah muncul di depan kelas. "Anak-anakku sekalian, hari ini kita mendapat kabar yang menyedihkan. Dua sahabat kalian, Eki dan Teki mengalami bencana. Kompleks Terumbu Karang, tempat tinggal mereka terkena bom.

Berbagai bangunan yang ada hancur lebur dan luluh lantak hingga rata dengan tanah. Mereka berdua kehilangan beberapa kerabat, namun beruntung, kedua sahabat kalian bersama keluarganya selamat", kata Bapak Kepala Sekolah dengan bibir bergetar. Semua murid yang mendengarnya terpaku di tempat duduknya.

"Mungkin kalian belum lahir saat bom atom dijatuhkan di kota Hirosima dan Nagasaki di Jepang pada akhir Perang Dunia II yang lalu. Namun kalian bisa membayangkan kehancuran itu seperti yang dialami gedung World Trade Center di New York saat terjadi serangan teroris pada 11 September 1999 lalu. Gedung itu runtuh dan rata dengan tanah.,
Sementara sekitar dua ribu orang yang sedang berada di dalam gedung itu ikut meninggal atau menjadi korbannya", jelas Bapak Kepala Sekolah.

"Sangat mengerikan, ya Pak? Lalu bagaimana Eki, Teki dan keluarga mereka bisa selamat, Pak?" Tanya Edy memecah kesunyian kelas.
"Kedua keluarga itu selamat karena pada saat kejadian mereka tidak berada di tempat. Mereka sedang menghadiri hajatan nikah saudaranya di luar kota ", jawab Bapak Kepala Sekolah.
* * *

Keesokan harinya Eki dan Teki sudah muncul di sekolah. Dengan pakaian seadanya dari hasil sumbangan tetangga Eki dan Teki tampak lucu di hadapan teman-teman mereka. Namun hal itu justru semakin membuat murid-murid di kelas itu semakin iba kepada mereka.

Teman-temannya meminta keduanya menceritakan kembali bencana bom yang menimpa mereka itu. "Tindakan itu sangat terkutuk karena menghancurkan seluruh anggota keluarga kami. Bahkan juga ikut menghancurkan masa depan keluarga kami.

Karena untuk membangun kembali kompleks Terumbu Karang tersebut diperlukan waktu selama satu generasi. Pelakunya harus dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya", kata Eki sambil menyusut air mata di sudut mata beningnya.

"Kalian bisa membayangkan, bagaimana susah payahnya keluarga kami membangun kompleks Terumbu Karang itu selama berpuluh-puluh tahun. Semua dilakukan tanpa pamrih hanya untuk tumbuh kembang keluarga kami juga penghuni kompleks lainnya. Bahkan secara tidak langsung juga memberikan manfaat yang besar bagi manusia. Namun semuanya itu hancur lebur hanya dalam beberapa detik akibat ulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab", sambung Teki dengan raut sedih..

"Sekarang kami tidak tahu lagi di mana kami akan tinggal", ungkap Eki
"Dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun lagi untuk membangun kembali kompleks Terumbu Karang seperti yang kami miliki sebelumnya", ujar Teki Mendengar itu seisi kelas membuat pernyataan, mereka meminta pihak berwajib segera menindak pelaku pemboman itu Mewakili teman-temannya Edy menyerahkan pernyataan tersebut kepada Bapak Kepala Sekolah..(*)


Pos Kupang Minggu 8 November 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda