Ir. Paulus V.R Mella, M.Si



POS KUPANG/MUKLIS AL LAWI
Bupati Mella di ruang kerja
Bupati Mella bersama keluarga

Prioritaskan Kebutuhan Dasar


TUJUH bulan sudah pasangan Ir. Paulus VR Mella, M.Si dan Drs. Benny A Litelnoni, S.H, M.Si memimpin Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sejak dilantik 6 Maret 2009 lalu, banyak titipan dan harapan terhadap pasangan ini untuk menjadikan TTS lebih baik dari sebelumnya.

Namun saat menjabat sebagai bupati, banyak persoalan krusial yang harus dihadapi Ir. Paul VR Mella. Dari masalah anggaran hingga persoalan mendasar yang mendera masyarakat TTS. Untuk menjadikan TTS lebih baik, Bupati Mella tak muluk-muluk membuat program lima tahun ke depan. Visi pasangan Mella-Litelnoni ialah mewujudkan kehidupan masyarakat TTS yang religius, adil, merata, maju, mandiri dan sejahtera. Kepada wartawan Pos Kupang, Muhlis Al Alawi, Bupati Mella berbicara banyak hal tentang pemikirannya mengatasi berbagai masalah dasar 450 ribuan masyarakatnya.

Pertama kali Anda menjabat sebagai bupati kondisi TTS menurut bapak seperti apa?
Saat kami masuk, yang pertama saya lihat harapan masyarakat bahwa pembangunan dari tahun ke tahun belum jalan. Pejabat boleh berganti tetapi kondisi yang sangat dilihat oleh masyarakat terkait kondisi infrastruktur jalan sepertinya tidak ada perubahan. Malah kualitas jalan mundur. Kedua, masyarakat belum menikmati pelayanan dasar yang memadai. Contoh air bersih yang berkualitas. Kemudian penerangan. Ketiga, pembangunan berjalan terus, anggaran semakin banyak tetapi jumlah keluarga miskin naik terus persentasenya.


Dengan kondisi seperti itu sebagai langkah awal fokus program Anda apa?
Fokus pertama memang ada masalah kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Tetapi saya lihat yang harus segera dilakukan adalah pembenahan infrastruktur. Karena itu kemarin dengan dana terbatas saya minta beberapa ruas jalan strategis, terutama ruas-ruas jalan yang sulit segera diperbaiki. Dan itu yang kami fokuskan kemarin. Dan ternyata ada beberapa ruas jalan yang sangat sulit. Kami fokuskan di situ sehingga mungkin sebelum atau sesudah ini ada yang lebih kurang bagus. Selain itu bidang pendidikan. Beberapa waktu lalu kami fokuskan peningkatan mutu pendidikan menjelang ujian. Saya fokus di situ tentang bagaimana persiapan guru-guru menangani anak didik baik tingkat SD, SMP, dan SMA.

Selain masalah itu, apa saja yang Anda lakukan selama tujuh bulan setelah dilantik sebagai Bupati TTS?
Ada beberapa kegiatan yang menjadi fokus agenda waktu lalu seperti pertama menyelesaikan pembahasan anggaran 2009. Dan itu sudah selesai. Bahkan sudah ada perubahan anggaran sudah kami tindaklanjuti dengan program. Kedua penataan kelembagaan dan itu sudah kami lakukan. Mengevaluasi kembali kegiatan yang sedang dilaksanakan sementara atau program yang akan datang. Khususnya program ada kegiatan luncuran dan tunggakan-tunggakan 2008 sudah ada luncurannya.
Kemudian mengatasi masalah kegiatan tahun 2008 yang belum terselesaikan lantaran masalah administrasi ataupun penanganan lebih lanjut yang sudah selesai diseleseaikan.

Dari analisis kondisi seperti itu dan untuk memperbaikinya, kira-kira bapak membutuhkan waktu berapa lama?
Kalau kami hitung secara anggaran, maka lima tahun anggaran untuk membangun jalan, anggaran Kabupaten TTS tidak akan cukup. Anggaran kami tidak cukup untuk mengkover semua. Tetapi untuk mempermudah saya minta untuk klasifikasi jalan-jalan yang penting yang menjadi prioritas utama untuk menjadi perhatian kami bersama. Dan kalau memang lantaran jalan itu mahal, kami tidak bisa aspal semua. Mungkin bisa sirtu sehingga bisa menekan biaya. Dan ini menjadi tugas pemerintah daerah untuk berupaya dengan pemerintah pusat. Dan bersyukur kemarin sudah ada turun, mudah-mudahan kami bisa bekerjasama dengan pemerintah pusat, sehingga ada semacam dana kami bisa menggandeng sektor swasta atau BUMN untuk melihat kondisi jalan di TTS. Dan dalam pembahasan RPJMD saya akan mempresentasikan untuk mendapat petunjuk dari Bappenas terkait masalah keuangan. Sebab tidak akan maju bila infrastruktur jalan jelek. Walaupun sektor pertanian masih prioritas, tetapi jalan masih lebih prioritas lantaran menjadi urat nadi dan akses segala aktivitas. Semisal ada daerah yang memilik produksi pertanian bagus, namun terkendala masalah pemasaran lantaran jalan jelek.


Lantas persoalan air bersih?
Banyak masyarakat yang belum menikmati. Saya sudah tugaskan satu tim untuk keliling seluruh TTS merekam seluruh mata air yang ada di wilayah kami, dan bagaimana cara masyarakat mendapatkan air. Saya minta kepada tim untuk mencatat berbagai hal tersebut. Seperti Desa Sini dan Oelat, Kecamatan Amanuban Timur, mereka berjalan tiga hingga empat kilometer untuk mendapatkan sumber air. Terhadap persoalan ini apa yang harus kami lakukan? Apakah dibiarkan saja lantaran sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan warga tetap survive? Di berbagai tempat warga mengonsumsi air yang jelas-jelas tidak memenuhi kualitas. Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kekuatan kesehatan bagi masyarakat TTS meski minum air yang tidak memenuhi standar kesehatan. Dalam pembahasan anggaran 2010 saya mengingatkan kepada SKPD untuk mengutamakan mengeluarkan masalah kebutuhan dasar yang dialami masyarakat. Air prioritas. Jangan bicara ternak, manusia saja masih berjuang. Kalau melewati anggaran pemerintah tidak cukup.

Bagaimana dengan jumlah KK miskin di TTS yang masih tinggi?
Saya juga meminta dinas teknis melakukan pemetaan KK miskin. Kita ngomong TTS, KK miskinnya sekian ribu KK, tetapi di mana dan siapa? Betul tidak mereka miskin? Apakah seorang warga yang berumah berdinding bebak dan atap daun gewang dan memiliki sapi lima ekor dikatakan miskin? Mungkin nanti KK miskin dikasih tanda seperti stiker. Nanti bisa jadi masyarakat protes terhadap keberadaan KK yang dicap miskin. Dengan demikian, indikator tidak usah terlalu banyak. Masyarakat sendirilah nanti yang akan memutuskan mana saja warganya yang masuk kategori sebagai KK miskin.

Sinkronisasi dengan program Gubernur NTT yang ingin menjadikan NTT sebagai propinsi jagung, koperasi, dan cendana serta peternakan?
Untuk masalah jagung kami sudah tanda tangan MoU antara Pemerintah NTT dan Pemkab TTS dengan Badan Litbang Deptan RI. Dan sudah sepakat ada rekomendasi benih-benih unggul dengan penangkaran benih di petani TTS. Benih unggul itu, yakni padi, jagung, kacang tanah dan kacang hijau. Empat komoditi itu akan dikembangkan untuk mensuport petani di TTS. Bila gunakan benih lokal satu hektar berkisar satu hingga dua ton, maka dengan benih diharapkan bisa mencapai lima ton per hektarnya. Untuk itu Distan harus menambah speed. Di bidang ternak, TTS salah satu penyuplai bibit dan daging sapi di NTT. Ke depan penggemukan untuk menjawab kebutuhan jangka pendek. Tetapi jangka panjangnya pembibitan. Saya imbau juga kalau ada investor yang masuk selain penggemukan maka pembibitan harus jalan. Kendala yang masih dihadapi adalah SE. Soal cendana saya sudah minta ke SKPD untuk memikirkan cara terbaik untuk pengembangan cendana. Apakah harus disuplai anakan atau pembibitan diserahkan masyarakat. Saya lebih cenderung pembibitan dilakukan di masyarakat.

Saat ini mangan lagi menghangat di TTS. Apa kebijakan Anda tentang tambang batu mangan?
Kami bersyukur Tuhan masih memberikan kabupaten ini dengan sumber daya alam yang cukup, antara lain mangan. Persoalannya, bagaimana kami mengefektifkan ini untuk semata-mata kesejahteraan pemerintah dan masyarakat. Itu yang harus dibenahi betul-betul. Aturan yang detail belum ada. Tetapi kami harus mempersiapkan kebijakan yang mengatur mangan dan berpihak pada masyarakat. Pengusaha juga harus membangun kerja sama dengan desa, sehingga kehadiran mangan ikut membantu hidupnya kelembagaan desa. Seperti listrik, pengusaha bisa memberikan genset kemudian pemerintah desa mengelola untuk didistribusi ke warga. Sehingga ada pendapatan bagi desa.

Apa upaya yang Anda lakukan untuk membebaskan TTS sebagai kabupaten busung lapar dan gizi buruk?
TTS memang terkenal dengan angkat kematian ibu, anak dan bayi tinggi. Selain itu gizi buruk juga tinggi. Dalam pembahasan untuk menyebut tiga kriterai ini terlalgu banyak. Kepala dinas yang baru ini adalah pekerjaam rumahnya. Walaupun gizi buruk seperti tenang saja, tetapi saya bilang belum puas. Kami jalan ke desa melihat dengan kacamata awam anak-anak banyak yang masih gizi buruk. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas masyarakat.

Banyak apriori terhadap kabinet yang Anda lantik. Apa komentar Anda?
Saya bilang semua SKPD sudah terisi. Saya minta pimpinan SKPD terhadap apa yang saya buat dalam RPJMD itu taruhan pejabat untuk mencapai angka kredit. Dan setiap pejabat harus menjabarkan RPJMD itu dalam renstra. Ketika renstra yang mereka tulis menunjukkan tidak mampu berarti itu penilaian. Pejabat yang mampu harus bisa memperjuangkan terhadap potret-potret TTS yang ada didalam RPJMD baik harus dinaikkan dan diturunkan. (muhlis al alawi)


Belajar dari Orang Desa

MENJADI pucuk pimpinan daerah bukan hal yang gampang. Butuh pengalaman dan keuletan selama melaksanakan tugas-tugas. Bekal pendidikan segudang tidaklah cukup. Butuh pengalaman-pengalaman dari arus bawah agar saat memimpin tidak melupakan suara arus bawah.

Begitu pula dengan Ir. Paulus V.R Mella, M.Si. Bapak tiga anak ini tidak begitu saja melupakan pengalamannya semasa aktif sebagai PNS yang ditempatkan di desa. Banyak pengalaman yang dipetik untuk mengambil kebijakan tatkala menjabat sebagai Bupati TTS periode 2009-2014.

"Saya mengajak seluruh PNS jangan sia-siakan saat pertama ditugaskan di desa. Saya lima tahun tugas di desa. Kita tidak tahu apa, tetapi ternyata pengalaman kita di desa itu melengkapi kita untuk tugas-tugas ke depan. Jadi saya pikir kita merintis kegiatan kita dibentuk dari awal sebagai tenaga kontrak ditugaskan di desa sampai menjadi pimpinan dinas dan sebagai Asisten I. Di Asisten I Setda TTS, saya belajar banyak bukan hal teknis saja yang harus dipelajari. Tetapi mengelola kepemerintahan di dareah," ujar Mella.

Belajar dari pengalaman tersebut, tak membuatnya kaget saat menjadi Bupati TTS. Banyak hal-hal non teknis yang harus diputuskan bagi kebaikan warga TTS. Untuk itu sebelum memutuskan ia selalu mendengarkan masukan dari berbagai pihak agar keputusannya tak merugikan warga TTS.

Bagi Mella menjadi bupati bukanlah pilihan yang gampang. Banyak faktor yang harus dipertimbangan sebelum maju sebagai calon bupati. Termasuk dorongan atau dukungan dari sanak, kerabat, keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Selain itu, faktor pengalaman dan jaringan juga memotivasinya mengikuti Pilkada TTS tahun lalu. "Saya kira saya juga bagian dari ini daerah. Dan mengabdi cukup lama di TTS. Mengawali karier dari tenaga kontrak sampai menjadi PNS dan dibesarkan d sini juga. Dan tentu potret dan pemahaman masyarakat TTS pada umumnya dan sedikit pengalaman itulah yang mendorong dibantu kerja sama yang dibangun. Saya yakin bahwa itulah yang mendoorng saya menwarakan diri ikut serta dalam pilkada ini. Kami tahu pilkada tidak hanya bicara dukungan saja. Tetapi didukung mampu bekerja atau tidak? Dan secara pribadi saya mengenal ini daerah, saya mengenal apa yang dibutuhkan dan apa yang akan dilaksanakan ini daerah," tandas Mella.

Meski telah menjabat sebagai bupati, pria yang dilahirkan di SoE, 50 tahun lalu itu tetap berprinsip harus memberikan contoh bagi para pegawainya. Sebagai orang nomor satu di TTS, ia selalu menanamkan untuk disiplin terhadap diri sendiri.

Meski sibuk dengan urusan kepemerintahan, Bupati Mella tak melupakan anak-anak dan istrinya. Sesempit apa pun waktu ia selalu meluangkan waktu buat anak dan istrinya. Bahkan lantaran saking sibuknya, anak-anaknya pernah memprotes lantaran jarang ada di rumah. (aly)


Data Diri
-----------------

Nama Lengkap : Ir. Paulus Victor Rolland Mella, M.Si
Tempat/Tanggal Lahir : SoE, 18 Juni 1959
Alamat Rumah : Jln. Ampupu No 6 Kesetnana, RT 03/RW 02, Desa
Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, TTS
Istri : Ir. Rambu Atanau Mella
Anak : Leonard Evan Mella, Fomeni Reninda Mella, Winnard Nube Mella


Pos Kupang Minggu 8 November 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda