Mayor Marinir R Wira Gantoro HK


POS KUPANG/Alfred Dama
Mayor Marinir R Wira Gantoro HK

Marinir di Kupang dan Jawa, Sama Kualitas

BATALYON Marinir Petahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) VII Kupang yang berusia hampir dua dua tahun belum banyak dikenal oleh warga Kota Kupang dan NTT. Keberadaan kesatuan di bawah TNI Angkatan Laut ini untuk mendukung operasional Pangkalan Utama TNI AL Kupang.

Kesatuan yang bermarkas di Osmok-Kupang ini dimpimpin oleh Mayor (Mar) R Wira Gantoro HK yang sudah memegang jabatan sebagai komandan sejak tiga bulan terakhir.

Wira Gantoro yang ditemui beberapa waktu lalu banyak mengisahkan suka dan duka seorang prajurit marinir. Menurutnya, semua prajurit marinir sudah tahu risiko tugas sebagai pasukan pendarat. Namun pilihan menjadi marinir adalah kebanggan.

Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Mayor Wira Gantoro, beberapa waktu lalu.

Batalyon Pertahanan Pangkalan VII Kupang akan memasuki usia dua tahun. Apa saja hakekat tugas kesatuan yang kini Anda pimpin?
Tugas pokok Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Marhanlan) VII ada dua. Pertama melaksanakan tugas latihan dari induk pasukan yaitu Pasmar I di Surabaya dan kedua melaksanakan tugas yang diberikan Komandan Pangkalan Utama (Lantamal) VII Kupang. Tugas pokok saya dalah pertahanan darat pangkalan, kemudian antisipasi ancaman dan gangguan serta hambatan di wilayah kewenangan Lantamal VII, baik di darat maupun di laut.

Kita juga bisa melaksanakan tugas-tugas yang sifatnya permintaan dari satuan TNI yang lain maupun Polri, mungkin permintaannya ke Lantamal dan diteruskan ke kita untuk beroperasi. Demikian juga dengan pemerintah daerah. Misalnya di wilayah ini ada bencana alam maka operasi saya di bawah komando operasi Danlantamal VII Kupang.

Bagaimana kaitan tugas kesatuan yang Anda pimpin dengan prajurit marinir yang mengawal pulau terdepan di NTT?
Kita tidak memiliki hubungan kerja yang langsung dengan pasukan marinir yang ada di pulau terdepan. Kalau di NTT ada marinir di Pulau Ndana-Rote. Tanggung jawab Yon Marhanlan itu adalah pertahanan darat pangkalan dalam hal ini Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang.

Untuk pasukan marinir yang ada di Pulau Ndana itu statusnya BKO (Bawah Komando Operasi) Kodam IX Udayana dan di sini di-BKO-kan ke Korem 161 Wirasakti Kupang. Karena kita sama-sama dari marinir yaitu dari Pasmar I yang berpangkalan di Surabaya, maka maka sifat tugas saya adalah memantau kegiatannya serta mengawasi apabila ada kesulitan dan kekurangan di sana. Secara komando, saya selaku Komandan Marhanlan VII Kupang tidak memiliki garis komando langsung terhadap Satgas Marinir Pulau Terdepan. Pulau Ndana adalah Pulau paling selatan di NKRI.

Berapa prajurit marinir kita di sana?
Anggota kita di sana ada 30-an orang yang dipimpin Letda Surolik. Tugas pokoknya adalah mengamankan perbatasan pulau terdepan antara Indonesia dengan negara lain di wilayah selatan pulau itu yaitu Australia. Tugas pokoknya adalah menempati pulau-pulau terluar.

Dari situ sudah ada batas wilayah NKRI dan sudah ada patok dan prasasti pertanda itu adalah wilayah kita. Kebetulan kami tanggal 14 kemarin bersama Danlantamal VII dan Bupati Rote Ndao, Kapolres Rote Ndao dan Danlanal Rote Ndao, juga ikut ke sana meninjau Pulau Ndana dalam rangka kunjungan kerja Danlantamal VII Kupang.

Mengapa marinir belum bertugas di perbatasan NTT dengan negara Timor Leste di Belu?
Untuk wilayah darat kan sudah ada satuan-satuan darat dari TNI Angkatan Darat. Menurut pemikiran saya kalau misalnya ada satuan udara atau satuan laut yang berada di darat dimana di situ ada satuan-satuan punya TNI AD, kayaknya kalau kita juga hadir maka terkesan pemborosan dan berlebih-lebihan. Kalau kita sudah bisa mengamankan wilayah itu maka untuk apa kita menambah satuan lain sehingga terjadi penumpukan pasukan di situ.

Anda sudah hampir tiga bulan bertugas di sini. Bagaimana apresiasi masyarakat NTT dengan kehaditan marinir di wilayah ini?
Saya bukan berbesar kepala atau memuji-muji diri saya sendiri, tetapi sebaiknya atau yang lebih pas yang bicara adalah masyarakat. Masyarajat yang menilai, bukan saya. Kalau saya bicaranya wah.. saya pasukan hebat dan macam-mcam, jadi bukan begitu. Lebih baik saya mendengarkan kesan, itu mungkin Anda bisa tanya ke masyarakat. Tapi apa yang saya dengar adalah masyarakat itu positive thinking dengan kita di sini, walaupun kita baru mau berumur dua tahun pada tanggal 2 November nanti. Ya saya juga berusaha maksimal agar saya dan anak buah saya di satuan ini mengamalkan delapan wajib TNI, diantaranya jangan sekali-kali menyakiti hati rakyat. Itu yang kami jadikan pegangan seperti Pancasila, Sapta Marga, Delapan Wajib TNI. Di Angkatan Laut ada Tri Sila AL, di marinir sendiri ada Enam Tuntutan Prajurit Korps Marinir. Itu yang kita pegang dan saya berusaha anggota saya serta keluarga besar Yonmarhan VII Kupang untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat.

Satuan yang Anda pimpin ini adalah batalyon marinir. Berapa pasukan Anda?
Jumlah kita di sini ada 117 orang. Idealnya 400 orang, tapi karena kondisi dan situasi negara seperti ini, dimana untuk masuk prajurit TNI baik darat, laut maupun udara tidak sebanyak tahun-tahun yang lalu. Sekarang berkurang, jadi untuk menambah kebutuhan itu anggota di sini harus dilakukan secara bertahap karena prinsip yang digunakan pimpinan marinir itu berdasarkan derajat kepentingan. Jadi lebih penting mana di sini dengan di Ambalat, lebih penting mana di sini dengan di ibu kota negara. Jadi derajat kepentingan yang mendasari itu. Semoga saja tahun depan anggota kita sudah bisa lebih dari 200 orang karena masih menunggu yang sedang pendidikan.

Begitu menyebut pasukan marinir, maka bayangan orang itu kendaraan tank amphibi, kapal pendarat dan fasilitas pendukung lainnya. Bagimana di Kupang?
Fasilitas seperti itu tidak ada di sini. Sebab tugas pokok saya di sini adalah membantu Lantamal. Dan, material tempur seperti itu tidak diperlukan di sini karena tugas pokok saya tidak memerlukan material tempur itu, walaupun saya tidak ada material tempur itu tapi kalau saya diperintahkan untuk melakukan pendaratan amphibi, maka saya tetap bisa. Sebab, pada dasarnya marinir yang di sini, marinir yang di Jawa, Marinir yang di Sumatera, di Kalimantan semuanya sama yaitu pasukan pendarat. Sebab tugas pokok kita adalah pasukan pendarat.

Pasukan marinir yang bertugas di daerah, misalnya saat konflik Ambon, selalu mendapat simpati masyarakat. Apa kuncinya?
Seperti pengalaman saya sendiri pada kerusuhan Mei 1998, dimana para demonstran baik mahasiswa maupun mahasiswi dan masyarakat umum itu mengikuti apa yang kita inginkan karena kami dulu mengutamakan pendekatan persuasif. Kita tidak menggunakan kekerasan karena yang kita hadapi itu adalah saudara-saudara kita sendiri. Mungkin di dalam kelompok demonstran itu ada anaknya paman saya, mungkin ada anak teman saya atau saudara saya sendiri ada di situ sehingga memperlakukan mereka secara baik tapi tegas. Tegas dalam arti kalau sudah diperintahkan jangan maju sampai melewati garis yang sudah ditentukan, maka jangan lagi maju. Dengan cara persuasif dan kita mewadahi apa yang diinginkannya. Kira-kira itulah kuncinya. Yang penting kita tidak arogan, tidak menyakiti hati rakyat, kita bisa bekerja sama dengan rakyat maupun dengan pihak lainnya seperti pemerintah daerah dan satuan lainnya.

Jarang terdengar terjadi konflik atau bentrok antara marinir dengan masyarakat. Apakah ada aturan dari kesatuan kepada anggota yang bandel?
Kalau masalah aturan yang berkaitan dengan hukuman yang dijatuhkan pada anggota atau satuan yang melakukan pelanggaran, itu tadi, di TNI aturannya sama semua. Kita tetap menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer, itu kalau mengarah pada tindak pidana, kalau untuk tindak hukuman disiplin itu dari Ankum atau atasan yang berhak menghukum yaitu paling bawah adalah komandan batalyon. Seperti saya sudah memiliki kewenangan Ankum, sehingga saya "berkaleng bulat" kemudian punya bendera kesatuan sehingga itu mejadi syarat-suarat menjadi seorang Ankum. Kalau masalah hukuman semua TNI sama.

Apakah di marinir ada tindakan tegas seperti tidak keluar markas seenaknya?
Kalau yang itu menyangkut teknik dan seni dari seorang komandan dalam memimpin kesatuannya. Kalau saya melihat situasi di luar tidak bagus untuk anggota saya, misalnya ada keributan di sana-sini, atau ada kelompok tertentu yang suka menyerang TNI, maka saya akan mengendalikan anggota saya untuk tidak keluar. Atau misalnya ada anggota saya yang berkelahi di luar atau clash dengan anggota satuan lain atau dia berbuat salah dan segala macam, maka itu kewenangan Ankum untuk tidak mengizinkan anggotanya keluar dari kesatrian. Jadi itu hanya seni memimpin saja. Kalau aturannya sudah jelas. Dan, agar di luar tidak banyak pelanggaran, itu juga suatu seni dari komandan satuannya sehingga anak buahnya tidak berkeliaran di luar, tidak ada di tempat-tempat yang seharusnya tidak didatangi oleh anggota TNI.

Dan, saya sendiri yaitu seni saya ya kalau masih bisa dikasih tahu dengan omongan ya dengan omongan. Kalau tidak bisa dikasih tahu dengan omongan, ya kita agak keras sedikit atau tindakan fisik. Dia bisa saya perintahkan lari setiap hari. Saya bisa perintahkan dia kerja bakti selama sekian minggu, ya tergantung saya. Jadi apa yang menjadi seni saya untuk memimpin itu tidak dengan menyakiti secara fisik.

Kalau dengan kata-kata tidak bisa, maka dengan amat sangat terpaksa maka saya harus menjalankan tugas saya untuk menghukum dia. Hukumannya secara disiplin sehingga berpengaruh pada pangkatnya, jabatannya, terhadap pengendalian kariernya.

Anda sebagai anggota marinir, apa gambaran perasaan anggota marinir yang tugas di daerah terpencil seperti di Pulau Ndana itu?
Saya sudah mengalami hal itu tahun 1993, saya di Pulau Sebatik di paling utara Kalimantan. Perasaannya sama saja, karena saya sudah mengalami tugas-tugas itu. Kalau misalnya ada marinir dan secara umum TNI yang bertugas di tempat seperti itu mereka mengeluh saja kemudian merasa terkucilkan ya lebih baik jangan jadi tentara. Kan, sejak awal niat kita menjadi tentara karena kita saat masuk tentara sudah menyatakan siap tugas di mana saja dengan segala konsekuensi dan resiko. Resiko baik terhadap anak, istri maupun terhadap diri sendiri. Di marinir kalau ada pasukan yang tugas jauh dan sulit berkomunikasi dengan keluarga, maka keluarga yang ditinggalkan di homebasenya ini sudah ada yang mengurus, namanya panitia keluarga yang mengurus gaji, kalau ada yang sakit akan dibantu. Jadi di kesatuan yang ditinggalkan itu ada kelompok yang mengurusi keluarga pasukan yang ditinggal tugas. Kami berbuat semaksimal mungkin untuk pasukan yang sedang bertugas untuk tidak berpikiran lagi untuk keluarga yang ditingggalkan.

Dalam situasi aman seperti sekarang, apa yang dilakukan prajurit marinir untuk mengisi waktu atau menambah keterampilan sebagai prajurit marinir?
Di dalam TNI AL, AD dan AU semua sama, ada kegiatan dari awal tahun hingga akhir tahun. Kalau di marinir ada latihan triwulan untuk perorangan dan satuan dari tingkat regu, tingkat peleton, kompi hingga tingkat batalyon dan setelah sudah sampai di akhir tahun nanti tingkat AL, kita latihan bersama sebelum melakukan latihan gabungan TNI. Ada jenis latihan bertingkat dan berlanjut. Ada juga latihan tidak berjenjang dan tidak berlanjut, jadi triwulan I Januari-Maret dan sepanjang tahun begitu. Kalau belum bisa terlaksana satu item latihan maka itu adalah hutang yang harus dilaksanakan pada kesempatan berikut. Mungkin ada latihan yang tidak bisa dilaksanakan, mungkin saja kita banyak kegiatan protokoler, ada kegiatan yang sifatnya mendukung satuan-satuan samping kita atau satuan ini belum siap melakukan kegiatan karena banyak prajurit yang sedang pendidikan, sedang kursus. Tapi yang penting tetap dilaksanakan, tidak hanya membuat pertanggungjawaban keuangan fiktif. Seperti tanggal 17 kemarin kita latihan, itu adalah tanggung jawab saya latihan di triwulan III, karena belum sempat karena kita puasa dan kedua kita merayakan HUT TNI dan ada sertijab dari komandan yang lama sehingga saya tetap membayarnya di Triwulan IV ini. Latihan itu adalah pendaratan amphibi dalam keadaan khusus. Itu ada kaitannya dengan tugas saya dalam rangka membantu tugas pokok Lantamal untuk pertahanan darat pangkalan.

Adakah tugas yang paling berkesan?
Hampir semua yang saya kerjakan dalam penugasan berkesan, seperti saya di Aceh. Satgas saya bisa menemukan anggota GAM yang membunuh senior saya, Mayor Edianto. Kemudian waktu saya di Sebatik, dalam satu malam saya bisa mengembalikan 750 imigran gelap, saya serahkan kepada Dinas Imigrasi Nunukan. Kemudian pada kerusuhan Mei 1998, bagaima saya merebut gedung Utama DPR/MPR RI, bagaimana batalyon saya bisa mengendalikan mahasiwa yang jumlahnya ribuan di dalam halaman gedung DPR/MPR dan para mahasiswa itu dengan senang meninggalkan gedung. Kemudian saya dinas di Madura, bagaimana menangani kerusuhan antar etnis di sana.
Kemudian waktu saya di Kupang saya bisa bekerja sama dengan Korem dengan Yonif 743.

Kenapa Anda mau jadi tentara?
Itu cita-cita saya sejak SD. Ya mungkin saya banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga serta lingkungan tempat tinggal saya dimana hari-hari saya melihat tentara itu begini, begitu. Lingkungan saya waktu itu di angkatan udara. Bapak saya di Paskhas TNI AU, sudah pensiun. Saya lihat bapak saya seperti itu, sehingga saya berpikir harus bisa lebih dari bapak saya. Bapak saya itu dari tamtama, kemudian ke bintara dan jadi perwira. Jadi Tuhan mengizinkan saya bisa masuk Akademi Angkatan Laut. Dan, saya memilih jadi marinir karena saya punya prinsip jadi tentara harus pakai baret. Waktu itu di AL hanya ada di marinir, saya tahunya KKO. Ya sampai sekarang saya syukuri saja. (alfred dama)


Enjoy Saja

PASUKAN marinir seperti film kisah nyata penyerbuan marinir Amerika Serikat di Pantai Normandia pada Perang Dunia II dimana terlihat ribuan pasukan Amerika dibantai pasukan Jerman meski akhirnya pantai tersebut berhasil direbut.

Kisah ini mengambarkan begitu beratnya tugas marinir, bahkan dalam banyak spekulasi, hanya 10 persen pasukan pendarat pertama yang bisa berhasil selamat, sedangkan 90 persen berkemungkinan gugur dalam satu operasi militer amphibi. Kemungkinan tersebut tentu menakutkan bagi kebanyakan orang yang ingin menjadi pasukan marinir.

Tidak demikian Mayor (Mar) R. Wira Gantoro HK. Pria kelahiran Madiun 8 Mei 1968 ini memilih menjadi marinir dan kini bangga menjadi seorang prajurit Korps Marinir TNI AL.

"Ya, apa pun yang saya lakukan, saya rintis sejak menjadi taruna Akademi Angkatan Laut Tahun 1987 kemudian saya dipilih oleh AL untuk menjadi marinir kan sudah mejadi konsekuensi tugas. Kita sadar tentang resiko tugas dan semua anggota tahu itu. Tapi, inilah pilihan kita dan tentu ini mejadi kebanggan bagi kita karena tidak semua orang bisa menjalankan tugas seperti ini," jelasnya.

Bagi ayah tiga anak ini, jadi tentara adalah pilihan hidup sehingga apa pun yang harus dihadapi dalam tugas bukan menjadi penghalang baginya untuk tetap mengemban tugas yang dipercayakan negara padanya. "Apa pun yang terjadi, terjadilah. Dimana pun saya bertugas saya harus menyenangi pekerjaan saya ini dengan harapan saya akan profesional dalam melaksanakan tugas," jelasnya.

Bagi anak seorang prajurit Phaskas TNI AU ini, kunci sukses dalam menjalankan tugas adalah enjoy atau menikmati pekerjaan dan menyerahkan semua tugas dan nasib di tangan Tuhan.

"Saya harus enjoy saja dimana pun dan apa pun yang ditugaskan pada saya. Saya pernah ditugaskan di Kalimantan, pernah ditugaskan di Aceh. Saya pernah ditugaskan di Papua dan saya sekarang ada di Kupang. Ya, kalau pingin enak ya seperti itu, seperti hewan bunglon itu.

Kalau di Aceh ya saya ikut budaya sana. Saya di Bengkulu maka saya pun ikut tata cara adat orang Bengkulu. Kalau kita masuk lahannya orang lalu kita maunya sendiri pasti akan tersingkir oleh alam atau lingkungan. Sama saja saya, di Kupang sini, ya saya enjoy saja," ujarnya sambil tersenyum (alf)

Data diri
Nama : R Wira Gantoto HK
Pangkat: Mayor Marinir
Jabatan : Danyon Marhanlan VII Kupang
Tempat Tanggal Lahir: Madiun 8 Mei 1968
Istri : Noer Wijantini S.Ad
Anak:
Rovanaya, Viona dan Jalu
Pendidikan SD Santamaria Ponorogo Tamat Tahun 1981
SMPN 5 Magelang Tamat Tahun 1984
SMAN Maospati Tamat Tahun 1987
Militer AAL XXXVI Tahun 1990
Penugasan : Satgas Bunyu (1999)
Rencong Sakti XXII 1999
Kedinasan : Yonif 5 Marinir (1991)
Yonif 3 Marinir (1996)
Yonif 1 Marinir (1998)


Pos Kupang Minggu 25 Oktober 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda