Parodi Situasi Putar Balik

KATANYA gara-gara terima suap, Pak Rara ditahan pihak keamanan. Mengapa semua ini mesti terjadi ya? Harus jadi pesakitan di penjara setelah sekian tahun berkuasa dan menjadi salah satu orang paling kaya? Mengapa pula kesandung kasus suap menyuap?
"Sungguh tidak enak jadi Rara!" Komentar Jaki. "Orang penting, penentu kebijakan, harapan rakyat, pemegang tegaknya keadilan damai dan kebenaran, justru menjebakkan diri dalam kasus suap menyuap ya?"

"Kita suap saja orang-orang di sono, biar bisa ubah keputusan. Kita atur sedemikian rupa biar fakta jadi fiksi, fiksi jadi fakta! Hukum bisa diatur tergantung siapa yang punya kepentingan. Dalam hal ini, Rara punya kepentingan, dan kita harus dukung Rara. Bukankah kita bisa putar balik?" Jaki masih mengomel. "Soalnya Rara orang penting, kenapa mesti kesandung kasus suap dan dijerat hukuman?"
***
"Ini yang namanya hukum tidak pandang bulu!" Kata Benza. "Jadi meskipun selama memimpin, seorang pemimpin dikenal tegas, disiplin, pegang aturan, punya kepekaan sosial, punya solidaritas terhadap orang kecil dan terpinggirkan, dan sederetan keunggulan lainnya, kalau melanggar hukum yang tetap diproses! Termasuk Rara."
"Belum tentu Rara salah!" Jaki membela Rara. "Hanya kebetulan saja dia orang nomor satu, kebijakannya, tanda tangannya, perintahnya dibutuhkan, maka terjadilah! Bisa saja terjadi rekayasa sana sini sehingga Rara terjebak!"

"Menyakitkan sekali ya! Harus menjadi korban penjara untuk kepentingan dan keuntungan orang lain," sambung Jaki lagi. "Yang makan untung orang lain, yang kena buntungnya Pak Rara." Jaki terus bicara sendiri sibuk sendiri.

"Ya, dalam sejarah tanah air, tidak sedikit Pak Rara yang apa boleh buat harus duduk di hadapan meja hijau karena kebijakannya melanggar undang-undang!" Benza memberi penjelasan tambahan.

"Mestinya ada keringanan hukuman!" Sambung Jaki. "Bila perlu bebas demi hukum sebagaimana terjadi dengan berbagai kasus pelanggaran hukum yang dilakukan para penguasa, orang-orang penting di tanah air ini. Bila perlu juga putar balikan itu fakta hukum, atur turut suka supaya selamat dari bencana penjara," Jaki berapi-api.

"Ya! Bagaimana mungkin Pak Rara harus menanggung beban penjara gara-gara kesandung kasus? Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang mencatat kebaikannya selama memimpin. Bagaimana mungkin yang dihitung hanya lembar hitam saja, lembar putihnya tidak pernah dipertimbangkan!" Jaki penuh semangat. "Seharusnya Pak Rara dibebaskan dari semua tuduhan. Bebas murni! Bersih!"

"Harus menurut siapa?" Tanya Benza.
"Menurut rasa keadilan dan damai!" Sambar Jaki.
"Rasa keadilan dan damai demi apa dan siapa?"
***
"Demi kepentingan Pak Rara, nama baiknya, keluarga, perjuangannya selama ini, kelompoknya, orang-orangnya, dan terutama demi aku orang yang selama ini mendapat begitu banyak kemudahan karena beliau!" Kata Jaki dengan wajah memelas.

"He he he, "Nona Mia terkekeh-kekeh. "Kamu ngelindur ya?"
"Ini serius demi aku dan orang-orang dekatnya, demi..." Jaki merasa sesak karena kecewa dengan suara Nona Mia yang masih terkekeh-kekeh.
"Pokoknya keadilan dan damai harus ditegakkan!" Jaki setengah berteriak.
"Tegak di atas apa?" Tanya Nona Mia.

"Jelas di atas kepentingan kami," kata Jaki disambut Nona Mia dengan terkekeh-kekeh lagi. Jaki tersinggung berat, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Soalnya malu hati dengan Nona Mia.

"Lihat saja nanti," Jaki mengancam. "Kekuasaan akan mengubah semuanya!"
"Kekuasaan akan mengubah semuanya?"
"Kamu sadar rupanya ya bahwa Rara adalah orang yang dipercaya menjadi pemimpin, tetapi nyatanya bermental dan berprilaku penguasa bukan pemimpin, bisa rekayasa, atur turut suka barang bukti, buat jebakan sana sini, dengan tujuan utama kepentingan diri dan kelompok. Enak sekali ya ngomong kekuasaan akan mengubah semuanya!"

"Jelas kah, namanya juga saya yang punya kuasa," Jaki tidak peduli.
"Kamu mirip carut marut soal hukum, sidik, lidik, yang melanda tanah air! Buat malu bangsa..." Kata Nona Mia.

Benza hanya tersenyum kecut dan berkata dalam hati. "Kasihan Jaki Rara. Rupanya keduanya hanya pikir kepentingan diri sendiri. Tidak peduli sama sekali dengan rasa keadilan orang lain. Lupa dia, bahwa keadilan dan damai tidak pernah tegak di atas kepentingan, kelompok, korps, keluarga, sahabat, jabatan, dan sejenisnya. Keadilan dan damai hanya tegak di atas kebenaran...
***
"Halo, teman-temanku," Rara datang tiba-tiba. "Semuanya bisa diatur. Gampang! Nanti ada tersangka, ada barang bukti, ada rekaman, ada saksi, ada berbagai keterangan pendukung untuk membebaskan aku!"
"Kamu dapat ide darimana?" Tanya Jaki.

"Apa kamu tidak takut dicap tukang putar balik?" Tanya Nona Mia.
"Ya biasalah. Namanya juga demi kepentingan"
"Kamu tidak malu?"
"Malu? Aku tidak tahu!" (*)


Pos Kupang Minggu 8 November 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda