Sebelum Sajak Bercerita

Cerpen Mario F Lawi

AKU telah selesai berjalan dan jarum jam terus berputar. Aku tak tahu apa yang harus aku tulis lagi bagimu hari ini. Jalan kita semakin sempit dan sepertinya kantuk telah menggapaiku.

Debar kita tak pernah menyepi dan sajak-sajak yang lahir dari debar-debar rinduku, kuingin kaubaca dengan bergetar. Jiwailah! Di sini, aku pun sedang berusaha merasuki debar-debar rindu hatimu.

Kauinginkan langit kita senja agar kemerahan lembayung yang dilambaikan matahari dari ufuk barat kaumaknai sebagai sajak baru untukmu.

Tapi mimpimu datang terlalu cepat dan senja-senja terlalu lekas menghilang sehingga sajak-sajak baru bagimu hanyalah setitik kelam dan gelap yang dikirimkan oleh angin dan sepi malam. Kelam dan gelap yang amat menggembirakan, oh kekasih! Kutahu rembulan akan membantu.

Tak ada lagi raung akibat gaung hentak kakiku di jalan itu, jalan yang menuju padamu. Namun kauinginkan aku terus berjalan dan mendapatimu seolah-olah kau tak lagi berdaya di ujung sana.

Padahal mungkin sekarang kau sedang berjingkrak atau mungkin menari dan juga bernyanyi sambil menerjemahkan sajak-sajak yang kukirimkan bagimu. Aku tahu, kau tak pernah kesepian.

Sepi tak akan bisa berbicara kepadamu sebab engkau tahu cara membunuh sepi. Maka datanglah kemari! Perlihatkanlah jingkrak dan tarianmu pada orang-orang yang menertawakan keadaanku.

Angin saja tak akan cukup membawa rindumu. Rindumu terlalu berat, mahal dan indah untuk dibawa angin.

Dekapan angin yang kuat selalu kuharapkan agar rindumu kuterima dengan utuh dalam peluk ingatan dan hatiku. Tapi angin tak pernah kuat dalam memeluk sebab bukan hanya kau yang membutuhkannya. Masih banyak jendela yang harus ia ketuk. Masih banyak telinga yang harus ia bisiki.

Karena itu, aku sangat senang bila memandang kupu-kupu. Aku yakin bahwa kupu-kupu yang beterbangan, lahir dari ceceran rindumu di atas kelopak-kelopak bunga. Sisa-sisa rindumu saja sudah cukup kuterima bila indah sayap-sayapnya mengirimkan aku harum bunga dan wangi kelopak tubuhmu.

Sisa-sisa rindu yang kuterima, walaupun separuh, namun sanggup menjalari tubuhku, terasa manis di lidah, kemudian aku tersengat aliran-aliran rindu yang dibawa kupu-kupu.


Harum pantai, tarian bakau dan santigi dan suara debur ombak pantai tempat terakhir kali kita bertemu masih segar dalam ingatanku.

Rambutmu yang terurai, tawamu yang berderai, bening matamu yang menerawang jauh ke tepian horison, dan segala hal tentang dirimu terus kurasakan dengan segenap inderaku. Bahagiamu adalah lengkung senyum yang tak akan pernah luntur dari bibirku.

Derai-derai tawamu adalah suara-suara muara yang bersidekap dengan lautan kegembiraanku. Pengertianmu kepadaku adalah kerelaan hulu mengalirkan air bagi muara.

Kau dan aku ibarat air yang tak bisa dipisahkan. Bila matahari datang dan membakar kita, aku akan menguap dan kau pun begitu adanya. Kita menguap lalu kembali menjadi air.

Ketika udara dan awan mengembun, kita menjelma hujan dan embun yang mengaliri sungai-sungai, menyegarkan tetumbuhan dan segala makhluk serta mengisi danau, rawa-rawa dan lautan.

Kalau kuibaratkan dengan energi, kita adalah energi yang sama. Energi yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Kita hanya bersalin rupa. Tapi jika kita bersalin rupa, maka perubahan itu tak akan memisahkan kau dari diriku dan aku dari dirimu. Kita adalah listrik yang menyalakan lampu-lampu. Kita adalah cahaya yang menerangi malam-malam yang gelap dan membiasi lorong-lorong paling sempit.

Kini aku teringat padamu. Aku tahu, sebelum aku berkata, aku teringat padamu, kau telah lebih dahulu mengetahuinya. Bahkan sebelum aku memikirkannya -saat masih melayang-layang dan belum berada dalam benakku- atau sebelum pikiranku sampai padamu, kau telah mengetahuinya.

Kau telah mengetahui, bahwa kata-kata itu, bahwa pikiran dan angan-angan itu akan sampai kepadamu. Aku tak tahu kekuatan apa yang ada di dalam diri kita sehingga mampu membuat kita melampaui batas-batas yang telah diciptakan oleh alam dan orang-orang.

Tapi aku tahu bahwa kini aku teringat padamu, dan karena aku teringat padamu maka aku jadi ingat pertemuan terakhir kita sebagai sahabat sekaligus pertemuan pertama kita sebagai kekasih.

Saat itu, kau berkata bahwa kau menyukaiku (cakrawala mulai membisiki lautan). Tapi, sebelum kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, kau telah mengetahui bahwa aku menyukaimu (dan bisikan cakrawala didengar pula oleh camar).

Dan saat kau menanyakan pernyataan persetujuanku atas pernyataan cintamu, aku tahu kau sedang berbohong sebab kau mengetahui bahwa aku menyukaimu (bisikan itu mulai menggema di lautan).

Aku juga berbohong -walaupun dalam taraf memendam rasa yang yang sudah kauketahui- tapi kau pun mengetahuinya (lautan menyampaikan bisikan cakrawala pada buih putih ombak di bibir pantai).

Saat itu, kita sama-sama tahu bahwa kita saling membohongi tapi kita saling menyukai (dan camar menyampaikan bisikan cakrawala pada dedaunan dan dedahanan bakau dan santigi). Kita saling membohongi dan saling menyukai namun kita tak menyukai kebohongan (lalu bakau dan santigi menjawab bisikan cakrawala dengan lambaian dedaunan dan dedahanan).

Dan sejak saat itu, kita telah sepakat untuk tidak membangun hubungan kita di atas dasar kebohongan -meski awalnya kita saling membohongi dan menyembunyikan perasaan kita hingga kau akhirnya mengalah- (dan bibir pantai menjawab bisikan cakrawala dengan mengembalikan deburan ombak pada lautan).

Saat kita menerima cinta, sepi yang semula lebih banyak berbicara, kini hilang dalam tiada. Tiada sepi yang berbicara. Tiada hening yang memekik. Kita telah menggantinya dengan lagu. Lagu cintamu untukku yang kauuntai dengan jemari rindumu. Lagu cintaku untukmu yang kususun dengan sajak-sajak dirimu dan selalu kuantarkan lewat malam.

Malam akan mengendap-endap memasuki jendela kamarmu sebelum diriku menjadi nyata dalam khayalmu. Malam yang sama akan kembali padaku bersama angin yang mendekap rindumu padaku (betapa angin telah sanggup mendekap).

Percayakah kau pada malam? Aku percaya pada malam sebab ia selalu jujur dalam mengungkapkan perasaan-perasaan kita meski banyak orang takut padanya.

Atau mungkin karena kita setia pada janji kita sehingga perasaan-perasaan ingin, rindu dan sayang, selalu kita ungkapkan pada malam hari. Dan malam tak pernah berbohong sebagaimana bintang-gemintang tak pernah berbohong dalam memberikan sinarnya pada malam.

Kita menginginkan cinta sekuat keinginan para petani
untuk memperoleh panenan terbaik. Kita mendambakan keabadian cinta seabadi keinginan para penyair akan sajak-sajak terbaik yang berbuah dari pepohonan ilham mereka pada alam.

Bahkan kita menginginkannya lebih dari apapun. Bahkan lebih tinggi dari keinginan langit saat memberi ruang bagi kepak-kepak sayap burung-burung dan juga lebih tinggi dari keinginannya saat memberi tempat bagi cahaya-cahaya langit.


Keinginan kita lebih dalam, melebihi dalamnya kemauan lautan memberi hidup pada ikan-ikan dan memberi inspirasi bagi para penyair.
** *
Sesungguhnya kita sedang terbakar. Ya, kita sedang terbakar. Api itu, api yang membakar kita itu bernama cinta. Api itu telah membakar hati kita. Ia telah membakar perasaan dan keinginan kita agar kita saling merindukan. Ia telah membakar simpul-simpul di antara kita agar tali-temali kita bersatu dan kita tak akan lagi berpisah.

Cinta membakar degup jantung kita agar jika debar hati kita bicara, maka panasnya rindu dapat kita rasakan. Cinta membakar paru-paru kita dan kini kurasakan dengusan-dengusan asmara yang beriringan dalam tarikan napasmu.

Cinta membakar-bakar kita! Cinta membakar segala yang ada pada kita. Lalu kudengar degup-degup jantungmu menyebut namaku. Aku yakin kau pun merasakan hal yang sama.

Awalnya aku tidak percaya bahwa kita bisa saling merindukan seperti sekarang ini. Aku tidak percaya bahwa hubungan kita bisa sampai sejauh ini. Karena yang aku tahu bahwa kita saling membenci pada awalnya. Bila kita berpapasan di tengah jalan atau kebetulan bertemu di koridor kampus, maka tatapan kita bertemu tetapi mulut kita membisu dan ekspresi kita membeku padahal mungkin sejak saat itu kita mulai saling mengagumi.

Kita seperti seorang murid yang ketika sedang melamun tiba-tiba ditanyai oleh gurunya, seperti orang-orang bingung yang tak mempunyai apa-apa ketika rasa panik melanda mereka. Atau mungkin kita seperti orang-orang yang tidak saling mengenal dan hanya kebetulan bertemu.

Padahal sebenarnya kita tahu bahwa yang harus kita lakukan adalah saling melempar senyum atau sapa atau apa saja yang dapat menandakan bahwa kita saling mengenal. Dan mungkin karena hal itu tidak kita lakukan maka tanda tanya dan rasa penasaran bertumbuh semakin besar di dalam hati kita.

Semakin sering kita bertemu tanpa menyapa, semakin besar pula rasa penasaran itu tumbuh di hati kita berdua, hingga saat ini tiba, saat di mana kita tak lagi membutuhkan tatapan palsu penuh kebohongan yang sebetulnya menampakkan secara jelas bahwa kita memang saling menyukai. Aku mengetahuinya.

Dan aku pun tahu bahwa kau mengetahuinya. Kini kita tak lagi membutuhkan kepura-puraan yang menyenangkan itu. Kepura-puraan yang menyenangkan? Kepura-puraan itu memang menyenangkan sebab saat kita berpura-pura tidak saling mengenal, saat itu kita merasakan cinta tumbuh semakin tinggi dan akar-akarnya menancap kuat di lubuk hati kita.
* * *
Aku telah selesai berjalan dan jarum jam terus berputar. Aku tak tahu apa yang harus aku tulis lagi bagimu hari ini. Jalan kita semakin sempit dan sepertinya kantuk telah menggapaiku.

Haruskah aku bertanya padamu tentang kantuk yang menggapaiku ini? Kurasa tak perlu sebab bukankah kau telah mengetahuinya? Kini bersiaplah menerima ribuan sajak yang akan lahir bagimu setelah rindu ini selesai kauterima. Kutahu bahwa kau menyukai suatu pemberian yang tulus. Kau pun pernah berkata bahwa sesuatu yang diberikan dari kekurangan jauh lebih bernilai harganya. Terima kasih atas pengertianmu.

Maka terimalah sajak-sajak itu nanti sebab mereka lahir dari seluruh kekuranganku yang telah berusaha mencintaimu apa adanya. Mereka lahir dari mimpi-mimpi kita yang tak selesai sebab senja kita yang lekas menghilang tak lagi menguntai mimpi kita. Karena itu, kau pasti menyukai sajak-sajakku sebab mereka lahir dari kekurangan untaian mimpi-mimpi senja kita.

Akan kupastikan bahwa hadiah ini akan sampai dengan utuh di hatimu. Tak akan kuminta angin ataupun malam untuk membawanya padamu sebab hubungan kita sendiri pun sudah merupakan pengantara yang dapat dipercaya.

Sebelum aku mengakhiri cerita ini dan memulai menulis sajak bagimu, aku ingin memintamu terlebih dahulu agar dapat menunggu hadiah ini dengan penuh kesabaran. Buah-buah kesabaran selalu manis pada akhirnya.

Dan satu hal lagi yang ingin kuminta daripadamu, jangan lagi meminta angin sebagai pengantara penyampai rindumu sebab kini cintaku padamu tak hanya sebatas rindu. Cinta yang tak terbahasakan dengan kata-kata dan hanya bisa dipahami oleh hati kita berdua.

Pakailah hatimu untuk menyampaikan pesanmu tentang rindu maka semuanya akan tertampung di hatiku dan tak satu pun akan kubiarkan tercecer. Kupastikan bahwa lubuk hatiku telah menjadi semakin dalam semenjak cinta mempersatukan kita sehingga apapun tentang dirimu dapat ditampungnya.

Biarlah kusimpan dirimu di sini, di hangatnya lubuk hatiku. Mari kita jaga api cinta yang telah kita nyalakan sambil terus menyanyikan lagu-lagu itu.

Selamat menjadi tamu di mimpi malam hariku dan selamat beristirahat di atas untaian rindu kita. Desir-desir cinta ini semakin kuat. Karena itu aku harus menghentikan pertemuan kita lewat lembaran ini dan biarkan rindu dan sajak kita berbicara tentang cinta kita. Selamat menjadi inspirasi dalam sajak-sajakku untukmu. *

Oepoi, Maret 2008

Untuk Komunitas Sastra Seminari Oepoi


Pos Kupang Minggu 8 November 2009,halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda