Lubang di Hati

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda

"Kubuka mata dan kulihat dunia! Telah kuterima anugerah cintaNya. Tak pernah aku menyesali yang kupunya... tetapi kusadari ada lubang dalam hati. Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." syair yang menawan hati dari Noe Letto dinyanyikan dengan sepenuh hati. Terasa damai menyongsong Damai Natal karena memang kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku.


Benar-benar indah. Maklumlah! Selama ini damai hanya ada di kepala dan di dalam tangan. Salam Natal, maaf lahir batin sambil kepala tertunduk dan tangan menjabat hangat, ternyata selama ini hanya aksi verbal dan seremonial. Sebab hatinya jauh dari kenyataan, bahkan ada lubang di hati karena memang sebenarnya damai itu hanya terlintas di kepalanya, tidak menetap di hatinya. Dia sadari betul dan yakin bahwa lubang di hati akan dilengkapi dengan damai Natal yang benar-benar damai.
***
"Syair lagunya Noe bagus sekali ya?" Pertanyaannya disambut Rara dengan marah besar.
"Cuaca buruk, badai, guntur, kilat! Tetapi kamu enak-enak nyanyi Lubang di Hati!" Suara Rara gemetar tidak karuan. "Kamu lihat keluar, gelap awan hitam dan hujan lebat! Kamu bukannya diam dan prihatin tetapi bernyanyi Lubang di Hati. Biar hatimu berlubang aku tidak peduli!"

"Apakah itu kamu! Apakah itu dia! Selama ini kucari tanpa henti... Apakah itu cinta, apakah itu cinta yang mampu melengkapi lubang di dalam hati... Kumengira hanya diakah obatnya. Tetapi kusadari bukan itu yang kucari. Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan kuyakin ku tak ingin aku terhenti." Benza terus menyanyi dan memejamkan mata. Dia yakin damai natal tahun inilah yang akan melengkapi lubang di hatinya maupun lubang di hati semua orang yang pernah disakitinya.
"Memang ada banyak lubang di banyak hati!" kata Nona Mia. "Semoga damai Natal tahun ini dapat melengkapinya..."

"Baik lubang yang digali untuk diri sendiri maupun yang digali orang lain... Lubang marah, dendam, dan dengki. Lubang menyakiti dan menghakimi. Lubang melihat serbuk di mata orang lain dan lubang balok di mata sendiri. Lubang korupsi, kolusi, dan manipulasi, lubang cicak dan buaya, lubang KPK dan Century, lubang APBD dan PAD, dan masih banyak lagi lubang yang lain..." Benza dan Nona Mia bicara bergantian sambil memejamkan mata.

"Semua lubang mesti dilengkapi dan dapat ditutupi damai Natal dan Tahun Baru," kata Nona Mia.
"Ya lubang di hatiku dan di hatimu," kata Benza.
"Benza diam! Berdoa! Supaya badai berhenti," Rara dan Jaki marah bukan main.
***
Aneh! Benza dan Nona Mia santai saja. Tetap bernyanyi lagunya Noe Letto sejak take off dari Ngurah Rai. Tidak tampak sedikit pun gentar terhadap apa yang sedang terjadi. Penerbangan dinikmati dengan rileks. Pikirannya sadar bahwa penerbangan kali ini berada di tengah gelegar cuaca. Namun perasaannya yakin bahwa dia pasti tiba dengan selamat, entah di tempat kedatangan entah di tempat keberangkatan. Yang jelas perjalanan itu pasti selamat. Beda benar dengan Rara dan Jaki yang duduk sejajar. Seluruh tubuh bergetar ketika pesawat yang sudah siap landing di El Tari Kupang itu terpaksa balik ke Denpasar karena cuaca buruk. Hujan angin badai guntur kilat sambar menyambar membuatnya menciut ketakutan.
***
"Balik Denpasar lagi ya?" Tanya Benza. "Kenapa takut? Santai saja lagi. Kita memang sedang terbang, dan terbang. Kita pasti mendarat. Jika memang tidak mendarat lagi di bumi, ya hadapilah. Karena kita pasti ke terbang tinggi, lebih tinggi, sampai ke langit ke tujuh dan mendarat di ruang nirwana!"
"Benza! Kamu sudah gila ya! Cuaca buruk dan kamu omong asal bunyi!" Rara pucat pasi karena pesawat bergetar keras.
"Oooh cuaca buruk ya?" Tanya Benza.

"Bencana ada di hadapan mata! Apa kamu tidak tahu? Bagaimana mungkin kamu berdua dengan enaknya menyanyi lubang di hati?!"
"Aduh, kalau tahu begini lebih baik jalan darat saja!" Jaki mengeluh.
"Jalan darat? Kalau mobil masuk jurang bagaimana?" Sambung Rara. "Kita lebih baik naik kapal laut! Lebih aman!"
"Apa?" Sambung Jaki. "Kalau badai di laut, gelombang naik, kapal tenggelam, bagaimana? Aku pasti langsung tenggelam dan pulang hanya nama!" Wajahnya pucat ketika pesawat benar-benar berbalik arah dan kembali ke keberangkatan dalam badai. Jaki dan Rara bertengkar di tengah badai.
***
"Kubuka mata dan kulihat dunia! Telah kuterima anugerah cintaNya. Tak pernah aku menyesali yang kupunya... tetapi kusadari ada lubang dalam hati. Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." syair yang menawan hati dari Noe Letto dinyanyikan lagi dengan sepenuh hati.
"Benza! Nona Mia, kita tidak bisa landing di El Tari!" Teriak Rara
"Benza! Nona Mia, diam! Berhenti menyanyi! Kita balik ke keberangkatan!" Teriak Jaki ketakutan.
"Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." Benza terus menyanyi.
"Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan...yang kuyakini ku tak ingin aku berhenti..." Nona Mia pun menyanyi.
Selamat Natal. Salam Damai. Tutuplah Lubang di dalam hati...

Pos Kupang Minggu, 20 Desember 2009, halaman 01 Lanjut...

Sakit Apebede

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda


RUPANYA beliau terkena penyakit apebede, jenis penyakit baru yang belum diketahui sebab-musabab dan belum ditemukan obat yang paling jitu untuk menyembuhkannya. Karena itulah seluruh anggota keluarga dan kelompoknya dikerahkan untuk mencari dukun yang paling jitu agar penyakit aneh itu dapat disembuhkan. Karena itulah Nona Mia pun bersedia menolong.

***
"Penyakit apebede?" Tanya dukun sambil mengkerutkan kening. "APBD?" Tanya dukun lagi.
"Bukan Pak Dukun Rara! Nama penyakitnya apebede! Bukan APBD!"

"Aduh, kalau penyakit APBD saya tahu cara menyembuhkannya, tetapi kalau apebede, penyakit apa pula itu? Bagaimana gejalanya?"

"Sesuai dengan kepanjangannya Pak Dukun! A Atas P panas B bawah D demam. Maksudnya, seluruh bagian atas tubuhnya, apalagi bagian kepala panas tinggi, sedangkan seluruh bagian bawah tubunya apalagi bagian kaki terasa demam!"

Sang dukun mengkerutkan kening. Bagaimana mungkin ada penyakit baru yang lebih parah dari HIV-AIDS? Aduh, penyakit AIDS mematikan ini belum ada obatnya, sudah muncul apebede yang lebih mematikan.

Bayangkan. Bagian kepala panas bukan main-main sampai terasa bagi orang lain yang berada di radius sekian meter, bagian bawah demam dan getaran demamnya juga membias kemana-mana sampai ke radius sekian kilometer.

"Sudah berapa orang yang tertular?" Tanya dukun.
"Itu yang kami takutkan Pak Dukun Rara. Kalau sampai tertular apa yang akan terjadi? Kalau panas seluruh tubuh atau demam seluruh tubuh, atau panas dan demam seluruh tubuh, biasa diatasi dengan obat malaria tropikana. Tetapi ini panas di atas demam di bawah. Kalau jangkit bagaimana?"

"Ya Pak Dukun, tolong kasih penangkal menular lebih awal sebelum dicari jalan keluar lain!" Nona Mia gugup. "Saya tidak mau sampai tertular penyakit mematikan ini.

***
Sang dukun memejamkan mata dan komat-kamit mencari petunjuk. Sementara Benza makin meringkuk mengatasi panas dan demam yang kian lama kian meningkat serangannya. Astaga! Jaki pun mulai perlihatkan tanda-tanda terserang apebede.


"Bagaimana Pak Dukun?" Nona Mia sudah tidak sabar.
"Cuci tangan! Cuci tangan!" Sang Dukun komat kamit mengucapkan kata cuci-tangan berkali-kali. Nona Mia segera ambil seember air dan memberikannya kepada Benza dan Jaki untuk mencuci tangan. Cuci tangan terus, sebab penyakit apabede ini untuk sementara tidak akan menular jika penderitanya cuci tangan sepanjang waktu.

Maka, terduduklah Benza dan Jaki di hadapan seember air, sambil terus mencuci tangan. Sementara Pak Dukun Rara terus berkomat kamit mencari jalan terbaik untuk menyembuhkan penyakit apabede itu.

"Pe a de, pe a de, pe a de," demikian seruan yang mirip igauan Pak Dukun Rara.

"Apa maksudnya Pak?" Nona Mia penasaran. Apalagi dilihatnya Jaki dan Benza hampir terlena dengan urusan cuci tangan. Nona Mia memperhatikan dengan saksama apa yang diinginkan Sang Dukun Rara.

"Ooooh pe a de pilih panas atau demam?" Tanya Nona Mia dan Sang Dukun Rara pun mengangguk cepat. "Jadi Benza dan Jaki boleh pilih mau sakit panas atau sakit demam, agar lebih mudah disembuhkan?" Nona Mia penasaran. Dukun pun mengangguk.

***
"Kamu boleh pilih mau panas atau demam? Biar Sang Dukun bisa sembuhkan kalian berdua, segera! Pilihan yang sama, panas atau demam!" Nona Mia menjelaskan pada Jaki dan Benza yang cuci tangan terus menerus tidak berhenti.

"Panas atau demam!" teriak Nona Mia tidak sabar lagi.
Eh, ternyata Benza dan Jaki bertengkar hebat, yang satu maunya panas, yang satu maunya dingin. Akibatnya tidak ada keputusan, dan dukun pun tak dapat menolong. Akibat yang lebih parah lagi keduanya tetap cuci tangan dan cuci tangan teruuuuusss.

Nona Mia sampai pusing tujuh keliling memikirkan nasib kedua temannya. Nona Mia pun mengeluh. "Kok bisa Benza yang berpendidikan tinggi, berpengaruh, berkedudukan, berhasil, berduit, tidak sanggup memilih panas atau demam.

Bagaimana mungkin Jaki yang selama ini dikenal vokal luar daripada biasa, berani, tajam, dan tidak peduli itu, tidak sanggup menentukan demam atau panas! Duuuuuh," Nona Mia kecewa berat.
***
Astaga! Benza dan Jaki teruuuus mencuci tangan. Penyakit apebede pun mewabah. Berapa orang yang akan tertular? *

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 01 Lanjut...

Enam Matahari

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda


PADAHAL siang dan malam selama sebulan terakhir sudah dilatih berkali-kali, gambar pemandangan pesisir pantai dengan dua buah bukit, matahari bersinar di antaranya, pantai dan nyiur melambai, laut tanpa ombak, perahu berlayar, satu dua kelompok kecil awan putih, dan beberapa ekor burung terbang di udara. Lengkap dengan warna-warna khas anak-anak.

Nyatanya pada hari H perlombaan yang dilukis lain daripada yang lain. Bayangkan! Matahari ada enam! Satu di pinggir pantai, satu di atas bukit, satu di bawah pohon kelapa di pesisir, satu di atas atap rumah, dan di bawah lambung perahu. Pada setiap matahari ada satu pohon di sampingnya. Yang tepat seperti biasanya lukisan anak-anak, satu lagi matahari di antara dua bukit yang menyembul di batas cakrawala. Itulah gambar pemandangan yang disertakan dalam lomba.
***
"Kamu sungguh buat malu orangtua!" Rara kecewa bukan main melihat hasil lukisan Rara Yunior yang dipajang di ruang pameran lukisan yang dilombakan. "Seumur-umur matahari hanya satu! Tahu kamu!" Mata Rara melotot membuat si Yunior kelam kabut.

"He he he, ini hasil pendidikan ortu ya?" Jaki memberi komentar yang menyakitkan telinga. "Katanya pasti juara satu. Katanya sudah latihan selama sebulan. Bagaimana mungkin hasilnya bisa sim salah bim salah seperti ini? Aduh, kasihan bukan salah bunda mengandung... he he he," kata-kata Jaki membuat wajah Rara merah padam menahan marah sekaligus malu.

"Duh, Rara! Apa yang terjadi dengan anakmu?" Rara masih terkekeh-kekeh memperhatikan lukisan Yunior. Rara membuang muka karena bertambah malu. Maklum! Bagaimana tidak malu? Di sekeliling lukisan Yunior ada tulisan yang diukir sedemikian rupa. Jika dilihat sambil lalu tidak terbaca, namun jika diperhatikan dengan saksama, terbaca jelas tulisan KPK, cicak melawan buaya, bank century, dan pansus century.
***
"Anakmu kerasukan berita tivi ya? He he he kasihan si Yunior!" Suara Jaki membuat Rara mati kutu. Namun dia tak dapat membalas ejekan Jaki sebab dewan yuri sudah berkeliling dari satu lukisan ke lukisan lain. Rara buru-buru mau menurunkan lukisan Yunior, namun pembawa acara segera menghentikan gerakannya, "lukisan yang sudah terpasang tidak boleh dipindahkan sebelum ada pengumuman resmi dari Yuri yang diketuai oleh Nona Mia!"

"Jaki Yunior pasti keluar sebagai pemenang!" Jaki membusungkan dada. Soalnya, lukisan anaknya memang lukisan yang diharapkan, pemandangan pantai lengkap dengan dua bukit, matahari bersinar, perahu, burung di udara, nyiur melambai, dan gumpalan awan putih. Latihan selama sebulan penuh, sungguh-sungguh memuaskan Jaki. Apalagi Jaki dilatih dengan tekanan-tekanan, bahwa pada hari H nanti tidak ada satu bagian pun dari lukisan yang boleh diubahnya.

"Salahmu sendiri," komentar Jaki dengan bangga. "Kamu terlalu membiarkan anakmu bebas berkreasi. Jadi begitulah hasilnya. Seumur-umur matahari kok ada enam. Semestinya kamu pakai tangan besi memberi perintah pada anakmu. Biar anakmu taat perintah. Menyesal sekali ya, sebenarnya inilah saat yang paling tepat bagi dua yunior bersaing di antara teman-teman mereka yang lain..." Jaki tersenyum simpul.

***
"Sebelum pengumuman kami ingin menjelaskan satu lukisan yang sangat inspiratif," suara ketua dewan yuri, ibu Nona Mia. "Untuk itu kami panggil pelukis cilik pemberani. Rara Yunior!" Rara kelam kabut. Jaki senyum penuh kemenangan. Rara Yunior maju ke atas podium diiringi tepuk tangan sekaligus ejekan dari sana sini.

"Rara Yunior, lukisanmu luar biasa! Ada berapa matahari dalam lukisanmu?"
"Enam!"
"Kenapa enam?"
"Panaaaaaaas! Global warming! One Man One Tree..."
"Pintar!" Puji Nona Mia. "Suka nonton tivi?" tanya Nona Mia dan Rara Yunior mengangguk malu-malu.

"Ini tulisan apa?" Nona Mia mengerutkan kening memperhatikan tulisan di sekeliling lukisan Rara Yunior.
"KPK, cicak melawan buaya, bank century, dan pansus century," jawab pelukis cilik dengan sangat lancar dan tanpa beban.

"Pintar!" Puji Nona Mia lagi. "Suka nonton tivi?" tanya Nona Mia dan Rara Yunior menggeleng sambil mengangkat bahu. "Kenapa?" tanya Nona Mia.
"Panas, sakit perut, sakit gigi!" Yunior menjawab lancar.

***
Hari yang luar biasa bagi Rara Yunior. Lukisannya keluar dengan predikat terbaik. Benza berbicara di depan umum, memberi pujian khusus kepada lukisannya yang kritis, kreatif, inovatif. Yunior tidak mengerti benar apa makna kata-kata Pak Benza. Maklumlah umurnya masih sembilan tahun, baru duduk di kelas empat SD.

"Rara Yunior boleh bicara menyampaikan terima kasih atau bicara apa saja soal lukisan," Benza memeluk dan menepuk-nepuk perlahan bahu Yunior.

"Om, saya boleh tanya?" tanya Rara Yunior. "Mengapa orang dewasa suka berkelahi tidak sopan? Mengapa orang-orang besar suka korupsi? Mengapa orang-orang pintar suka menipu dan suka sekali buat panas?"

Benza, Nona Mia, Rara dan semua ortu yang hadir di arena lukisan terdiam bingung entah mesti menjawab apa. Hanya Jaki saja yang menggerutu karena tidak puas anaknya kalah.

***
"Om, uang enam triliun itu banyak ya? Kalau beli es krim coklat dapat berapa ya?" tanya Yunior dengan penuh harapan jawaban.
"Kenapa Yunior tanya?" Benza gelagapan.

"Panas! Matahari tambah lagi satu!" jawab Yunior. *


Pos Kupang Minggu 6 Desember 2009, halaman 01 Lanjut...

Tunggu Aku, Ibu

Cerpen Mario F Lawi

AKU menetas sebagai seekor angsa buruk rupa. Bahkan menurut mereka, aku lebih mirip bebek. Aku menjadi bahan olok-olokan teman-teman sebangsaku. Yang berlainan jenis pun memandangku sambil memicingkan mata seolah menyaksikan tragedi paling hebat terjadi di muka bumi ini. Kata-kata seakan habis menceritakan keburukanku. Betapa aku tak layak untuk hadir di dunia, bahkan dalam wujud menyedihkan ini.

Aku dibesarkan oleh seekor angsa yang cantik. Ke mana pun ia melenggang, semua mata akan tertuju padanya. Setiap detik seakan menjelma es yang beku, hujan pun seolah tertahan di udara ketika ia berjalan mencari perlindungan. Kakinya jenjang dan panjang, seperti pepohonan yang tumbuh di tengah padang.

Bulu-bulunya putih dan bersih, serupa salju yang tak pernah terlihat di bumi yang seribu tahun memendam letih di balik awan putih. Gayanya anggun, membuat setiap yang memandang tertegun, seakan sebutir salju telah tumbuh dari tengah gurun.

Berlaksa angsa jantan berusaha menarik perhatiannya, mendandani diri mereka hanya untuk mendapat kesempatan sesaat mendekati ibuku. Seolah mereka sedang memperjuangkan surga. Tapi ibuku adalah angsa yang setia, yang begitu sabar dan setia menyimpan cintanya bagi ayahku. Bahkan jauh sebelum aku menetas, ketika ayahku dikabarkan mati akibat terkena peluru nyasar seorang pemburu. Cintanya seperti merpati.


Bagaimana pun gayanya dan apa pun keadaannya, ia tetap terlihat cantik. Bahkan ketika ia baru saja berjuang mempertahankan seekor ikan di kubangan lumpur untuk aku, ia tetap terlihat menawan.

Lumpur dan kotoran yang melekat seakan menambah keanggunan dalam dirinya hingga mereka yang melihat semakin tercekat. Pun ketika ia sedang berjalan sehabis bulunya basah diguyur hujan, ia putih seperti melati yang mekar di tengah gerimis. Tak ada yang salah pada dirinya. Tidak ada, sungguh, hingga ia memiliki seekor anak seperti aku.

Aku bagaikan kutukan baginya. Aku ditetaskan seolah untuk menghadirkan penderitaan yang tak pernah ia rasakan lagi setelah kehilangan ayah. Semua cemooh yang ditujukan padaku selalu berujung pada perbedaan kami yang bagaikan langit dan bumi. Sebagian kecantikan yang dimilikinya seolah lenyap bersama keberadaaanku.

***
Aku mencintainya seperti mencintai kekasihku yang dulu. Sebab dia seolah hadir untuk menghibur keputusasaanku. Semua telurku habis dicuri sebelum aku sempat melihat mereka menetas. Tapi ternyata masih sebutir telur lagi meronta dari dalam tubuhku. Karena itulah dia sendiri.

Setiap detik mengawasinya meretakkan cangkang yang membatasi kami seperti mengubah sedetik menjadi setahun. Aku akan sabar menanti, sebab dari telur itu akan muncul seekor angsa yang akan dengan bahagia kupanggil anakku. Dia adalah hadiah terakhir yang ditinggalkan kekasihku. Aku akan setia menjaganya.

Betapa bahagianya aku ketika melihatnya hadir dengan miniatur ayahnya.

Ia tak bersalah, meski ia ditakdirkan tumbuh dengan rupa yang menurut mereka buruk. Tidak, ia tidaklah seburuk itu. Karena itulah aku selalu melindunginya dari cemoohan bangsaku.

Mereka tak tahu, kelak dari rupa yang menurut mereka buruk itu, akan tampil seekor angsa jantan yang gagah perkasa. Setiap angsa betina kelak akan berusaha memperebutkannya seperti sekarang ketika para jantan itu mengejar-ngejar aku.

Sungguh, aku tak bohong. Ia menyimpan rupa dan mata ayahnya yang membuatku selalu jatuh cinta setiap kali melihatnya. Meski kecil, ia akan kuajarkan artinya tabah dan bertahan. Aku sedih setiap kali melihatnya menangis ketika diejek teman-temannya.

Segala hal kuusahakan agar melihatnya tersenyum, termasuk membiarkan diriku mendapat bagian cemoohan akibat kehadirannya.

Tak dapat kubohongi diriku, kehadirannya membawa perubahan dalam hidupku. Aku jadi tahu bagaimana mencintai dari sebuah kekurangan. Dan dia yang mengajarkannya padaku. Dia selalu meminta maaf setiap kali aku diejek karena memilikinya. Tapi aku selalu memaafkannya, jauh sebelum permintaan maaf terlontar darinya.

Karena dia juga, aku jadi tahu siapakah di antara para jantan yang sungguh-sungguh mencintaiku. Jika mereka mencintaiku dengan sungguh, mereka tentu akan juga menerima kehadirannya. Tapi, lihatlah, tak ada satu pun yang berusaha mendekatiku bila aku bersama putraku. Mereka tak akan pernah bisa menerimaku apa adanya.

***

Kadang aku berpikir aku bukan anak ibu. Meskipun berkali ibu meyakinkanku bahwa aku mirip ayah. Tapi kecantikan ibu meruntuhkan semua hal yang coba ia yakinkan padaku. Betapa bodohnya ibu, dulu, jika ia menerima cinta dari angsa buruk rupa seperti ayah, itu pun jika benar ayah mirip denganku. Tapi ibu tak mungkin menyimpan kebodohan dalam kecantikannya.

Pastilah ayah itu angsa jantan yang tangguh dan rupawan. Dan asmara mereka pastilah direstui semua bangsaku. Anak-anak mereka pastilah akan sama dengan mereka. Jika jantan seperti ayah, dan yang betina seperti ibu. Sedangkan aku?

"Buruk sekali rupamu, kau pasti bukan anaknya," ujar salah satu dari angsa jantan yang berusaha mendekati ibuku.

"Ya, angsa secantik dia tak mungkin memiliki anak sepertimu. Sahabat kami yang dulu menjadi kekasihnya adalah angsa yang gagah," sambung angsa jantan yang lain.

Mereka mungkin benar. Aku lebih senang membayangkan bahwa aku adalah anak angsa yang lain. Dalam wujud telur yang dulu, mungkin ada sebuah bencana atau apa pun di tempatku dan aku menggelinding tanpa sengaja ke dalam sarang ibuku sekarang, yang waktu itu semua telurnya habis dicuri.

Dan karena ia tak ingin bersedih lebih lama, maka, dengan setia, ia merawat aku yang bukan bagian dari dirinya.

Lebih baik, aku pergi dari sini. Aku ingin menemukan ibu kandungku. Ibuku pastilah sama seperti aku, buruk rupa dan dicemooh banyak orang. Tidaklah sulit menemukan angsa seperti itu.

Di mana ada cemooh dan olok-olokan yang mengingatkanku pada kisahku, mungkin di situlah ibu kandungku berada, dan aku akan pergi membelanya. Meski rupa kami sama buruknya. Karena itulah, semoga kami ditakdirkan kembali bersatu.

Dan di seberang rawa dari ujung terjauh tempat tinggal kami, hidup sekawanan angsa yang katanya mirip aku. Mereka pasti koloniku.

***
Anakku pergi.
Ia tak meninggalkan apa pun padaku selain kecemasan. Kutanyakan pada teman-temannya yang sering mengejeknya. Mereka bilang ia pergi mencari ibu kandungnya. Aku tersentak. Tak mungkin. Aku ada di sini.

Kukepakkan sayapku dalam limbung dan bingung. Akan kupastikan bahwa berita mereka tak benar. Mereka toh biasa mengejeknya. Mungkin yang mereka katakan adalah kebohongan. Kusibak semak dan rerumputan di sekitar tempat tinggal kami, mencoba mencari tahu keberadaannya. Samar-samar, kudengar suara di sela belukar.

"Ia pasti sudah pergi menuju rawa-rawa itu. Bodohnya anak itu," suara itu mirip dengan yang dimiliki salah satu jantan yang pernah mengejarku.

"Biarkan saja, kematiannya akan mempermudah jalan kita mendekati ibunya," kudengar suara lain menimpali pembicaraan.
Yang mereka bicarakan pastilah anakku. Mataku seketika nanar menahan amarah. Kusibak belukar itu untuk menemukan sosok-sosok yang sedang bergunjing. Kutemukan mereka berada di antara sekawanan angsa.

Tanpa pengantar dan pembukaan, aku langsung mendamprat mereka, "Apa yang kalian lakukan pada anakku?"
"Tenanglah dulu cantik, tak usah marah seperti itu.

Kecantikanmu bisa luntur." Mereka mencoba basa-basi tapi itu semakin menyulut amarahku.

"Baiklah, kami hanya mengatakan bahwa mungkin ia bukan anakmu," ujar seekor jantan yang lain seakan ingin menarik perhatianku dengan kejujurannya.

Darahku berdesir. Tidak. Tadi mereka menyinggung rawa-rawa itu. Ia pasti pergi ke rawa-rawa di ujung terjauh tempat ini. Tapi rawa-rawa itu dijaga sekawanan buaya. Jangan-jangan....

"Jika terjadi apa-apa pada anakku, kalian tak akan kumaafkan!" Tanpa pamit aku langsung berbalik pergi. Akan kuajak anakku kembali. Semoga belum terlambat menemukannya.

***
Itu dia rawa-rawa yang mereka ceritakan.
Samar-samar mulai kubayangkan wajah ibu kandungku yang dengan gembira akan menyambutku dengan hangat dekapan bulu-bulunya di seberang sana. Dan saudara-saudaraku pasti akan gembira menyambut kedatanganku. Setelah itu mereka akan menyiapkan pesta untukku.

Ah, baiklah, tunggu aku ibu. Setelah melintasi rawa-rawa ini, anakmu akan kembali dalam dekapanmu.*

Naimata, Ujung Tahun 2009

Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 06 Lanjut...

Puisi-Puisi Mawar

Penantian Yang Sia-Sia

Lama aku coba untuk bersabar
Agar kau bisa berubah
Lama aku coba untuk mengerti
Tapi pengertianku kau pecundangi

Terlalu sering kata sumpah kau ucapkan
Untuk menghibur hatiku yang terluka
Tapi apa balasanmu
Kau kembali dan kembali
Menghancurkan semua impian dan harapanku
Akhirnya aku sadari cinta ini harus berakhir


Janji Suci

Mahligai cinta ini
Hati ini telah hancur
Peri....sakit...Oh, luka itu tersayat kembali

Janji suci yang kau ucapkan
Di altar yang suci itu
Telah kau khianati
Adakah kau tahu
Hari itu engkau berjanji dengan Jesus bukan denganku

Jika ada mawar lain menghampiri mahligai cinta kita
Aku menatap wajah Yesus yang tersalib
Terima kasih Tuhan
Aku boleh merasakan salib ini

Tersungkur aku di bawah salibNya
Dengan bersimbah air mata, sembari memohon
Bolehkah aku putuskan janji suci di altarMu itu
Agar luka lara di hatiku berakhir

Karena cintaku tak lagi indah
Kasih tak lagi mewarnai cinta
Jika ia menetaskan amarah dan dendam




Puisi-Puisi Cici

Penantian

Waktu bergulir begitu cepat
Kita melihat dua sisi tersembunyi yang semakin jelas terlihat
Antara 'ya' dan 'tidak'
Antara senyuman dan tangisan
Dua pilihan yang salah satunya akan terjadi dalam sekali waktu

Di tiap tetesan tinta ada banyak belukar
Yang membuat kita susah untuk dilalui
Namun tak ada jalan lain selain itu


Kenangan

Berhias lembut salju di hatinya menangkap sinaran hangat di wajahnya
Menatap binaran matanya tanpa kebimbangan
Semakin lama di sana semakin ia jauh dalam hatinya

Senandung rindu dikibaskan dengan semua harapan
Walau tak dapat disangka kilauan wajahnya hingga tak terlihat
Kenyataan menanjak gunung harapan baru dalam dirinya
Walau mungkin tak ada yang tahu ucapan maksud tersembunyi yang membekas Dalam putih batu hatimu yang dalam
Di dasar sana kini hanya terlintas kenangan
Membekas tanpa tanda, tertinggal tanpa tapak

Apa makna dari semua ini
Hingga tak dapat kurasakan getaran sesaat jiwanya dalam tubuhku?


Alamku

Gemerlap gemerlip mentari
Dedaunan bergoyang bebas
Kadang diam tersipu malu dengan pantulan cahaya biru
Dedaunan tetap kokoh berdiri menutupi panas mentari yang memaparkan kesejukannya
Merangkai jutaan warna, menyinari dinginnya hari

Tersenyum kekuningan pun ada, hanya pasrah menanti aliran kasih
Jalinan kasih tak sempurna tak seperti harapan
Adakah yang bersahabat melalui aliran kasih itu


Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 6 Lanjut...

Wadas Kasih

Cerpen Robert Lefteuw

"SERINGKALI sebuah tempat dimana cinta bertumbuh untuk pertama kalinya dikenang selalu oleh orang yang mengalaminya. Dalam perjalanan cinta itu, ada tawa dan canda, pahit getir, air mata. Anehnya manusia terus menjalaninya. Mungkin pula ia berupa kalung yang berwarna-warni.

Kalung cinta itulah yang menjadi khas dan misterius dan hanya bisa dilihat oleh mata cinta, milik sang kekasih. Entahlah keindahan misterius yang terhias pada titik spektrum retina dan kornea sang kekasih untuk menatap hal yang tak ditatap oleh mata-mata lainnya. Keindahan pulalah yang mengundang seorang jejaka atau seorang gadis berkomitmen untuk menjadi satu..."

"Wah... kata-katamu semakin puitis Pres," ungkap Maureen sahabatku. Sejenak pembicaraan kami terhenti. Sering kami saling menatap, tapi kuarahkan pandanganku ke laut untuk menetralkan gelora yang memberontak dalam dadaku. Tatapan itu kembali. Tak ada rasa malu atau salah tingkah di sana. Ada damai dan cinta yang tersimpul dalam getaran dan gejolak nurani. Entahlah, aku bisa mengontrol hasratku dan tampaknya Maureen pun demikian. Ia pandai mengawasi perasaan-perasaannya. Ia semakin dewasa, cantik dan penuh cinta.

Di atas wadas ini kuhabiskan masa kecilku. Bersama teman-teman, tak mengenal pria atau wanita, mandi bertelanjang dada di kala air pasang dan bermain rumah-rumahan di kala air surut. Bertolak-tolakan, kejar-kejaran, bermain petak umpet. Ingus yang mengalir ditarik masuk ke peraduannya. Sebagian digosok dengan tangan dan membentuk gumpalan kering; tertempel pada pipi bak peta Indonesia. Sering dipukul, dilarang, ditakuti dengan cerita hantu laut oleh orangtua, tapi kami tak bergeming. Dunia anak-anak, only get pleasure, ungkap Sigmun Freud.

Kukembalikan memoriku pada saat ini. Itu hanya masa lalu. Tanpa sadar, sudah dua jam pergi. Aku dan Maureen masih bernostalgia tentang masa kecil kami yang indah. Di atas wadas ini, tampak keindahan alam yang suasananya dirancang oleh tangan perkasa dan seni milik Yang Kuasa. Mentari semakin menghilang. Berkas-berkas keemasannya masih tertempel di ufuk barat. Angin senja mengundang beberapa nelayan, mengayuh sampannya, melebarkan jalannya, membanting tulang, mengais rezeki di kedalaman gelora laut.

Semburan ombak yang menampar tepi wadas itu mulai berkurang. Riak-riaknya masih tertawan pada celah batu yang mulai menua.
Sebentar lagi air akan surut. Sekelompok camar mengepakkan sayapnya pada hempasan angin senja, sesekali mengitari bibir teluk dan menghilang di ujung tanjung. Mungkin, mereka sengaja berterbangan, untuk menyaksikan drama cinta yang sebentar lagi terpaku dalam keabadiaan cinta itu sendiri.

"Woiii... bran-bran, mdo vo tnem na'a met ratan e, s'u rdok malitat ya..." (Wahai kaum Adam, marilah kita ke laut, air telah surut dan ulat laut telah buka gigi)
"Eh... vat-vat, mbir mencar sian, mstanuk mu jago, am fikir ne im vat-vat ma amdo vo it besa tnem" (Eh kaum Hawa, kerjamu hanya itu ko geger tapi karena belas kasihan, maka pasti kami akan pergi juga).

Mdo fo ba ne, vuan nloi yak ya. Mlas nam wahid ne mturuk mu laai braan (Marilah sesat lagi bula akan nampak jangan omong kosong, tunjukanlah kejantananmu).
Demikianlah potongan pantun adat yang biasa dibawakan pasangan pria dan wanita. Mereka saling mengundang untuk mesra.

Terdengar dari kejauhan bunyi gong dan rebana seruling dan yel-yelnya anak muda.
Maureen menatapku sambil tersenyum indah. Kubalas senyuman itu dengan special style yang telah terlatih di depan cermin. Kami tersenyum bangga menatap warisan leluhur yang masih terpelihara. Sementara obor-obor dan pelita menampakkan redup cahayanya menghias pantai. Indah sekali terdengar tertawa lepas dan ejekan tanpa melukai.

"Kuuuur ... eh su'e, waham ngorai tapi ya laai braan r'liik hauk o imme" (Kuuur... o ulat laut wajahmu kotor tubuhmu halus tapi para pria perkasa mencarimu).
"Eh.... vat-vat ngeer a, r'stanuk rir beben malit ne hir s'no if 'su mbatang mwaat wahid' (Eh, dasar mulut hawa, geger dengan kerja buruk gini. Padahal mereka yang mengundang kita, ulat laut jangan percaya).

Mereka saling mengejek di bawah senja obor. Konon binatang ini muncul pada bulan-bulan tertentu. Tapi begitu melihat munculnya sang purnama binatang ini menghilang.

Mungkin mereka takut pada pucat pijarnya sang ratu malam atau malu menatapnya. Yang jelas, mereka sedang dimangsa manusia, dari berbagai lapisan. Kakek nenek tertawa ompong mengenang masa jayanya dan meninggalkan kebijaksaan kepada anak cucunya. Suami istri saling menolong memperteguh cinta yang telah dimeteraikan. Remaja dan muda-mudi saling mengejek mencari objek ejekannya yang adalah juga bekal belahan jiwanya. Anak-anak hanya ikut ramai. Polos.
"Lantas aku dan kamu?" gumamku membatin. Rupanya Maureen membaca isi hatiku dan berujar.


"Pres, kamu melamun yach?"
"Ah tid ... dak. Presley namaku disingkat dari Petrus Luciet. Petrus mengandung unsur ilahiku, sementara Luciet yang manusianya. Sebaliknya Maureen tersingkat dari Maria Regni. Kami berpisah sejak kerusuhan Maluku. Bertemu kelas 3 SMP dan malam ini bertemu untuk terakhir kali kelas 3 SMA di Ambon." Maureen berujar.

"Di atas wadas ini kuhabiskan masa kecilku bersamamu, bersama teman-teman lainnya. Kuingin kembali ke masa itu tapi itu hanya tindakan konyol yang menguasai energi hidup. Masa indah tertawa ria, bertolak-tolakan tak kenal lelah. Dunia penuh kepolosan, tak ada manipulasi cinta. Tapi di atas wadas inilah kutemukan diriku. Di kala decak riak progesteron dan astrogen menuntutku untuk meninggalkan kepolosan itu. Tak bisa mandi bertelanjang dada dan sebagainya. Dan di atas wadas ini ... kupahami apa itu cinta. Cinta pertama, cinta monyet tapi abadi, erotis tapi agape. Dan cinta itulah kamu Pres. "

***
Sang purnama tersenyum lesu. Menampakkan dirinya sebagai penguasa malam. Lesu pijarannya mengusir ulat laut beserta pemangsanya. Pucat-pucatnya pun terpantul ke permukaan laut, membentuk warna-warna keemasan. Sementara nelayan masih terus membanting jala, mengepung kawanan ikan yang menjadi predator ulat laut. Riuh rendah suara mereka terekam pada pipi tebing dan gemanya memantul pada setiap pojok tak terkecuali wadas kokoh itu.

Kugenggam jemari Maureen. Ia mendekatiku dan lekat erat di pangkuanku. Dilepaskannya genggaman itu, jemarinya menyisir rambutku.
"Di atas wadas ini kutemukan diriku. Aku yang adalah aku untuk yang lain. Berbeda tapi satu! Yah, satu dalam cinta. Cinta itulah yang mengubah segalanya. Yang mungkin menjadi tak mungkin dan yang tak mungkin menjadi mungkin, ia hadir dalam diri manusia, sehingga terciptalah komitmen untuk bersatu entah dengan sesamanya, maupun Tuhannya.

Ia menggairahkan, penuh kekuatan, menantang, namun kegagalan perjalanannya bisa meledakkan pribadi manusia. Lihatlah... banyak gadis yang hamil di luar sana, jalan pintasnya aborsi. Banyak jejaka yang rusak seperti kepalang basah, menjejali setiap pojok kehidupan untuk menemukan jati diriya. Banyak rumah yang hancur (broken home) tak lupa pula para religius, biarawan-biarawati yang menanggalkan jubahnya. Pokoknya ada seribu satu cerita yang mengungkapkan kegagalan cinta. Mungkin mereka tak meletakkan fondasi cinta mereka pada wadas kasih."
"Lalu kamu?" tanya Maureen.

"Aku pun hampir tumbang. Sekalipun berada di lembaga suci yang mengingkari persetubuhan, aku tetap pria normal yang punya rasa tertarik seksual pada kaummu. Aku pun telah berulang-ulang jatuh cinta. Tapi satu yang unik. Ia cantik, pintar dan juga baik. Sangat tulus menemani. Menurutku, ia wanita yang sempurna. Wajahnya yang indah, emailnya yang tertata rapi, lekukan tubuhnya yang bak gitar spanyol. Dengan dia kurasa surga telah kumiliki. Aku begitu damai. Tapi satu hari ia datang dan memutuskan menjadi seorang suster."

"Oh ya? Aku juga!" wajahnya tempak cemburu.
"Dan gadis itulah yang duduk di pangkuanku saat ini. Kamu sayang." Maureen meletakkan kepalanya di dada bidangku sambil berbisik. "Pres, kok kami begitu cepat untuk mengambil keputusan menjadi imam? Sejujurnya dalam kalbumulah kuletakkan sejuta harapan tentang hidupku, hidupmu dan hidup anak-anak kita. Tapi karena keputusanmu akhirnya akupun memutuskan untuk menjadi biarawati."

"Yah, biarlah benang-benang cinta yang telah kita jalin untuk menjadi tenunan pengantin, dilebur dalam guratan-guratan kasih suci. Relakanlah tenunan itu menjadi jubah suci pembungkus kerapuhan Luciet dan Regni," kataku lirih tapi pasti.
"Maureen, di atas wadas ini kuletakkan dasar cintaku.

Tapi akhirnya kuputuskan cinta itu. Kubangun cinta abadi dalam wadas yang kokoh. Sayang... coba kamu lihat. Wadas ini walau diterjang badai, dihempas angin, diberondong hujan, dihantam panas terik, dan meski dimakan usia, dia terus tegar. Mungkin dalam kebisuannya, ia menyimpan kisah cinta anak manusia, dari kepolosan menuju cinta duniawi dan bermuara pada cinta sejati."

Kurangkul dia, kukecup bibirnya yang ranum merekah untuk terakhir kalinya. Ia meraung, tangisnya pecah, sesenggukan dalam pelukanku. Namun kusadari cinta tak berarti memiliki. Kami menatap rembulan, sinarnya terang benderang, hingga bayangan dua sejoli terukir di pasir bak dipahat pemahat Agung. Air kembali pasang. Deru angin darat merangsang gelombang menampar tepi wadas. Kupeluk Maureen dengan kasih, cinta seorang sahabat.

Di atas wadas ini, kuakhiri petualangan cinta di dunia ini, selamat jalan Maureen, biarlah cinta Kristus yang meneguhkan kita. Di atas wadas ini, Kristus akan mendirikan jemaatNya dan alam maut tak akan menguasaiNya.

Lembah Klausura Bogenga, Oktober 2009


Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 06 Lanjut...

Puisi-puisi Vicktor Feka

Hidup dan Kehidupan

Tatkala dunia membenci
tataplah pada kata
kata hati
nyanyian jiwa

Tatkala syahdu nyanyian rindu
menggelantun penuh tawa
canda nan tenggelam
lalu hinggap di dahan
antara cinta dan bahasa

aku termangu...
sekilas mataku berbinar
meratapi sunyi dan sepi
bergelut bersama sedih dan pedih
merinding...
mengatup jiwaku

Oh...
melambai asa tak kubiarkan
menimbang impian kusambung
terpaut pada tatapan yang kelam
membuatku tersadar
bahwa ini adalah hidup dan kehidupan.


Tanyaku

Di tengah pekatnya atmosfer jagad ini
di tengah derasnya arus politik
kududuk sendiri dalam kesepian
merenung roda kehidupan nan kian berputar
mengiringku pada sebuah realita dan fenomena
rotasi politik dan kepemimipinan

Genta Pileg t'lah bergema
syair-syair pileg t'lah dilantunkan
membangunkanku dari impian dan utopia
menatap hari esok
sembari bertanya dalam kalbu
apa suratan takdir bumi flobamora ini
lima tahun di hari esok?

Para politisi t'lah bergencar melewati rimba politik
menerobosi karang dan semak belukar
menebar pesona bahasa dengan segurat janji
menyulap sajak-sajak atraktif
memikat rakyat dengan performa
tuk dapat tahta dan mahkota
dasi dan jas politik
dalam istana perwakilan terhormat

meski kelak sekedar duduk berlipat tangan
di atas singgasana nan empuk
membuatnya terlelap dan terlahap
dalam bui hedonistis nan menawan
tanpa menengok mereka nan kian berlinang
air mata ketakadilan dan kesewenang-wenangan

Ada sebuah tanya dalam sukmaku
apa nurani mereka nan tak kuasa bersuara
kan disuarakan kelak?
apa suara mereka nan tercecer
kan dikumpulkan kelak?
apa kan jadi titian aspirasi?

Biarlah mereka nan punya tahta
menjawab s'mua tanyaku
dalam aksi nyata di hari esok.



Puisi Yos T.
Perempuan Tua Itu


Wajah itu entah kapan pernah kulihat
Suatu ketika
Ada serpihan kenyataan yang berputar-putar
Menghadirkan beberapa guratan teduh wajah itu
Perempuan tua itu
Entahkah ia saudaraku?

Kuhentikan sejenak langkahku untuk menoleh
Menemukan alibi untuk terbang elang yang hanya sekepak siang tadi
Kutemukan kembali guratan-guratan bening wajah itu
Perempuan tua itu
Di antara ceceran-ceceran kenangan
Simfoni-simfoni nostalgia
Tapi nada itu diam tak berlagu
Ahhà
Bingkai tua itu membungkusnya terlalu keras
Adakah ia nyaman di sana?

Sepuluh tahun itu kemarin yang tidak sedikit
Tapi ia masih ada
Perempuan tua itu
Butiran-butiran keringat masih menetes menyisakan kecantikan
Ia masih seperti dulu
Tak kulihat terik matahari menghanguskannya, memerihkan hatinya
Tak kudengar kilat guntur mengejutkannya
Mengalihkannya dari ingatan
Menjauhkannya dari kerinduan, dari pergulatan pikirannya,
Tentang anaknya?

Masih khusuk ia bersujud
Seakan bercakap ia dengan seseorang
Apa yang ia lakukan?
Mungkinkah ia sedang berdoa pada Tuhannya?
Tapi untuk siapa ia berdoa?
Untuk anaknya?

Adakah Tuhan di sana untuknya?

Ingin kudekati perempuan tua itu
Menanyakan di mana anaknya
Mencari dan membawanya pulang untuknya
Mendekapnya, memanggilnya ibu!

Entahkah ia masih mengenal anaknya?
(Untuk sang ibu)

Pos Kupang Minggu, 13 Desember 2009, halaman 06 Lanjut...

Manatika: Pereratkan Persaudaraan


POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
BERTARUNG--Dua petarung Manatika, Gabriel Kolo (Desa Haumeni) bertarung melawan Marsel Obe (Desa Tes). Keduanya bertarung dengan cara saling menendang tungkai kaki lawan.


MATA semua orang tidak berkedip ketika dua pria dewasa naik ke atas arena berbentuk ring tinju. Keduanya tidak mengenakan baju. Cuma bertelanjang dada. Tulang rusuk menyembul, membuat penonton ketawa nyengir. Tanpa sepatu dan hanya mengenakan bete (selimut tradisional), untuk menutup auratnya. Tampak juga sabuk selebar telapak tangan, dililitkan di pinggang untuk mengencangkan ikatan bete di pinggang.

Ring tinju seluas 4 x 4 meter, cuma dibatasi ikatan tali nilon berwarna biru. Dua pria ini, masing-masing bernama Gabriel Kolo (Desa Haumeni) dan Marsel Obe (Desa Tes). Usia mereka sekitar 50 tahun ke atas. Bahkan gigi depan Kolo sudah tanggal sebagian, membuat Kolo seperti kakek tua. Meski demikian Kolo tampil percaya diri. Matanya menatap tajam tanpa berkedip sedikit pun.

Kedua pria ini akan menunjukkan ketrampilan olah raga beladiri tradisional, mirip kick boxing. Tinju tradisional ini disebut dengan istilah Manatika. Tradisi tinju tradisional ini cuma ada di sejumlah desa di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Kedua pria ini berkelahi hanya dengan cara saling menendang kaki lawannya. Tidak menggunakan tangan atau tinjunya. Sasaran tendangan hanyalah tungkai kaki bawah (betis dan sekitarnya) serta tungkai kaki atas, yaitu paha. Pantat, kemaluan dan badan, apalagi kepala dilarang keras `disentuh'.

Sedangkan wasit yang memimpin pertandingan dijuluki dengan nama Apaot Mat Panat (menjaga dan melindungi). Tugas wasit menjaga agar dua petarung Manatika tidak keluar dari arena atau ring tinju, melerai bila kedua petarung `terbawa emosi' lalu lepas kendali.

Selain itu, memberi peringatan keras kepada petarung bila melanggar larangan, seperti menendang pantat, kemaluan atau badan lawannya. Juga menghentikan pertarungan itu, bila salah satu petarung mengalami luka, pincang kakinya atau terjatuh dan tidak bias melanjutkan pertarungan.

Pertarungan berlangsung tiga ronde. Dan setiap ronde diberi jatah waktu tiga menit. Plus dua menit untuk jedah atau istirahat. Ada petugas yang mengawasi waktu, yaitu memukul gong tanda mulai bertarung atau berhenti. Ada juga yang ditugaskan untuk mencatat berapa kali seorang petarung berhasil menendang kaki lawannya. Sedangkan penonton berdiri mengelilingi ring, menyoraki (bahas dawan:koa) petarung yang dijagokannya sehingga suasana sangat ramai.

Minuman Alkohol Tradisional
Hadiah yang diperebutkan, bukan piala, bulan piagam, bukan uang dan bukan sabuk juara seperti di tinju profesional. Hadiah yang diperebutkan hanyalah Tua Botel Mese atau sebotol sopi (arak tradisional Timor ). Tua Botel Mese ini tidak boleh dibawa pulang oleh sang petarung yang menang, tetapi diminum bersama antara petarung yang kalah dengan petarung yang menang bersama penonton.

"Jadi, Manatika dipertandingkan sebagai hiburan rakyat, sebenarnya memiliki misi untuk mempererat persatuan, persaudaraan, tenggang rasa antar warga, baik antar desa atau kecamatan. Juga untuk memupuk sikap sportivitas dan sarana untuk melatih dan mengendalikan emosi," jelas Nikodemus Nule, tokoh adat dari Napan, Miomaffo Timur. Nule sering mendapat order sebagai Apaot Mat Panat bila ada pertarungan Manatika antar desa/kelurahan atau antar RT/RW di Miomaffo Timur.

Usai Kerja Bakti
Manatika, kata Nule, digelar usai kerja bhakti atau gotong royong di tingkat RT, desa atau kecamatan. Misalnya, kerja bhakti membuka jalan raya atau jalan desa, gotong royong membuka ladang atau tanah sawah, panen raya di sawah atau ladang jagung, membangun lopo (rumah bulat berbentuk sarang lebah), atau ritus adat dan kesenian tradisional lainnya.

Nule mengungkapkan, kini Manatika nyaris hilang dan punah. Sebab jarang dipertandingkan. "Sekarang usai kerja gotong royong, warga dihibur dengan musik, memutar tape recorder atau memainkan alat musik seperti organ atau piano listrik. Kebiasaan ini menggeser budaya manatika hingga hamper punah," kata Nule.

Ia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Robert Tanur, pengusaha hotel di Kota Kefamenanu, yang mensponsori pertandingan Manatika di kegiatan Pameran Pembangunan dalam Rangka HUT ke-87 Kota Kefamenanu, September 2009 lalu. "Pada saat itu orang baru sadar bahwa ternyata tradisi tinju tradisional Manatika pernah ada dan sangat digemari. Bupati TTU dan aparat pemerintah mulai menaruh perhatian serius dan memerintah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menjadikan Manatika sebagai salah satu asset pariwisata yang layak dijual," kata Nule.



Meski gembira atas sambutan pemerintah itu, Nule mengingatkan agar Manatika dihidupkan kembali di setiap desa ketika ada kegiatan gotong royong dan kerja bhakti. "Biar nilai religisiotas dan pesan moral dari olahraga tradisional itu tetap hidup secara wajar, bukan dipaksa hidup karena ingin `dijual' di depan mata para wisatawan asing. Kita ingin pesan moral dari tradisi bertinju tradisional itu tetap hidup di desa dan tinggal dalam hati warga desa," katanya mengingatkan. (ade)

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 11 Lanjut...

Bonet, Tradisi Yang Terlupakan


Istimewa
BONET--Anak-anak menarikan bonet dalam lomba promosi perilaku hidup bersih dan sehat di Arena Puspenmas SoE, Senin (18/5/2009) lalu.



BONET bukanlah istilah asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bonet sudah menjadi tradisi lisan turun temurun dari nenek moyang orang Timor sejak dahulu kala. Lewat bonet masyarakat dapat mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan melalui syair dan pantun pada upacara-upacara adat.

Warisan budaya ini juga menjadi salah bagian satu sastra lisan yang mewarnai budaya Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam penelitian tentang sastra lisan Dawan, Tarno dan teman- temannya (1993) dalam bukunya Sastra Lisan Dawan mendeskripsikan empat jenis sastra lisan Dawan, yakni bonet, heta, tonis dan nu'u.

Bonet adalah jenis tuturan berirama atau puisi lisan yang seringkali dilagukan. Tuturan membentuk satuan-satuan berupa penggalan yang ditandai dengan jeda. Satuan-satuan ini membentuk bait atau kuplet. Jumlah larik tidak selalu sama. Ciri lainnya adalah pengulangan bentuk.

Berdasarkan isi dan fungsinya, bonet dibedakan atas empat jenis, yakni boennitu (puji-pujian kepada arwah), boen ba'e (puji-pujian dalam suasana ceria: kelahiran olen, menimang anak ko'an, penyambutan tamu futmanu-safemanu), dan nyanyian kerja (boenmepu).

Heta juga merupakan sejenis puisi lisan Dawan, yang ditinjau dari segi struktur mirip dengan bonet. Jika bonet termasuk puisi ritual formal yang dinyanyikan dalam upacara adat, maka heta merupakan puisi lisan yang dituturkan dalam suasana santai tanpa dilagukan. Heta terdiri dari teka-teki (tekab) dan peribahasa.

Tonis merupakan ragam bahasa adat, sehingga penuturan tonis selalu dalam rangka adat. Tonis merupakan jenis sastra lisan Dawan yang diungkapkan dalam bentuk bahasa berirama (puisi) yang berbau prosa teratur (prosa lirik).

Tonis terjalin dalam bentuk pasangan kata dalam larik dan bait-bait paralel yang berulang secara teratur. Seperti: Auni mnanu//kue mnanu, 'tombak panjang//kuku panjang' yang mengiaskan pejuang. Berdasarkan isinya, tonis dapat dibedakan atas dua jenis, yakni tonis pah (puisi yang berkaitan dengan leluhur) dan tonis lasi (puisi yang membicarakan masalah-masalah sosial).

Nu'u merupakan jenis prosa rakyat yang dituturkan dalam bahasa sehari-hari. Dalam masyarakat Dawan terdapat dua jenis nu'u, yakni nu'u yang hanya boleh dituturkan oleh tonis karena berkaitan dengan kebenaran hukum adat dan kesejarahannya, dan nu'u biasa, yang dituturkan oleh siapa saja, yang biasanya berupa cerita-cerita rakyat.

Dari empat jenis sastra lisan tersebut, bonet mungkin populer dan masih dikenal warga TTS hingga sekarang. Kendati demikian, beragamnya jenis bonet tidak pernah ditumpahkan dalam satu buku atau tulisan seperti puisi dan prosa zaman sekarang.

Untuk berbonet, sekumpulan orang melakukan aksi menari dengan membentuk lingkaran, di mana satu dengan lainnya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair-syair yang biasanya memiliki rima mengulang. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan dipercaya masyarakat TTS melambangkan persatuan dan kesatuan tiga suku di kabupaten ini, yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo.

Tema bonet pun beraneka ragam. Tergantung usia dan kalangan pemainnya. Ada bonet untuk anak-anak, muda-mudi, dan para orang tua.

Meski beraneka ragam temanya, lambat laun gaung bonet semakin pudar di Kabupaten TTS. Masuknya budaya pop lewat media televisi, radio dan hiburan baru menjadikan keberadaan bonet mulai terlupakan di TTS.

Bila dahulu acara perkawinan, peresmian dan perhelatan selalu disuguhi bonet, kini tak ada lagi. Warga lebih memilih bergoyang dengan musik hip-hop, dansa, karaoke sambil berjingkrak-jingkrak untuk menghabiskan malam perhelatan suatu acara. Entah hal itu disadari atau tidak tetapi bonet tak lagi dipakai sebagai acara favorit pemilik hajatan.


"Kalau dulu acara bonet paling ditunggu masyarakat saat satu perhelatan tiba. Bahkan satu hari sebelum hari pasar tiba, kami warga di desa sudah berbonet ria hingga larut malam. Dan pesertanya pun tidak hanya dari warga yang berada di dekat pasar tetapi berbagai penjuru asalnya," ujar Kasubsi Pengembang dan Penggerak Budaya Dinas Budaya dan Parawisata TTS, Hengky Taopan, kepada Pos Kupang.

Menurut Taopan, pesan dalam satu bonet tidaklah panjang lebar. Singkat dan padat. Ia mencontohkan sebuah bonet yang berpesan mengajak masyarakat untuk menanam kapas. Pasalnya, banyak orang yang lebih suka memakai celana jeans dan rok dan melupakan mengenakan selimut dan kebaya.

Taopan menuturkan, pesan-pesan yang disampaikan lewat bonet lebih mengena dan mudah dipahami masyarakat TTS. Dengan demikian materi apa saja yang disampaikan dalam bonet akan terus diingat masyarakat hingga berada di rumah.

Tak beda dengan Taopan, pemilik Sanggar Seni Olita, Andreas Nenokeba, menyatakan, budaya bonet tak lagi menggema di pelosok wilayah TTS. Meski sebagian masyarakat yang berumur masih bisa melakukan, tetapi bonet jarang lagi 'melantai' dan bergaung di bumi TTS.

"Di kampung-kampung bonet tidak ada lagi. Acara-acara seperti pernikahan dan perhelatan lainnya pun tak lagi ada suguhan bonet. Terkecuali ada acara pemerintah yang mengundang pejabat teras baru digelar bonet," ujar Nenokeba sambil menyatakan perkiraannya bonet tak lagi menjadi pertunjukan masyarakat TTS memasuki tahun 1980-an.

Terlepas dari mulai punahnya bonet di TTS, sejatinya bonet dapat dijadikan sebagai media yang taktis bagi pemerintah. Lewat bonet pemerintah dapat menyampaikan pesan-pesan pembangunan yang menjadi prioritas pemimpin TTS. Melalui bonet pula, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk berperilaku sehat, hidup bersih sehingga terhindar dari kejadian luar biasa seperti busung lapar, gizi buruk, diare dan makan daging sapi mati.

Beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan TTS bekerja sama Unicef, Plan International Program Unit SoE, Care International, ACF, CWS, Pro Air dan Pamsimas menyelenggarakan lomba bonet tingkat sekolah dasar. Temanya tentang promosi perilaku hidup bersih dan sehat.

Meski sekadar lomba, perhelatan ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, setiap peserta dipacu untuk membuat syair-syair dan pantun yang berisi tentang air bersih, cuci tangan paka sabun, jamban, sampah, makanan dan minuman yang siap saji harus ditutup hingga gerakan 3 M.

Tak hanya Dinkes, Dinas Budaya dan Pariwisata juga menggelar lomba seni tari dan bonet se-Kabupaten TTS. Lomba itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya warisan leluhur masyarakat TTS agar tidak punah di muka bumi.

Berbeda dengan kampanye gaya pemerintah yang asing di telinga masyarakat, pesan dan kata-kata dalam bonet jauh lebih kena di telinga masyarakat. Bonet dengan kata-kata yang dilontarkan dalam rajutan pantun dan syair dalam akan mudah diingat, dipahami dan dihayati.

Apalagi tarian bonet yang merekatkan satu tangan dengan tangan lainnya dalam bentuk barisan akan membawa suasana keriangan pelakunya. Tak pelak, kegembiraan suasana menjadikan masyarakat yang berada dalam satu lingkaran bonet selalu mengingat kata-kata yang disampaikan pelantun syair.

Budaya sastra lisan seperti bonet sebenarnya dapat dijadikan alternatif menyampaikan apa yang menjadi program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Keadiluhungan bonet menjadikan apa yang disampaikan dalam syair-syairnya itu mudah mengalir dalam alam pikiran warga TTS.

Ketersentuhan nurani masyarakat terhadap sastra tersebut menjadikan bonet menjadi kata kunci budaya yang dapat dijadikan ujung tombak penyampai pesan program pemerintah pembangunan terhadap warga. (muhlis al alawi)

Pos Kupang Minggu, 20 Desember 2009, halaman 11 Lanjut...

Bonet, Tradisi Yang Terlupakan

Istimewa
BONET--Anak-anak menarikan bonet dalam lomba promosi perilaku hidup bersih dan sehat di Arena Puspenmas SoE, Senin (18/5/2009) lalu.


BONET bukanlah istilah asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bonet sudah menjadi tradisi lisan turun temurun dari nenek moyang orang Timor sejak dahulu kala. Lewat bonet masyarakat dapat mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan melalui syair dan pantun pada upacara-upacara adat.

Warisan budaya ini juga menjadi salah bagian satu sastra lisan yang mewarnai budaya Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam penelitian tentang sastra lisan Dawan, Tarno dan teman- temannya (1993) dalam bukunya Sastra Lisan Dawan mendeskripsikan empat jenis sastra lisan Dawan, yakni bonet, heta, tonis dan nu'u.

Bonet adalah jenis tuturan berirama atau puisi lisan yang seringkali dilagukan. Tuturan membentuk satuan-satuan berupa penggalan yang ditandai dengan jeda. Satuan-satuan ini membentuk bait atau kuplet. Jumlah larik tidak selalu sama. Ciri lainnya adalah pengulangan bentuk.

Berdasarkan isi dan fungsinya, bonet dibedakan atas empat jenis, yakni boennitu (puji-pujian kepada arwah), boen ba'e (puji-pujian dalam suasana ceria: kelahiran olen, menimang anak ko'an, penyambutan tamu futmanu-safemanu), dan nyanyian kerja (boenmepu).

Heta juga merupakan sejenis puisi lisan Dawan, yang ditinjau dari segi struktur mirip dengan bonet. Jika bonet termasuk puisi ritual formal yang dinyanyikan dalam upacara adat, maka heta merupakan puisi lisan yang dituturkan dalam suasana santai tanpa dilagukan. Heta terdiri dari teka-teki (tekab) dan peribahasa.

Tonis merupakan ragam bahasa adat, sehingga penuturan tonis selalu dalam rangka adat. Tonis merupakan jenis sastra lisan Dawan yang diungkapkan dalam bentuk bahasa berirama (puisi) yang berbau prosa teratur (prosa lirik).

Tonis terjalin dalam bentuk pasangan kata dalam larik dan bait-bait paralel yang berulang secara teratur. Seperti: Auni mnanu//kue mnanu, 'tombak panjang//kuku panjang' yang mengiaskan pejuang. Berdasarkan isinya, tonis dapat dibedakan atas dua jenis, yakni tonis pah (puisi yang berkaitan dengan leluhur) dan tonis lasi (puisi yang membicarakan masalah-masalah sosial).

Nu'u merupakan jenis prosa rakyat yang dituturkan dalam bahasa sehari-hari. Dalam masyarakat Dawan terdapat dua jenis nu'u, yakni nu'u yang hanya boleh dituturkan oleh tonis karena berkaitan dengan kebenaran hukum adat dan kesejarahannya, dan nu'u biasa, yang dituturkan oleh siapa saja, yang biasanya berupa cerita-cerita rakyat.

Dari empat jenis sastra lisan tersebut, bonet mungkin populer dan masih dikenal warga TTS hingga sekarang. Kendati demikian, beragamnya jenis bonet tidak pernah ditumpahkan dalam satu buku atau tulisan seperti puisi dan prosa zaman sekarang.

Untuk berbonet, sekumpulan orang melakukan aksi menari dengan membentuk lingkaran, di mana satu dengan lainnya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair-syair yang biasanya memiliki rima mengulang. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan dipercaya masyarakat TTS melambangkan persatuan dan kesatuan tiga suku di kabupaten ini, yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo.

Tema bonet pun beraneka ragam. Tergantung usia dan kalangan pemainnya. Ada bonet untuk anak-anak, muda-mudi, dan para orang tua.

Meski beraneka ragam temanya, lambat laun gaung bonet semakin pudar di Kabupaten TTS. Masuknya budaya pop lewat media televisi, radio dan hiburan baru menjadikan keberadaan bonet mulai terlupakan di TTS.

Bila dahulu acara perkawinan, peresmian dan perhelatan selalu disuguhi bonet, kini tak ada lagi. Warga lebih memilih bergoyang dengan musik hip-hop, dansa, karaoke sambil berjingkrak-jingkrak untuk menghabiskan malam perhelatan suatu acara. Entah hal itu disadari atau tidak tetapi bonet tak lagi dipakai sebagai acara favorit pemilik hajatan.


"Kalau dulu acara bonet paling ditunggu masyarakat saat satu perhelatan tiba. Bahkan satu hari sebelum hari pasar tiba, kami warga di desa sudah berbonet ria hingga larut malam. Dan pesertanya pun tidak hanya dari warga yang berada di dekat pasar tetapi berbagai penjuru asalnya," ujar Kasubsi Pengembang dan Penggerak Budaya Dinas Budaya dan Parawisata TTS, Hengky Taopan, kepada Pos Kupang.

Menurut Taopan, pesan dalam satu bonet tidaklah panjang lebar. Singkat dan padat. Ia mencontohkan sebuah bonet yang berpesan mengajak masyarakat untuk menanam kapas. Pasalnya, banyak orang yang lebih suka memakai celana jeans dan rok dan melupakan mengenakan selimut dan kebaya.

Taopan menuturkan, pesan-pesan yang disampaikan lewat bonet lebih mengena dan mudah dipahami masyarakat TTS. Dengan demikian materi apa saja yang disampaikan dalam bonet akan terus diingat masyarakat hingga berada di rumah.

Tak beda dengan Taopan, pemilik Sanggar Seni Olita, Andreas Nenokeba, menyatakan, budaya bonet tak lagi menggema di pelosok wilayah TTS. Meski sebagian masyarakat yang berumur masih bisa melakukan, tetapi bonet jarang lagi 'melantai' dan bergaung di bumi TTS.

"Di kampung-kampung bonet tidak ada lagi. Acara-acara seperti pernikahan dan perhelatan lainnya pun tak lagi ada suguhan bonet. Terkecuali ada acara pemerintah yang mengundang pejabat teras baru digelar bonet," ujar Nenokeba sambil menyatakan perkiraannya bonet tak lagi menjadi pertunjukan masyarakat TTS memasuki tahun 1980-an.

Terlepas dari mulai punahnya bonet di TTS, sejatinya bonet dapat dijadikan sebagai media yang taktis bagi pemerintah. Lewat bonet pemerintah dapat menyampaikan pesan-pesan pembangunan yang menjadi prioritas pemimpin TTS. Melalui bonet pula, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk berperilaku sehat, hidup bersih sehingga terhindar dari kejadian luar biasa seperti busung lapar, gizi buruk, diare dan makan daging sapi mati.

Beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan TTS bekerja sama Unicef, Plan International Program Unit SoE, Care International, ACF, CWS, Pro Air dan Pamsimas menyelenggarakan lomba bonet tingkat sekolah dasar. Temanya tentang promosi perilaku hidup bersih dan sehat.

Meski sekadar lomba, perhelatan ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, setiap peserta dipacu untuk membuat syair-syair dan pantun yang berisi tentang air bersih, cuci tangan paka sabun, jamban, sampah, makanan dan minuman yang siap saji harus ditutup hingga gerakan 3 M.

Tak hanya Dinkes, Dinas Budaya dan Pariwisata juga menggelar lomba seni tari dan bonet se-Kabupaten TTS. Lomba itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya warisan leluhur masyarakat TTS agar tidak punah di muka bumi.

Berbeda dengan kampanye gaya pemerintah yang asing di telinga masyarakat, pesan dan kata-kata dalam bonet jauh lebih kena di telinga masyarakat. Bonet dengan kata-kata yang dilontarkan dalam rajutan pantun dan syair dalam akan mudah diingat, dipahami dan dihayati.

Apalagi tarian bonet yang merekatkan satu tangan dengan tangan lainnya dalam bentuk barisan akan membawa suasana keriangan pelakunya. Tak pelak, kegembiraan suasana menjadikan masyarakat yang berada dalam satu lingkaran bonet selalu mengingat kata-kata yang disampaikan pelantun syair.

Budaya sastra lisan seperti bonet sebenarnya dapat dijadikan alternatif menyampaikan apa yang menjadi program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Keadiluhungan bonet menjadikan apa yang disampaikan dalam syair-syairnya itu mudah mengalir dalam alam pikiran warga TTS.

Ketersentuhan nurani masyarakat terhadap sastra tersebut menjadikan bonet menjadi kata kunci budaya yang dapat dijadikan ujung tombak penyampai pesan program pemerintah pembangunan terhadap warga. (muhlis al alawi)

Pos Kupang Minggu, 20 Desember 2009, halaman 11 Lanjut...

Nenas, Jaga Hutan untuk Listrik


Foto Studio Driya Media
HUTAN--Hutan yang lestari selalu dijaga oleh masyarakat Desa Nenas agar air tetap tersedia


MALAM tidak lagi gelap gulita bagi masyarakat Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS. Mereka tidak lagi perlu merengek minta listrik kepada pemerintah. Sejak tahun 2004 lalu, kampung ini sudah benderang oleh cahaya listrik.

Yang luar biasa, listrik di wilayah ini bukan sambungan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Mereka berupaya sendiri dengan bantuan Pemerintah Kabupaten TTS. Tidak heran bila sebagian besar masyarakat telah memiliki dan menonton acara di televisi.

Desa yang berada sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut atau di sisi barat puncak Gunung Mutis yang merupakan gunung tertinggi di Timor Barat ini mengupayakan listrik dari sumber air yang ada di desa tersebut. Kepala Desa Nenas, Simon Sasi, yang ditemui di Studio Driya Media (SDM/LSM Lingkungan Hidup) Kupang Kupang, belum lama ini, menjelaskan, masyarakat desanya menikmati listrik dari pembangkit tenaga air milik desa.

Turbin yang ada di desa itu bisa menghasilkan tenaga listrik hingga 55 KVA. Dengan kapastitas yang ada, sebanyak 200 KK di wilayah desa ini bisa menikmati listrik.

Simon menguraikan, kehadiran listrik yang bersumber dari tenaga air tersebut bermula dari permohonan masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten TTS untuk memberikan satu unit pembangkit listrik tenaga air. Permintaan ini karena air di wilayah tersebut diyakini mampu membangkitkan energi listrik.

Setelah melalui proses uji kelayakan, maka Pemkab TTS melalui Dinas Pertambangan dan Energi membantu satu pembangkit tenaga air dan pemasangan jaringan listrik pada tahun 2004- 2005. Sejak saat itulah, listrik di Desa Nenas pun mulai menyala.

Simon menjelaskan, air penggerak turbin pembangkit listrik mencapai rata-rata 250 liter perdetik berasal dari air Kali Uni. Air dari sumber air ini dialirkan melalui pipa berukuran besar ke rumah turbin yang berjarak beberapa ratus meter. Tenaga air ini kemudian memutar turbin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Meskipun air untuk menggerakkan turbin mengalir sepanjang tahun, tog itu tidak menjadi jaminan listrik pun menyala terus menerus. Menurut Simon Sasi, listrik tenaga air ini hanya berlangsung hingga bulan Agustus saja. "Air yang ada ini mulai berkurang pada bulan Agustus, sehingga air lebih banyak dialirkan untuk kebutuhan pertanian masyarakat. Listrik kembali normal bila sudah memasuki musim hujan sekitar bulan Oktober," jelasnya.


Swadaya Desa
Masyarakat Desa Nenas menyadari listrik di desa mereka merupakan milik sendiri. Pemerintah Kabupaten TTS yang memberikan turbin pembangkit listrik tidak lagi mengatur dan membiayai operasional atau perawatan turbin, sehingga biaya operasional dan perawatan ditanggung oleh masyarakat desa Nenas.

Simon Sasi menjelaskan, biaya tersebut dibebankan pada masyarakat dalam bentuk iuran listrik bulanan. Setiap pelanggan atau rumah tangga di Desa Nenas berkewajiban membayar iuran listrik Rp 15 ribu per bulan. "Uang ini untuk biaya pemeliharaan dan operasional. Jadi untuk operasional dan perawatan menjadi swadaya masyarakat desa kami," jelas Simon.

Untuk operasional dan perawatan ini, masyarakat Desa Nenas juga sudah membentuk sebuah lembaga, yakni Badan Pengurus Listrik Desa (BPLD) Nenas. Badan ini terdiri dari tiga orang. Tugas badan ini selain mengoperasikan dan melakukan perawatan turbin, juga menerima dan mengelola iuran bulanan dari masyarakat.

Jadi semua kegiatan tentang kelistrikan di desa ini merupakan swadaya dari masyarakat. Bila terjadi hal-hal yang di luar kemampuan lembaga dan masyarakat desa ini, barulah minta bantuan dari pemerintah.

Menjaga Hutan
Masyarakat Desa Nenas menyadari bahwa listrik di desa mereka bersumber dari air. Ketersediaan air yang cukup berarti listrik tetap menyala, dan sebaliknya bila air berkurang, maka listrik akan padam.


Mereka juga sudah mengetahui dan sadar bahwa air yang ada di desa mereka berasal dari hutan di wilayah mereka dan sekitarnya. Karena itu, wajib hukumnya buat mereka tetap menjaga kelestarian hutan.

Simon Sasi menjelaskan, hutan di Desa Nenas juga masuk dalam kawasan Cagar Alam Mutis sehingga dilindungi oleh pemerintah. Meski demikian, masyarakat Desa Nenas juga memiliki hukum tersendiri untuk menjaga hutan mereka tetap lestari.

"Masyarakat kita sudah tahu fungsi hutan, mereka tahu kalau air ini ada karena hutan ini ada sehingga mereka sangat menjaga hutan. Tapi kami juga punya hukum adat supaya jangan ada orang yang masuk dan merusak hutan," jelas Simon.

Hukum adat yang ada di Desa Nenas antara lain mengultimatum barang siapa yang kedapatan menebang pohon dalam kawasan hutan atau mengambil kayu dalam hutan tersebut akan terkena sanksi adat berupa denda seperti membayar seekor babi, beras, uang dan beberapa sanksi lainnya. Barang-barang denda tersebut diserahkan dalam upacara adat.

Mungkin barang-barang ini tidak mahal. Namun warga Nenas tidak melihat dari nilai secara materil. Mereka malu luar biasa kalau mesti didenda. "Dari dulu memang tidak ada orang yang ambil kayu di hutan, karena mereka sudah sadar kalau ambil kayu akan dikenai sanksi adat. Tapi, masyarakat tidak merusak hutan bukan karena takut sanki adat, mereka tahu kalau hutan rusak, air juga akan hilang. Sementara pertanian di Nenas ini sangat tergantung pada air," jelas Simon.

Dari pihak desa juga terus memberikan pengertian pada masyarakat untuk tetap bersama menjaga hutan yang ada di desa tersebut sebab hanya dengan cara itulah, listrik di Desa Nenas akan tetap menyala sepanjang tahun.

Masyarakat Desa Nenas lebih beruntung dari desa-desa sekitarnya, sebab meski berada jauh di pedalaman Kabupaten TTS, namun listrik sudah menjadi bagian hidup mereka. Namun, hutan dan airlah yang memberi kontribusi bagi mereka tenaga listrik. (alfred dama)

Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 14 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
PASIR PANTAI--Pasir pantai yang ditambang di kawasan Pantai Alak ditumbun di tepi pantai itu, Rabu (8/12/2009).


PLAT besi berwarna abu-abu masih berdiri kokoh di tepi jalan M.Praja-Kelurahan Alak, Kecamatan Alak Kota Kupang. Plat berukuran satu meter persegi yang ditopang dua pipa yang berdiri tegak setinggi dua meter itu mulai berkarat sehingga tulisan di atas plat itu tidak kelihatan lagi secara jelas. Di atas plat tersebut bertuliskan Perda (Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2000 Dilarang Menggali dan Mengambil Batu, Pasir dan Kerikil di Pesisir Pantai.

Peringatan tersebut berada tepat di salah satu gudang peti kemas milik perusahaan swasta di Kota Kupang. Di samping plat tulisan itu, terdapat jalan masuk ke arah pantai. Berjalan sekitar 100 meter di jalan setapak berbatu dan melintasi pecahan beling bekas sampah, sudah langsung melihat pantai Teluk Kupang.

Pantai Alak yang bertepi karang curam dengan ketinggian sekitar satu hingga dua meter tersebut sangat mempesona. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa nelayan dan pemancing ikan sedang berusaha mendapatkan ikan di sekitar tempat itu. Riak ombak pun menambah semarang pantai yang berjarak sekitar lima Km dari Pelabuhan Tenau- Kupang itu. Keindahan Pantai Alak yang terlupakan oleh warga Kota Kupang ini.

Di antara keindahan itu, terdapat tumpukan-tumpukan pasir, batu karang dan kerikil sisa kerang kerang laut yang mati. Tumpukan pasir pantai yang berwarna putih ini tersebar di beberapa titik, bahkan ada tumpukan sisa-sisa pasir. Bahkan, tidak jauh dari tempat itu atau berada di kawasan wisata Gua Monyet Alak, semakin banyak sisa-ssa tumpukan pasir dengan diameter mencapai tiga hingga empat meter. Bahkan terdapat batu karang yang masih tertumpuk di tempat itu.

Tumpukan pasir, batu dan kerikil sangat ironis dengan pengumuman yang dipasang Pemerintah Kota Kupang tidak jauh dari tempat ini. Tumpukan tersebut mengindikasikan penambangan pasir di tempat itu masih terus berlangsung. Di tempat itu juga masih jelas jejak roda kendaraan truk yang masuk ke tempat itu untuk mengambil material pasir pantai dan batu karang serta sisa koral mati.

Beberapa warga yang ditemui di tempat itu mengatakan, tidak mengetahui pasti orang- orang yang menambang pasir di tempat itu. Sebab, aktivitas tambang tersebut tidak dilakukan setiap hari atau hanya waktu-waktu tertentu saja.

Pantauan Pos Kupang, di kawasan dekat gudang peti kemas, tidak terdapat aktivias, bahkan tempat itu sangat sepi meski ada tumpukan pasir. Pemandangan yang sama juga di kawasan wisata Gua Monyet Ala. Tak seorang pun yang melintas atau melakukan aktivitas di tempat itu kecuali ada beberapa pasang remaja yang bermesraan di tepi.

Informasi yang yang dihimpun, pasir pantai yang diambil dari tempat itu kemungkinan merupakan pesanan dari pihak lain untuk kepentingan bangunan atau keperluan olahraga misalnya untuk lapangan voly pantai (lapangan berpasir) sementara kerikil digunakan untuk memperindah taman di halaman rumah. Apapun tujuan pengambilan pasir pantai tersebut merupakan bentuk andil dalam merusak ekosistem dan alam pantai di tempat itu.

Luran Alak, Yohanes Adu melalui Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kota (PMK), Yulius Muda yang ditemui di Kantor Lurah Alak, Rabu (9/12/2009) mengatakan, pihaknya sebenarnya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di sepanjang pantai Alak tentang larangan pengambilan pasir, batu dan kerikil di tempat itu. Namun diakuinya juga bahwa aktivitas pengambilan pasir masih terus dilakukan.

"Pak lurah bersama aparat polisi juga sudah ke tempat pengambilan pasir itu, tapi tidak ketemu dengan masyarakat yang mengambil pasir," jelas Yulius. Kemungkinan para penambang pasir itu merupakan bukan warga Alak, sebab sejauh ini masyarakat di wilayah itu tidak pernah mengambil pasir.

Salah seorang staf kantor lurah menyebutkan, kemungkinan proses pengambilan pasir atau batu karang di wilayah itu dilakukan pada malam hari, sebab pihaknya belum pernah menemukan warga yang mengambil pasir tapi ada tumpukan pasir. Hal inilah yang membuat mereka kesulitas mengambil tindakan kepada warga.

Para pengambil pasir pada umumnya menambang di area dekat Gua Monyet Alak lalu ditimbun sementara di bibir pantai. Sebagian pasir itu kemudian dibawa menyusuri pantai berkarang untuk ditumpuk lagi dekat sebua gudang penampungan peti kemas. Dari sanalah, pasir tersebut diangkut keluar dari wilayah tersebut.

Meskipun petugas sudah maksimal, proses pengambilan pasir ini masih terus berlangsung. Tindakan tegas petugas harus benar-benar diwujudkan, bila tidak maka Perda Pemerintah Kota Kupang No 7 Tahun 2000 akan tetap dilanggar. (alf_dama@yahoo.com).

Pos Kupang Minggu, 13 Desember 2009, halaman 14 Lanjut...

Capt. Momi Surjatmoko


Pariwisata Cepat Dorong Ekonomi

TIDAK banyak orang, bahkan mungkin tidak ada orang, apalagi orang dari luar NTT yang setelah pensiun dari masa tugas sebagai pilot di Jakarta, mau mengabdi di NTT. Itu tidak berlaku bagi Capt. Momi Surjatmoko. Mantan pilot kepresidenan masa pemerintahan Soeharto ini, justru memilih NTT (Kupang) untuk menghabiskan masa pensiunnya.

Ketika menerbangkan pesawat Sky Liner mengantar Sesdalobang Solichin GP bersama rombongan para bankir Indonesia ke Kupang, Atambua, Dili, dan Ruteng, lalu ke Ampenan (NTB) tahun 1984, Momi terpesona melihat keindahan alam NTT dari angkasa. Saya menyukai pemandangan yang indah, terutama air lautnya yang jernih dan pantai yang berpasir putih landai berliku-liku yang tidak banyak terdapat di daerah lainnya, di mana saya pernah melihat dari udara saat saya menerbangkan pesawat.

Kekaguman Momi melihat keindahan alam NTT kembali terusik tatkala pada tahun 1985 ia dengan pesawat Sky Liner mengantar rombongan Sekjen Kehutanan ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai (saat itu). Dan, tahun 1986 membawa Presiden Soeharto bersama rombongan ke Kupang dan Ruteng/Labuan Bajo. Panorama alam NTT yang masih asri, khususnya pemandangan lautnya yang begitu indah, membawa Momi pada angan-angan suatu ketika kembali ke NTT dalam waktu cukup lama. Kerinduan itu akhirnya datang juga tatkala memasuki masa purna tugas di perusahaan penerbangan Pelita Air pada Juli 2005. Momi memilih mengisi masa pensiunnya mengabdi di NTT. Menurut dia, usaha-usaha di sektor pariwisata paling cepat mendorong ekonomi masyarakat di NTT. Berikut petikan percakapan wartawan Pos Kupang, Hyeron Modo dengan Momi Surjatmoko, Corporate Secretary PT TransNusa Air Services Kupang di kantornya Oktober 2009.

Anda menjadi pilot pesawat kepresidenan tahun berapa?
Saya pertama kali menerbangkan pesawat tahun 1969. Dipercayakan menjadi salah satu pilot pesawat kepresidenan tahun 1985 sampai tahun 2000. Separuh dari karier saya menjadi pilot pesawat kepresidenan. Saya sering membawa pesawat yang mengangkut putra-putri Presiden Soeharto ketika berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia dan beberapa negara di ASEAN. Ada sekitar 10 pilot yang dipercayakan membawa pesawat kepresidenan.

Apa saja syaratanya?
Yang dipilih menjadi pilot pesawat kepresidenan adalah pilot yang benar-benar tidak bermasalah. Materi tes, antara lain, rekor terbang/menerbangkan pesawat dan kesehatan. Ada atau tidak cacat selama berkarier sebagai pilot, berperilaku dan bermental yang baik, serta berpakaian yang bagus dan layak. Saya mempunyai lima rating atau tingkatan dan jenis pesawat yang saya terbangkan, yaitu pesawat Cassa, Dash 7, Fokker 28, Fokker 70 dan Fokker 100. Dengan rating ini saya bisa membawa atau menerbangkan lima jenis pesawat. Lima jenis pesawat itu dengan kecepatan yang berbeda. Ini tentu harus mempunyai keterampilan yang berbeda pula. Pilot pesawat kepresidenan juga dilatih cara memegang pistol dan menembak karena mereka berada di ring satu dari orang nomor satu di negeri ini.

Ada beban psikologis saat menerbangankan pesawat kepresidenan?
Ya. Ketika saya menerbangkan pesawat yang mengangkut putra-putri presiden atau menteri yang ikut bersama dalam kunjungan presiden, ada beban psikologi, tapi menyenangkan. Menyenangkan karena selama berada di angkasa, pada rute penerbangan yang dilalui pesawat rombongan presiden, pesawat komersial tidak boleh terbang pada rute tersebut sampai pesawat kepresidenan tiba di bandara tujuan.

Kesan yang menyenangkan Anda?
Ada banyak kesan. Saya bisa bertemu hampir setiap saat dengan para menteri dan putra- putri presiden. Kesan yang menyenangkan saya ketika berada di angkasan, saya menikmati keindahan alam sejauh mata memandang. Saya selama terbang merasa aman karena tidak ada pesawat-pesawat komersial yang terbang pada rute yang sedang diterbangi pesawat kepresidenan. Kami punya kode sendiri dan pesawat yang saya bawa atau pilot lainnya harus dikarantinakan terlebih dahulu dan djaga anjing pelacak. Kami mau masuk pesawat mesti menunggu perintah. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya menjadi salah satu pilot pesawat kepresidenan. Saat kami menerbangakan pesawat rombongan presiden biasanya cuaca bagus. Itu ternyata ada pawang agar selama penerbangan itu hujan tidak turun dan cuaca bagus. Itu saya percaya, pawang itu memang ada. Selama 14 tahun membawa pesawat kepresidenan, saya menilai keluarga Pak Harto (mantan Presiden RI, Soeharto, Red), itu baik. Komunikasi saya dengan anak-anak Pak Harto waktu itu, baik sekali.



Kapan Anda pensiun?
Saya pensiun sebagai penerbang tahun 1999, tapi masih dipercayakan menjadi pilot pesawat kepresidenan hingga tahun 2000. Saya pensiun sebagai karyawan Pelita Air pada Juli tahun 2005. Setelah pensiun, saya bertemu Pak Enthon Djojana dari Alor, Pak Juve Djojana (Kupang) dan Jonathan, seorang pengusaha dari Waingapu, Sumba Timur. Waktu itu, kami omong-omong tentang membuka penerbangan di Kupang. Saat itu saya oke-oke saja. Begitu ada tawaran mau bergabung dengan TransNusa di Kupang, saya langsung setuju tanpa syarat karena dari data yang saya peroleh, daerah ini berpotensi (penumpang).

Apa yang mendorong Anda memilih mengabdi di NTT setelah pensiun?
Pertama, saya sendiri masih ingin berkarya. Saya ingin menyumbangkan pengalaman saya kepada masyarakat NTT. Kedua, saya melihat di sini (NTT) ada potensi (penumpang). Dari data yang saya peroleh, moda transportasi udara di NTT, juga di NTB masih sangat kurang. Bahkan, ada satu daerah di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu di Sumbawa Besar selama lima tahun bandaranya tidak pernah didarati pesawat terbang. Pada tahun 2002, manajemen Pelita Air membuka penerbangan reguler ke Kupang (NTT). Sejak saat itulah saya mengenal lebih dekat NTT. Sebetulnya saya mulai tertarik ke NTT ketika suatu waktu (sekitar tahun 1999 atau tahun 2000) saya diundang mengikuti seminar di Bappenas tentang pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Saat itu saya tertarik melihat peta di Bappenas tentang pembangunan daerah-daerah di KTI. Dalam peta itu, NTT diberi tanda merah. Saya tanya kepada salah seorang staf Bappenas, kenapa NTT diberi tanda merah? Staf Bappenas itu menjawab, tanda merah artinya daerah paling tertinggal. NTT masuk kategori itu. Begitu penjelasan staf Bappenas saat itu. Mendengar jawaban itu, saya pensaran dan bertanya dalam hati. Apa benar ya, NTT masuk kategori daerah paling tertinggal?.


Melihat peta tanda merah, Anda tidak yakin NTT daerah paling tertinggal?
Ya. Saya belum percaya karena beberapa kali saya terbang ke NTT, saya melihat daerah ini begitu bagus. Alamnya indah, masa masuk kategori daerah paling tertinggal. Suatu waktu ketika saya terbang dari Denpasar ke Kupang membawa pesawat jenis Cassa, saya terbang rendah selama tiga jam. Saya lihat dari pesawat di perairan antara Sumba dan Flores (Laut Sawu), air lautnya biru bersih dan ombaknya putih. Ini kan potensi yang luar biasa. Ini obyek wisata bahari. Dan, kalau dikelola akan mendatangkan devisa bagi daerah dan masyarakat di sini.

Apa yang Anda lihat setelah berkarya di NTT?
Setelah saya ada di sini, ternyata apa yang saya lihat tanda merah dalam peta di Bappenas beberapa tahun lalu, tidak sesuai kenyataan yang ada. Saya akhirnya berkesimpulan bahwa tanda merah itu bukan berarti tidak ada apa-apa di daerah ini. Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres sehingga daerah ini masuk kategori tertinggal versi Bappenas saat itu. Ternyata transportasi di daerah ini kurang lancar. Ini salah satu faktor penyebabnya. Infrastruktur di NTT ini belum sepenuhnya mendukung berbagai program pembangunan. Jadi, infrastrukturnya harus dibuka, khususnya moda transportasi udara.


Potensi apa yang bisa dikembangkan dengan dukungan transportasi udara?
Menurut saya usaha-usaha di sektor pariwisata seperti alam dan budaya serta wisata bahari paling cepat berkembang. Ini karena keindahan dan keunikan alam daerah-daerah di NTT yang bisa menarik wisatawan datang ke sini. Jadi, sektor pariwisata sebenarnya yang paling cepat mendorong ekonomi masyarakat di daerah ini. Potensi sektor pariwisata, antara lain, wisata kuliner (di Kota Kupang), misalnya, makanan khas daerah NTT dan buah-buahan. Obyek wisata alam laut dan pantainya yang indah merupakan kekayaan yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan daerah jika dikelola serius dan profesional. Yang penting bagaimana pemerinah daerah mendorong masyarakat untuk mengelola sektor pariwisata dan sektor lainnya yang selama ini belum dikelola.


Pendapat Anda tentang kondisi bandar udara di NTT?
Bandar udara (Bandara) di NTT belum memenuhi standar. Kalau mau jujur dari aspek standar, semua bandara di NTT --ada 14 bandara--belum layak. Salah satu contoh ketidaklayakan itu, hampir semua bandara di NTT tidak ada pagar keliling. Ini salah satu syarat standar sebuah bandara. Karena bandara yang tidak ada pagar keliling sangat berbahaya bagi penerbangan. Misalnya, saat pesawat landing (mendarat) atau take off (lepas landas/terbang) tiba-tiba ada hewan piaraan atau binatang liar yang berkeliaran di lapangan terbang, ini sangat berbahaya bagi keselamatan pesawat dan penunpang. Contoh, Bandara Frans Sales Lega-Ruteng, Bandara Haji Hasan Aroeboesman-Ende, Bandara Turelelo-Soa/Bajawa, Bandara Komodo di Labuan Bajo, dan beberapa bandara lainnya. Ini yang belum diperhatikan oleh pemerintah dan pengelola bandara di NTT. (*)


30 Tahun 'Menari' di Angkasa

SUDAH tunggu dari tadi? Maaf, masih banyak urusan. Ayo mari kita ngobrol di sini saja. Begitulah Capt. Momi Surjatmoko, menyapa Pos Kupang sambil mengajak masuk ke salah satu ruang di lantai satu kantor PT TransNusa Air Services-Kupang, awal Oktober 2009 lalu. Setelah sekitar dua tiga menit basa basi, Momi lalu membuka percakapan. Bagaimana apa yang kita mau bicarakan? Soal perjalanan karier saya dan mengapa saya memilih Kupang/NTT menghabiskan masa pensiun saya? Pria tinggi semampai yang saat ditemui mengenakan baju kemeja putih lengan panjang dipadu celana panjang hitam, menceritakan suka duka selama 30 tahun menjadi pilot pesawat terbang.
Sejak kecil saya bercita-cita menjadi pilot pesawat terbang.

Saya tertarik menjadi pilot karena pada zaman saya dahulu, melihat pesawat Mik Rusia yang ke Indonesia, wah bagus sekali seperti seekor burung terbang di angkasa. Setelah tamat SMA saya kuliah di Universitas Pancasila-Jakarta, mengambil jurusan mesin.

Dalam perjalanan ada pembukaan tes masuk penerbang di perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia. Saya mendaftar. Saat itu dari Universitas Pancasila Jakarta hanya saya yang ikut test. Total peserta test penerbang ratusan orang. Yang lulus hanya 20 orang, termasuk saya. Setelah lulus, saya memutuskan tidak melanjut kuliah di Unversitas Pancasila.

Kami mengikuti SPL (Student Pilot License) di California, Amerika Serikat (AS) selama dua bulan tahun 1969. Setelah selesai sekolah di California, saya terbang solo atau terbang sendiri membawa pesawat terbang. Rasanya bebas, bisa 'menari-nari' di angkasa. Saya PPL (Privat Pilot License), CPL (Commersial Pilot License) dan ATPL (Airline Transport Pilot License) di Curug-Jakarta.

Setelah lulus tahun 1972, saya bekerja di perusahaan kayu, International Timber Coporation of Indonesia (ITCI). Dalam perjalanan perusahaan itu dikelola Bob Hassan. Perusahaan penebangan kayu itu beroperasi di Kalimantan. Saya bekerja di perusahaan itu karena perusahaan kerja sama Indonesia dan Amerika itu memiliki pesawat untuk mengangkut logistik dan peralatan perusahaan. Waktu itu saya membawa pesawat jenis Dakota DC3. Perusahaan itu memiliki tiga pesawat Dacota. Kala itu kami home base di Singapura.

Dari Singapura kami terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur untuk mensuplai bahan makanan, logistik dan karyawan perusahaan kayu tersebut. Selama lima tahun menjadi pilot salah satu pesawat milik perusahaan kayu tersebut, hal yang mengesankan saya terbang dari Sabah ke Samboaga, Filipian selatan. Penerbangan dari Sabah ke Samboaga sebulan sekali untuk mengangkut karyawan ITCI yang berasal dari sana. Karyawan ITCI dari Samboaga adalah tenaga ahli di perusahaan itu.

Setelah bekerja lima tahun, pada tahun 1977 saya pindah ke Jakarta sebagai freelance (tenaga lepas) pada perusahaan penerbangan National Air Charter-Jakarta. Perusahaan itu merupakan perusahaan penerbangan dengan armada Dakota paling banyak. Di perusahaan itu saya bekerja delapan bulan, kemudian pindah ke perusahaan Deraya Air Taxi-Jakarta, milik Ibu Yayu, seorang penerbang wanita Indonesia saat itu. Dia punya penerbangan perintis dengan pesawat kecil seperti Cesnya berkapasitas 8-10 orang.
Deraya Air Taxi menyediakan armada pesawat untuk charter. Saya bekerja di perusahaan itu dua tahun sampai 1979.

Dari perusahaan penerbangan Deraya Air Taxi, saya ditawarkan Mobil Oil Indonesia di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Mobil Oil Indonesia merupakan perusahaan penghasil gas alam terbesar di Indonesia. Perusahaan ini patungan antara perusahaan raksasa Mobil di Amerika Serikat (AS) dengan perusahaan milik negara di Indonesia, Pertamina. Daerah operasi utama Mobil Oil Indonesia adalah ladang minyak dan gas di Aceh dan di lepas pantainya. Saat itu Mobil Oil Indonesia membutuhkan seorang penerbang (pilot).

Lalu saya melamar ke perusahaan itu dan diterima. Saya kembali lagi bekerja di perusahaan asing dan bertugas di Medan. Waktu saya masih di Deraya Air Taxi, saya menikah dengan seorang gadis yang saya kenal pertama kali saat di Singapura. Dia orang Indonesia, teman saya kala itu. Ketika bekerja di Mobil Oil, saya menerbangkan pesawat milik perusahaan itu ke berbagai daerah di Sumatera, Jakarat dan Singapura untuk mengangkut karyawan perusahaan yang ditugaskan ke sana.

Di Mobil Oil Indonesia saya bekerja empat tahun sampai tahun 1983. Waktu bekerja di Mobil Oil Indonesia saya terbangkan pesawat Cassa jenis SKY.VAN dan Dash 7 bermesin empat. Keistimewaan pesawat Dash 7 bisa mendarat di landasan pendek.

Tahun 1983 saya pindah tugas di perusahaan penerbangan Pelita Air. Saya bekerja di Pelita Air selama 22 tahun, sampai saya pensiun pada Juli 2005. Di perusahaan itu tugas terlama saya sebagai seorang pilot. Di Pelita Air saya menerbangkan pesawat jenis propeller (baling-baling), pesawat jet, Fokker 28 (F-28) dan F-70. Salah satu keistimewaan pesawat F-70, bisa mendarat sendiri tanpa dipegang karena menggunakan sistem glass cokpit. Saat ini yang menggunakan sistem itu pesawat Airbus 320 dan Boeing 400.

Saat di Pelita Air saya dipercayakan mengikuti pendidikan navigasi di Jerman tahun 1990 selama dua bulan. Saat bekerja di Pelita Air, saya ditugaskan menerbangkan pesawat ke Afrika. Saya bersyukur bisa melihat Afrika. Di Afrika sekitar 40 hari. Selama di sana kami terbang ke daerah-daerah pedalaman yang sangat sulit didarati pesawat. Saya ke Afrika karena pesawat Pelita Air disewa oleh Palang Merah. Palang Merah yang mencarter pesawat milik Pelita Air. Saya kaget ketika mendarat di sana dan terbang ke beberapa daerah, orang di Afrika tidak pakai pakaian.

Selama di Afrika kami melayani distribusi logistik Palang Merah ke Kenya dan Sudan. Saban hari kami terbang. Misi kemanusiaan ke Afrika karena saat itu terjadi perang saudara di Afrika Selatan dan Afrika Utara. Tugas kami di Afrika untuk membantu masyarakat yang luka-luka akibat bentrok dengan pihak pemerintahan setempat. Jadi, sehari membantu para korban yang luka-luka bawa ke rumah sakit, dan hari berikutnya membantu pemerintah untuk mendistribursikan bahan-bahan logistik. Suatu saat pesawat Cassa yang saya bawa mendarat di Yei. Setelah saya mendaratkan pesawat, tiba-tiba banyak orang muncul dari pinggir landasan pacu bandara itu 'mengepung' pesawat yang saya bawa.

Meski dikepung, kami tetap turun dari pesawat. Di situ sudah ada mobil jeep tentara. Saya dibawa ke markas tentara dekat bandara untuk diperiksa. Saya tanya kenapa saya diinterogasi? Ya, karena kamu seharusnya tidak mendarat di sini (Yei). Saya mengatakan, saya turun di sini karena ada surat izin untuk mendarat. Saat saya dibawa ke markas tentara saya minta copilot untuk tidak mematikan mesin pesawat dan crew tetap di dalam pesawat. Saya katakan kepada copilot dan crew pesawat, jika dalam satu jam saya belum kembali ke pesawat, kamu terbangkan pesawat ini tanpa saya. Biarkan saya yang menjadi korban dalam misi kemanusiaan ini. Dalam situasi seperti itu saya tidak panik.

Saya ngobrol dengan pimpinan tentara yang membawa saya ke markas. Sambil ngobrol, dia tanya saya, kamu dari mana? Amerika, Eropa? Saya jawab, saya orang Indonesia. Oh ya, Soekarno. Saat itu buluh kuduk saya berdiri. Mereka berteriak, o e e e Soekarno, Soekarno. Mereka berteriak kegirangan seakan Soekarno ada di situ. Akhirnya, kami bercerita akrab dan saya berteman baik dengan mereka.

Mereka menganggap saya sebagai bagian dari mereka selama saya 40 hari bertugas di Afrika saat itu. Itulah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan saya selama menjadi pilot. Selain ke Afrika, saya sering terbang ke beberapa negara seperti Singapura, Vietnam, Australia dan Selandia Baru dengan pesawat Pelita Air.

Tigapuluh tahun 'menari-nari' di angkasa mengemudi 'burung besi', bukan waktu yang singkat bagi seorang Momi. Di hari-hari ini Momi menghabiskan masa pensiunnya berbakti untuk NTT. "Saya mengabdi di NTT kira-kira sampai ada putra daerah yang dapat melanjutkan visi kami, yakni mengakses Nusa Tenggara ke seluruh penerbangan domestik agar memudahkan investor, turis lokal dan mancanegara datang ke sini," tutur Momi. (hyeron modo)

Biodata

Nama : Capt.Momi Surjatmoko (anak keempat dari enam bersaudara)
Tempat/Tgl Lahir : Magelang, Jawa Tengah, 2 Juli 1949
Istri : Kuspariah
Anak : 1. Vani (sudah menikah)
2. Deto (28)
3. Feby (26) kerja di City Bank
Ayah : Sunarto (alm)
Ibu : Suyati (almh)
Pendidikan : - Teknik Mesin Universitas Pancasila-Jakarta (dua tahun) tahun 1969
- Akademi Penerbangan Indonesia (API) Jakarta 1971
- SMA 11 Kebayoran Baru-Jakarta 1968
- SMP 12 Kebayoran Baru-Jakarta 1964
- SD Blok D Kebayoran Baru-Jakarta 1961
Organisasi : Aktif Pramuka
- Jadi anggota Paskibraka 1968

Lanjut...

Pater Yan V Roosmalen, SVD


Hidup Berarti bagi Orang Lain

KAMAR di lantai II Istana Keuskupan Ruteng itu hanya terdiri dari rak buku, meja belajar dan tempat tidur ukuran kecil. Tidak ada yang unik dan menarik. Semua serba sederhana, terbatas. Tampilan kamar ini seakan menegasikan ekspresi penghayatan hidup injili sebagai seorang imam. Spiritualitas kemiskinan kuat membekas. Meja belajar ukuran kecil penuh kertas dan buku-buku. Juga ada beberapa lembar koran. Kesan mewah sungguh tidak tertangkap dari seluruh isi kamar itu. Yang ada hanya satu kata: sederhana.

Itulah potret sebuah kamar tempat aktivitas yang mengakrabi keseharian Pater Yan V Roosmalen, SVD. Hampir separuh nafasnya dihabiskan di lembaga pendidikan. Pendidikan di Manggarai berkembang pesat berkat campur tangan dari misionaris Belanda ini. Ia juga sebagai founding fathers Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Ruteng. Meski sudah sangat tua, tetapi jalan pikirannya masih jernih. Nostalgia awal-awal kehadirannya di Ruteng masih terekam kuat. Ia masih bisa menulis dan membaca dengan baik. Ziarah imamatnya di bumi congka sae Manggarai sungguh membawa arti yang luar biasa.

Bagaimana jejak ziarah misionaris Belanda yang sudah menjadi WNI ini? Apa motivasinya mendirikan STKIP Ruteng? Apa pula harapan masa depan pendidikan di Manggarai? Ikuti petikan wawancara Pos Kupang dengan Pater Yan V Roosmalen di Istana Keuskupan Ruteng, Kamis (3/12/2009).


Apa motivasi pater mau jadi misionaris?
Daya dorong bermisi ke luar negeri dilatari kehidupan keluarga. Saya berasal dari keluarga dengan jumlah anggota cukup besar. Kami 13 bersaudara. Lima orang meninggal dunia sewaktu masih kecil. Di Eropa waktu itu banyak balita meninggal dunia. Yang hidup kami delapan orang. Empat kakak perempuan dan empat laki-laki.

Bagaimana dinamika kehidupan keluarga?
Bapak saya bernama Petrus van Roosmalen. Seorang petani. Mama Wilhelmina Ketelaars. Kehidupan keluarga biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Hanya mama ada minat cukup besar dengan daerah-daerah misi. Tidak heran kakak saya jadi suster dan menjadi misionaris di Indonesia juga. Tepatnya di Pematang Siantar-Sumatera Utara.

Bagaimana perjalanan pendidikan pater?
Saya lahir 27 Agustus 1920 di Vevhel, Paroki Eerde, Propinsi N Brabant-Belanda. Umur lima tahun masuk sekolah. Saya mulai masuk seminari setelah kelas delapan SD. Ada seorang rektor seminari menengah datang ke rumah orangtua saya. Rektor seminari melihat rapor saya dan saya diterima menjadi siswa seminari. Perjalanan pendidikan saya di seminari tidak ada hambatan hingga ditabiskan menjadi imam, 18 Agustus 1946. Saya ditabiskan sebelum selesai tahun kuliah terakhir.

Mengapa tertarik ke ke Indonesia, khususnya di Flores?
Kebetulan sejak masih SD saya sudah sering baca tentang kondisi misi di Flores. Kebiasan kami di rumah adalah membaca. Membaca apa saja, termasuk perkembangan di daerah-daerah misi. Karena itu ketika tahun akhir teologi di Teteringen harus pilih tempat negara tujuan misi, saya memilih Flores. Saya sudah cukup kenal Flores, meski waktu itu hanya dari bacaan.

Kapan tiba di Ruteng?
Saya tiba di Jakarta 27 Januari 1949 setelah menempuh perjalanan 40 hari. Cukup lama. Saya numpang kapal laut. Selanjutnya saya ke Ruteng. Tapi sebelum ke Ruteng, saya sempat ke Ledalero. Saya tiba di rumah misi SVD 18 Juli 1949. Saya tiba di Ruteng dalam usia 29 tahun. Usia yang masih tergolong muda.

Apa yang dilakukan setelah tiba di Ruteng?
Dengan umur 29 tahun ada berbagai pertanyaan kecil yang menukik dalam hati saya. Apa yang harus saya buat untuk Manggarai? Pertanyaan itu menjadi semacam lecutan bagi saya untuk segera berbuat apa saja. Pertanyaan itu menjadi materi refleksi saya di tempat misi. Saya berbuat agar bernilai bagi orang lain.

Konkritnya apa yang pater lakukan?
Dulu ada rumah misi. Kompleks yang cukup lengkap. Ada gudang bengkel, biara, asrama-asrama anak sekolah. Sekarang sudah jadi kompleks SVD. Waktu itu cukup banyak anak sekolah baik vervolgschool atau VVS, juga ada opleding voor onderwijer (OVO) untuk sekolah guru. VVS anak pilihan yang pintar dari Manggarai. Saya tidak serta merta bekerja, saya amati, lihat-lihat dulu. Saya belajar bahasa Manggarai. Ini penting agar saya bisa survival di daerah misi Manggarai ini.



Seturut data, pater adalah pendiri SMP Tubi yang sekarang sudah berubah menjadi SMPN I Ruteng?
Sebelum mendirikan sekolah saya jadi direktur asrama VVS dan OVO. Urus semua kebutuhan asrama itu. Saya juga mengajar mereka. Bantu pelayanan umat.

Bagaimana sejarah berdirinya SMP Tubi Ruteng?
Semula bukan saya yang akan jadi inspektur (Kepala sekolah, Red) sekolah yang mau kami dirikan itu. SMP Tubi menjadi sekolah menengah pertama di Manggarai. Banyak orang besar di Manggarai ini tamat dari sekolah itu. SMP Tubi resmi dibuka 1 September 1950. Waktu itu Pater Yan Swinkels, SVD yang harus jadi direktur, namun sampai acara pembukaan sekolah beliau belum pulang dari cuti. Maka Pater WV Bekkum, SVD minta saya buka sekolah itu dan jadi pimpinan. Sekolah ini merupakan Yayasan Pemerintah Kabupaten Daerah Manggarai (YYPPM) Raja C Ngambut sebagai ketua yayasan. Selanjutnya mendirikan SGB Tubi.

Apakah sekolah tidak terganggu dengan kehadiran Partai Komunis?
Siapa bilang tidak terganggu? Terganggu sekali, tapi kita bisa atasi. Waktu itu saya baru pulang cuti. Kejadian mulai terasa di sekolah kami dengan adanya surat panggilan dari polisi.

Apa ada guru yang terlibat?
Saudara R Djolo, tertulis pekerjaan sebagai murid SMP Tubi. Karena itu kepala sekolah dipanggil.



Bagaimana sikap sekolah?
Sebagai pimpinan, saya jelaskan kepada mereka yang bawa surat. Bahwa murid saya atau pegawai saya tidak ada bernama R Djolo. Nama yang tercantum dalam surat itu bukan guru saya atau pegawai saya.

Bisa ceritakan sejarah berdirinya STKIP?
Ini kebutuhan. Hasil permenungan kami menyimpulkan perlu ada lembaga kursus supaya ajar guru agama bisa lebih pintar. Dari beberapa pengalaman di paroki-paroki guru agama hanya tamat sekolah rendah saja. Pengetahuan mereka sangat terbatas. Karena itu perlu ada lembaga kursus supaya para guru agama dibekali dengan pengetahuan yang baik. Makanya tahun 1959 kami dirikan KPK. Tamatan KPK bisa ajar agama, pengajaran dengan baik

Bagaimana prospek KPK?
Masalah mulai terasa karena ijazah lokal. Banyak tamatan SGB tidak berminat masuk KPK. Sebab tidak ada kepastian ijazah. KPK hanya ijazah lokal saja.

Lalu apa yang pater lakukan?
Ini buat saya harus putar otak. Saya temukan tiga soal mendasar. Pertama, ijazah lokal dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Kedua, minat masuk KPK kurang. Ketiga, jaminan dan kepastian status sekolah.


Langkah apa yang pater buat untuk mendapat kepastian status KPK?
Memang ada pertentangan jika status KPK ditingkatkan, terutama motivasi mau masuk KPK. Yang dikhawatirkan orang masuk karena ijazah saja, itu yang mereka cemas. Tetapi perkembangan zaman dan tuntutan pendidikan tidak bisa diabaikan. Karena itu saya mulai usahakan status KPK. Kami edarkan surat rencana perubahan status KPK. Mgr. VD Tillaart, SVD, Pater H Djawa dan sejumlah pastor memberi persetujuan. Mgr. Gabriel Manek, SVD dari Ndona juga memberi persetujuan. Tahun 1966 kami kirim permohonan ke Kawali, bagian persekolahan bersama berkas administrasi lainnya. Tetapi waktu itu tidak ada jawaban dari Kawali.

Lalu, apa yang pater lakukan?
Saya tanya mereka. Namun bersamaan perjuangan itu timbul kegelisahan, apakah dengan status baru itu para uskup setia mengirim tamatan sekolah guru masuk APK? Tanggal 1 Agustus 1968 KPK berubah nama menjadi APK. Pendek kata, semua usaha berjalan dengan penuh harapan meski tantangan begitu banyak. Sekarang sudah bagus.

Apa harapan Pater terhadap STKIP?
Saya harap maju terus.

Apakah Pater merindukan STKIP jadi universitas?
Saya kira itu kerinduan semua orang Manggarai. Tapi terserah yayasan dan pengelolanya. Lanjutkan terus. Dulu waktu susah saya bisa usahakan, sekarang banyak kemudahan.



Hampir seluruh hidup pater habiskan di bidang pendidikan. Bagaimana evaluasi pater tentang perkembangan pendidikan kita di Manggarai ini?
Menurut hemat saya, agak kompleks untuk menjawab pertanyaan ini. Dulu di asrama anak-anak yang diseleksi cukup kekat dan pintar-pintar. Semangat belajar cukup tinggi, minat baca besar. Sekarang saya tidak terlalu tahu.

Apa saran pater?
Masuk sekolah harus ada seleksi. Maksudnya supaya bisa dapat siswa yang pintar dan sesuai kemauan dan bakatnya. Dengan bakat itu bisa tentukan jurusannya. Kalau rame-rame ya sulit. Sekolah harus ada kegiatan atau tugas khusus supaya merangsang daya pikir siswa. Jangan hanya ajar siswa hafal dari buku itu tetapi mendorong siswa untuk bisa selesaikan soal atau masalah. Pendidikan kita belum sampai tahap itu.

Sebaiknya bagaimana pater?
Disiplin dalam rangka meningkatkan motivasi dan mutu pendidikan. Perlu ada asrama yang memenuhi syarat, tidak hanya menyiapkan tempat tidur, tetapi seluruh sirkulasi pendidikan di asrama diatur dengan baik. Yayasan harus memiliki visi misi yang jelas.

Apa makna terdalam dari seluruh karya misi bidang pendidikan di Manggarai?
Tentunya syukur kepada Tuhan karena saya masih bisa hidup sampai saat ini. Saya mengabdi untuk sesama. Pendidikan sangat penting untuk hidup dan kehidupan manusia. Karya misioner saya sedikit menolang pendidikan di Manggarai. (kanis lina bana)


Doa, Baca dan Yoga

HARI-HARI ini hanya ada tiga rutinitas harian, doa, baca dan yoga. Doa merupakan santapan rohani, baca menambah pengetahuan dan membakar kejenuhan. Yoga bertujuan mengolah kesehatan fisik dan ketahanan tubuh. Hampir pasti jika berjumpa dengan sosok pastor tua ini, doa brevir tidak pernah diabaikan. Hidupnya serba seimbang sehingga umurnya panjang.
Meski sudah digolongkan uzur, pesona kesahajaan dalam keseharian menjadi motivasi bagi para pastor, mahasiswa yang berjumpa dengan sosok ini.
Tidak merindukan yang muluk-muluk, hanya menambahkan kesehatan dan umur yang panjang. Karena itu mengisi hidupnya yang masih sisa ini melalui perbuatan baik. Baik untuk diri dan sesama. Itulah investasi hidup dan kehidupannya. (lyn)

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 3 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda