Bonet, Tradisi Yang Terlupakan


Istimewa
BONET--Anak-anak menarikan bonet dalam lomba promosi perilaku hidup bersih dan sehat di Arena Puspenmas SoE, Senin (18/5/2009) lalu.



BONET bukanlah istilah asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bonet sudah menjadi tradisi lisan turun temurun dari nenek moyang orang Timor sejak dahulu kala. Lewat bonet masyarakat dapat mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan melalui syair dan pantun pada upacara-upacara adat.

Warisan budaya ini juga menjadi salah bagian satu sastra lisan yang mewarnai budaya Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam penelitian tentang sastra lisan Dawan, Tarno dan teman- temannya (1993) dalam bukunya Sastra Lisan Dawan mendeskripsikan empat jenis sastra lisan Dawan, yakni bonet, heta, tonis dan nu'u.

Bonet adalah jenis tuturan berirama atau puisi lisan yang seringkali dilagukan. Tuturan membentuk satuan-satuan berupa penggalan yang ditandai dengan jeda. Satuan-satuan ini membentuk bait atau kuplet. Jumlah larik tidak selalu sama. Ciri lainnya adalah pengulangan bentuk.

Berdasarkan isi dan fungsinya, bonet dibedakan atas empat jenis, yakni boennitu (puji-pujian kepada arwah), boen ba'e (puji-pujian dalam suasana ceria: kelahiran olen, menimang anak ko'an, penyambutan tamu futmanu-safemanu), dan nyanyian kerja (boenmepu).

Heta juga merupakan sejenis puisi lisan Dawan, yang ditinjau dari segi struktur mirip dengan bonet. Jika bonet termasuk puisi ritual formal yang dinyanyikan dalam upacara adat, maka heta merupakan puisi lisan yang dituturkan dalam suasana santai tanpa dilagukan. Heta terdiri dari teka-teki (tekab) dan peribahasa.

Tonis merupakan ragam bahasa adat, sehingga penuturan tonis selalu dalam rangka adat. Tonis merupakan jenis sastra lisan Dawan yang diungkapkan dalam bentuk bahasa berirama (puisi) yang berbau prosa teratur (prosa lirik).

Tonis terjalin dalam bentuk pasangan kata dalam larik dan bait-bait paralel yang berulang secara teratur. Seperti: Auni mnanu//kue mnanu, 'tombak panjang//kuku panjang' yang mengiaskan pejuang. Berdasarkan isinya, tonis dapat dibedakan atas dua jenis, yakni tonis pah (puisi yang berkaitan dengan leluhur) dan tonis lasi (puisi yang membicarakan masalah-masalah sosial).

Nu'u merupakan jenis prosa rakyat yang dituturkan dalam bahasa sehari-hari. Dalam masyarakat Dawan terdapat dua jenis nu'u, yakni nu'u yang hanya boleh dituturkan oleh tonis karena berkaitan dengan kebenaran hukum adat dan kesejarahannya, dan nu'u biasa, yang dituturkan oleh siapa saja, yang biasanya berupa cerita-cerita rakyat.

Dari empat jenis sastra lisan tersebut, bonet mungkin populer dan masih dikenal warga TTS hingga sekarang. Kendati demikian, beragamnya jenis bonet tidak pernah ditumpahkan dalam satu buku atau tulisan seperti puisi dan prosa zaman sekarang.

Untuk berbonet, sekumpulan orang melakukan aksi menari dengan membentuk lingkaran, di mana satu dengan lainnya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair-syair yang biasanya memiliki rima mengulang. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan dipercaya masyarakat TTS melambangkan persatuan dan kesatuan tiga suku di kabupaten ini, yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo.

Tema bonet pun beraneka ragam. Tergantung usia dan kalangan pemainnya. Ada bonet untuk anak-anak, muda-mudi, dan para orang tua.

Meski beraneka ragam temanya, lambat laun gaung bonet semakin pudar di Kabupaten TTS. Masuknya budaya pop lewat media televisi, radio dan hiburan baru menjadikan keberadaan bonet mulai terlupakan di TTS.

Bila dahulu acara perkawinan, peresmian dan perhelatan selalu disuguhi bonet, kini tak ada lagi. Warga lebih memilih bergoyang dengan musik hip-hop, dansa, karaoke sambil berjingkrak-jingkrak untuk menghabiskan malam perhelatan suatu acara. Entah hal itu disadari atau tidak tetapi bonet tak lagi dipakai sebagai acara favorit pemilik hajatan.


"Kalau dulu acara bonet paling ditunggu masyarakat saat satu perhelatan tiba. Bahkan satu hari sebelum hari pasar tiba, kami warga di desa sudah berbonet ria hingga larut malam. Dan pesertanya pun tidak hanya dari warga yang berada di dekat pasar tetapi berbagai penjuru asalnya," ujar Kasubsi Pengembang dan Penggerak Budaya Dinas Budaya dan Parawisata TTS, Hengky Taopan, kepada Pos Kupang.

Menurut Taopan, pesan dalam satu bonet tidaklah panjang lebar. Singkat dan padat. Ia mencontohkan sebuah bonet yang berpesan mengajak masyarakat untuk menanam kapas. Pasalnya, banyak orang yang lebih suka memakai celana jeans dan rok dan melupakan mengenakan selimut dan kebaya.

Taopan menuturkan, pesan-pesan yang disampaikan lewat bonet lebih mengena dan mudah dipahami masyarakat TTS. Dengan demikian materi apa saja yang disampaikan dalam bonet akan terus diingat masyarakat hingga berada di rumah.

Tak beda dengan Taopan, pemilik Sanggar Seni Olita, Andreas Nenokeba, menyatakan, budaya bonet tak lagi menggema di pelosok wilayah TTS. Meski sebagian masyarakat yang berumur masih bisa melakukan, tetapi bonet jarang lagi 'melantai' dan bergaung di bumi TTS.

"Di kampung-kampung bonet tidak ada lagi. Acara-acara seperti pernikahan dan perhelatan lainnya pun tak lagi ada suguhan bonet. Terkecuali ada acara pemerintah yang mengundang pejabat teras baru digelar bonet," ujar Nenokeba sambil menyatakan perkiraannya bonet tak lagi menjadi pertunjukan masyarakat TTS memasuki tahun 1980-an.

Terlepas dari mulai punahnya bonet di TTS, sejatinya bonet dapat dijadikan sebagai media yang taktis bagi pemerintah. Lewat bonet pemerintah dapat menyampaikan pesan-pesan pembangunan yang menjadi prioritas pemimpin TTS. Melalui bonet pula, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk berperilaku sehat, hidup bersih sehingga terhindar dari kejadian luar biasa seperti busung lapar, gizi buruk, diare dan makan daging sapi mati.

Beberapa waktu lalu, Dinas Kesehatan TTS bekerja sama Unicef, Plan International Program Unit SoE, Care International, ACF, CWS, Pro Air dan Pamsimas menyelenggarakan lomba bonet tingkat sekolah dasar. Temanya tentang promosi perilaku hidup bersih dan sehat.

Meski sekadar lomba, perhelatan ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, setiap peserta dipacu untuk membuat syair-syair dan pantun yang berisi tentang air bersih, cuci tangan paka sabun, jamban, sampah, makanan dan minuman yang siap saji harus ditutup hingga gerakan 3 M.

Tak hanya Dinkes, Dinas Budaya dan Pariwisata juga menggelar lomba seni tari dan bonet se-Kabupaten TTS. Lomba itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya warisan leluhur masyarakat TTS agar tidak punah di muka bumi.

Berbeda dengan kampanye gaya pemerintah yang asing di telinga masyarakat, pesan dan kata-kata dalam bonet jauh lebih kena di telinga masyarakat. Bonet dengan kata-kata yang dilontarkan dalam rajutan pantun dan syair dalam akan mudah diingat, dipahami dan dihayati.

Apalagi tarian bonet yang merekatkan satu tangan dengan tangan lainnya dalam bentuk barisan akan membawa suasana keriangan pelakunya. Tak pelak, kegembiraan suasana menjadikan masyarakat yang berada dalam satu lingkaran bonet selalu mengingat kata-kata yang disampaikan pelantun syair.

Budaya sastra lisan seperti bonet sebenarnya dapat dijadikan alternatif menyampaikan apa yang menjadi program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Keadiluhungan bonet menjadikan apa yang disampaikan dalam syair-syairnya itu mudah mengalir dalam alam pikiran warga TTS.

Ketersentuhan nurani masyarakat terhadap sastra tersebut menjadikan bonet menjadi kata kunci budaya yang dapat dijadikan ujung tombak penyampai pesan program pemerintah pembangunan terhadap warga. (muhlis al alawi)

Pos Kupang Minggu, 20 Desember 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda