Capt. Momi Surjatmoko


Pariwisata Cepat Dorong Ekonomi

TIDAK banyak orang, bahkan mungkin tidak ada orang, apalagi orang dari luar NTT yang setelah pensiun dari masa tugas sebagai pilot di Jakarta, mau mengabdi di NTT. Itu tidak berlaku bagi Capt. Momi Surjatmoko. Mantan pilot kepresidenan masa pemerintahan Soeharto ini, justru memilih NTT (Kupang) untuk menghabiskan masa pensiunnya.

Ketika menerbangkan pesawat Sky Liner mengantar Sesdalobang Solichin GP bersama rombongan para bankir Indonesia ke Kupang, Atambua, Dili, dan Ruteng, lalu ke Ampenan (NTB) tahun 1984, Momi terpesona melihat keindahan alam NTT dari angkasa. Saya menyukai pemandangan yang indah, terutama air lautnya yang jernih dan pantai yang berpasir putih landai berliku-liku yang tidak banyak terdapat di daerah lainnya, di mana saya pernah melihat dari udara saat saya menerbangkan pesawat.

Kekaguman Momi melihat keindahan alam NTT kembali terusik tatkala pada tahun 1985 ia dengan pesawat Sky Liner mengantar rombongan Sekjen Kehutanan ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai (saat itu). Dan, tahun 1986 membawa Presiden Soeharto bersama rombongan ke Kupang dan Ruteng/Labuan Bajo. Panorama alam NTT yang masih asri, khususnya pemandangan lautnya yang begitu indah, membawa Momi pada angan-angan suatu ketika kembali ke NTT dalam waktu cukup lama. Kerinduan itu akhirnya datang juga tatkala memasuki masa purna tugas di perusahaan penerbangan Pelita Air pada Juli 2005. Momi memilih mengisi masa pensiunnya mengabdi di NTT. Menurut dia, usaha-usaha di sektor pariwisata paling cepat mendorong ekonomi masyarakat di NTT. Berikut petikan percakapan wartawan Pos Kupang, Hyeron Modo dengan Momi Surjatmoko, Corporate Secretary PT TransNusa Air Services Kupang di kantornya Oktober 2009.

Anda menjadi pilot pesawat kepresidenan tahun berapa?
Saya pertama kali menerbangkan pesawat tahun 1969. Dipercayakan menjadi salah satu pilot pesawat kepresidenan tahun 1985 sampai tahun 2000. Separuh dari karier saya menjadi pilot pesawat kepresidenan. Saya sering membawa pesawat yang mengangkut putra-putri Presiden Soeharto ketika berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia dan beberapa negara di ASEAN. Ada sekitar 10 pilot yang dipercayakan membawa pesawat kepresidenan.

Apa saja syaratanya?
Yang dipilih menjadi pilot pesawat kepresidenan adalah pilot yang benar-benar tidak bermasalah. Materi tes, antara lain, rekor terbang/menerbangkan pesawat dan kesehatan. Ada atau tidak cacat selama berkarier sebagai pilot, berperilaku dan bermental yang baik, serta berpakaian yang bagus dan layak. Saya mempunyai lima rating atau tingkatan dan jenis pesawat yang saya terbangkan, yaitu pesawat Cassa, Dash 7, Fokker 28, Fokker 70 dan Fokker 100. Dengan rating ini saya bisa membawa atau menerbangkan lima jenis pesawat. Lima jenis pesawat itu dengan kecepatan yang berbeda. Ini tentu harus mempunyai keterampilan yang berbeda pula. Pilot pesawat kepresidenan juga dilatih cara memegang pistol dan menembak karena mereka berada di ring satu dari orang nomor satu di negeri ini.

Ada beban psikologis saat menerbangankan pesawat kepresidenan?
Ya. Ketika saya menerbangkan pesawat yang mengangkut putra-putri presiden atau menteri yang ikut bersama dalam kunjungan presiden, ada beban psikologi, tapi menyenangkan. Menyenangkan karena selama berada di angkasa, pada rute penerbangan yang dilalui pesawat rombongan presiden, pesawat komersial tidak boleh terbang pada rute tersebut sampai pesawat kepresidenan tiba di bandara tujuan.

Kesan yang menyenangkan Anda?
Ada banyak kesan. Saya bisa bertemu hampir setiap saat dengan para menteri dan putra- putri presiden. Kesan yang menyenangkan saya ketika berada di angkasan, saya menikmati keindahan alam sejauh mata memandang. Saya selama terbang merasa aman karena tidak ada pesawat-pesawat komersial yang terbang pada rute yang sedang diterbangi pesawat kepresidenan. Kami punya kode sendiri dan pesawat yang saya bawa atau pilot lainnya harus dikarantinakan terlebih dahulu dan djaga anjing pelacak. Kami mau masuk pesawat mesti menunggu perintah. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya menjadi salah satu pilot pesawat kepresidenan. Saat kami menerbangakan pesawat rombongan presiden biasanya cuaca bagus. Itu ternyata ada pawang agar selama penerbangan itu hujan tidak turun dan cuaca bagus. Itu saya percaya, pawang itu memang ada. Selama 14 tahun membawa pesawat kepresidenan, saya menilai keluarga Pak Harto (mantan Presiden RI, Soeharto, Red), itu baik. Komunikasi saya dengan anak-anak Pak Harto waktu itu, baik sekali.



Kapan Anda pensiun?
Saya pensiun sebagai penerbang tahun 1999, tapi masih dipercayakan menjadi pilot pesawat kepresidenan hingga tahun 2000. Saya pensiun sebagai karyawan Pelita Air pada Juli tahun 2005. Setelah pensiun, saya bertemu Pak Enthon Djojana dari Alor, Pak Juve Djojana (Kupang) dan Jonathan, seorang pengusaha dari Waingapu, Sumba Timur. Waktu itu, kami omong-omong tentang membuka penerbangan di Kupang. Saat itu saya oke-oke saja. Begitu ada tawaran mau bergabung dengan TransNusa di Kupang, saya langsung setuju tanpa syarat karena dari data yang saya peroleh, daerah ini berpotensi (penumpang).

Apa yang mendorong Anda memilih mengabdi di NTT setelah pensiun?
Pertama, saya sendiri masih ingin berkarya. Saya ingin menyumbangkan pengalaman saya kepada masyarakat NTT. Kedua, saya melihat di sini (NTT) ada potensi (penumpang). Dari data yang saya peroleh, moda transportasi udara di NTT, juga di NTB masih sangat kurang. Bahkan, ada satu daerah di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu di Sumbawa Besar selama lima tahun bandaranya tidak pernah didarati pesawat terbang. Pada tahun 2002, manajemen Pelita Air membuka penerbangan reguler ke Kupang (NTT). Sejak saat itulah saya mengenal lebih dekat NTT. Sebetulnya saya mulai tertarik ke NTT ketika suatu waktu (sekitar tahun 1999 atau tahun 2000) saya diundang mengikuti seminar di Bappenas tentang pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Saat itu saya tertarik melihat peta di Bappenas tentang pembangunan daerah-daerah di KTI. Dalam peta itu, NTT diberi tanda merah. Saya tanya kepada salah seorang staf Bappenas, kenapa NTT diberi tanda merah? Staf Bappenas itu menjawab, tanda merah artinya daerah paling tertinggal. NTT masuk kategori itu. Begitu penjelasan staf Bappenas saat itu. Mendengar jawaban itu, saya pensaran dan bertanya dalam hati. Apa benar ya, NTT masuk kategori daerah paling tertinggal?.


Melihat peta tanda merah, Anda tidak yakin NTT daerah paling tertinggal?
Ya. Saya belum percaya karena beberapa kali saya terbang ke NTT, saya melihat daerah ini begitu bagus. Alamnya indah, masa masuk kategori daerah paling tertinggal. Suatu waktu ketika saya terbang dari Denpasar ke Kupang membawa pesawat jenis Cassa, saya terbang rendah selama tiga jam. Saya lihat dari pesawat di perairan antara Sumba dan Flores (Laut Sawu), air lautnya biru bersih dan ombaknya putih. Ini kan potensi yang luar biasa. Ini obyek wisata bahari. Dan, kalau dikelola akan mendatangkan devisa bagi daerah dan masyarakat di sini.

Apa yang Anda lihat setelah berkarya di NTT?
Setelah saya ada di sini, ternyata apa yang saya lihat tanda merah dalam peta di Bappenas beberapa tahun lalu, tidak sesuai kenyataan yang ada. Saya akhirnya berkesimpulan bahwa tanda merah itu bukan berarti tidak ada apa-apa di daerah ini. Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres sehingga daerah ini masuk kategori tertinggal versi Bappenas saat itu. Ternyata transportasi di daerah ini kurang lancar. Ini salah satu faktor penyebabnya. Infrastruktur di NTT ini belum sepenuhnya mendukung berbagai program pembangunan. Jadi, infrastrukturnya harus dibuka, khususnya moda transportasi udara.


Potensi apa yang bisa dikembangkan dengan dukungan transportasi udara?
Menurut saya usaha-usaha di sektor pariwisata seperti alam dan budaya serta wisata bahari paling cepat berkembang. Ini karena keindahan dan keunikan alam daerah-daerah di NTT yang bisa menarik wisatawan datang ke sini. Jadi, sektor pariwisata sebenarnya yang paling cepat mendorong ekonomi masyarakat di daerah ini. Potensi sektor pariwisata, antara lain, wisata kuliner (di Kota Kupang), misalnya, makanan khas daerah NTT dan buah-buahan. Obyek wisata alam laut dan pantainya yang indah merupakan kekayaan yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan daerah jika dikelola serius dan profesional. Yang penting bagaimana pemerinah daerah mendorong masyarakat untuk mengelola sektor pariwisata dan sektor lainnya yang selama ini belum dikelola.


Pendapat Anda tentang kondisi bandar udara di NTT?
Bandar udara (Bandara) di NTT belum memenuhi standar. Kalau mau jujur dari aspek standar, semua bandara di NTT --ada 14 bandara--belum layak. Salah satu contoh ketidaklayakan itu, hampir semua bandara di NTT tidak ada pagar keliling. Ini salah satu syarat standar sebuah bandara. Karena bandara yang tidak ada pagar keliling sangat berbahaya bagi penerbangan. Misalnya, saat pesawat landing (mendarat) atau take off (lepas landas/terbang) tiba-tiba ada hewan piaraan atau binatang liar yang berkeliaran di lapangan terbang, ini sangat berbahaya bagi keselamatan pesawat dan penunpang. Contoh, Bandara Frans Sales Lega-Ruteng, Bandara Haji Hasan Aroeboesman-Ende, Bandara Turelelo-Soa/Bajawa, Bandara Komodo di Labuan Bajo, dan beberapa bandara lainnya. Ini yang belum diperhatikan oleh pemerintah dan pengelola bandara di NTT. (*)


30 Tahun 'Menari' di Angkasa

SUDAH tunggu dari tadi? Maaf, masih banyak urusan. Ayo mari kita ngobrol di sini saja. Begitulah Capt. Momi Surjatmoko, menyapa Pos Kupang sambil mengajak masuk ke salah satu ruang di lantai satu kantor PT TransNusa Air Services-Kupang, awal Oktober 2009 lalu. Setelah sekitar dua tiga menit basa basi, Momi lalu membuka percakapan. Bagaimana apa yang kita mau bicarakan? Soal perjalanan karier saya dan mengapa saya memilih Kupang/NTT menghabiskan masa pensiun saya? Pria tinggi semampai yang saat ditemui mengenakan baju kemeja putih lengan panjang dipadu celana panjang hitam, menceritakan suka duka selama 30 tahun menjadi pilot pesawat terbang.
Sejak kecil saya bercita-cita menjadi pilot pesawat terbang.

Saya tertarik menjadi pilot karena pada zaman saya dahulu, melihat pesawat Mik Rusia yang ke Indonesia, wah bagus sekali seperti seekor burung terbang di angkasa. Setelah tamat SMA saya kuliah di Universitas Pancasila-Jakarta, mengambil jurusan mesin.

Dalam perjalanan ada pembukaan tes masuk penerbang di perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia. Saya mendaftar. Saat itu dari Universitas Pancasila Jakarta hanya saya yang ikut test. Total peserta test penerbang ratusan orang. Yang lulus hanya 20 orang, termasuk saya. Setelah lulus, saya memutuskan tidak melanjut kuliah di Unversitas Pancasila.

Kami mengikuti SPL (Student Pilot License) di California, Amerika Serikat (AS) selama dua bulan tahun 1969. Setelah selesai sekolah di California, saya terbang solo atau terbang sendiri membawa pesawat terbang. Rasanya bebas, bisa 'menari-nari' di angkasa. Saya PPL (Privat Pilot License), CPL (Commersial Pilot License) dan ATPL (Airline Transport Pilot License) di Curug-Jakarta.

Setelah lulus tahun 1972, saya bekerja di perusahaan kayu, International Timber Coporation of Indonesia (ITCI). Dalam perjalanan perusahaan itu dikelola Bob Hassan. Perusahaan penebangan kayu itu beroperasi di Kalimantan. Saya bekerja di perusahaan itu karena perusahaan kerja sama Indonesia dan Amerika itu memiliki pesawat untuk mengangkut logistik dan peralatan perusahaan. Waktu itu saya membawa pesawat jenis Dakota DC3. Perusahaan itu memiliki tiga pesawat Dacota. Kala itu kami home base di Singapura.

Dari Singapura kami terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur untuk mensuplai bahan makanan, logistik dan karyawan perusahaan kayu tersebut. Selama lima tahun menjadi pilot salah satu pesawat milik perusahaan kayu tersebut, hal yang mengesankan saya terbang dari Sabah ke Samboaga, Filipian selatan. Penerbangan dari Sabah ke Samboaga sebulan sekali untuk mengangkut karyawan ITCI yang berasal dari sana. Karyawan ITCI dari Samboaga adalah tenaga ahli di perusahaan itu.

Setelah bekerja lima tahun, pada tahun 1977 saya pindah ke Jakarta sebagai freelance (tenaga lepas) pada perusahaan penerbangan National Air Charter-Jakarta. Perusahaan itu merupakan perusahaan penerbangan dengan armada Dakota paling banyak. Di perusahaan itu saya bekerja delapan bulan, kemudian pindah ke perusahaan Deraya Air Taxi-Jakarta, milik Ibu Yayu, seorang penerbang wanita Indonesia saat itu. Dia punya penerbangan perintis dengan pesawat kecil seperti Cesnya berkapasitas 8-10 orang.
Deraya Air Taxi menyediakan armada pesawat untuk charter. Saya bekerja di perusahaan itu dua tahun sampai 1979.

Dari perusahaan penerbangan Deraya Air Taxi, saya ditawarkan Mobil Oil Indonesia di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Mobil Oil Indonesia merupakan perusahaan penghasil gas alam terbesar di Indonesia. Perusahaan ini patungan antara perusahaan raksasa Mobil di Amerika Serikat (AS) dengan perusahaan milik negara di Indonesia, Pertamina. Daerah operasi utama Mobil Oil Indonesia adalah ladang minyak dan gas di Aceh dan di lepas pantainya. Saat itu Mobil Oil Indonesia membutuhkan seorang penerbang (pilot).

Lalu saya melamar ke perusahaan itu dan diterima. Saya kembali lagi bekerja di perusahaan asing dan bertugas di Medan. Waktu saya masih di Deraya Air Taxi, saya menikah dengan seorang gadis yang saya kenal pertama kali saat di Singapura. Dia orang Indonesia, teman saya kala itu. Ketika bekerja di Mobil Oil, saya menerbangkan pesawat milik perusahaan itu ke berbagai daerah di Sumatera, Jakarat dan Singapura untuk mengangkut karyawan perusahaan yang ditugaskan ke sana.

Di Mobil Oil Indonesia saya bekerja empat tahun sampai tahun 1983. Waktu bekerja di Mobil Oil Indonesia saya terbangkan pesawat Cassa jenis SKY.VAN dan Dash 7 bermesin empat. Keistimewaan pesawat Dash 7 bisa mendarat di landasan pendek.

Tahun 1983 saya pindah tugas di perusahaan penerbangan Pelita Air. Saya bekerja di Pelita Air selama 22 tahun, sampai saya pensiun pada Juli 2005. Di perusahaan itu tugas terlama saya sebagai seorang pilot. Di Pelita Air saya menerbangkan pesawat jenis propeller (baling-baling), pesawat jet, Fokker 28 (F-28) dan F-70. Salah satu keistimewaan pesawat F-70, bisa mendarat sendiri tanpa dipegang karena menggunakan sistem glass cokpit. Saat ini yang menggunakan sistem itu pesawat Airbus 320 dan Boeing 400.

Saat di Pelita Air saya dipercayakan mengikuti pendidikan navigasi di Jerman tahun 1990 selama dua bulan. Saat bekerja di Pelita Air, saya ditugaskan menerbangkan pesawat ke Afrika. Saya bersyukur bisa melihat Afrika. Di Afrika sekitar 40 hari. Selama di sana kami terbang ke daerah-daerah pedalaman yang sangat sulit didarati pesawat. Saya ke Afrika karena pesawat Pelita Air disewa oleh Palang Merah. Palang Merah yang mencarter pesawat milik Pelita Air. Saya kaget ketika mendarat di sana dan terbang ke beberapa daerah, orang di Afrika tidak pakai pakaian.

Selama di Afrika kami melayani distribusi logistik Palang Merah ke Kenya dan Sudan. Saban hari kami terbang. Misi kemanusiaan ke Afrika karena saat itu terjadi perang saudara di Afrika Selatan dan Afrika Utara. Tugas kami di Afrika untuk membantu masyarakat yang luka-luka akibat bentrok dengan pihak pemerintahan setempat. Jadi, sehari membantu para korban yang luka-luka bawa ke rumah sakit, dan hari berikutnya membantu pemerintah untuk mendistribursikan bahan-bahan logistik. Suatu saat pesawat Cassa yang saya bawa mendarat di Yei. Setelah saya mendaratkan pesawat, tiba-tiba banyak orang muncul dari pinggir landasan pacu bandara itu 'mengepung' pesawat yang saya bawa.

Meski dikepung, kami tetap turun dari pesawat. Di situ sudah ada mobil jeep tentara. Saya dibawa ke markas tentara dekat bandara untuk diperiksa. Saya tanya kenapa saya diinterogasi? Ya, karena kamu seharusnya tidak mendarat di sini (Yei). Saya mengatakan, saya turun di sini karena ada surat izin untuk mendarat. Saat saya dibawa ke markas tentara saya minta copilot untuk tidak mematikan mesin pesawat dan crew tetap di dalam pesawat. Saya katakan kepada copilot dan crew pesawat, jika dalam satu jam saya belum kembali ke pesawat, kamu terbangkan pesawat ini tanpa saya. Biarkan saya yang menjadi korban dalam misi kemanusiaan ini. Dalam situasi seperti itu saya tidak panik.

Saya ngobrol dengan pimpinan tentara yang membawa saya ke markas. Sambil ngobrol, dia tanya saya, kamu dari mana? Amerika, Eropa? Saya jawab, saya orang Indonesia. Oh ya, Soekarno. Saat itu buluh kuduk saya berdiri. Mereka berteriak, o e e e Soekarno, Soekarno. Mereka berteriak kegirangan seakan Soekarno ada di situ. Akhirnya, kami bercerita akrab dan saya berteman baik dengan mereka.

Mereka menganggap saya sebagai bagian dari mereka selama saya 40 hari bertugas di Afrika saat itu. Itulah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan saya selama menjadi pilot. Selain ke Afrika, saya sering terbang ke beberapa negara seperti Singapura, Vietnam, Australia dan Selandia Baru dengan pesawat Pelita Air.

Tigapuluh tahun 'menari-nari' di angkasa mengemudi 'burung besi', bukan waktu yang singkat bagi seorang Momi. Di hari-hari ini Momi menghabiskan masa pensiunnya berbakti untuk NTT. "Saya mengabdi di NTT kira-kira sampai ada putra daerah yang dapat melanjutkan visi kami, yakni mengakses Nusa Tenggara ke seluruh penerbangan domestik agar memudahkan investor, turis lokal dan mancanegara datang ke sini," tutur Momi. (hyeron modo)

Biodata

Nama : Capt.Momi Surjatmoko (anak keempat dari enam bersaudara)
Tempat/Tgl Lahir : Magelang, Jawa Tengah, 2 Juli 1949
Istri : Kuspariah
Anak : 1. Vani (sudah menikah)
2. Deto (28)
3. Feby (26) kerja di City Bank
Ayah : Sunarto (alm)
Ibu : Suyati (almh)
Pendidikan : - Teknik Mesin Universitas Pancasila-Jakarta (dua tahun) tahun 1969
- Akademi Penerbangan Indonesia (API) Jakarta 1971
- SMA 11 Kebayoran Baru-Jakarta 1968
- SMP 12 Kebayoran Baru-Jakarta 1964
- SD Blok D Kebayoran Baru-Jakarta 1961
Organisasi : Aktif Pramuka
- Jadi anggota Paskibraka 1968

3 komentar:

Sebagai putri pertama capt. Momi, saya (Vany) menjadi saksi mata langsung betapa Bapak saya sangat mencintai dunia penerbangan.
Ketika beliau mulai di approach oleh Juvenile (Direktur PT. Transnusa) pada saat beliau mulai pensiun, semangatnya bangkit kembali.

Semangat utk berkarya di Indonesia Timur pun tidak kalah besarnya dengan kecintaannya pd dunia penerbangan.

Terima kasih atas artikel yg anda produksi. Kami, keluarga Capt. Momi di Jakarta sangat bangga atas prestasi, dedikasi, dan kredibilitas beliau.

Semoga beliau diberikan anugerah oleh Yang Maha Kuasa utk tetap sehat dan mampu memberikan yang terbaik utk NTT.

Sukses terus utk Jurnalis NTT.

10 Januari 2010 06.29  

Waduuh pengalaman capt. Momi keren juga.. Mantaap deh... Jadi sebagai motivasi saya melihat pengalaman capt.momi... Seru juga pak ya,, banyak pengalaman gitu... God job cpt.momi

11 April 2014 22.01  

Waduhh keren jga pengalaman capt.momi yang bnyak pengalaman jam terbang nya... Ini jadi motivasi saya hidup... Walaupun bnyak halangan cobaan kerja... Tapi dibawa ikhlas santai,rilex... Semua nya terselesaikan dengan mudah... God job Capt.momi

11 April 2014 22.05  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda