Dokter Valens Yth,
Salam sejahtera selalu. Sudah lama saya konsepkansurat ini. Namun baru sekarang saya kirimkan karena saya merasa sudah terdesak dan saya sangat butuh pendapat dokter. Begini, nama saya Brigit, gadis Flores yang baru tamat D3 pertengahan tahun ini. Saat ini saya sedang senang-senangnya merasa sebagai orang bebas kuliah dan ingin cari kerja di Kupang. Siapa tahu bisa bekerja di perusahan swasta seperti pacar saya John.

John pacar saya itu, seorang mahasiswa putus kuliah yang sekarang sedang bekerja sebagai salesman di sebuah perusahaan minuman. Gajinya perbulan ditambah bonus - bonus, menurut saya cukup baik. Ah pokoknya aku lagi jatuh cinta dengan John. He is my Hero. Saya saat ini punya persoalan serius dokter. Saya ini dulu bisa kuliah karena dibantu oleh pak Sonny.

Pak Sonny ini memang kaya, pendidikan S2 dan bekerja pada sebuah perusahan besar sambil mengajar di perguruan tinggi. Pak Sonny tinggal di Surabaya.

Umurnya 17 tahun lebih tua dari saya. Orangnya memang gagah, belum berkeluarga. Tetapi Pak Sonny pernah menderita kelainan jiwa/pernah gila waktu baru tamat SMA sekitar 17 tahun yang lalu. Sekarang orangtua saya memaksa saya menikah dengan Pak Sonny.

Dokter, apakah orang yang pernah gila bisa sembuh total ? Apakah bisa kambuh lagi sewaktu-waktu ? Kalau saya nikah dengan dia apakah tidak berat? Mengingat selisih umur cukup jauh. Bagaimana saya harus menjelaskan pada pacar saya, jika saya mengambil keputusan untuk nikah dengan Pak Sonny? Saya bingung dokter. Orangtua saya mati-matian mengharuskan saya menerima lamaran Pak Sonny.

Utang budi, kata orangtua saya. Tolong dokter bantu saya, supaya bisa keluar dari masalah ini. Orangtua saya dengan keluarga Pak Sonny sudah mengatur rencana pernikahan kami bulan Januari yang akan datang. Atas bantua dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Brigit - Flores.

Saudari Brigit yang baik,
Salam kenal buat Anda. Surat Anda sempat membuat setiap yang membaca jadi tertegun. Betapa tidak, Saat Anda sedang bercerita tentang suatu kebahagiaan yang sedang Anda dapatkan, sementara di sudut lain muncul ancaman kesedihan dan gundah-gulana menghampiri dirimu.

Bulan Januari sudah tidak lama lagi. Keputusan seharusnya segera diambil agar tidak lebih memperburuk situasi. Cobalah Flash back ke awal mula Pak Sonny mau membantu biaya kuliah Anda. Beberapa pertimbangan dari pertanyaan di bawah ini bisa jadi bahan permenungan (refleksi) Anda, sebelum Anda mengambil keputusan. Coba Anda pikirkan, Adakah pada saat awal Pak sonny mau membantu, nampak ada pamrih di balik bantuan itu, ataukah Pak Sonny memang ikhlas mau membantu.

Maksud saya apakah ada semacam perjanjian awal saat Pak Sonny membiayai kulaiah Anda. Pertanyaan reflektif berikut adalah apakah selama ini Pak Sonny pernah menyatakan cintanya kepada Anda ? Manakala Anda mengambil keputusan untuk menikah dengan Pak Sonny, apa yang menjadi alasan paling mendasar?

Apakah karena Dia sudah membiayai kuliah Anda ? Saran saya yang pertama, bila benar tak ada kata cinta dalam kamus Anda dengan Pak Sonny, maka dekatilah pak Sonny baik-baik, dan ucapkan rasa syukur dan terimakasih Anda secara tulus karena oleh bantuannya Anda sudah selesai kuliah. Anda boleh bercerita banyak hal tentang kuliah Anda, dan jangan lupa katakan bahwa Anda sudah punya pacar.

Keterus-terangan Anda akan memberi dampak pada cara pandang pak Sonny. Andapun boleh mengajukan konsep pikir dan cara pandang Anda tentang hakikat cinta dan rumah-tangga yang tidak boleh dipaksakan kalo tidak ada cinta. Itu akan memberi penjelasan tidak langsung pada pak Sonny terhadap penolakkan halus Anda Soal perbedaan umur yang begitu jauh dan soal dia yang pernah gila adalah alasan-alasan lain yang hanya mempekuat penolakan dari Anda bila tidak ada cinta.

Terhadap tekanan orang tua, menurut saya lebih ringan, karena yang mereka lakukan itu Cuma berdasarkan pada utang perasan, utang budi. Sepanjang tidak ada perjanjian antara orangtua Anda dan pak Sonny, maka upaya mohon pengertian yang mengibah dari Anda sebagai anak mereka tentu bisa diperhatikan. Semua langkah dan cara perlu dijalani untuk membebaskan diri dari situasi Cinta Yang Terperangkap.

Bila sampai Anda akhirnya terpaksa menikah dengan Pak Sonny karena desakan orangtua, maka saya mau katakan bahwa Anda sebenarnya sedang "gila" karena tidak lagi memakai akal sehat dan logika untuk menentukan masa depan Anda sendiri.

Terkesan dari cerita Anda sepertinya Anda cendrung menyerah pada situasi ini. Ada sedikit tips bagi Anda kalau Anda harus menyerah maka hal perbedaan umur dan gradasi penyakit gila terdahulu pada pak Sonny harus mampu Anda lupakan. Sebaliknya Anda perlu memikirkan bahwa pak Sonny masih gagah, intelek dan kaya, sebagai obat untuk menjaga agar Anda jangan sampai menjadi benar-benar gila. Sebagai alasan logis perihal kelainan jiwa / gila yang terjadi 19 tahun yang lalu pada pak Sonny, menurut saya tentu bukan menyangkut jenis kelainan yang berat.

Buktinya Pak Sonny bisa sembuh dan bahkan bisa menyelesaikan pendidikan ke jenjang pasca sarjana. Kekuatiran bahwa kelak anak Anda bisa ikut gila, masih terlalu dini untuk dikatakan ya. Banyak hal ikut berperan dan menjadi penyebab seseorang untuk bisa jadi gila. Faktor keturunan sangat kecil kemungkinannya. Berikut, Soal bagaimana menjelaskan kepada sang pacar (John); menurut saya, katakanlah sejujurnya.

Jangan lagi ada dusta di antara kalian, agar hidup yang sudah sulit tersebut jangan ditambah lagi menjadi lebih sulit. Pacar yang baik hati mungkin akan bisa memahami situasi ini demi kebahagiaan Anda. Selamat mengambil keputusan. Saya tunggu undangannya.
Salam, Dr. Valens Sili Tupen, MKM.

Pos Kupang Minggu 6 Desember 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda