Drs. Ayub Titu Eki, MS, Ph.D


"Saya Doakan Mereka"

Oleh Benny Dasman

DUA puluh dua November 2009. Minggu malam. Jarum jam menunjukkan pukul 18.45 Wita. Saya melangkah, pelan, menuju ruang konferensi pers di rumah jabatan Bupati Kupang. Untuk kedua kalinya saya masuk di rumah jabatan yang beralamat di Jalan RA Kartini itu. Kursi plastik berwarna hijau tersusun rapi. Belum semuanya terisi.

Saya menempati kursi di lajur kiri. Paling depan. Di depanku ada sebuah meja bundar. Berukuran sedang. Di atasnya tersusun rapi beberapa aqua gelas. Di baliknya, Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki, Ph.D, duduk tenang 'memencet' seluler. Sesekali telepon. Berkomunikasi dengan koleganya.

"Selamat malam, pak?" sapaan saya membuyarkan 'konsentrasi' pria yang low profile itu. "Selamat malam. Silahkan duduk adik. Kita tunggu sebentar. Yang lain masih di jalan," sapanya. Saya pun duduk. Seorang diri. Ina Djara, TVRI Kupang, bergabung lima menit kemudian. "JP (jumpa pers) tentang apa," Ina bertanya. "Ada banyak hal," jawabku sekenanya.

Suasana santai. Tiba-tiba seorang tamu yang menempati kursi bagian kanan mengajukan 'pertanyaan' pertama kepada bupati. Ringan-ringan saja. 'Menghangatkan' suasana. Begini!

Bapak bupati punya HP tiga! Pasti ada nomor rahasia!
(Bupati Titu Eki tersenyum). HP yang satu ini sejak dari Universitas Terbuka (UT). Nomornya tidak diganti. Gara-gara HP ini, masih ada mahasiswa UT yang konsultasi nilai (bupati menyebut seorang mahasiswa dari sebuah desa di Ende).

Rupanya mereka belum tahu kalau saya sudah jadi bupati. Ha..ha..."Aduh saya bukan di UT lagi." Saya bilang begitu sama mereka. HP yang satu lagi, nomornya sudah diketahui banyak orang. Biarlah, sudah terlanjur, supaya masyarakat dengan mudah menghubungi saya. Nomornya tidak perlu diganti. Satu lagi (bupati angkat sebuah HP) nomornya rahasia. Orang lain tak boleh tahu. Hanya 'pacar' saya yang tahu (ha..ha...ha..). Pada hari minggu ada banyak SMS yang masuk, saya senantiasa membalasnya. Yang memfitnah sekalipun.

Jumpa pers yang sedianya dimulai pukul 19.00 Wita belum dimulai. Kepala Bagian (Kabag) Keuangan, Drs. Agus Wira Lomi, M.Si, dan anggota DPRD Kabupaten Kupang, Anton Melkias Natun, ST, sebagai pihak yang berkompeten berbicara dalam jumpa pers itu, belum datang. Keduanya sedang dalam perjalanan.

"Adik-adik bersabar sedikit ya. Kalau saya sendiri yang omong bisa juga, tetapi Kabag Keuangan dan anggota Dewan harus omong karena menyangkut hasil konsultasi ke Jakarta. Sebab saya dituding memotong anggaran tahun 2009 sebesar 25 persen, karena belum melakukan sidang anggaran. Keterlaluan," tandas Titu Eki. Bupati sudah memantik masalah. Saya pun mendalaminya dengan beberapa pertanyaan.

Jelasnya tudingan itu seperti apa?
Pemicunya karena terlambat sidang anggaran dan perubahan anggaran 2009, saya dituding memotong anggaran sebesar 25 persen. Tudingan itu dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Menyikapi hal itu dan belum digelarnya sidang perubahan anggaran 2009, saya bersama Kabag Keuangan dan anggota Dewan, Anton Melkias Natun, ST, berkonsultasi ke Jakarta. Menemui pejabat Depkeu, Depdagri dan Bappenas. Nanti Kabag Keuangan yang menjelaskan hasilnya dalam jumpa pers sebentar. Tunggu sebentar ya?

Menyikapi tudingan itu?
Saya bisu tuli. Tak peduli. Jalan terus. Tanpa mereka (orang yang suka tuding itu), saya jalan terus. Sampai di mana bilang stop, ya saya stop. Tapi bukan oleh orang- orang yang 'miring' itu, tetapi oleh rakyat, oleh undang-undang. Tudingan dan berita yang miring yang model bagaimana pun, saya juga tak peduli. Yang penting saya tidak melakukan hal-hal miring seperti yang ditudingkan itu. Saya menilai itu memprovokasi rakyat. Provokator. Bagian dari teroris. Saya juga pernah diberitakan makan uang Rp 400 juta terkait inventaris rumah jabatan ini (rumah jabatan Bupati Kupang). Sampai-sampai polisi datang menggeledah.

Penanganan kasus Rp 400 juta itu sudah sampai di mana?
Polisi diam. Tidak ditemukan apa-apa ketika mereka menggeledah rumah jabatan ini. Semuanya diperiksa. Kami punya kamar tidur juga diperiksa. Geledah semuanya. Memangnya barang apa yang ditinggalkan di rumah jabatan ini. Televisi yang ada di rumah jabatan ini, saya bawa dari rumah. Juga kulkas. Padahal berdasarkan DPA, televisi dan kulkas di rumah jabatan ini masing- masing dua unit. Fisiknya? Tidak ada. Saya malah bawa dari rumah. Kain gorden juga baru dipasang. Masih utang. Pemiliknya sudah datang tagih-tagih. Berita miring ini, tidak pernah dikonfirmasikan kepada saya. Apa memang begitu. Berita itu sangat menyudutkan. Tetapi saya tidak peduli karena tak pernah melakukannya. Saya anggap itu pekerjaan provokator.

Tidak melakukan upaya hukum?
Buang-buang waktu saja. Biar masyarakat sendiri yang menilai media mana yang profesional. Oh ya, saya juga pernah diberitakan media yang sama (bupati menyebut media itu) meminta uang kepada seorang pengusaha sebagai syarat untuk menerbitkan izin usaha. Juga tidak dikonfirmasi. Pengusaha itupun mengirim surat sanggahan kepada media bersangkutan, membantah berita tersebut. Tidak benar. Saya menilai itu sudah sangat tendensius. Tetapi tidak apa-apa. Saya membalasnya dengan senyum.

Tudingan dan berita miring tersebut mewarnai perjalanan karir bapak sebagai Bupati Kupang. Tidak merasa terpojok, terusik?
Saya enjoy saja. Menikmati apa adanya. Sesuatu itu harus terjadi apa adanya. Itu tantangan yang harus dilewati. Justru tantangan itu membesarkan dan mematangkan saya. Menempah hidup saya. Supaya adik tahu, ada juga yang SMS mengolok saya dengan menyebut saya (maaf) sebagai 'doktor bodoh.' Nama saya juga mereka ganti. Mereka sebut saya Nitu Eki. Adik tahu toh apa itu Nitu! Setan. Black magic. Tapi tidak apa-apa. Saya nikmati saja.

SMS itu sudah menyerang wilayah pribadi bapak. Tidak diapa-apakan?
Saya anggap itu pekerjaan orang-orang mabuk. Saya tidak perlu ikut-ikutan mabuk seperti mereka. Biar mereka sebut saya doktor bodoh, tetapi kenyataannya saya sudah jadi bupati. Saya baca SMS-SMS itu dengan senyum. Saya doakan mereka. Biar mereka sendiri yang sakit hati. Juga ada SMS mengancam membunuh saya. Saya balas, Anda di situ sudah membunuh berapa banyak orang. Saya tidak takut atau merasa sakit hati dengan SMS itu. Saya juga dibilang babi-lah dan segala macamnya. Yang terpenting saya tidak langsung jadi babi kan? Biarlah dia berkata begitu. Saya ini sudah biasa dengan ulat dan kerbau di kampung. Jadi, saya tidak takut. Sebaliknya saya berdoa supaya dia (orang yang SMS itu) selamat. Kembali ke jalan yang benar. Ibarat tinju, saya anggap itu jab-jab kecil, ringan. Saya tak perlu ikut-ikutan gila seperti mereka.

Pukul 19.40 Wita, Kabag Keuangan, Agus Wira Lomi, anggota DPRD Kabupaten Kupang, Anton Melkias Natun, SE, serta beberapa kepala dinas, bagian, badan lingkup Setda Kabupaten Kupang tiba di ruangan konferensi. Obrolan saya dengan Bupati Titu Eki pun terhenti. Bupati berpindah tempat. Meninggalkan meja bundar menuju podium jumpa pers. Kursi-kursi di belakangnya ditempati para kepala dinas.
Tak lama berselang, Bupati Titu Eki 'berkata-kata' membuka forum yang mengklarifikasi banyak hal tersebut. Penjelasannya demikian.

Akhir-akhir ini ada banyak tudingan dan berita yang menyudutkan kami (pemerintah). Yang terakhir ada tudingan bahwa saya memotong anggaran 2009 sebesar 25 persen serta pernah diberitakan makan uang Rp 400 juta terkait inventaris rumah jabatan. Berita-berita itu tanpa konfirmasi. Dan, forum jumpa pers ini, bukan dimaksudkan sebagai media bagi pemerintah untuk mencari dukungan agar dibenarkan. Tidak. Kami tidak sedang mencari dukungan. Berita yang tidak obyektif sangat merugikan dan memprovokasi masyarakat. Apalagi kalau kondisi riilnya tidak seperti yang diberitakan itu. Berita miring dan tidak obyektif itu provokator.

Kalau benar kami salah, tidak apa-apa, anggap saja itu sebagai koreksi. Tapi saya minta, kalau media menemukan kesalahan kami, tolong konfirmasi. Itu etikanya. Sekali lagi, jumpa pers ini bukan forum bagi pemerintah untuk mencari dukungan agar dibenarkan. Yang pemerintah inginkan hanya satu. Masyarakat Kabupaten Kupang ini maju. Rakyat Kabupaten Kupang ini masih miskin. Mereka butuh suasana kondusif untuk membangun.

Bupati Titu Eki pun menyerahkan mike kepada Kabag Keuangan, Agus Wira Lomi, yang duduk di samping kirinya. Wira Lomi, yang sudah 20 tahun menggeluti pekerjaannya berteman dengan rupiah, menjelaskan panjang lebar tentang persiapan materi di bagiannya untuk menyukseskan sidang anggaran dan perubahan anggaran 2009, meski hingga saat ini belum dilaksanakan. Pada tanggal 26 Agustus 2009, diagendakan sidang Dewan membahas perhitungan anggaran 2009, namun tidak terjadi, sampai masa kerja DPRD 2004-2009 berakhir. "Seharusnya sidang bisa dilaksanakan saat itu karena pada tahun 2004 pernah terjadi hal serupa. Namun dalam lima hari, Dewan bisa bersidang untuk menetapkan anggaran. Sebenarnya tak ada alasan bagi Dewan untuk tidak bersidang," terang Agus.

Agus pun membantah telah terjadi pemotongan anggaran 2009 sebesar 25 persen. Yang terjadi, diakuinya, hanya penundaan pembayaran atau keterlambatan realisasi. "Semua itu urusan pemerintah. Tak ada pihak manapun yang mencampurinya," katanya. Disebutkan pula dana silpa mulai dari tahun anggaran 2004 hingga 2008 yang jumlahnya terus meningkat. Tahun 2008, misalnya, dana silpa mencapai Rp 162 miliar. Para wartawan pun menyela memberi pertanyaan.

Bagaimana sikap Bupati Titu Eki soal dana silpa 2008 Rp 162 miliar?
Pemerintah tak bisa membuat perhitungan anggaran 2009. Tegaskan dulu dana silpa Rp 162 miliar itu. Itu tugas DPRD yang lalu. Bereskan itu dulu sebelum diserahkan kepada bupati baru. Lagi pula soal dana silpa ini ada kaitannya dengan 20 paket proyek di Oelamasi. Kalau kontraktor mengadukan saya secara hukum karena tidak mendukungnya dengan dana, saya siap ladeni. Akan ada orang yang jatuh duluan. Saya juga jatuh tetapi yang terakhir, menindis orang yang jatuh pertama.

Bagaimana anggaran untuk Kabupaten Sabu?
Tidak dianggarkan dalam APBD 2009. Kalau ada sidang perubahan kita memasukkannya, tetapi saat ini belum sidang. Jadi, DPRD lalu sedikit ada kesalahan. Lihat saja, Sabu tanpa anggaran, termasuk anggaran pemindahan pegawai. Soal memindahkan pegawai ke Sabu, saya melaksanakan amanat undang- undang meski berisiko. Mudah-mudahan ini tidak untuk menjerat saya. Tetapi tetap saya jalankan. Jangan jadi bupati kalau takut risiko.


Bagaimana kalau sampai 31 Desember 2009, Dewan dan pemerintah belum menggelar sidang perubahan anggaran 2009?
Berdasarkan hasil konsultasi dengan aparat Depkeu, Depdagri dan Bappenas di Jakarta, bupati bisa membuat dan menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) untuk melegitimasi penggunaan anggaran. Operasionalnya dikonsultasikan dengan Gubernur NTT. Dampaknya, pada tahun anggaran 2010, pun tak ada sidang perubahan anggaran, tetap menggunakan perbup. Selain itu, masyarakat kita tidak mendapat bonus pembangunan karena aspirasi mereka yang disampaikan melalui Dewan tidak diakomodir dalam anggaran. Jadi, masyarakat kita yang rugi. Bagi saya, agenda pembangunan yang saya canangkan jalan terus. Tak boleh berhenti. Kalau dibilang stop baru saya stop. Kita harapkan ada perkembangan yang kondusif sehingga sidang perubahan anggaran bisa dilaksanakan.

Penjelasan dari podium dilanjutkan lagi. Bupati Titu Eki memberi kesempatan kepada anggota DPRD Kabupaten Kupang, Anton Melkias Natun, ST, yang duduk di samping kanannya, berbicara. Anton bicara blak-blakan. Mulai dari keinginan Dewan untuk memberhentikan Bupati Kupang yang disebutnya sebagai sebuah kezaliman sampai kepada keikhlasan hatinya mendukung pemerintahan Bupati Titu Eki. Lahir dan batin.
Anton mengaku tetap ngotot agar alat kelengkapan Dewan di DPRD Kabupaten Kupang segera terbentuk, sebab sampai Desember 2009, tak ada satu pun agenda yang dikerjakan DPRD. "Untuk apa kita cekcok terus. Kita ini sama-sama berjuang untuk rakyat. Lupakan masa lalu dan kita sama-sama menatap ke depan. Tak ada gunanya kita mencari-cari kesalahan orang lain. Karena kesalahan kita pun akan dicari-cari orang. Kesampingkan kepentingan kita masing-masing," tandasnya.
Mendukung pemerintah? Ya. "Tapi bukan karena saya mendapat sesuatu. Coba tanya pak bupati atau para kepala dinas yang hadir ini. Saya dapat apa dari mereka. Kepedulian saya hanya untuk rakyat. Rakyat kita ini masih miskin. Jangan bilang maju. Masih miskin. Kita sama-sama meretasnya," tandas Anton dengan suara meninggi.
Bupati Titu Eki pun memberi kesempatan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Ir. Marthen LA Sakkung, M.Si; Kepala Bappeda, Charles Banamtuan; Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Joao MME Mariano; Inspektur Inspektorat Wilayah, Drs. Gregorius Nggadas; dan Kepala Dinas Pendidikan untuk berbicara. Semua berbicara sesuai tupoksinya masing-masing, terutama soal realisasi proyek dan keuangan tahun anggaran 2009. Tapi, penjelasan penutup dari Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Ir. Marthen LA Sakkung, M.Si, justru sangat menarik. Menepis isu primordial, nepotisme, yang dialamatkan kepada Bupati Titu Eki selama ini. "Kami ini, termasuk saya, bukan tim sukesnya pak bupati. Ada tujuh pejabat eselon dua yang bukan orang Timor. Jadi, apanya yang primordial. Ini penting untuk dipahami," terang Marthen. Bupati Titu Eki pun manggut-manggut saja.
Dialog dibuka. Bupati Titu Eki memberi kesempatan kepada para wartawan untuk bertanya. Seorang wartawan mengacungkan tangan. Matanya memelototi sebuah AC di dalam ruangan jumpa pers. Di bagian bawah AC itu terpampang jelas sebuah tulisan, "Utang Pemda 2009." Dia pun bertanya.

Apakah semua inventaris di rumah jabatan ini masih utang?
(Bupati Titu Eki menjawab). Kondisinya demikian. (Inspektur Inspektorat Wilayah, Drs. Gregorius Nggadas menambahkan). Kasus raibnya barang-barang inventaris di rumah jabatan ini sedang dalam proses pemeriksaan. Hasilnya belum disampaikan kepada bupati. Namun untuk diketahui, pada saat pak bupati tinggal di rumah jabatan ini, semuanya dalam keadaan kosong. Hanya dua kursi sofa. Yang lainnya tak ada, termasuk televisi dan kulkas. (Bupati Titu Eki menambahkan). Kalau ada orang yang mau ungkit-ungkit masalah seperti saya dituding makan uang Rp 400 juta, saya siap. Rakyat yang melegitimasi saya menjadi bupati. Sekali lagi, meski ada berita miring itu, saya jalan terus. Saya doakan mereka.

Waktu menunjukkan pukul 21.15 Wita. Konferensi pers berakhir. Bupati Titu Eki menyampaikan pesan pamungkas.

Pesannya?
Sekali lagi, jumpa pers ini bukan untuk menggalang dukungan, kekuatan, atau mencari pembenaran. Tetapi memosisikan permasalahan yang dituding kepada bupati dan pemerintah agar masyarakat tidak terprovokasi oleh isu-isu yang menyesatkan." ***

Pos Kupang Minggu 6 Desember 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda