Enam Matahari

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda


PADAHAL siang dan malam selama sebulan terakhir sudah dilatih berkali-kali, gambar pemandangan pesisir pantai dengan dua buah bukit, matahari bersinar di antaranya, pantai dan nyiur melambai, laut tanpa ombak, perahu berlayar, satu dua kelompok kecil awan putih, dan beberapa ekor burung terbang di udara. Lengkap dengan warna-warna khas anak-anak.

Nyatanya pada hari H perlombaan yang dilukis lain daripada yang lain. Bayangkan! Matahari ada enam! Satu di pinggir pantai, satu di atas bukit, satu di bawah pohon kelapa di pesisir, satu di atas atap rumah, dan di bawah lambung perahu. Pada setiap matahari ada satu pohon di sampingnya. Yang tepat seperti biasanya lukisan anak-anak, satu lagi matahari di antara dua bukit yang menyembul di batas cakrawala. Itulah gambar pemandangan yang disertakan dalam lomba.
***
"Kamu sungguh buat malu orangtua!" Rara kecewa bukan main melihat hasil lukisan Rara Yunior yang dipajang di ruang pameran lukisan yang dilombakan. "Seumur-umur matahari hanya satu! Tahu kamu!" Mata Rara melotot membuat si Yunior kelam kabut.

"He he he, ini hasil pendidikan ortu ya?" Jaki memberi komentar yang menyakitkan telinga. "Katanya pasti juara satu. Katanya sudah latihan selama sebulan. Bagaimana mungkin hasilnya bisa sim salah bim salah seperti ini? Aduh, kasihan bukan salah bunda mengandung... he he he," kata-kata Jaki membuat wajah Rara merah padam menahan marah sekaligus malu.

"Duh, Rara! Apa yang terjadi dengan anakmu?" Rara masih terkekeh-kekeh memperhatikan lukisan Yunior. Rara membuang muka karena bertambah malu. Maklum! Bagaimana tidak malu? Di sekeliling lukisan Yunior ada tulisan yang diukir sedemikian rupa. Jika dilihat sambil lalu tidak terbaca, namun jika diperhatikan dengan saksama, terbaca jelas tulisan KPK, cicak melawan buaya, bank century, dan pansus century.
***
"Anakmu kerasukan berita tivi ya? He he he kasihan si Yunior!" Suara Jaki membuat Rara mati kutu. Namun dia tak dapat membalas ejekan Jaki sebab dewan yuri sudah berkeliling dari satu lukisan ke lukisan lain. Rara buru-buru mau menurunkan lukisan Yunior, namun pembawa acara segera menghentikan gerakannya, "lukisan yang sudah terpasang tidak boleh dipindahkan sebelum ada pengumuman resmi dari Yuri yang diketuai oleh Nona Mia!"

"Jaki Yunior pasti keluar sebagai pemenang!" Jaki membusungkan dada. Soalnya, lukisan anaknya memang lukisan yang diharapkan, pemandangan pantai lengkap dengan dua bukit, matahari bersinar, perahu, burung di udara, nyiur melambai, dan gumpalan awan putih. Latihan selama sebulan penuh, sungguh-sungguh memuaskan Jaki. Apalagi Jaki dilatih dengan tekanan-tekanan, bahwa pada hari H nanti tidak ada satu bagian pun dari lukisan yang boleh diubahnya.

"Salahmu sendiri," komentar Jaki dengan bangga. "Kamu terlalu membiarkan anakmu bebas berkreasi. Jadi begitulah hasilnya. Seumur-umur matahari kok ada enam. Semestinya kamu pakai tangan besi memberi perintah pada anakmu. Biar anakmu taat perintah. Menyesal sekali ya, sebenarnya inilah saat yang paling tepat bagi dua yunior bersaing di antara teman-teman mereka yang lain..." Jaki tersenyum simpul.

***
"Sebelum pengumuman kami ingin menjelaskan satu lukisan yang sangat inspiratif," suara ketua dewan yuri, ibu Nona Mia. "Untuk itu kami panggil pelukis cilik pemberani. Rara Yunior!" Rara kelam kabut. Jaki senyum penuh kemenangan. Rara Yunior maju ke atas podium diiringi tepuk tangan sekaligus ejekan dari sana sini.

"Rara Yunior, lukisanmu luar biasa! Ada berapa matahari dalam lukisanmu?"
"Enam!"
"Kenapa enam?"
"Panaaaaaaas! Global warming! One Man One Tree..."
"Pintar!" Puji Nona Mia. "Suka nonton tivi?" tanya Nona Mia dan Rara Yunior mengangguk malu-malu.

"Ini tulisan apa?" Nona Mia mengerutkan kening memperhatikan tulisan di sekeliling lukisan Rara Yunior.
"KPK, cicak melawan buaya, bank century, dan pansus century," jawab pelukis cilik dengan sangat lancar dan tanpa beban.

"Pintar!" Puji Nona Mia lagi. "Suka nonton tivi?" tanya Nona Mia dan Rara Yunior menggeleng sambil mengangkat bahu. "Kenapa?" tanya Nona Mia.
"Panas, sakit perut, sakit gigi!" Yunior menjawab lancar.

***
Hari yang luar biasa bagi Rara Yunior. Lukisannya keluar dengan predikat terbaik. Benza berbicara di depan umum, memberi pujian khusus kepada lukisannya yang kritis, kreatif, inovatif. Yunior tidak mengerti benar apa makna kata-kata Pak Benza. Maklumlah umurnya masih sembilan tahun, baru duduk di kelas empat SD.

"Rara Yunior boleh bicara menyampaikan terima kasih atau bicara apa saja soal lukisan," Benza memeluk dan menepuk-nepuk perlahan bahu Yunior.

"Om, saya boleh tanya?" tanya Rara Yunior. "Mengapa orang dewasa suka berkelahi tidak sopan? Mengapa orang-orang besar suka korupsi? Mengapa orang-orang pintar suka menipu dan suka sekali buat panas?"

Benza, Nona Mia, Rara dan semua ortu yang hadir di arena lukisan terdiam bingung entah mesti menjawab apa. Hanya Jaki saja yang menggerutu karena tidak puas anaknya kalah.

***
"Om, uang enam triliun itu banyak ya? Kalau beli es krim coklat dapat berapa ya?" tanya Yunior dengan penuh harapan jawaban.
"Kenapa Yunior tanya?" Benza gelagapan.

"Panas! Matahari tambah lagi satu!" jawab Yunior. *


Pos Kupang Minggu 6 Desember 2009, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda