Hans Pingak dan Welmince Pingak-Saubaki

Ajari Anak Lestarikan Budaya Daerah

MENGAJARI anak untuk melestarikan budaya daerah adalah salah satu cara yang dilakukan pasangan Hans Pingak dan Welmince Pingak-Saubaki. Talenta besar yang dimiliki ketiga anaknya dalam bidang musik dimaksimalkan oleh keduanya untuk mengarahkan anak belajar tentang musik daerah. Salah satu budaya musik daerah yang ingin ditekuni ketiga anaknya adalah musik sasando.


Pasangan ini pun sangat mendorong ketiga anaknya untuk belajar khusus jenis musik ini. Bagi keduanya, belajar musik modern saat ini sudah banyak sekali yang mempelajari, tetapi musik tradisional merupakan suatu kekeculian. Hanya pada orang- orang tertentu yang memiliki tekad dan niat yang kuat untuk melestarikan warisan leluhur ini. Pasangan ini memiliki tiga anak.

Putri sulungnya, Charline Tiara Rehuela Pingak, lahir di Kupang, 16 Oktober 1999, saat ini sudah duduk di bangku kelas V, SD Kristen Hosana Kupang. Anak kedua, Bram Pingak, lahir di Kupang, 19 Desember 2001, dan Muela Pingak, lahir di Kupang, 11 Desember 2004.

Kepada Pos Kupang di kediamanya, Jalan WJ Lalamentik, Kelurahan Oebufu Kupang, Kamis (19/11/2009), Hans yang didampingi istri dan ketiga anaknya mengatakan, anak-anaknya memang sama-sama memiliki talenta musik yang luar biasa.

Dengan melihat karakter ketiga anaknya ini, ia lalu memutuskan untuk mengarahkan anak-anaknya belajar musik sasando secara khusus. Pembelajaran musik, katanya, dilakukan di rumah setelah pulang sekolah selam satu atau satu setengah jam sesuai dengan mut yang dimiliki anak-anaknya.

Bahkan gar anak-anaknya lebih serius, Hansa tidak ragu untuk mengundang guru privat sasando untuk datang ke rumahnya. Ketika awal belajar musik sasando, ia mengarahkan ketiga anaknya untuk langsung belajar kepada sang maestro musik sasando yakni, Yeremias Pah dan Lewi Pingga di Oebelo.

Namun, karena jaraknya terlalu jauh dan anaknya sudah bisa mandiri, keduanya mengajarkan anak-anaknya di rumah dengan mamanggil guru privat.
Alhasil, putri pertamanya sudah menjadi pemain sasando cilik bahkan sudah beberapa kali tampil di depan umum untuk menunjukan kepiawainnya baik di even lokal, nasional maupun internasional.

Hans pun mulai menabung dan membeli sendiri alat-alat musik sasando sendiri mulai dari yang sederhana sampai pada musik sasando modern yang menggunakan listrik. Selain itu, ia juga menyediakan jenis musik lainya seperti piano, angklung, seruling dan drum.

Bisanya, Hans bersama ketiga anaknya bermain bersama, dan sedang mut dengan jenis musik yang dimiliki. Jika lagi menyukai sasando, mereka pun akan bersama- sama bermain dan menyanyikan lagu yang diiringi musik sasando. Begitupun sebaliknya, jika lagi menyukai jenis musik lainya merekapun akan memainkanya, dengan tetap tidak menganggu ketenangan para tetangga di sekitar mereka.

Menurutnya, keduanya tidak ingin menset anak-anaknya dengan pemikiran yang tinggi-tinggi, tetapi minimal mereka sudah memulai belajar dan ada niat untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang ini.

Keinginan bermain musik dan menekuni musik bukan keinginan keduanya tetapi keinginan bersama baik dirinya sebagai orang tua maupun anak-anak. Sehingga, tidak ada kesan pemaksaan kepada ketiga anaknya untuk belajar musik, tetapi terus memotivasi dan mendorong mereka untuk memulainya sejak usia dini. Ibarat parang, katanya, yang terus diasah setiap hari dan tidak terburu-buru, begitupun ketiga anaknya.

Bahkan, dosen di Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana ini tidak merasa perlu memperhatikan khusus prestasi akademik secara kuantitas anak-anak di sekolah. Menurutnya, prestasi akademik yang diraih dengan melihat nilai yang tinggi-tinggi bukan satu-satunya jaminan bagi anak, tetapi bagaimana anak memiliki skill yang ditekuni secara baik. Ia bahkan tidak pernah mengajarkan anaknya untuk sekolah dan suatu saat menjadi seorang PNS, walaupun dirinya adalah PNS. Tetapi, ia selalu mengajarkan kepada anaknya bagaimana berjiwa wira usaha (enterpreneurship) sejak kecil.

Efek Musik Klasik
Kelihaian anak-anaknya dalam bermain musik tidak terlepas dari kebiasaan keduanya memutar musik klasik pada saat anak masih berada dalam kandungan. Saat istrinya hamil, kata Hans, ia sudah membiasakan janinnya untuk mendengar musik klasik. Sebagian besar musik klasik yang diperdengarkan adalah karya-karya Mozart.

Menurutnya, efek musik mozart terhadap kecerdasan dan kemampuan fisik anak sangat tinggi dan ini sudah dirasakan saat ini. "Saat anak-anak ini dalam kandunga, saya membeli buku-buku tentang anak dan saya mendafat informasi mengenao bagaimana pengaru musik terhadap intelegensia anak. Dan benar, saat anak-anak dalam kandungan, saya sudah perdengarkan musik klasik dan terus setelah mereka lahir dan tumbu menjadi anak-anak.

Bukan itu saja, daya tahan mereka terhadap penyakit juga lebih baik. Jadi pengaruh musik klasik terhadap perkembangan mental dan fisik anak ini sangat baik," jelasnya.
Berbicara soal kemandirian, Hans pun mengatakan, di rumah keduanya tidak membayar tenaga pembantu. Hal ini dilakukan agar ketiga anak-anaknya benar-benar belajar untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri sesuai dengan kemampuan mereka. "Saya tanamkan anak-anak saya bagaimana suatu saat mereka menjadi mandiri dan tidak tergantung kepada siapapun. Dan, musik sasando saya yakin bisa membawa mereka menjadi anak yang sukses dan mandiri," katanya.

Biasakan Disiplin
Bagi kelurga Hans Pingak, disiplin merupakan cara untuk mencapai harapan yang lebih baik. Dan, disiplin inilah yang diterapkan pada anak-anak. Meskipun buah hatinya masih anak-anak, Hans dengan gaya seorang ayah mulai menerapkan model disiplin gaya keluraga ini.

Cara yang dilakuka adalah membuat skedule mulai dari bermain, belajar hingga aktivitas lainnya. Anak-anaknya sudah dibiasakan bangun pagi jam 05.00 Wita. "Kami bangun jam, dan anak-anak kami bangunkan jam lima. Mereka kemudian berdoa dan bersiap-siap ke sekolah. Namun tidak lupa berdoa sekeluarga terlebih dahulu. Jam 06.30 Wita, anak-anak saya sudah harus antar ke sekolah karena mereka masuk jam 07.00 Wita," jelasnya.

Setelah pulang sekolah, anak-anak Hans Pingak biasanya makan siang bermain sambil menonton acara televisi. Tapi jam empat, bila ada yang harus mengikuti les sore sudah harus mengikuti pelajaran sore tersebut di sekolah. "Saya tidak memaksa mereka tidur siang, nanti istirahatnya sekalian pada malam hari. Tapi siang itu mereka harus mengerjakan PR dari sekolah," jelasnya.

Dan, jam tidur untuk anak-anaknya adalah jam 20.00 Wita atau jam delapan malam. Ia mengakui, aturan yang diterapkan ini kerap mendapat protes dari anak-anaknya. Namun, sebagai ayah, Hans memiliki cara yang lembut agar anak-anak bisa mengikuti kemauannya. "Bisanya ada juga yang protes, tapi kita tetap menerapkan aturan ini. Tentu dengan cara-cara yang halus," jelasnya.

Meski disiplin, Hans tetap memperhatikan waktu bermain bagi anak-anaknya. Bisanya, anak-anaknya bisa menggunakan waktu untuk bermain seusai pulang sekolah. (nia/alf)

Pos Kupang Minggu 22 November 2009

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda