Keindahan Pantai Alak dan Tumpukan Pasir


POS KUPANG/ALFRED DAMA
PASIR PANTAI--Pasir pantai yang ditambang di kawasan Pantai Alak ditumbun di tepi pantai itu, Rabu (8/12/2009).


PLAT besi berwarna abu-abu masih berdiri kokoh di tepi jalan M.Praja-Kelurahan Alak, Kecamatan Alak Kota Kupang. Plat berukuran satu meter persegi yang ditopang dua pipa yang berdiri tegak setinggi dua meter itu mulai berkarat sehingga tulisan di atas plat itu tidak kelihatan lagi secara jelas. Di atas plat tersebut bertuliskan Perda (Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2000 Dilarang Menggali dan Mengambil Batu, Pasir dan Kerikil di Pesisir Pantai.

Peringatan tersebut berada tepat di salah satu gudang peti kemas milik perusahaan swasta di Kota Kupang. Di samping plat tulisan itu, terdapat jalan masuk ke arah pantai. Berjalan sekitar 100 meter di jalan setapak berbatu dan melintasi pecahan beling bekas sampah, sudah langsung melihat pantai Teluk Kupang.

Pantai Alak yang bertepi karang curam dengan ketinggian sekitar satu hingga dua meter tersebut sangat mempesona. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa nelayan dan pemancing ikan sedang berusaha mendapatkan ikan di sekitar tempat itu. Riak ombak pun menambah semarang pantai yang berjarak sekitar lima Km dari Pelabuhan Tenau- Kupang itu. Keindahan Pantai Alak yang terlupakan oleh warga Kota Kupang ini.

Di antara keindahan itu, terdapat tumpukan-tumpukan pasir, batu karang dan kerikil sisa kerang kerang laut yang mati. Tumpukan pasir pantai yang berwarna putih ini tersebar di beberapa titik, bahkan ada tumpukan sisa-sisa pasir. Bahkan, tidak jauh dari tempat itu atau berada di kawasan wisata Gua Monyet Alak, semakin banyak sisa-ssa tumpukan pasir dengan diameter mencapai tiga hingga empat meter. Bahkan terdapat batu karang yang masih tertumpuk di tempat itu.

Tumpukan pasir, batu dan kerikil sangat ironis dengan pengumuman yang dipasang Pemerintah Kota Kupang tidak jauh dari tempat ini. Tumpukan tersebut mengindikasikan penambangan pasir di tempat itu masih terus berlangsung. Di tempat itu juga masih jelas jejak roda kendaraan truk yang masuk ke tempat itu untuk mengambil material pasir pantai dan batu karang serta sisa koral mati.

Beberapa warga yang ditemui di tempat itu mengatakan, tidak mengetahui pasti orang- orang yang menambang pasir di tempat itu. Sebab, aktivitas tambang tersebut tidak dilakukan setiap hari atau hanya waktu-waktu tertentu saja.

Pantauan Pos Kupang, di kawasan dekat gudang peti kemas, tidak terdapat aktivias, bahkan tempat itu sangat sepi meski ada tumpukan pasir. Pemandangan yang sama juga di kawasan wisata Gua Monyet Ala. Tak seorang pun yang melintas atau melakukan aktivitas di tempat itu kecuali ada beberapa pasang remaja yang bermesraan di tepi.

Informasi yang yang dihimpun, pasir pantai yang diambil dari tempat itu kemungkinan merupakan pesanan dari pihak lain untuk kepentingan bangunan atau keperluan olahraga misalnya untuk lapangan voly pantai (lapangan berpasir) sementara kerikil digunakan untuk memperindah taman di halaman rumah. Apapun tujuan pengambilan pasir pantai tersebut merupakan bentuk andil dalam merusak ekosistem dan alam pantai di tempat itu.

Luran Alak, Yohanes Adu melalui Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kota (PMK), Yulius Muda yang ditemui di Kantor Lurah Alak, Rabu (9/12/2009) mengatakan, pihaknya sebenarnya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di sepanjang pantai Alak tentang larangan pengambilan pasir, batu dan kerikil di tempat itu. Namun diakuinya juga bahwa aktivitas pengambilan pasir masih terus dilakukan.

"Pak lurah bersama aparat polisi juga sudah ke tempat pengambilan pasir itu, tapi tidak ketemu dengan masyarakat yang mengambil pasir," jelas Yulius. Kemungkinan para penambang pasir itu merupakan bukan warga Alak, sebab sejauh ini masyarakat di wilayah itu tidak pernah mengambil pasir.

Salah seorang staf kantor lurah menyebutkan, kemungkinan proses pengambilan pasir atau batu karang di wilayah itu dilakukan pada malam hari, sebab pihaknya belum pernah menemukan warga yang mengambil pasir tapi ada tumpukan pasir. Hal inilah yang membuat mereka kesulitas mengambil tindakan kepada warga.

Para pengambil pasir pada umumnya menambang di area dekat Gua Monyet Alak lalu ditimbun sementara di bibir pantai. Sebagian pasir itu kemudian dibawa menyusuri pantai berkarang untuk ditumpuk lagi dekat sebua gudang penampungan peti kemas. Dari sanalah, pasir tersebut diangkut keluar dari wilayah tersebut.

Meskipun petugas sudah maksimal, proses pengambilan pasir ini masih terus berlangsung. Tindakan tegas petugas harus benar-benar diwujudkan, bila tidak maka Perda Pemerintah Kota Kupang No 7 Tahun 2000 akan tetap dilanggar. (alf_dama@yahoo.com).

Pos Kupang Minggu, 13 Desember 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda