Kolonel Inf Dody Usodo Hargo S, S.IP


Baru Empat Bulan, Sudah Keliling NTT

BARU empat bulan bertugas di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kolonel (Inf) Dody Usodo Hargo S, S.Ip sudah mengelilingi bumi Flobamora. Hasil dari kunjungan itu, Komandan Korem (Danrem) 161 Wirsakti-Kupang ini mengagumi keanekaragaman budaya dan adat-istiadat NTT.

Menurut ayah dua anak ini, kekayaan budaya NTT ini merupakan potensi luar biasa yang dimiliki bangsa ini, namun kekayaan ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, masih banyak komponen masyarakat belum mengetahui tugas dan peran TNI dalam pembangunan nasional. Yang dipahami oleh masyarakat saat ini adalah TNI hanya bertugas mempertahankan kedaulatan RI, padahal tugas aparat TNI bukan perang saja seperti yang diatur dalam UU No 34 Tahun 2003.

Beberapa waktu lalu Pos Kupang sempat berbicang-bicang dengan orang nomor satu di Korem 161 Wirasakti ini. Banyak hal yang diperbicangnkan mulai dari tugas TNI hingga masa lalu sang kolonel. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Kolonel Inf Dody Usodo Hargo S, S.IP.

Masyarakat masih beranggapan TNI hanya bertugas saat perang. Apakah tugas TNI hanya terkait dengan perang saja?
Tugas pokok TNI adalah menjaga kedaulatan, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan UUD 1945, Pancasila serta melindungi segenap bangsa dari segala macam bentuk ancaman. Ada dua pola dalam menjalankan tugas ini pertama adalah pola operasi militer untuk perang atau biasa disingkat OMP. Di sini tugas TNI hanya satu yaitu menghadapi invasi musuh yang akan masuk ke negara kita, itu murni perang terbuka. Sementara ini kebanyakan masyarakat atau komponen bangsa lainnya itu tahunya tugas TNI yaitu perang, menghadapi invasi musuh, mengapa harus ada pangkalan TNI.

Pola yang satu lagi adalah Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Dalam OMSP ini ada 14 tugas TNI, tujuh di antaranya berkaitan dengan tempur, tujuh lainnya berkaitan dengan tugas- tugas bantuan dan tugas kemanusiaan. Saya sebut saja contohnya, memberantas separatisme, menumpas pemberontakan bersenjata, mencegah terjadinya aksi terorisme, melaksanakan pengamanan VVIP terjadap Presiden dan Wakil Presiden serta tamu-tamu negara setingkat Presiden. Kemudian melaksanakan tugas-tugas yang lain, tugas bantuan kemanusiaan penanggulangan bencana alam, kemudian tugas pemberdayaan wilayah pertahanan.

Ada yang disebut dengan membantu pemerintah daerah, ada lagi yang disebut dengan tugas membantu kepolisian yang sesuai dengan perundang-perundangan yang berlaku, kemudian tugas bantuan SAR, tugas bantuan penanggulangan bencana alam. Cukup banyak tugas itu, ada 14 yang belum tersosialisasi dengan baik. Ada anggapan bahwa sejak UU No 34 Tahun 2003 itu diberlakukan, orang kurang peduli dan berpikir, biar saja TNI yang tahu. Nah itu keliru.

Apakah masyarakat kurang tahu tugas TNI ini?
Ya, menurut saya itu (masyarakat) kurang paham. Bagaimana tahu tugas saya kalau baca UU-nya juga tidak pernah. UU No 34 tentang TNI itu jelas mengatur apa yang dikatakan prajurit, apa yang dikatakan perwira, apa yang dikatakan bintara. Di UU itu juga dirinci, tugas Angkatan Darat itu apa, Tugas Angkatan Laut apa, Angkatan Udara itu apa. Dari tiga angkatan ini hanya Angkatan Laut yang punya tugas diplomasi. Angkatan laut punya tugas diplomasi laut.

Sekarang saya bersyukur, setiap ada yang bertemu saya masukan dan mulai mengerti. Ada yang datang ke sini, saya kasih UU RI No 34 tentang TNI. Nanti dibaca dulu, apa yang kurang jelas nanti diskusi sama saya.

Apa yang Anda lakukan agar masyarakat paham tugas TNI?
Saya sudah melakukan banyak cara, di antaranya saya sudah datang ke seluruh wilayah Kodim di NTT, dan saya bertemu dengan tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemerintah daerah. Di situ saya selalu ada semacam dialog, dan dalam dialog itu saya sampaikan itu. Saya tanya, apa peran Kodim di daerah Bapak ini, apa peran TNI di masa damai itu berlatih-berlatih dan berlatih.

Kedua, membantu wilayah, membantu kegiatan di daerah melalui bakti TNI. Yang diprogramkan adalah TNI manunggal membangun desa (TMMD) yang dilaksanakan satu tahun dua kali secara berganti, kemudian ada karya bakti TNI.

Ada tiga cara kita melaksanakan kegiatan untuk memberdayakan wilayah pertahanan atau pembinaan teritorial. Seperti kegiatan bakti TNI. Bakti TNI ini ada dua yaitu operasi bakti TNI, kegiatan ini dibiayai dan dibatasi oleh waktu, contohnya TMD (TNI Masuk Desa), Kabikes (Karya Bakti Kesehatan) disebut dengan karya bakti yang bisa dilaksanakan kapan saja, tanpa ada biaya dan tidak dibatasi waktu. Yang namanya operasi pasti dibiayai dan dibatasi waktu.

Nah kemudian ada lagi cara kita yaitu komunikasi sosial dengan masyarakat. Nah, saya ke sana-sini itu melakukan komunikasi sosial dengan masyarakat sambil memberikan masukan. Kemudian saya beraudensi, itu saya jelaskan. Saya juga punya website. Peungunjungnya satu hari bisa 60 hingga 70. Kalau rata-rata 70 per hari, maka sebulan bisa 200 orang ya, yang tahu tentang sini. Itu cara yang saya lakukan, apakah selama belum dilakukan yang jelas ketika saya msuk ke sini banyak yang belum tahu tentang tugas TNI.

Korem 161 WS berada di perbatassn dua negara, yaitu Australia dan Timor Leste. Bagaimana koordinasi untuk menjaga kedaulatan negara?
Saya selaku Danrem juga bertindak sebagai pelaku pengamanan operasi, baik di perbatasan darat maupun di pulau-pulau terdepan. Sementara ini kita mendapat perintah untuk pengamanan pulau terluar, hanya dua. Sebetulnya hemat saya ada lima pulau yang harus diisi. Sementara hanya dua, ada di Sumba Timur ada dua pulau terluar, Pulau Salore dan Mangkudu dan satu di Ndana Sabu.

Pertimbangannya karena di Sumba Timur di Sabu kalau kita tarik garis itu masih di dalam. Jadi relatif masih terjaga oleh kita. Tapi di Ndana Rote walau dia mepet dengan Pulau Rote, tapi ini ini terluar dan paling selatan. Dan, kita tidak mau terulang Sipadan dan Ligitan, kenapa Pulau Batek yang di dalam itu kita jaga karena dia berbatasan dengan RDTL. Dia bukan terluar, tapi terdepan karena berbatasan langsung dengan RDTL, kalau itu kita tidak duduki bisa saja Distrik Oecuse-RDTL bisa masuk ke situ, dia kan masih dibantu UN bisa kan dia ganggu kedaulatan kita, makanya kita tempatkan pasukan kita. Dengan segala keterbatasan dan kesulitannya dan itu harus ditempati. Itu untuk menyikapi daerah perbatasan.

Di sepanjang perbatasan ini daerah pengawalan TNI. Bagaimana pembinaan masyarakat supaya mereka sadar bahwa mereka juga bagian dari warga NKRI?
Itu dilakukan oleh anggota saya di perbatasan bisa dengan dengan pengarahan, bisa dengan kunjungan. Untuk menunjukkan nasionalisme, saya perintahkan di pos-pos perbatasan. Contohnya hari Senin upacara bendera, kalau ada sekolah di situ, maka dia ikut bagaimana cara membantu. Msyarakat kita di perbatasan sangat sadar dengan perbatasan dan luar bisa hebat. Misalnya di daerah bermasalah, kita kasih tahu.

Di perbatasan juga ada masalah ternak masuk ke RDTL. Bagaimana cara menyelesaikannya?
Ini yang selalu jadi masalah dan sering terjadi di daerah yang menjadi sengketa itu. Tahun 2000 ada masyarakat kita yang ditembak oleh Interfet. Ada masyarakat giring sapi dan ditembak pahanya. Anak itu sudah sehat, tapi sudah meninggal karena terjatuh dari mobil. Permasalahan sapi ini bisanya terjadi, maka menjadi tugas kita di perbatasan. Kita berkoordinasi dengan Unida Pilicia Fronenet (UPF), yaitu polisi perbatasan Timor Leste. Kita koordinasi dan nanti dialah yang membantu. Memang masih seperti itu karena inilah border, ini perbatasan negara ini tidak dipagar jadi sangat mungkin terjadi. Di Haumeniana masyarakat kita kalau membuang sampah ke Timor Leste, karena wilayah itu adanya di seberang jalan. Jalannya milik kita. Di Haumeniana juga dikomplain. Ada warga bikin gerbang desa bentuk gapura, katanya gapura itu masuknya wilayah Timor Leste. Kalau koordinasi kita dengan UPF cukup bagus, kadang-kadang yang di lapangan tidak tahu juga seperti di Oepoli.

Setelah empat bulan di sini, apa kesan Anda tentang NTT?
Sebetulnya NTT ini daerah berpotensi. Dari segi kebudayaan memiliki potensi tinggi, karena dari satu daerah ke daerah lain itu sudah berbeda-beda. Dan, saya lihat seni budaya di sini yang susah ditemukan di daerah lain di Indonesia. Saya ambil contoh. Saya pernah menjabat asisten operasi di Kalimantan. Saya ketemu di Dayak Kalimantan Timur, Dayak Kalimantan Selatan, Kalimatan Tengah, Kalimantan Barat itu seni budayanya hampir sama. Seperi tarian elang itu hampir sama. Alat musik hampir sama, tapi di NTT, saya masuk Alor sudah lain, saya masuk Larantuka sudah lain, saya masuk lagi di salah satu desa di Kabupaten Sikka yaitu di Desa Hokor itu sudah lain lagi. Yang jadi ikon di tengah Kota Maumere ada patung sosok pria yang membawakan tarian hebing, tari perang itu lain lagi. Masuk ke Belu sudah lain, masuk ke Rote lain lagi. Jadi NTT sangat berpotensi dari nilai segi, nilai budaya. NTT juga memiliki sumber daya alam yang kaya tapi belum eksploitasi seperti sekarang yang lagi ramai yaitu mangan. Hal ini memang harus dibuat semacam standar yang sama, peraturan yang jelas sehingga masyarakat tidak dibingungkan. Saya tidak boleh berbicara itu, tapi pandangan saya seperti itu. Tuhan itu adil, walaupun alam NTT dibuat tidak pernah ada hujan, tapi alamnya kaya, apalagi lautnya. Saya tadi nyeberang ke Sulamu, ikan banyaknya bukan main. Terus dari SDM juga perlu ditingkatkan. Menurut saya, di NTT belum ada pemerataan dan keseimbangan, jadi satu sisi yang pintar-pintar sekali, tapi yang kurang pendidikan juga benar-benar kurang. Jadi pemerintaan pendidikan di NTT belum berimbang. Kalau di NTT lebih cocok sekolah-sekolah kejuruan, pemerintah harus banyak mendirikan Balai Latihan Kerja. Dengan sempitnya lowongan kerja di NTT, mungkin kita lebih banyak keluar sebagai TKI. Kalau TKI ini kalau di keluar harus dibekali dengan skill. Sehingga keluar nanti tidak saja bisa menjadi tenaga-tenaga kasar. Nilai keagamaan di NTT juga sangat luar biasa tinggi, yang hebatnya toleransi umat beragama tinggi, walaupun Islam di sini minoritas tidak menjadi menjadi orang yang tersisikan, jadi kerukunan umat beragama sangat bagus. Ini empat bulan yang saya lihat ya begitu.

Anda mengatakan positif tentang NTT. Bagaimana Anda melihat perilaku orang NTT?
Memang adalah sedikit yang senang melaporkan orang. Di institusi saya juga begitu. Saya kadang-kadang terima SMS, mengadukan komandan ini, mengadukan teman ini. Saya katakan melalui SMS, jangan senang melihat orang susah tapi atau susah melihat orang senang. Harus diartikan kita senang melihat orang senang, kita susah melihat orang susah. Di situlah akan muncul kepedulian. Nah, kita harus akui masih ada yang seperti itu.

Apakah menjadi tentara sudah menjadi cita-cita Anda?
Sejak kecil kehidupan saya di lingkungan tentara. Bapak saya tentara. Saya diasuh juga oleh tentara, berangkat sekolah diantar oleh tentara. Jadi semasa kecil kalau ditanya besar mau jadi apa, saya bilang mau jadi tentara. Kelas III SD sudah muncul cita-cita itu. Masa kecil saya di Padang-Sumatera Barat. Kemudian saya juga aktif berorganisasi sejak SD. Saya aktif di kepramukaan sejak SD, SMP. Dan, sejak SD sampai tamat SMA, tidak pernah namanya saya tidak jadi ketua kelas. Mungkin dari situ juga sudah melatih saya untuk memimpin, bisa memutuskan. Contohnya saat SMA terjadi mendadak ada aturan baru yang tidak bisa kita terima, saya bisa memimpin, mengajak teman- teman untuk protes. Kepemimpinan itu kan suatu seni untuk mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kemauan kita.

Apakah setelah tamat SMA, langsung ke AKABRI?
Setelah tamat SMA, saya sempat ikut test di perguruan tinggi dan diterima. Saya diterima di Undip, pilihnya Fakultas Teknik Jurusan Teknik Matematika di IKIP, juga ambil jurusan Matematika. Tapi di IKIP itu ada program D1, masa kuliah satu tahun. Setelah selesai kuliah, langsung ikatan dinas jadi guru SMP. Saya ambil ambil S1 di Universitas Diponegoro (Undip). Rencana saya adalah hanya satu tahun bergantung pada orangtua. Target saya, setelah setahun di IKIP, tamat tentu saya tidak bergantung lagi dengan orangtua, saya sudah bisa membiayai diri sendiri dan biaya kuliah saya dari penghasilan jadi guru untuk kuliah di Undip. Saat di Undip sudah mulai Mapram, ada pengumuman dari test Akabri, juga lulus. Jadi saya ke Magelang dan masuklah saya ke Taruna Akabri.

Kenapa pilih AD?
Memang saya pilih AD, dan kebetulan psikotest saya memang di AD. Saya pilih AD kan hanya mau melihat orangtua, orangtua saya AD. Cadangan saya itu saya ambil AU, AL dan Kepolisian paling akhir. Tapi psikotest saya itu terbaik di AD dan kedua di AL, jadi saya masuk AL. Saya ingin masuk AD adalah ingin masuk Kopasus bisa menjadi komandan pasukan. Itu saya yang saya inginkan, tidak pernah berpikir macam-macam.

Saat Anda memilih masuk tentara, kita masih menghadapi masalah separatis seperti Timor Timur dan Aceh. Apakah Anda tidak berpikir jadi tentara maka harus menuju medan perang itu?
Tidak terpikir seperti itu, kita sudah tahu konsekuensi kalau masuk tentara. Dan, benar setelah lulus Letnan Dua, barus masuk Batlyon satu bulan langsung menuju ke Timor Timur dengan pasukan saya. Bahkan sampai lima kali tugas di Timor Timur. Saya senang saja, kan sudah menjadi cita-cita saya.

Apakah Anda tidak kecewa tugas di daerah terpencil, apalagi Anda berasal dari daerah yang ramai?
Tidak menjadi masalah, apalagi saya komandan peleton yang punya tanggung jawab terhadap anak buah. Saya selalu memakai semboyan follow me, ikuti saya. Tidak ada komandan di belakang, komandan harus di depan. Saya selalu mengawali pekerjaan dengan niat, motivasi dan saya bisa membangkitkan semangat anak buah saya.

Anda bertugas saat itu, bagaimana dengan pacar Anda?
Saya kalau di daerah operasi, hal-hal yang seperti itu lupa. Waktu itu belum ada HP, jadi komunikasi yang saya gunakan adalah bersurat dan itu dengan orangtua. Keberuntungan saya adalah selama bertugas di Timor Timur itu, saya tidak punya pacar. Jadi saya pulang cuti, ya ke orangtua saya saja. Makanya saya dapat istri saya itu melalui sahabat pena. Sahabat penah sewaktu saya bertugas ke Timor Timur ke empat. Karena saya tidak punya kesempatan berpacaran waktu itu, tugas-tugas terus. Kebetulan saya punya sahabat pena dan cocok sama saya, begitu saya pulang tugas ketemu dua tiga kali ya langsung salaman jadi istri saya. Toh enak, pacaran setelah jadi istri.

Anda tidak merasa punya masa muda yang hilang?
Ah.. tidak, saya tidak pernah merasa begitu. Karena kalau ada rasa itu maka semuanya akan menjadi penyesalan, padahal apa yang sudah kita lakukan, tidak perlu disesali karena itu sudah menjadi keinginan dan cita-cita kita. Saya tidak pernah merasa mada muda hilang, saya menikmati masa muda saya selama empat tahun di AKABRI, karena hari Sabtu dan Minggu juga ada kesempatan pesiar, saya juga pesiar bersama oranglain meski saya pakai pakaian dinas. Orang masuk bioskop, saya juga masuk bioskop. Orang makan di restoran, saya juga ke restoran. (alfred dama)


Data Diri

Nama : Kolonel Inf Dody Usodo Hargo S, S.IP
Akrab Disapa : Kolonel Dody Hargo
Tempat Tanggal Lahir : Padang 1961
Lulusan : Akabri Darat Tahun1984
Jabatan : Danrem 161/WS Sejak 29 Juni 2009.
6. Isteri : Ny. Kurniasari
7. Anak-Anaki Nurdyasa ' 92 ( SMA Taruna Nusantara Magelang)
Ayu Sekar '93 ( SMA Negeri 3 Bandung Jawa Barat)

Pendidikan
1. SD Tahun 1973
2. SMP Tahun 1976
3. SMA Tahun 1979/1980
4. Akabri Darat Tahun 1984
5. Seskoad TH 2000


Pos Kupang Minggu 22 November 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda