Kombes Pol Drs. Johny Asadoma


Foto ist
Kombes Pol Drs. Johny Asadoma


Sukes dan Harumkan Negara Indonesia

SETAHUN menjalankan tugas memimpin Pasukan Garauda Bhayangkara-Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merupakan kesan tersendiri bagi Komisari Besar Polisi (Kombes Pol) Drs. Johny Asadoma. Pria asli Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sukses memimpin 140 anggota Polri bersenjata menjalankan tugas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Darfur-Sudan, sebua daerah konflik kepentingan antara Pemerintah Sudan dan kelompok pemberontak di daerah itu.

Bukan saja sukses, lulusan SMAN I Kupang ini juga mendapat apresiasi dari berbagai lembaga internasional yang terlibat dalam tugas PBB di Sudan, serta masyarakat Sudan. Apresiasi ini diberikan kepada pasukan Bhayangkara Polri yang berhasil menjalankan tugas dengan baik di negara Afrika tersebut. Dan, jelas ini mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata dunia Internasional. Ini menunjukan bahwa putra NTT pun mampu menjalan tugas negara di PBB.

Menurut Kombes Johny, Pasukan Garuda Bhayangkara Polri dalam jumlah besar dan bersenjata ini baru pertama dikirim ke luar negeri. Namun, kiprah pasukan polisi ini sudah membanggakan bagi negara.
Berikut perbincangan dengan Johny Asadoma dengan Pos Kupang, Selasa (11/11/2009) lalu.

Kapan pasukan Garuda Bhayangkara menjalankan tugas di Sudan?
Jadi Pasukan Garuda Bhayangkara yang berpartisipasi dalam misi Unimid (United Nation Mission in Darfur.) telah melaksanakan tugasnya selama satu tahun di Darfur- Sudan, misi dimulai dari tanggal 12 Oktober 2008 dan setelah selesai Kita meninggalkan mision area 20 Oktober 2009. Jadi kita berada di sana selama satu tahun, satu minggu pas. Kemudian kita digantikan oleh kontingen baru yang berjumlah 140 orang. Mereka tiba sehari sebelum kita kembali, kita melaksanakan serah terima itu tanggal 19 Oktober dan tanggal 20 kita kembali dan kita tiba kembali di Indonesia tanggal 20 Oktober. Dan, setelah tiba kita dikarantina selama tiga hari untuk mengadaklan pemeriksaan baik fisik maupun kejiwaan. Setelah itu kita diterima secara resmi dalam suatu upacara yang Inspektur Upcaranya adalah Bapak Wakapolri, Komnjen Makbul Patmanegara. Kemudian setelah kita diterima, kita diberi kesempatan melaksanakan cuti.

Bagaimana setelah menjalankan tugas ini?
Selama melaksanakan tugas ini, Kontingen Garuda Bhayangkara berhasil membuat suatu prestasi sampai kita mendapat suatu apresiasi dari Unimit dan kita dinyatakan sebagai kontingen terbaik di sana. Dari sekitar 40 kontingen atau 40 negara yang berpartisipasi di sana, kita dinyataan sebagai kontingen terbaik bahkan dikatakan sebagai model daripada pasukan PBB yang bertugas di sana. Itu dinyatakan dalam bentuk apresiasi tertulis, dan selama melaksanakan tugas disana kita juga mendapat apresiasi yang luar biasa atas prestasi kita. Kita pernah melakukan pengawalan terhadap Senator Amerika yang melakukan kunjungan ke sana dan mereka menyampaikan suatu penghargaan tertulis, mereka merasa sangat puas terhadap pengawalan yang diberikan pada mereka sehingga mereka merasa aman selama melaksanakan kunjungan ke sana. Demikian juga dengan, kunjungan utusan Presiden Amerika Serikat yaitu Jenderal Scot Recion, kita melakukan pengawalan selama dia melakukan kunjungan di sana dan dia juga memberikan apresiasi yang tinggi untuk kita. Jadi beberapa kali tamu-tamu VIP yang datang berkunjung ke Unimid, yang diminta untuk melakukan pengawalan itu adalah dari Indonesia.

Kenapa Polri yang diminta untuk tugas itu? Padahal ada pasukan lain dengan latar belakang militer
Karena penampilan kita selama di sana itu betul-betul profesional, kemudian disiplin kemudian berani dan kita loyal terhadap perintah atau terhadap mandat yang diberikan pada kita. Kemudian kita mampu membangun kerjasama yang baik dengan semua unsur yang ada di dalamnya. Baik itu unsur kepolisian dari negara lain, unsur-unsur militer, kemudian staf sipil bahkan dengan masyarakat.

Apa tanggapan masyarakat di daerah konflik itu dengan kehadiran Pasukan Garuda Bhayangkara?
Masyarakat di sana betul-betul sangat respek, apresiasi terhadap Indonesia. Ini ada beberapa hal, disamping karena profesionalisme yang kita tunjukan, juga karena Indoensia ini sangat dihormati di Sudan. Pertama karena Indonesia adalah negara islam terbesar di Dunia, kemudian jasa-jasa Pak Soekarno sebagai salah satu penggas gerakan non blok itu masih diingat, masih diingat oleh masyarakat di Sudan, sehingga kita betul-betul mendapatkan tempat di hati masyarakat di Sudan. Di samping itu melakukan pendekatan-pendakatan juga kepada masyarakat di sana seperti kita memberikan sumbangan-sumbangan peralatan solat, kita memberikan sumbangan Al Quran, tikar, baju gamis, kemudian makanan dan minuman. Nah.. ini merupakan pendekatan-pendakatan yang kita gunakan untuk bisa memenangkan hati rakyat di sana dan baru Indonesia yang melakukan itu dari banyak negara yang terlibat. Baru, Indonesia yang melakukan itu termasuk aparatur Sudan, kepolisian Sudan juga belum melakukan itu. Mereka sangat senang dengan pendekatan-pendekatan yang kita gunakan, dan selama ini belum ada negara lain yang menggunakan itu jadi mereka sangat senang.

Biasanya nama pasukan PBB, orientasi kita langsung milter, tapi kehadiran Indonesia di Sudan adalah polisi. Apa tuhsa polisi kita di sana seperti militer?
Ya.., jadi mungkin selama ini Indonesia mengirikan polisinya tidak bersenjata an army police atau sivil police. Saya pernah ikut dua kali tugas PBB di Bosnia, 1999-2000 dan 2000-2001. Kemudian kita pernah mengirim pasukan ke Namibia, Kamboja, Mozambik, Afganistan, semuanya dalah sivilan police, baru kali ini Indonesia mengirim satu kesatuan besar bersenjata karena ini merupakan pola baru yang dibuat oleh PBB yang melibatkan polisi bersenjata dalam operasi-operasi perdamaian PBB. Nah tugas kita dengan militer tentu beda, kenapa dibuat polisi bersejata atau dalam istila PBB dikenal Format Police Unit (FPU), karena sebelum FPU ini dibentuk pada tahun 1999 waktu itu ada kejadian di Kosovo (eks Yugoslavia) ada unjuk rasa masa besar-besaran di sana, waktu itu yang diturunkan adalah militer untuk menghadapi masa tersebut, ketika militer melakukan penanganan terhadap unjuk rasa itu terjadi suatu pelanggaran berupa penembakan pada pengunjuk rasa hingga ada yang meninggal. Sehingga PBB mendapat proets dari lembaga-lembaga Ham Internasional, karena itu bukan tugas militer untuk menghadapi masyarakat. Tugas militer adalah juga menghadapi kelompok-kelompok bersenjata. Nah, karena itu PBB melibatkan FPU ini.

Apa sebenarnya tugas polisi bersenjata PBB khususnya di Sudan?
Tugas polisi besenjata di PBB adalah melindungi pertama melindungi personil PBB dan aset-aset PBB, kemudian ini adalah melakukan pengamanan bantuan-bantuan internasional, melakukan pengamanan dan pengawalan, terhadap tamu-tamu VIP. Kemudian melakukan pengamanan di kamp-kamp pengungsi, kalau di Sudan banyak pengungsi dan bisa ratusan ribu orang. Kita di sana melakukan pengamanan di tiga kamp pengungsi, ada Kamp Pengungsi Abusow itu jumlah pengungsinya mencapai 54 ribu orang, kemudian kamp Pengungsi Al Salam itu jumlah pengungsi 48 ribu orang dan kamp pengungsi Zam Zam, itu pengungsi lebih kurang sekitar 100 ribu orang dan wlayah kamp pengungsi itu sangat luas. Mungkin bisa sampai 4 km luasnya, kalau kita patroli itu disamping jalan kaki juga menggunakan kendaraan bermotor, tidak bisa jalan kaki saja karena area yang harus di cover itu sangat luas, itu kita harus mempertahankan keberadaan kamp pengungsi kita selama 24 jam, mengamankan masyarakat di kamp pengungsi terhadap gangguan keamanan, karena di situ banyak terjadi perampokan, banyak terjadi pemerkosaan, banyak terjadi penganiayaan dan penculikan. Penculikan wanita dan penculikan anak-anak yang akan dijadikan tentara atau milisi pejuang-pejuang pemberontak. Jadi tugas kita adalah melindungi masyarakat-masyarakat tersebut. Seperti pada ibu-ibu yang cari kayu, ditengah perjalanan bisa diculik oleh milisi kemudian diperkosa, anak-anak diculik untuk dijadikan tentara atau pejuang. Nah ini yang membedahkan tugas polisi dan militer. Kalau misalnya ada serangan dari kelompok-kelompok pemberontak maka itu tugas militer yang menghadapi. Militer tetap hadir disana, kita selalu mengadakan patroli gabungan dengan militer. Ketika kita melakkan patroli maka kita lihat ancamannya apa, kalau ancamannya datang dari masyarakat sipil maka itu menjadi tugas FPU, tapi kalau ancamannya datang dari kelompok pembenrontak maka itu tugas dari militer. Baik itu ancaman terhadap personil PBB, maupun ancaman terhadap menyarakaty sipil yang sangat lema.

Anda setahun di Darfur, bagaimana suasana di Darfur?
Situasi di sana memang menegangkan, karena konflik masih terjadi. Meski tidak setiap hari, tapi selalu ada. Mungkin seminggu sekali atau dua minggu sekali antara pemberontak dengan Pemerintah Sudan. Situasi secara keamannya itu cukup menengangkan dan situasi medan yang cukup berat. Medan di sana berpasir karena memang ada di gurun pasir, kemudian angin dan berdebu kadang-kadang gadai gurun pasir. Dan, pasirnya itu sangat lunak sehingga saat kita patroli , mobil-mobil kita itu kandas di padang pasir dan tidak bisa keluar dan terpaksa kita panggil truk recavery kita untuk tarik. Dan itu terus setiap hari kita patroli sering terjadi itu, sehingga perlengkapan kita banyak yang rusak. Suhu di sana itu dari bulan Maret sampai Oktober itu bisa sampai 50 derajat, rata-rata diatas 40 derajat celcius.

Bagaimana mengatasi suhu panas itu?
Ya itulah tantangan yang paling berat ya itu. Medan guru pasir dan cuaca yang sangat panas, angin badai. Ini adalah operasi PBB yang paling berat, baik dari segi konfliknya maupun medannya, maka itu PBB itu menggelar 26 ribu pasuknnya, 19.500 militer dan 6.500 polisi. Jadi operasi PBB terbesar yang pernah digelar dengan kekuatan 26 ribu pasukan.

Bagaimana anggota Polri dalam tugas ini menyesuaikan diri dengan alam yang begitu keras?
Ya mau tidak mau, kita harus menyesuaikan diri, untung kita sejak dari sini kita sudah latihan untuk menghadapi situasi sepeti itu, sehingga ketika kita sampai di sana kita tidak terlalu berat untuk bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Memang berat, awalnya itu berat tapi kita bersyukur, kita mampu menunjukan prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara di sana dan menapat apresiasi yang luar biasa.

Apakakah pernah satuan yang Anda pimpin saat patroli mendapat penghadangan?
Kita bersyukur, selama kita bertugas di sana tidak ada hal-hal yang sampai membahayakan keselamatan jiwa kita sendiri maupun personil PBB yang lain dan masyarakat. Tapi, gangguan-gangguan itu, biasanya saat kita patroli itu ada tembakan- tembakan yang sifatnya provokasi, tapi kita tidak melayani selama dia tidak mengarahkan ke kita. Kalau dia mengarakan ke kita ya kita membela dirilah, jadi pasukan lain banyak yang diserang, banyak korban juga petugas PBB.

Anda memimpin 140 orang personil Polri yang membawa membawa tugas negara, tapi mereka juga memiliki keluarga. Apa perasaan Anda dengan tugas ini? Sebab selain sebagai tugas negara, Anda juga harus membawa pulang 140 orang ini dalam keadaan selamat.
Jadi sejak awal saya menerima tugas ini, saya sudah merasakan suatu tanggung jawab yang sangat berat. Sangat berat karena saat berangkat, saya di pesan oleh Kapolri John, kamu membawa pasukan polisi bersenjata pertama, kamu harus bisa menunjukan prestasi maksimal, sehingga tidak memalukan nama bangsa dan negara. Dan saya jawab, siap dan saya akan melaksanakan perintah ini dengan sebaik- baiknya. Saya menanamkan pada anggota bahwa kita sini membawa nama negara, semuanya harus memberikan penampilan yang terbaik. Dan, sebagai manusia saya menyerahkan total semua ini pada Tuhan untuk kekuatan pada kita, kekuatan fisik, kekuatan mental kemudian keselamatan pada kita. Tiap hari saya berdoa, memohon kekuatan dari Tuhan. Dan, saya bersyukur karena hingga selesai tugas, semua bisa kembali dalam keadaan selamat, selama bertugas tidak ada anggota yang sakit, sakit berat yang menghambat pelaksanaan tugas. Semuanya berjalan baik. Selama tugas, anggota saya juga tidak ada yang melakukan pelanggaran. Ini yang luar biasa, jadi dari profesionalisme, kita mendapat apresiasi yang tinggi, kemudian dari segi moralitas kita juga mendapat apresiasi yang sangat tinggi, kemudian dari segi fisik, kita juga bisa menampilkan yang terbaik sehingga semua masyarakat, masyarakat internasional selalu memberikan apresiasi yang tinggi buat kita. Kita sukses luar biasa, ini yang perlu Masyarakat Indonesia tahu.

Saat anggota Anda di melaksanakan tugas patroli di Darfur, apa perasaan Anda?
Selalu perasaan was-was dan khawatir, selalu berpikir sesuatu akan terjadi, itu juga yang selalu saya tanamkan pada anggota bahwa kita tidak boleh harus terus bersifat rutinitas, kita harus berpikir sesuatu akan terjadi- sesuatu akan terjadi, sehingga semuanya selalu siap untuk menghadapi segala resiko. Kalau menghadapi suatu tugas kemudian kita berpikir biasa-biasanya saja, ketika situasi darurat terjadi maka kita tidak siap, tapi kalau kita sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk di dukung dengan keterampilan yang baik, maka situasi apapun juga kita mampu menghadapi.

Bisa ceritan rute perjalanan. Karena banyak orang belum tahu Sudan itu dimana?
Jadi Sudan itu terletak di timur benua Afrika dan dikelilingi oleh sembilan negara. Sudah ini adalah negara terbesar di Afrika, konfliknya ada di Darfur, suatu wilayah. Di Darfur itu ada tiga propinsi yaitu Darfur Utara, Darfur Selatan dan Darfur Barat. Darfur berada di sebela barat negara Sudan. Dan, Sudan ini memiliki luas 512 ribu mil, atau hampir 1 juta Km persegi atau hampir sebesar negara Perancis. Berjalan dari Indonesia sekitar 14 jam. Kita dari dari naik pesawat, karena kita pakai pesawat carter jadi kita transir di Kolombo dan kita langsung ke Darfur. Saat kembali kita dari Darfur ke transit di Yaman, Kolombo dan Jakarta. Pesawat di carter oleh PBB

Sebagai seorang bapak, Apa perasaan Anda tugas di negeri orang dan jauh dari keluarga?
Ya, tentu kita juga memikirkan keluarga kita, kalau terjadi sesuatu pada kita bagaimana. Atau terjadi sesuatu pada keluarga kita di Indonesia bagaimana, itu jadi beban pikiran juga. Tapi di PBB itu, ada diterapkan satu sistim Stres Manajemen, sehingga satu staf PBB itu berhak atas cuti, na seperti kita dapat cuti setahun 30 hari, na 30 hari itu terganntung kita. Apakah kita mau ambil sekaligus, kita mau mau ambil 2 kali 15 hari atau enam bulan 15 hari, nanti enam bulan kedua 15 hari juga bisa. Atau Tiap empat bulan, cuti 10 hari itu juga bisa. Tergantung kemampuan masing-masing, karena cuti juga biaya sendiri-sendiri, tidak dibiayai oleh PBB. Kita menggunakan uang saku yang didapat dari PBB.

Di daerah operasi itu apakah ada waktu untuk latihan?
Secara khusus tidak ada, tapi saya memprogramkan itu, sehingga di sela-sela pelaksanaan tugas, kita harus tetap memelihara kemampuan kita sehingga saya menerapkan itu, latihan sebulan sekali untuk penyegaran. Tidak ada scedule khusus, hanya inisiatif dari masing-masing komandan untuk memanfaatkan waktu-waktu yang ada untuk mempetahankan kemampuan anggota.

Dari sini bawa juga tim medis, apakah tim ini juga melayani masyarakat di sana?
Hanya untuk kita, atau khusus untuk personil kita dan sesekali ada personil dari negara lain yang membutuhkan ya kita layani juga. Tapi tugas mereka yang utama adalah melayani kesehatan dari pada anggota. Ada juga anggota kita yang sakit ringan, seperti batuk pilek, masuk angin.

Apakah ada keinginan untuk pulang NTT?
Memang ada keinginan juga pulang kampung, tapi kita pada prinsipnya siap ditempatkan di mana saja. Penugasan ini berdasarkan perintah pimpinan juga. Jadi kalau saya diperintahkan tuhas ke mana ya siap siap saja. (alfred dama)

Data diri
Nama : Johny Asadoma
Pangkat : Komisaris Besar Polisi
Tempat Tanggal Lahir : Denpasar 8 Januari 1966
Pendidikan : SD Pit Oetete Tamat Tahun 1977
SMPN I Kupang, tamat tahun 1981
SMAN I Kupang Tamat tahun 1984
Akabri Kepolisian Tamat Tahun 1989
Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Tamat Tahun 1996
Sekolah Staf dan Pimpinan Polri Tahun 2003
Pengalaman Tugas :
Komandan Peleton Brimob Manado
Komandan Kompi Brimob Pusat di Jakarta
Kepala Sub Bidang Gegana Polri
Danyon Brimob Bogor 2002-2003
Komandan Brimob Binjai-Sumatera Utara 2003-2005
Kapolrsta Binjai 2005-2007
Operasi Perdamaian PBB di Bosnia 1999-2000 dan 2001-2002
Darfur Sudan 2008-2009

Istri : Vera Kristian Sirait, M.Sc
Anak : Veronika GB Asadoma
Deaniel Benjamin Asadoma

Prestasi di Olahraga
* Medali perunggu kelas layang kejuaraan Sarung Tinju Emas ke-7 di Denpasar (1982) -mewakili NTT
* Medali emas kelas layang Sea Games XII di Singapura (1983)
* Medali emas Piala Presiden VII di Jakarta (1984)
* Mewakili Indonesia dalam Olimpiade XXII di Los Angeles (1984)


Pos Kupang Minggu, 15 November 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda