Lubang di Hati

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda

"Kubuka mata dan kulihat dunia! Telah kuterima anugerah cintaNya. Tak pernah aku menyesali yang kupunya... tetapi kusadari ada lubang dalam hati. Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." syair yang menawan hati dari Noe Letto dinyanyikan dengan sepenuh hati. Terasa damai menyongsong Damai Natal karena memang kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku.


Benar-benar indah. Maklumlah! Selama ini damai hanya ada di kepala dan di dalam tangan. Salam Natal, maaf lahir batin sambil kepala tertunduk dan tangan menjabat hangat, ternyata selama ini hanya aksi verbal dan seremonial. Sebab hatinya jauh dari kenyataan, bahkan ada lubang di hati karena memang sebenarnya damai itu hanya terlintas di kepalanya, tidak menetap di hatinya. Dia sadari betul dan yakin bahwa lubang di hati akan dilengkapi dengan damai Natal yang benar-benar damai.
***
"Syair lagunya Noe bagus sekali ya?" Pertanyaannya disambut Rara dengan marah besar.
"Cuaca buruk, badai, guntur, kilat! Tetapi kamu enak-enak nyanyi Lubang di Hati!" Suara Rara gemetar tidak karuan. "Kamu lihat keluar, gelap awan hitam dan hujan lebat! Kamu bukannya diam dan prihatin tetapi bernyanyi Lubang di Hati. Biar hatimu berlubang aku tidak peduli!"

"Apakah itu kamu! Apakah itu dia! Selama ini kucari tanpa henti... Apakah itu cinta, apakah itu cinta yang mampu melengkapi lubang di dalam hati... Kumengira hanya diakah obatnya. Tetapi kusadari bukan itu yang kucari. Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan kuyakin ku tak ingin aku terhenti." Benza terus menyanyi dan memejamkan mata. Dia yakin damai natal tahun inilah yang akan melengkapi lubang di hatinya maupun lubang di hati semua orang yang pernah disakitinya.
"Memang ada banyak lubang di banyak hati!" kata Nona Mia. "Semoga damai Natal tahun ini dapat melengkapinya..."

"Baik lubang yang digali untuk diri sendiri maupun yang digali orang lain... Lubang marah, dendam, dan dengki. Lubang menyakiti dan menghakimi. Lubang melihat serbuk di mata orang lain dan lubang balok di mata sendiri. Lubang korupsi, kolusi, dan manipulasi, lubang cicak dan buaya, lubang KPK dan Century, lubang APBD dan PAD, dan masih banyak lagi lubang yang lain..." Benza dan Nona Mia bicara bergantian sambil memejamkan mata.

"Semua lubang mesti dilengkapi dan dapat ditutupi damai Natal dan Tahun Baru," kata Nona Mia.
"Ya lubang di hatiku dan di hatimu," kata Benza.
"Benza diam! Berdoa! Supaya badai berhenti," Rara dan Jaki marah bukan main.
***
Aneh! Benza dan Nona Mia santai saja. Tetap bernyanyi lagunya Noe Letto sejak take off dari Ngurah Rai. Tidak tampak sedikit pun gentar terhadap apa yang sedang terjadi. Penerbangan dinikmati dengan rileks. Pikirannya sadar bahwa penerbangan kali ini berada di tengah gelegar cuaca. Namun perasaannya yakin bahwa dia pasti tiba dengan selamat, entah di tempat kedatangan entah di tempat keberangkatan. Yang jelas perjalanan itu pasti selamat. Beda benar dengan Rara dan Jaki yang duduk sejajar. Seluruh tubuh bergetar ketika pesawat yang sudah siap landing di El Tari Kupang itu terpaksa balik ke Denpasar karena cuaca buruk. Hujan angin badai guntur kilat sambar menyambar membuatnya menciut ketakutan.
***
"Balik Denpasar lagi ya?" Tanya Benza. "Kenapa takut? Santai saja lagi. Kita memang sedang terbang, dan terbang. Kita pasti mendarat. Jika memang tidak mendarat lagi di bumi, ya hadapilah. Karena kita pasti ke terbang tinggi, lebih tinggi, sampai ke langit ke tujuh dan mendarat di ruang nirwana!"
"Benza! Kamu sudah gila ya! Cuaca buruk dan kamu omong asal bunyi!" Rara pucat pasi karena pesawat bergetar keras.
"Oooh cuaca buruk ya?" Tanya Benza.

"Bencana ada di hadapan mata! Apa kamu tidak tahu? Bagaimana mungkin kamu berdua dengan enaknya menyanyi lubang di hati?!"
"Aduh, kalau tahu begini lebih baik jalan darat saja!" Jaki mengeluh.
"Jalan darat? Kalau mobil masuk jurang bagaimana?" Sambung Rara. "Kita lebih baik naik kapal laut! Lebih aman!"
"Apa?" Sambung Jaki. "Kalau badai di laut, gelombang naik, kapal tenggelam, bagaimana? Aku pasti langsung tenggelam dan pulang hanya nama!" Wajahnya pucat ketika pesawat benar-benar berbalik arah dan kembali ke keberangkatan dalam badai. Jaki dan Rara bertengkar di tengah badai.
***
"Kubuka mata dan kulihat dunia! Telah kuterima anugerah cintaNya. Tak pernah aku menyesali yang kupunya... tetapi kusadari ada lubang dalam hati. Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." syair yang menawan hati dari Noe Letto dinyanyikan lagi dengan sepenuh hati.
"Benza! Nona Mia, kita tidak bisa landing di El Tari!" Teriak Rara
"Benza! Nona Mia, diam! Berhenti menyanyi! Kita balik ke keberangkatan!" Teriak Jaki ketakutan.
"Kucari sesuatu yang mampu mengisi lukaku. Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..." Benza terus menyanyi.
"Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan...yang kuyakini ku tak ingin aku berhenti..." Nona Mia pun menyanyi.
Selamat Natal. Salam Damai. Tutuplah Lubang di dalam hati...

Pos Kupang Minggu, 20 Desember 2009, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda