Manatika: Pereratkan Persaudaraan


POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
BERTARUNG--Dua petarung Manatika, Gabriel Kolo (Desa Haumeni) bertarung melawan Marsel Obe (Desa Tes). Keduanya bertarung dengan cara saling menendang tungkai kaki lawan.


MATA semua orang tidak berkedip ketika dua pria dewasa naik ke atas arena berbentuk ring tinju. Keduanya tidak mengenakan baju. Cuma bertelanjang dada. Tulang rusuk menyembul, membuat penonton ketawa nyengir. Tanpa sepatu dan hanya mengenakan bete (selimut tradisional), untuk menutup auratnya. Tampak juga sabuk selebar telapak tangan, dililitkan di pinggang untuk mengencangkan ikatan bete di pinggang.

Ring tinju seluas 4 x 4 meter, cuma dibatasi ikatan tali nilon berwarna biru. Dua pria ini, masing-masing bernama Gabriel Kolo (Desa Haumeni) dan Marsel Obe (Desa Tes). Usia mereka sekitar 50 tahun ke atas. Bahkan gigi depan Kolo sudah tanggal sebagian, membuat Kolo seperti kakek tua. Meski demikian Kolo tampil percaya diri. Matanya menatap tajam tanpa berkedip sedikit pun.

Kedua pria ini akan menunjukkan ketrampilan olah raga beladiri tradisional, mirip kick boxing. Tinju tradisional ini disebut dengan istilah Manatika. Tradisi tinju tradisional ini cuma ada di sejumlah desa di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Kedua pria ini berkelahi hanya dengan cara saling menendang kaki lawannya. Tidak menggunakan tangan atau tinjunya. Sasaran tendangan hanyalah tungkai kaki bawah (betis dan sekitarnya) serta tungkai kaki atas, yaitu paha. Pantat, kemaluan dan badan, apalagi kepala dilarang keras `disentuh'.

Sedangkan wasit yang memimpin pertandingan dijuluki dengan nama Apaot Mat Panat (menjaga dan melindungi). Tugas wasit menjaga agar dua petarung Manatika tidak keluar dari arena atau ring tinju, melerai bila kedua petarung `terbawa emosi' lalu lepas kendali.

Selain itu, memberi peringatan keras kepada petarung bila melanggar larangan, seperti menendang pantat, kemaluan atau badan lawannya. Juga menghentikan pertarungan itu, bila salah satu petarung mengalami luka, pincang kakinya atau terjatuh dan tidak bias melanjutkan pertarungan.

Pertarungan berlangsung tiga ronde. Dan setiap ronde diberi jatah waktu tiga menit. Plus dua menit untuk jedah atau istirahat. Ada petugas yang mengawasi waktu, yaitu memukul gong tanda mulai bertarung atau berhenti. Ada juga yang ditugaskan untuk mencatat berapa kali seorang petarung berhasil menendang kaki lawannya. Sedangkan penonton berdiri mengelilingi ring, menyoraki (bahas dawan:koa) petarung yang dijagokannya sehingga suasana sangat ramai.

Minuman Alkohol Tradisional
Hadiah yang diperebutkan, bukan piala, bulan piagam, bukan uang dan bukan sabuk juara seperti di tinju profesional. Hadiah yang diperebutkan hanyalah Tua Botel Mese atau sebotol sopi (arak tradisional Timor ). Tua Botel Mese ini tidak boleh dibawa pulang oleh sang petarung yang menang, tetapi diminum bersama antara petarung yang kalah dengan petarung yang menang bersama penonton.

"Jadi, Manatika dipertandingkan sebagai hiburan rakyat, sebenarnya memiliki misi untuk mempererat persatuan, persaudaraan, tenggang rasa antar warga, baik antar desa atau kecamatan. Juga untuk memupuk sikap sportivitas dan sarana untuk melatih dan mengendalikan emosi," jelas Nikodemus Nule, tokoh adat dari Napan, Miomaffo Timur. Nule sering mendapat order sebagai Apaot Mat Panat bila ada pertarungan Manatika antar desa/kelurahan atau antar RT/RW di Miomaffo Timur.

Usai Kerja Bakti
Manatika, kata Nule, digelar usai kerja bhakti atau gotong royong di tingkat RT, desa atau kecamatan. Misalnya, kerja bhakti membuka jalan raya atau jalan desa, gotong royong membuka ladang atau tanah sawah, panen raya di sawah atau ladang jagung, membangun lopo (rumah bulat berbentuk sarang lebah), atau ritus adat dan kesenian tradisional lainnya.

Nule mengungkapkan, kini Manatika nyaris hilang dan punah. Sebab jarang dipertandingkan. "Sekarang usai kerja gotong royong, warga dihibur dengan musik, memutar tape recorder atau memainkan alat musik seperti organ atau piano listrik. Kebiasaan ini menggeser budaya manatika hingga hamper punah," kata Nule.

Ia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Robert Tanur, pengusaha hotel di Kota Kefamenanu, yang mensponsori pertandingan Manatika di kegiatan Pameran Pembangunan dalam Rangka HUT ke-87 Kota Kefamenanu, September 2009 lalu. "Pada saat itu orang baru sadar bahwa ternyata tradisi tinju tradisional Manatika pernah ada dan sangat digemari. Bupati TTU dan aparat pemerintah mulai menaruh perhatian serius dan memerintah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menjadikan Manatika sebagai salah satu asset pariwisata yang layak dijual," kata Nule.



Meski gembira atas sambutan pemerintah itu, Nule mengingatkan agar Manatika dihidupkan kembali di setiap desa ketika ada kegiatan gotong royong dan kerja bhakti. "Biar nilai religisiotas dan pesan moral dari olahraga tradisional itu tetap hidup secara wajar, bukan dipaksa hidup karena ingin `dijual' di depan mata para wisatawan asing. Kita ingin pesan moral dari tradisi bertinju tradisional itu tetap hidup di desa dan tinggal dalam hati warga desa," katanya mengingatkan. (ade)

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda