Nenas, Jaga Hutan untuk Listrik


Foto Studio Driya Media
HUTAN--Hutan yang lestari selalu dijaga oleh masyarakat Desa Nenas agar air tetap tersedia


MALAM tidak lagi gelap gulita bagi masyarakat Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS. Mereka tidak lagi perlu merengek minta listrik kepada pemerintah. Sejak tahun 2004 lalu, kampung ini sudah benderang oleh cahaya listrik.

Yang luar biasa, listrik di wilayah ini bukan sambungan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Mereka berupaya sendiri dengan bantuan Pemerintah Kabupaten TTS. Tidak heran bila sebagian besar masyarakat telah memiliki dan menonton acara di televisi.

Desa yang berada sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut atau di sisi barat puncak Gunung Mutis yang merupakan gunung tertinggi di Timor Barat ini mengupayakan listrik dari sumber air yang ada di desa tersebut. Kepala Desa Nenas, Simon Sasi, yang ditemui di Studio Driya Media (SDM/LSM Lingkungan Hidup) Kupang Kupang, belum lama ini, menjelaskan, masyarakat desanya menikmati listrik dari pembangkit tenaga air milik desa.

Turbin yang ada di desa itu bisa menghasilkan tenaga listrik hingga 55 KVA. Dengan kapastitas yang ada, sebanyak 200 KK di wilayah desa ini bisa menikmati listrik.

Simon menguraikan, kehadiran listrik yang bersumber dari tenaga air tersebut bermula dari permohonan masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten TTS untuk memberikan satu unit pembangkit listrik tenaga air. Permintaan ini karena air di wilayah tersebut diyakini mampu membangkitkan energi listrik.

Setelah melalui proses uji kelayakan, maka Pemkab TTS melalui Dinas Pertambangan dan Energi membantu satu pembangkit tenaga air dan pemasangan jaringan listrik pada tahun 2004- 2005. Sejak saat itulah, listrik di Desa Nenas pun mulai menyala.

Simon menjelaskan, air penggerak turbin pembangkit listrik mencapai rata-rata 250 liter perdetik berasal dari air Kali Uni. Air dari sumber air ini dialirkan melalui pipa berukuran besar ke rumah turbin yang berjarak beberapa ratus meter. Tenaga air ini kemudian memutar turbin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Meskipun air untuk menggerakkan turbin mengalir sepanjang tahun, tog itu tidak menjadi jaminan listrik pun menyala terus menerus. Menurut Simon Sasi, listrik tenaga air ini hanya berlangsung hingga bulan Agustus saja. "Air yang ada ini mulai berkurang pada bulan Agustus, sehingga air lebih banyak dialirkan untuk kebutuhan pertanian masyarakat. Listrik kembali normal bila sudah memasuki musim hujan sekitar bulan Oktober," jelasnya.


Swadaya Desa
Masyarakat Desa Nenas menyadari listrik di desa mereka merupakan milik sendiri. Pemerintah Kabupaten TTS yang memberikan turbin pembangkit listrik tidak lagi mengatur dan membiayai operasional atau perawatan turbin, sehingga biaya operasional dan perawatan ditanggung oleh masyarakat desa Nenas.

Simon Sasi menjelaskan, biaya tersebut dibebankan pada masyarakat dalam bentuk iuran listrik bulanan. Setiap pelanggan atau rumah tangga di Desa Nenas berkewajiban membayar iuran listrik Rp 15 ribu per bulan. "Uang ini untuk biaya pemeliharaan dan operasional. Jadi untuk operasional dan perawatan menjadi swadaya masyarakat desa kami," jelas Simon.

Untuk operasional dan perawatan ini, masyarakat Desa Nenas juga sudah membentuk sebuah lembaga, yakni Badan Pengurus Listrik Desa (BPLD) Nenas. Badan ini terdiri dari tiga orang. Tugas badan ini selain mengoperasikan dan melakukan perawatan turbin, juga menerima dan mengelola iuran bulanan dari masyarakat.

Jadi semua kegiatan tentang kelistrikan di desa ini merupakan swadaya dari masyarakat. Bila terjadi hal-hal yang di luar kemampuan lembaga dan masyarakat desa ini, barulah minta bantuan dari pemerintah.

Menjaga Hutan
Masyarakat Desa Nenas menyadari bahwa listrik di desa mereka bersumber dari air. Ketersediaan air yang cukup berarti listrik tetap menyala, dan sebaliknya bila air berkurang, maka listrik akan padam.


Mereka juga sudah mengetahui dan sadar bahwa air yang ada di desa mereka berasal dari hutan di wilayah mereka dan sekitarnya. Karena itu, wajib hukumnya buat mereka tetap menjaga kelestarian hutan.

Simon Sasi menjelaskan, hutan di Desa Nenas juga masuk dalam kawasan Cagar Alam Mutis sehingga dilindungi oleh pemerintah. Meski demikian, masyarakat Desa Nenas juga memiliki hukum tersendiri untuk menjaga hutan mereka tetap lestari.

"Masyarakat kita sudah tahu fungsi hutan, mereka tahu kalau air ini ada karena hutan ini ada sehingga mereka sangat menjaga hutan. Tapi kami juga punya hukum adat supaya jangan ada orang yang masuk dan merusak hutan," jelas Simon.

Hukum adat yang ada di Desa Nenas antara lain mengultimatum barang siapa yang kedapatan menebang pohon dalam kawasan hutan atau mengambil kayu dalam hutan tersebut akan terkena sanksi adat berupa denda seperti membayar seekor babi, beras, uang dan beberapa sanksi lainnya. Barang-barang denda tersebut diserahkan dalam upacara adat.

Mungkin barang-barang ini tidak mahal. Namun warga Nenas tidak melihat dari nilai secara materil. Mereka malu luar biasa kalau mesti didenda. "Dari dulu memang tidak ada orang yang ambil kayu di hutan, karena mereka sudah sadar kalau ambil kayu akan dikenai sanksi adat. Tapi, masyarakat tidak merusak hutan bukan karena takut sanki adat, mereka tahu kalau hutan rusak, air juga akan hilang. Sementara pertanian di Nenas ini sangat tergantung pada air," jelas Simon.

Dari pihak desa juga terus memberikan pengertian pada masyarakat untuk tetap bersama menjaga hutan yang ada di desa tersebut sebab hanya dengan cara itulah, listrik di Desa Nenas akan tetap menyala sepanjang tahun.

Masyarakat Desa Nenas lebih beruntung dari desa-desa sekitarnya, sebab meski berada jauh di pedalaman Kabupaten TTS, namun listrik sudah menjadi bagian hidup mereka. Namun, hutan dan airlah yang memberi kontribusi bagi mereka tenaga listrik. (alfred dama)

Pos Kupang Minggu 20 Desember 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda