Pater Yan V Roosmalen, SVD


Hidup Berarti bagi Orang Lain

KAMAR di lantai II Istana Keuskupan Ruteng itu hanya terdiri dari rak buku, meja belajar dan tempat tidur ukuran kecil. Tidak ada yang unik dan menarik. Semua serba sederhana, terbatas. Tampilan kamar ini seakan menegasikan ekspresi penghayatan hidup injili sebagai seorang imam. Spiritualitas kemiskinan kuat membekas. Meja belajar ukuran kecil penuh kertas dan buku-buku. Juga ada beberapa lembar koran. Kesan mewah sungguh tidak tertangkap dari seluruh isi kamar itu. Yang ada hanya satu kata: sederhana.

Itulah potret sebuah kamar tempat aktivitas yang mengakrabi keseharian Pater Yan V Roosmalen, SVD. Hampir separuh nafasnya dihabiskan di lembaga pendidikan. Pendidikan di Manggarai berkembang pesat berkat campur tangan dari misionaris Belanda ini. Ia juga sebagai founding fathers Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Ruteng. Meski sudah sangat tua, tetapi jalan pikirannya masih jernih. Nostalgia awal-awal kehadirannya di Ruteng masih terekam kuat. Ia masih bisa menulis dan membaca dengan baik. Ziarah imamatnya di bumi congka sae Manggarai sungguh membawa arti yang luar biasa.

Bagaimana jejak ziarah misionaris Belanda yang sudah menjadi WNI ini? Apa motivasinya mendirikan STKIP Ruteng? Apa pula harapan masa depan pendidikan di Manggarai? Ikuti petikan wawancara Pos Kupang dengan Pater Yan V Roosmalen di Istana Keuskupan Ruteng, Kamis (3/12/2009).


Apa motivasi pater mau jadi misionaris?
Daya dorong bermisi ke luar negeri dilatari kehidupan keluarga. Saya berasal dari keluarga dengan jumlah anggota cukup besar. Kami 13 bersaudara. Lima orang meninggal dunia sewaktu masih kecil. Di Eropa waktu itu banyak balita meninggal dunia. Yang hidup kami delapan orang. Empat kakak perempuan dan empat laki-laki.

Bagaimana dinamika kehidupan keluarga?
Bapak saya bernama Petrus van Roosmalen. Seorang petani. Mama Wilhelmina Ketelaars. Kehidupan keluarga biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Hanya mama ada minat cukup besar dengan daerah-daerah misi. Tidak heran kakak saya jadi suster dan menjadi misionaris di Indonesia juga. Tepatnya di Pematang Siantar-Sumatera Utara.

Bagaimana perjalanan pendidikan pater?
Saya lahir 27 Agustus 1920 di Vevhel, Paroki Eerde, Propinsi N Brabant-Belanda. Umur lima tahun masuk sekolah. Saya mulai masuk seminari setelah kelas delapan SD. Ada seorang rektor seminari menengah datang ke rumah orangtua saya. Rektor seminari melihat rapor saya dan saya diterima menjadi siswa seminari. Perjalanan pendidikan saya di seminari tidak ada hambatan hingga ditabiskan menjadi imam, 18 Agustus 1946. Saya ditabiskan sebelum selesai tahun kuliah terakhir.

Mengapa tertarik ke ke Indonesia, khususnya di Flores?
Kebetulan sejak masih SD saya sudah sering baca tentang kondisi misi di Flores. Kebiasan kami di rumah adalah membaca. Membaca apa saja, termasuk perkembangan di daerah-daerah misi. Karena itu ketika tahun akhir teologi di Teteringen harus pilih tempat negara tujuan misi, saya memilih Flores. Saya sudah cukup kenal Flores, meski waktu itu hanya dari bacaan.

Kapan tiba di Ruteng?
Saya tiba di Jakarta 27 Januari 1949 setelah menempuh perjalanan 40 hari. Cukup lama. Saya numpang kapal laut. Selanjutnya saya ke Ruteng. Tapi sebelum ke Ruteng, saya sempat ke Ledalero. Saya tiba di rumah misi SVD 18 Juli 1949. Saya tiba di Ruteng dalam usia 29 tahun. Usia yang masih tergolong muda.

Apa yang dilakukan setelah tiba di Ruteng?
Dengan umur 29 tahun ada berbagai pertanyaan kecil yang menukik dalam hati saya. Apa yang harus saya buat untuk Manggarai? Pertanyaan itu menjadi semacam lecutan bagi saya untuk segera berbuat apa saja. Pertanyaan itu menjadi materi refleksi saya di tempat misi. Saya berbuat agar bernilai bagi orang lain.

Konkritnya apa yang pater lakukan?
Dulu ada rumah misi. Kompleks yang cukup lengkap. Ada gudang bengkel, biara, asrama-asrama anak sekolah. Sekarang sudah jadi kompleks SVD. Waktu itu cukup banyak anak sekolah baik vervolgschool atau VVS, juga ada opleding voor onderwijer (OVO) untuk sekolah guru. VVS anak pilihan yang pintar dari Manggarai. Saya tidak serta merta bekerja, saya amati, lihat-lihat dulu. Saya belajar bahasa Manggarai. Ini penting agar saya bisa survival di daerah misi Manggarai ini.



Seturut data, pater adalah pendiri SMP Tubi yang sekarang sudah berubah menjadi SMPN I Ruteng?
Sebelum mendirikan sekolah saya jadi direktur asrama VVS dan OVO. Urus semua kebutuhan asrama itu. Saya juga mengajar mereka. Bantu pelayanan umat.

Bagaimana sejarah berdirinya SMP Tubi Ruteng?
Semula bukan saya yang akan jadi inspektur (Kepala sekolah, Red) sekolah yang mau kami dirikan itu. SMP Tubi menjadi sekolah menengah pertama di Manggarai. Banyak orang besar di Manggarai ini tamat dari sekolah itu. SMP Tubi resmi dibuka 1 September 1950. Waktu itu Pater Yan Swinkels, SVD yang harus jadi direktur, namun sampai acara pembukaan sekolah beliau belum pulang dari cuti. Maka Pater WV Bekkum, SVD minta saya buka sekolah itu dan jadi pimpinan. Sekolah ini merupakan Yayasan Pemerintah Kabupaten Daerah Manggarai (YYPPM) Raja C Ngambut sebagai ketua yayasan. Selanjutnya mendirikan SGB Tubi.

Apakah sekolah tidak terganggu dengan kehadiran Partai Komunis?
Siapa bilang tidak terganggu? Terganggu sekali, tapi kita bisa atasi. Waktu itu saya baru pulang cuti. Kejadian mulai terasa di sekolah kami dengan adanya surat panggilan dari polisi.

Apa ada guru yang terlibat?
Saudara R Djolo, tertulis pekerjaan sebagai murid SMP Tubi. Karena itu kepala sekolah dipanggil.



Bagaimana sikap sekolah?
Sebagai pimpinan, saya jelaskan kepada mereka yang bawa surat. Bahwa murid saya atau pegawai saya tidak ada bernama R Djolo. Nama yang tercantum dalam surat itu bukan guru saya atau pegawai saya.

Bisa ceritakan sejarah berdirinya STKIP?
Ini kebutuhan. Hasil permenungan kami menyimpulkan perlu ada lembaga kursus supaya ajar guru agama bisa lebih pintar. Dari beberapa pengalaman di paroki-paroki guru agama hanya tamat sekolah rendah saja. Pengetahuan mereka sangat terbatas. Karena itu perlu ada lembaga kursus supaya para guru agama dibekali dengan pengetahuan yang baik. Makanya tahun 1959 kami dirikan KPK. Tamatan KPK bisa ajar agama, pengajaran dengan baik

Bagaimana prospek KPK?
Masalah mulai terasa karena ijazah lokal. Banyak tamatan SGB tidak berminat masuk KPK. Sebab tidak ada kepastian ijazah. KPK hanya ijazah lokal saja.

Lalu apa yang pater lakukan?
Ini buat saya harus putar otak. Saya temukan tiga soal mendasar. Pertama, ijazah lokal dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Kedua, minat masuk KPK kurang. Ketiga, jaminan dan kepastian status sekolah.


Langkah apa yang pater buat untuk mendapat kepastian status KPK?
Memang ada pertentangan jika status KPK ditingkatkan, terutama motivasi mau masuk KPK. Yang dikhawatirkan orang masuk karena ijazah saja, itu yang mereka cemas. Tetapi perkembangan zaman dan tuntutan pendidikan tidak bisa diabaikan. Karena itu saya mulai usahakan status KPK. Kami edarkan surat rencana perubahan status KPK. Mgr. VD Tillaart, SVD, Pater H Djawa dan sejumlah pastor memberi persetujuan. Mgr. Gabriel Manek, SVD dari Ndona juga memberi persetujuan. Tahun 1966 kami kirim permohonan ke Kawali, bagian persekolahan bersama berkas administrasi lainnya. Tetapi waktu itu tidak ada jawaban dari Kawali.

Lalu, apa yang pater lakukan?
Saya tanya mereka. Namun bersamaan perjuangan itu timbul kegelisahan, apakah dengan status baru itu para uskup setia mengirim tamatan sekolah guru masuk APK? Tanggal 1 Agustus 1968 KPK berubah nama menjadi APK. Pendek kata, semua usaha berjalan dengan penuh harapan meski tantangan begitu banyak. Sekarang sudah bagus.

Apa harapan Pater terhadap STKIP?
Saya harap maju terus.

Apakah Pater merindukan STKIP jadi universitas?
Saya kira itu kerinduan semua orang Manggarai. Tapi terserah yayasan dan pengelolanya. Lanjutkan terus. Dulu waktu susah saya bisa usahakan, sekarang banyak kemudahan.



Hampir seluruh hidup pater habiskan di bidang pendidikan. Bagaimana evaluasi pater tentang perkembangan pendidikan kita di Manggarai ini?
Menurut hemat saya, agak kompleks untuk menjawab pertanyaan ini. Dulu di asrama anak-anak yang diseleksi cukup kekat dan pintar-pintar. Semangat belajar cukup tinggi, minat baca besar. Sekarang saya tidak terlalu tahu.

Apa saran pater?
Masuk sekolah harus ada seleksi. Maksudnya supaya bisa dapat siswa yang pintar dan sesuai kemauan dan bakatnya. Dengan bakat itu bisa tentukan jurusannya. Kalau rame-rame ya sulit. Sekolah harus ada kegiatan atau tugas khusus supaya merangsang daya pikir siswa. Jangan hanya ajar siswa hafal dari buku itu tetapi mendorong siswa untuk bisa selesaikan soal atau masalah. Pendidikan kita belum sampai tahap itu.

Sebaiknya bagaimana pater?
Disiplin dalam rangka meningkatkan motivasi dan mutu pendidikan. Perlu ada asrama yang memenuhi syarat, tidak hanya menyiapkan tempat tidur, tetapi seluruh sirkulasi pendidikan di asrama diatur dengan baik. Yayasan harus memiliki visi misi yang jelas.

Apa makna terdalam dari seluruh karya misi bidang pendidikan di Manggarai?
Tentunya syukur kepada Tuhan karena saya masih bisa hidup sampai saat ini. Saya mengabdi untuk sesama. Pendidikan sangat penting untuk hidup dan kehidupan manusia. Karya misioner saya sedikit menolang pendidikan di Manggarai. (kanis lina bana)


Doa, Baca dan Yoga

HARI-HARI ini hanya ada tiga rutinitas harian, doa, baca dan yoga. Doa merupakan santapan rohani, baca menambah pengetahuan dan membakar kejenuhan. Yoga bertujuan mengolah kesehatan fisik dan ketahanan tubuh. Hampir pasti jika berjumpa dengan sosok pastor tua ini, doa brevir tidak pernah diabaikan. Hidupnya serba seimbang sehingga umurnya panjang.
Meski sudah digolongkan uzur, pesona kesahajaan dalam keseharian menjadi motivasi bagi para pastor, mahasiswa yang berjumpa dengan sosok ini.
Tidak merindukan yang muluk-muluk, hanya menambahkan kesehatan dan umur yang panjang. Karena itu mengisi hidupnya yang masih sisa ini melalui perbuatan baik. Baik untuk diri dan sesama. Itulah investasi hidup dan kehidupannya. (lyn)

Pos Kupang Minggu 13 Desember 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda