Peternak Sejati

Cerita Anak Oleh Petrus Y Wasa

DAVID sangat senang ketika dihadiahkan pamannya dua ekor ayam. Seekor ayam jantan yang gagah dan seekor ayam betina unggul yang belum pernah bertelur. Paman memberinya hadiah karena selama liburan kenaikan kelas yang lalu David sangat giat membantu paman memunguti telur, membersihkan kandang dan memberi makan ayam-ayam di peternakan milik paman di desa.

"Paman melihat bahwa kamu memiliki bakat yang besar untuk menjadi seorang peternak seperti paman. Ayam yang paman berikan ini hendaknya kamu jadikan bibit sekaligus modal awal usahamu. Mintalah ayah untuk membuatkan kandangnya.

Paman yakin dengan mengetahui niat baikmu ini, ayah akan membantumu membelikan makanan, vaksin serta hal lain yang kamu butuhkan," pesan paman saat David hendak meninggalkan desa.

***

Setibanya di kota, David mengutarakan niatnya kepada ayah untuk memelihara kedua ekor ayam itu. Benar kata paman, ternyata ayah bersedia membantunya, baik untuk membuatkan kandang maupun untuk membeli makanan, vaksin serta hal yang dibutuhkannya. Bahkan ayah juga membelikannya buku petunjuk tentang cara beternak ayam. Tujuannya agar David dapat memelihara ayamnya itu dengan baik.

Suatu sore ketika sedang asyik membersihkan kandang dan membersihkan kandang, David didatangi Edy, temannya.
"Wah, gagah benar ayam jantanmu itu, Vid," Edy mengacungkan jempolnya ke arah David.

"Ya namanya bibit unggul, sudah pasti gagah. Makanya dia kuberi nama si Jago," David membanggakan ayam jantannya itu.
"Boleh saja diberi nama si Jago. Tapi apakah dia benar-benar jago kalau diajak bertarung dengan ayam lain? Atau jangan-jangan hanya jago untuk dijadikan ayam sayur," Edy mulai memanas-manasi David.

"Maksud kamu bertarung dengan ayam milik siapa?" David terpancing oleh hasutan Edy.

"Ayam jantan milik Yos. Namanya si Jalu. Ayamnya gagah dan selalu unggul kalau bertarung. Berani?" tantang Edy.
"Ayo. Sekarang juga boleh diadu," jawab David sambil mengeluarkan ayamnya dari kandang dan pergi bersama Edy.

***
Kabar tentang pertarungan ayam tersebut ternyata tersebar begitu cepat. Dalam sekejap anak-anak sudah berkumpul di lapangan. Di satu sisi Yos tampak mengelus-elus si Jalu. Di sisi lain David tak henti menahan si Jago yang sudah siap mengejar si Jalu. Edy bertindak sebagai wasit. Dengan satu komando dari Edy, Jalu dan Jagom pun dilepas ke tengah lapangan.

Si Jago langsung mengejar dan menyerang si Jalu. Dengan suatu totokan di leher diiringi kibasan sayap si Jalu dibantingnya ke tanah. Anak-anak bersorak girang. Tapi tidak semuda itu untuk mengalahkan si Jalu. Ayam yang sudah terbiasa bertarung itu mundur sesaat.

Namun tidak lama berselang dia balik menyerang si Jago. Sebuah cakarannya merobek kulit kepala si Jago. Darah pun mengucur dari kepala si Jago. Sorak sorai anak-anak bertambah riuh.

Marah akibat kepalanya berdarah si Jago kian meradang untuk menyerang si Jalu. Ke mana si Jalu berlari selalu dikejarnya. Dalam suatu serangan cakarnya berhasil merobek mata si Jalu. Serangan itu jelas membuat Jalu terhuyung-huyung karena sebelah matanya tidak dapat lagi melihat.

Kesempatan itu digunakan Jago untuk terus menotok kepala si Jalu hingga ayam itu terkeok-keok tanda menyerah kalah.
"Hidup Jago, hidup Jago, hidup Jago!" teriak anak-anak menyambut kemenangan si Jago. Dari kejauhan tampak Edy tertunduk malu.

***
Sepulang sekolah David heran melihat makanan masih teronggok di depan kandang si Jago. Di tengoknya ke dalam kandang, si Jago terduduk lesuh di sudut kandang. Dia lalu mengeluarkan si Jago dan memeriksa luka di kepalanya.

Ternyata luka itu cukup lebar dan dalam. Kalau tidak segera diobati si Jago pasti akan mati, pikir David. Dia pun memberitahukan hal tersebut kepada ayah termasuk pertarungan yang dilakukan si Jago kemarin.

Ayah lalu membuat ramuan dari tumbuh-tumbuhan lalu menempelkan ke luka si Jago. Sesaat ayam itu terkeok-keok karena sakit.

"Tindakanmu kemarin itu tidak mencerminkan kalau kamu seorang peternak sejati. Karena seorang peternak sejati sangat menyayangi binatang peliharaannya. Jangankan diajak bertarung, yang tersesat pun akan dicarinya sampai dapat.

Sebagai imbalan akan rasa sayangnya yang besar itu, ternaknya pun akan memberikan hasil berlimpah baginya. Ya, seperti pamanmu di desa itu. Hidupnya berkecukupan dan dapat membiayai sekolah anak-anaknya hanya dari hasil ternaknya," nasihat ayah.

"Maafkan David, Yah. Kemarin David terhasut oleh perkataan Edy. David berjanji tidak akan menyakiti si Jago lagi. David ingin seperti paman, seorang peternak sejati," janji David. Dari dalam kandang si Jago berkokok menyambutnya. *

Pos Kupang Minggu 6 Desember 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda