Puisi-Puisi Louis Jawa

(In Memoriam Rahib Profetik, Amatus Woi, SVD)
Diam


Itu bisu sebuah detik
Pada kusam raga tua
Di jemari silam

Itu bisu roda masa
Pada latah sebuah harap
Di jeruji angkuh

DIAM
Emas berduri-ku
Luka hati (nya) mereka

DIAM
Kau sayat iman (nya)

* Gereja tua, November 2009


Ratapan Diam

Detikmu
Tiada lagi rahib

Wartamu
Roda patah kini

Ratapan diam ini
Pada rahib nabi (kami)

Ratapan diam ini
Pada reruntuhan harap
Selaksa nafas angkuh

Rahib
Lama sabhaktani
Kau tinggalkan kami
Mengapa?
Beranda pastoran, buatmu rahib Amatus


Di Sudut Ledalero

Di sudut itu
Mentari bersandar

Di sudut itu
Duduklah damai bukit

Di sudut itu
Rahib nabi bertuah
"tolak bisu,"

Cahaya itu
Tak boleh (bisa) padam

Di sudut Ledalero
Rahibku berdiam

* RIP Amatus, Guru beristirahatlah

* Louis Jawa, lahir di Ruteng, 26 Agustus 1981. Rohaniawan Katolik dan pecinta sastra. Pernah aktif di bengkel teater tanya Ritapiret (2000-2003).
Sedang merintis Bengkel Teater CITRA di Labuan Bajo, bagi muda-mudi pecinta seni sastra.


Puisi-puisi Vicktor Feka

Hidup dan Kehidupan

Tatkala dunia membenci
tataplah pada kata
kata hati
nyanyian jiwa

tatkala syahdu nyanyian rindu
menggelantun penuh tawa
canda nan tenggelam
lalu hinggap di dahan
antara cinta dan bahasa

aku termangu...
sekilas mataku berbinar
meratapi sunyi dan sepi
bergelut bersama sedih dan pedih
merinding...
mengatup jiwaku

Oh...
melambai asa tak kubiarkan
menimbang impian kusambung
terpaut pada tatapan yang kelam
membuatku tersadar
bahwa ini adalah hidup dan kehidupan.


Tanyaku

Di tengah pekatnya atmosfer jagad ini
di tengah derasnya arus politik
kududuk sendiri dalam kesepian
merenung roda kehidupan nan kian berputar
mengiringku pada sebuah realita dan fenomena
rotasi politik dan kepemimipinan

Genta Pileg t'lah bergema
syair-syair pileg t'lah dilantunkan
membangunkanku dari impian dan utopia
menatap hari esok
sembari bertanya dalam kalbu
apa suratan takdir bumi flobamora ini
lima tahun di hari esok?

Para politisi t'lah bergencar melewati rimba politik
menerobosi karang dan semak belukar
menebar pesona bahasa dengan segurat janji
menyulap sajak-sajak atraktif
memikat rakyat dengan performa
tuk dapat tahta dan mahkota
dasi dan jas politik
dalam istana perwakilan terhormat

meski kelak sekedar duduk berlipat tangan
di atas singgasana nan empuk
membuatnya terlelap dan terlahap
dalam bui hedonistis nan menawan
tanpa menengok mereka nan kian berlinang
air mata ketakadilan dan kesewenang-wenangan

Ada sebuah tanya dalam sukmaku
apa nurani mereka nan tak kuasa bersuara
kan disuarakan kelak?
apa suara mereka nan tercecer
kan dikumpulkan kelak?
apa kan jadi titian aspirasi?

Biarlah mereka nan punya tahta
menjawab s'mua tanyaku
dalam aksi nyata di hari esok.


Pos Kupang Minggu 06 Desember 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda